Perbedaan antara Senang dan Bahagia

JANGAN HANYA MENGEJAR KESENANGAN, TEMUKAN KEBAHAGIAAN

Sebuah perjalanan dari “ingin memiliki” menuju “mampu menerima” 

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: “Sebenarnya, apa yang sedang saya cari dalam hidup ini?”. Pertanyaan ini terlihat sederhana. Namun jika kita berani menjawabnya dengan jujur, mungkin jawabannya tidak sesederhana yang kita bayangkan. 

Kita bekerja untuk mendapatkan uang. Kita mencari uang untuk memenuhi kebutuhan. Setelah kebutuhan terpenuhi, kita ingin memiliki lebih banyak. Kita mengejar jabatan, popularitas, pasangan, rumah, kendaraan, penghargaan, pengakuan dan berbagai pencapaian lainnya. Semuanya terasa masuk akal. Sebab ketika mendapatkannya, kita merasa senang.

Tetapi setelah kesenangan itu berlalu, mengapa hati kita kembali mencari sesuatu yang lain? Mengapa sesuatu yang kemarin membuat kita sangat senang, hari ini sudah terasa biasa? Dan mengapa semakin banyak yang kita miliki, terkadang justru semakin banyak pula yang kita takut kehilangan?
Mungkin karena selama ini kita sering keliru membedakan antara kesenangan dan kebahagiaan.

SENANG ADALAH RASA, BAHAGIA ADALAH KESADARAN

Senang dan bahagia bukanlah sesuatu yang sepenuhnya sama. Senang adalah rasa yang muncul karena sesuatu terjadi sesuai dengan keinginan kita. 

Kita mendapatkan hadiah, kita senang. Kita mendapatkan uang, kita senang. Kita dipuji, kita senang.Kita menang, kita senang. Kita mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, kita senang. Tetapi kesenangan itu bisa berubah ketika keadaan berubah. 

Sedangkan bahagia lebih dalam daripada sekadar rasa senang. Bahagia adalah keadaan batin ketika seseorang mampu menerima kehidupan dengan kesadaran, rasa syukur, dan ketenteraman. Karena itu, seseorang bisa saja sedang menghadapi persoalan tetapi tetap memiliki kebahagiaan di dalam dirinya. 

Ia bisa menangis, tetapi hatinya tidak kehilangan harapan. Ia bisa kehilangan, tetapi tidak kehilangan arah. Ia bisa gagal, tetapi tidak merasa bahwa hidupnya telah berakhir. Ia bisa tidak memiliki segala sesuatu yang diinginkan, tetapi tetap mampu mensyukuri apa yang dimilikinya. 

Inilah perbedaan antara sekadar merasa senang dan benar-benar mengalami kebahagiaan.

KESENANGAN SERING DATANG DARI LUAR, KEBAHAGIAAN TUMBUH DARI DALAM

Kita hidup di zaman yang sering mengajarkan bahwa kebahagiaan bisa ditemukan melalui kepemilikan. Punya uang lebih banyak, kita akan bahagia. Punya rumah lebih bagus, kita akan bahagia. Punya kendaraan lebih mewah, kita akan bahagia. Punya jabatan lebih tinggi, kita akan bahagia. Punya banyak pengikut, kita akan bahagia. Punya pasangan ideal, kita akan bahagia. Tidak ada yang salah dengan semua itu. 

Namun pertanyaannya adalah: Apakah semua itu benar-benar menjamin kebahagiaan?Bukankah kita sering menemukan orang yang memiliki banyak hal tetapi masih merasa kosong?Sebaliknya, bukankah kita juga sering menemukan orang sederhana yang hidupnya terlihat jauh lebih tenang? 

Di sinilah kita perlu memahami bahwa: Apa yang kita miliki dapat membuat kita senang, tetapi belum tentu mampu membuat kita tenang. Dan ketenangan adalah salah satu pintu menuju kebahagiaan.

MANUSIA SERING MENGEJAR APA YANG BELUM DIMILIKI

Ada sebuah pola yang sering terjadi dalam kehidupan manusia: Belum punya → ingin punya.Setelah punya: Sudah punya → ingin lebih banyak. Setelah mendapatkan lebih banyak: Sudah banyak → ingin yang lebih tinggi lagi. Begitu seterusnya. 

Keinginan manusia hampir tidak pernah selesai. Ketika mendapatkan satu, muncul keinginan berikutnya. Bukan berarti manusia tidak boleh memiliki cita-cita. Bukan berarti kita harus berhenti berusaha. Justru manusia harus terus tumbuh. 

Tetapi ada perbedaan besar antara: berusaha untuk berkembang dan hidup dalam ketidakpuasan tanpa akhir. 

Orang yang sehat secara batin akan berkata: “Saya ingin menjadi lebih baik, tetapi saya tidak membenci diri saya karena belum sampai di sana.” Sedangkan orang yang terus diperbudak oleh keinginan akan berkata: “Saya baru akan bahagia kalau saya sudah mendapatkan semuanya.”Masalahnya... “semuanya” itu tidak pernah selesai.

