Menelaah Gagasan Reset Indonesia

buku Reset Indonesia: Gagasan Tentang Indonesia Baru, karya Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu.
Buku ini lahir dari perjalanan jurnalistik lintas generasi selama bertahun-tahun dan mencoba melihat Indonesia dari lapangan, bukan hanya dari perspektif elite atau pusat kekuasaan. Yang menarik, “reset” di sini bukan sekadar mengganti pemerintah atau memulai kembali sistem lama.
Gagasannya lebih mendasar: menata ulang cara Indonesia mengelola negara, sumber daya, ekonomi, politik, lingkungan, pendidikan, dan hubungan antara negara dengan rakyat.
Kalau saya sederhanakan, poin-poin pentingnya kira-kira begini:
01. RESET ARAH PEMBANGUNAN
Pertanyaan dasarnya: Apakah pembangunan Indonesia selama ini benar-benar membawa kesejahteraan bagi rakyat, atau justru menghasilkan ketimpangan dan kerusakan?
Buku ini mempertanyakan model pembangunan yang terlalu mengejar pertumbuhan ekonomi tetapi mengabaikan keadilan sosial, lingkungan, dan keberlanjutan.
02. RESET PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM
Indonesia kaya tambang, hutan, laut, tanah dan energi.Masalahnya bukan sekadar “Indonesia punya kekayaan alam atau tidak”, tetapi: Siapa yang menguasai? Siapa yang menikmati? Dan siapa yang menanggung kerusakannya?
Karena itu isu agraria, konflik lahan, industri ekstraktif, energi, pertanian dan lingkungan menjadi bagian penting dalam buku ini.
03. RESET AGRARIA
Tanah bukan sekadar komoditas. Ada persoalan: konflik kepemilikan tanah,ketimpangan penguasaan lahan, masyarakat adat, petani, perkebunan, pertambangan, dan proyek pembangunan.
Karena itu reforma agraria menjadi salah satu gagasan penting dalam pembahasan mereka.
04. RESET EKONOMI
Ekonomi seharusnya tidak hanya diukur dari: pertumbuhan → investasi → PDB. Tetapi juga: kesejahteraan → pemerataan → kemandirian → keberlanjutan.
Dengan kata lain, ekonomi harus lebih berpihak kepada rakyat dan tidak hanya menguntungkan kelompok yang mempunyai modal dan akses terhadap kekuasaan.
05. RESET POLITIK DAN DEMOKRASI
Ini salah satu bagian paling fundamental.Pertanyaannya: Apakah demokrasi kita benar-benar memberikan kedaulatan kepada rakyat?
Buku ini mengkritisi berbagai persoalan politik, sistem kepartaian, korupsi, kekuasaan, relasi politik-bisnis, hingga bagaimana kebijakan publik dibuat. Jadi demokrasi jangan berhenti pada: rakyat memilih → lima tahun sekali → selesai.
Tetapi harus berkembang menjadi:rakyat berdaulat → rakyat berpartisipasi → rakyat mengawasi → pemerintah bertanggung jawab.
06. RESET HUBUNGAN PUSAT DAN DAERAH
Ini menurut saya sangat menarik kalau dikaitkan dengan gagasan yang sering saya bicarakan tentang kemandirian daerah dan Banjarnegara.
Buku ini mempertanyakan kembali bagaimana kekuasaan dan sumber daya didistribusikan antara pusat dan daerah, bahkan membuka ruang diskusi tentang bentuk desentralisasi yang lebih jauh, termasuk gagasan federalisme. Artinya, daerah jangan hanya menjadi:objek pembangunan dari Jakarta.
Tetapi harus menjadi: subjek yang menentukan masa depannya sendiri.
07. RESET KOTA
Kota seharusnya bukan hanya tempat orang kaya mendapatkan fasilitas terbaik. Ada persoalan: transportasi,air bersih, ruang publik, permukiman, ketimpangan, teknologi pemerintahan, dan akses masyarakat terhadap layanan publik.
Gagasannya adalah “kota untuk semua”, bukan kota yang hanya nyaman bagi kelompok tertentu.
08. RESET PENDIDIKAN
Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan: orang yang pintar mencari pekerjaan. Tetapi harus menghasilkan: manusia yang mampu berpikir, mandiri, kritis, kreatif dan mempunyai kesadaran sebagai warga negara.
Dalam berbagai pembahasan tentang buku ini, reformasi pendidikan, kualitas SDM dan peran generasi muda disebut sebagai bagian penting dari perubahan Indonesia. (IAIN Pontianak)
09. RESET ENERGI DAN INDUSTRI
Indonesia perlu mempertanyakan kembali:energi untuk siapa?industri untuk siapa?siapa yang memperoleh nilai tambah? Termasuk persoalan energi, industri, pertanian dan maritim sebagai sektor strategis Indonesia. Intinya adalah membangun ekonomi yang lebih mandiri sekaligus tidak menghancurkan lingkungan.
10. RESET LINGKUNGAN
Ini sangat kuat. Lingkungan bukan sekadar urusan: “menanam pohon. ”Tetapi menyangkut model ekonomi dan model pembangunan. Kalau sistem ekonominya terus mendorong eksploitasi tanpa batas, maka kerusakan lingkungan hanya menjadi konsekuensi yang terus berulang.
11. RESET PERAN RAKYAT
Ini mungkin salah satu pesan paling penting.Rakyat tidak boleh hanya menjadi: penonton pembangunan. Rakyat harus menjadi: pelaku, pengawas, sekaligus pemilik kedaulatan.
Bahkan dalam pembacaan atas buku tersebut, muncul gagasan tentang pentingnya “intelektual organik”—orang-orang yang lahir dari masyarakat dan mampu menyuarakan persoalan nyata komunitasnya sendiri.
Dan kalau semua itu kita tarik ke satu kalimat...
Menurut saya, inti filosofi Reset Indonesia adalah:Indonesia tidak cukup hanya diperbaiki di permukaannya. Yang perlu dibenahi adalah “sistem operasi”-nya.
Bukan sekadar mengganti orang.Tetapi mengevaluasi:aturan mainnya,
cara berpikirnya, model ekonominya, distribusi kekuasaannya, pengelolaan sumber dayanya, hubungan pusat-daerahnya, kualitas manusianya, dan posisi rakyat dalam negara.
Itulah perbedaan RESET dengan RESTART.
Restart: sistem lama dimatikan, lalu dinyalakan lagi.
Reset: sistemnya diperiksa, dikoreksi, dan diprogram ulang.Farid Gaban sendiri menjelaskan perbedaan ini sebagai alasan mengapa Indonesia dianggap membutuhkan “reset”, bukan sekadar “restart”.
Penulis : Wahono - Aktifis dan Sekjend Aliansi Wargo Hutomo



