MANIFESTO RESET INDONESIA DIMULAI DARI DESA

10 Pilar Membangun Indonesia Baru dari Rakyat, Desa, dan Daerah
Gagasan besarnya:
Lalu 10 pilarnya, bisa kita bangun seperti ini :
PILAR 1 — RESET CARA BERPIKIR
Dari Mental Konsumen Menjadi Bangsa Produsen
Perubahan Indonesia harus dimulai dari mindset. Kita terlalu lama diajarkan untuk mencari pekerjaan, bukan menciptakan pekerjaan. Menunggu bantuan, bukan membangun kekuatan. Menjadi konsumen, bukan produsen.
Menjadi objek pembangunan, bukan subjek pembangunan. Maka Indonesia Baru harus melahirkan manusia yang: berpikir kritis, kreatif, mandiri, produktif, inovatif dan bertanggung jawab.
PILAR 2 — RESET PENDIDIKAN
Dari Sekadar Mencetak Lulusan Menjadi Membangun Manusia
Pendidikan adalah pondasi dasar peradaban. Sekolah jangan hanya menghasilkan manusia yang memiliki ijazah. Pendidikan harus melahirkan manusia yang: mengenal dirinya, memahami lingkungannya, memiliki keterampilan, mampu menciptakan nilai, mempunyai karakter, dan memiliki kesadaran sebagai warga bangsa.
Desa harus menjadi laboratorium pendidikan kehidupan. Anak-anak tidak hanya belajar tentang desa. Mereka harus belajar membangun desanya.
PILAR 3 — RESET EKONOMI
Dari Ekonomi Ekstraktif Menuju Ekonomi Produktif dan Berkelanjutan
Kekayaan desa jangan hanya keluar dari desa dalam bentuk bahan mentah. Tanah, pertanian, perkebunan, peternakan, pariwisata, UMKM, budaya dan sumber daya alam harus diolah sehingga menghasilkan nilai tambah di daerah sendiri.
Prinsipnya: Jangan menjual kekayaan daerah dalam keadaan mentah. Bangun industri pengolahannya di daerah. Dengan demikian desa bukan sekadar pasar. Desa menjadi pusat produksi.
PILAR 4 — RESET SUMBER DAYA ALAM
Dari Eksploitasi Menuju Kedaulatan Ekologi
Indonesia kaya bukan karena memiliki tambang sebanyak-banyaknya. Indonesia kaya karena mempunyai: tanah, air, hutan, laut, biodiversitas dan manusia.
Karena itu pembangunan tidak boleh menghabiskan sumber daya generasi mendatang.Kita harus mengubah paradigma: “Apa yang bisa kita ambil dari alam?” menjadi: “Apa yang bisa kita hasilkan bersama alam tanpa menghancurkannya?”
PILAR 5 — RESET SAMPAH
Dari Beban Lingkungan Menjadi Sumber Ekonomi
Ini salah satu gagasan yang menurut saya bisa menjadi ikon lokal manifesto ini. Sampah jangan dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang.Sampah harus dipandang sebagai: bahan baku ekonomi. Plastik bisa diolah. Organik bisa menjadi kompos atau energi. Sampah yang dipilah bisa menjadi komoditas.
Artinya: Sampah yang hari ini menjadi beban APBD, besok harus mampu menjadi sumber PAD. Ini bukan hanya persoalan kebersihan.Ini adalah revolusi ekonomi sirkular berbasis desa.
PILAR 6 — RESET DESA
Desa Bukan Objek Pembangunan, Desa Adalah Fondasi Negara
Indonesia memiliki ribuan desa. Maka sebenarnya Indonesia mempunyai ribuan pusat kekuatan ekonomi, sosial dan budaya. Desa harus mempunyai:data,sumber daya manusia, kelembagaan ekonomi, teknologi, inovasi, dan kemampuan mengelola potensi lokal.
Kita harus membalik cara pandang: Bukan Jakarta membangun desa.
Tetapi: Desa membangun dirinya sendiri dengan negara hadir sebagai penguat.
PILAR 7 — RESET DAERAH
Dari Ketergantungan Menuju Kemandirian Daerah
Daerah harus mempunyai kemampuan untuk mengembangkan kekuatan ekonominya sendiri. Bukan berarti daerah berjalan sendiri. Tetapi hubungan pusat dan daerah harus dibangun atas prinsip: sinergi, keadilan, kemandirian dan pembagian manfaat yang proporsional.
Banjarnegara, misalnya, tidak boleh hanya dikenal sebagai daerah penghasil komoditas. Kita harus bertanya: Apa yang bisa membuat Banjarnegara menjadi daerah yang menghasilkan nilai tambah dari kekayaan yang dimilikinya sendiri?