KEBAHAGIAAN BUKAN BERARTI BERHENTI BERJUANG

Sering kali orang salah memahami konsep menerima. Menerima bukan berarti menyerah. Bersyukur bukan berarti berhenti berusaha. Pasrah bukan berarti tidak melakukan apa-apa. 

Menerima adalah kemampuan untuk berdamai dengan kenyataan yang sedang terjadi, sambil tetap melakukan upaya terbaik untuk memperbaikinya. 

Kita boleh memiliki impian. Kita boleh mengejar kesuksesan. Kita boleh ingin kaya. Kita boleh ingin memiliki rumah yang bagus. Kita boleh ingin mendapatkan jabatan. Kita boleh ingin membangun sesuatu yang besar. 

Tetapi jangan pernah menyerahkan seluruh kebahagiaan kita kepada semua itu. Karena jika kebahagiaan kita bergantung kepada pencapaian, maka selama pencapaian itu belum terjadi, kita akan merasa hidup kita belum lengkap. 

Padahal..., Hidup sedang berlangsung sekarang. Bukan nanti. Bukan setelah kaya. Bukan setelah sukses. Bukan setelah mendapatkan seseorang. Bukan setelah semua masalah selesai.

MUNGKIN KITA TIDAK KEKURANGAN SESUATU, KITA HANYA KURANG MENYADARI

Ada kalanya manusia merasa hidupnya kurang bukan karena memang tidak memiliki apa-apa. Tetapi karena terlalu sering membandingkan apa yang dimilikinya dengan apa yang dimiliki orang lain. 

Kita melihat rumah orang lain. Kita melihat kendaraan orang lain. Kita melihat kesuksesan orang lain.Kita melihat keluarga orang lain. Kita melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Kemudian kita melihat kehidupan sendiri dan merasa: “Mengapa hidup saya tidak seperti mereka?” 

Padahal kita hanya melihat apa yang tampak. Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu rumah mereka. Kita melihat senyumnya. Kita tidak melihat air matanya. Kita melihat keberhasilannya. Kita tidak melihat perjuangannya. Kita melihat apa yang dimilikinya. Kita tidak melihat apa yang harus dikorbankannya. 

Maka berhentilah mengukur kebahagiaan diri sendiri dengan kehidupan orang lain. Karena setiap manusia memiliki perjalanan yang berbeda.

KEBAHAGIAAN DIMULAI KETIKA KITA BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI

Ada sebuah pertempuran yang sering tidak terlihat oleh orang lain. Bukan antara kita dengan orang lain. Tetapi antara kita dengan diri kita sendiri. 

Kita menyesali masa lalu. Kita takut menghadapi masa depan. Kita tidak menerima kekurangan diri. Kita terus membandingkan diri. Kita menyalahkan keadaan. Kita sulit memaafkan. Kita membawa luka lama ke dalam kehidupan hari ini. 

Akibatnya, tubuh kita mungkin berada di masa sekarang, tetapi pikiran kita masih hidup di masa lalu atau sibuk mengkhawatirkan masa depan. Bagaimana mungkin hati bisa tenang jika kita terus berperang dengan diri sendiri? 

Karena itu, salah satu bentuk kebahagiaan yang paling tinggi adalah: berdamai dengan diri sendiri. Menerima bahwa kita pernah salah. Menerima bahwa kita pernah gagal. Menerima bahwa kita pernah kecewa. Menerima bahwa kita tidak sempurna. 

Lalu mengatakan kepada diri sendiri:“Aku akan belajar dari semua itu, tetapi aku tidak akan terus menghukum diriku karena masa lalu.”

DARI “AKU INGIN” MENUJU “AKU BERSYUKUR”

Mungkin inilah salah satu perjalanan spiritual manusia. Pada awalnya kita banyak berkata: “Aku ingin...” - Aku ingin kaya. Aku ingin dihormati. Aku ingin dipuji. Aku ingin memiliki. Aku ingin berhasil. Aku ingin menang. Aku ingin mendapatkan ini dan itu. 

Namun semakin dewasa seseorang, semoga kalimat itu perlahan berubah menjadi: “Aku bersyukur...” - Aku bersyukur masih diberi kehidupan. Aku bersyukur masih diberi kesempatan.Aku bersyukur masih memiliki keluarga. Aku bersyukur masih bisa belajar. Aku bersyukur masih bisa memperbaiki kesalahan. Aku bersyukur pernah mengalami kegagalan karena dari sana aku belajar. Aku bersyukur pernah kehilangan karena dari sana aku belajar menghargai. Aku bersyukur pernah terluka karena dari sana aku belajar memahami. 

Dan akhirnya kita menyadari: Kebahagiaan bukan selalu tentang mendapatkan apa yang kita inginkan. Terkadang kebahagiaan justru hadir ketika kita mampu menyadari betapa banyak yang sebenarnya telah Tuhan berikan kepada kita.

JANGAN MENUNGGU KEBAHAGIAAN DATANG

Jangan berkata: “Nanti kalau saya kaya, saya akan bahagia.” - Jangan berkata: “Nanti kalau saya sukses, saya akan bahagia.” - Jangan berkata: “Nanti kalau semua masalah selesai, saya akan bahagia.” 

Karena kehidupan tidak pernah benar-benar bebas dari masalah. Satu masalah selesai, mungkin muncul masalah lain. Satu keinginan tercapai, muncul keinginan berikutnya. Maka jika kita terus menunggu keadaan sempurna untuk merasa bahagia, mungkin kita tidak akan pernah benar-benar bahagia. 

Belajarlah bahagia di dalam perjalanan. Nikmati prosesnya. Syukuri langkah kecilnya. Hargai orang-orang yang menemani. Belajar dari kegagalannya. Rayakan keberhasilannya secukupnya. 

Dan jangan lupa: hidup bukan hanya tentang sampai di tujuan, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalani perjalanan menuju ke sana.

LALU, APAKAH KITA TIDAK BOLEH SENANG?

Tentu boleh. Senang itu indah. Tertawa itu indah. Menikmati keberhasilan itu indah. Mendapatkan apa yang kita inginkan juga indah. Yang perlu kita waspadai adalah ketika kesenangan menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan hidup. 

Jangan sampai kita rela kehilangan ketenangan demi kesenangan. Jangan sampai kita mengorbankan keluarga demi popularitas. Jangan sampai kita kehilangan kesehatan demi kekayaan. Jangan sampai kita kehilangan prinsip demi jabatan. Jangan sampai kita kehilangan diri sendiri hanya untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. 

Karena pada akhirnya, kita mungkin memiliki banyak hal..., tetapi kehilangan sesuatu yang paling berharga: kedamaian di dalam diri.

PADA AKHIRNYA, APA YANG SEBENARNYA KITA CARI?

Mungkin setelah perjalanan panjang kehidupan, kita akan sampai pada satu kesadaran: Yang kita cari sebenarnya bukan sekadar kesenangan. 

Kita mencari ketenangan. Kita mencari penerimaan. Kita mencari kasih sayang. Kita mencari makna.Kita mencari kebermaknaan hidup. Dan pada akhirnya, kita mencari tempat untuk pulang. Bukan hanya pulang ke rumah. Tetapi pulang ke dalam diri sendiri. 

Ketika kita tidak lagi sibuk membuktikan siapa diri kita kepada dunia. Ketika kita tidak lagi terlalu peduli dengan penilaian manusia. Ketika kita mampu menerima diri apa adanya sambil terus memperbaikinya. Ketika kita mampu bersyukur tanpa kehilangan semangat untuk berusaha. Ketika kita mampu menikmati apa yang ada tanpa diperbudak oleh apa yang belum ada. Mungkin di situlah kebahagiaan mulai menemukan tempatnya.

SEBUAH RENUNGAN

Kesenangan berkata: “Aku akan bahagia ketika mendapatkan apa yang aku inginkan.”Kebahagiaan berkata: “Aku tetap bersyukur meskipun tidak semua yang kuinginkan terjadi.”Kesenangan bertanya: “Apa yang bisa aku dapatkan?”Kebahagiaan bertanya: “Apa yang bisa aku berikan?” 

Kesenangan mencari pengakuan. Kebahagiaan menemukan penerimaan. Kesenangan mengejar dunia. Kebahagiaan menata hati. 

Dan mungkin, semakin kita dewasa, kita akan semakin memahami bahwa:Tidak semua yang menyenangkan itu membahagiakan.
Tidak semua yang menyakitkan itu buruk.
Tidak semua kehilangan adalah kehancuran.
Dan tidak semua keberhasilan adalah kemenangan.
 

Sebab kehidupan bukan hanya tentang apa yang terjadi kepada kita. Kehidupan juga tentang bagaimana kita memaknai apa yang terjadi kepada kita. 

Maka..., Jangan hanya mengejar kesenangan. Temukan kebahagiaan. Jangan hanya mengejar apa yang membuat hati tersenyum. Carilah apa yang membuat hati tenang. Jangan hanya bertanya apa yang bisa membuat hidup kita lebih nyaman. Tanyakan pula: “Untuk apa saya hidup?” 

Karena mungkin..., kesenangan adalah hadiah dari kehidupan, tetapi kebahagiaan adalah hasil dari kesadaran. Dan ketika kesadaran itu tumbuh, kita tidak lagi sibuk mencari kebahagiaan ke mana-mana. 

Kita mulai menyadari: kebahagiaan itu tidak selalu berada di luar sana. Ia mungkin telah ada di dalam diri kita—menunggu untuk disadari.

Penulis - Wahono - Aktifis & Sekjend AWH (Aliansi Wargo Hutomo)

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Penting Menanti Anda!

Ketik alamat email anda di sini dan nikmati berita terbaru dari saya.