PILAR 8 — RESET DEMOKRASI
Dari Demokrasi Elektoral Menuju Demokrasi Partisipatif
Demokrasi jangan berhenti di TPS. Demokrasi harus hidup dalam kehidupan sehari-hari. Rakyat harus mempunyai ruang untuk: berbicara, mengusulkan, mengawasi, mengkritik, ikut merumuskan dan ikut bertanggung jawab.
Ormas, LSM, komunitas, akademisi, pengusaha, tokoh agama, pemuda, perempuan dan masyarakat desa harus menjadi bagian dari ekosistem demokrasi.
Karena: Negara yang kuat bukan negara yang rakyatnya diam. Negara yang kuat adalah negara yang rakyatnya sadar, kritis dan bertanggung jawab.
PILAR 9 — RESET KETAHANAN RAKYAT
Dari Rakyat yang Rentan Menjadi Rakyat yang Berdaya.
Ketahanan nasional jangan hanya dipahami sebagai persoalan TNI dan persenjataan. Ketahanan nasional dimulai dari: ketahanan individu → keluarga → komunitas → desa → daerah → bangsa.
Masyarakat yang mempunyai: kesadaran diri, ketahanan ekonomi, ketahanan pangan, ketahanan sosial, ketahanan budaya, dan ketahanan informasi, akan menjadi fondasi pertahanan bangsa yang sesungguhnya.
Di sinilah gagasan Panca Kesadaran Ketahanan Rakyat Indonesia yang pernah saya tulis dan saya kembangkan bisa menjadi salah satu ruh utama manifesto ini.
PILAR 10 — RESET KESADARAN KEBANGSAAN
Dari Sekadar Menjadi Warga Negara Menjadi Pemilik Masa Depan Bangsa.
Ini adalah pilar tertinggi. Sebab semua perubahan pada akhirnya kembali kepada kesadaran manusia. Kita harus membangun kesadaran:
Aku bagian dari bangsa ini.
Aku mempunyai tanggung jawab terhadap lingkungan ini.
Aku mempunyai tanggung jawab terhadap masyarakatku.
Aku mempunyai tanggung jawab terhadap masa depan anak cucuku.
Maka nasionalisme bukan hanya: mengibarkan bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan. Nasionalisme juga berarti: tidak merusak lingkungan, tidak korupsi, membayar kewajiban, menjaga persatuan, bekerja dengan jujur, menciptakan lapangan kerja, membantu masyarakat dan ikut membangun daerah.
MENUJU INDONESIA BARU
Dan saya melihat ada satu kalimat yang bisa menjadi jantung manifesto: “Jangan menunggu Indonesia berubah dari Jakarta. Mari mulai mereset Indonesia dari tempat kita berdiri: dari diri kita, dari keluarga kita, dari desa kita, dari daerah kita.”
Sebab Indonesia bukan hanya Jakarta. Indonesia adalah 38 provinsi.
Indonesia adalah kabupaten dan kota.
Indonesia adalah kecamatan.
Indonesia adalah desa.
Indonesia adalah kampung.
Dan pada akhirnya Indonesia adalah manusia-manusia yang hidup di dalamnya. Jadi kalau ingin me-reset Indonesia, kita tidak harus menunggu mempunyai kekuasaan di pusat. Kita bisa memulainya dari bawah. Dari desa. Dari rakyat. Dari kesadaran. Dan dari tindakan nyata.
KESADARAN AKAN KOMITMEN MANIFESTO
KAMI TIDAK INGIN SEKADAR MENGGANTI PEMIMPIN.
KAMI INGIN MENGUBAH CARA BERPIKIR.
KAMI TIDAK INGIN SEKADAR MEMBANGUN INFRASTRUKTUR.
KAMI INGIN MEMBANGUN MANUSIA.
KAMI TIDAK INGIN SEKADAR MENGEKSPLOITASI SUMBER DAYA.
KAMI INGIN MEMBANGUN KEDAULATAN SUMBER DAYA.
KAMI TIDAK INGIN DESA MENJADI OBJEK.
KAMI INGIN DESA MENJADI SUBJEK.
KAMI TIDAK INGIN RAKYAT HANYA MENJADI PENONTON DEMOKRASI.
KAMI INGIN RAKYAT MENJADI PEMILIK KEDAULATAN.
DAN KAMI TIDAK INGIN MEWARISKAN MASALAH KEPADA ANAK CUCU KAMI.
KAMI INGIN MEWARISKAN INDONESIA YANG LEBIH BERDAULAT, ADIL, MAKMUR, BERADAB DAN BERKELANJUTAN.
INDONESIA RESET DIMULAI DARI DESA.
INDONESIA BARU DIMULAI DARI KESADARAN KITA.
Penulis : Wahono - Aktifis & Wakil Ketua 2 DPW Perindo Jawa Tengah



