Mengubah Sampah Plastik Menjadi Cuan Yang Berkelanjutan

Mungkinkah Sampah Menjadi Sumber Pendapatan Asli Daerah Banjarnegara?

Gagasan dan karya inovasi putra daerah Banjarnegara untuk Indonesia

Oleh: Wahono – Aktifis Banjarnegara dan Sekjend Aliansi Wargo Hutomo

Ada sebuah pertanyaan sederhana yang sebenarnya menyimpan peluang ekonomi luar biasa: Bagaimana jika sampah yang selama ini dianggap sebagai masalah justru kita ubah menjadi sumber energi, lapangan pekerjaan, dan pendapatan daerah?

Pertanyaan itulah yang layak kita renungkan setelah Talk Show Program KRENOVA - Inovasi Menggerakan, Budaya Menguatkan - Bapperida Banjarnegara pada 15 Agustus 2026 di Gedung Kuliner Banjarnegara.

Di tengah persoalan sampah yang semakin kompleks dan ruang fiskal pemerintah daerah yang semakin terbatas, Banjarnegara sebenarnya memiliki sebuah modal yang setiap hari terus diproduksi oleh masyarakat. Modal tersebut bernama : sampah.

Masalahnya, selama ini sampah lebih sering dipandang sebagai beban. Padahal, apabila dikelola dengan teknologi, manajemen, dan model bisnis yang tepat, sebagian sampah—khususnya sampah plastik—dapat memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi.

Dari Masalah Menjadi Peluang

Berdasarkan data yang digunakan dalam kajian Bank Sampah Banjarnegara (BSB), jumlah kepala keluarga di Kabupaten Banjarnegara pada 2025 mencapai sekitar 362.638 KK

Jika rata-rata setiap keluarga menghasilkan sekitar 1,5 kilogram sampah per hari, maka secara matematis potensi sampah rumah tangga mencapai sekitar: 362.638 KK × 1,5 kg = 543.957 kg per hari atau sekitar 543,9 ton sampah per hari

Angka tersebut bahkan belum memasukkan sampah yang berasal dari pasar, industri, UMKM, pusat kuliner, perkantoran, fasilitas umum, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya. 

Sementara itu, data lapangan yang disampaikan komunitas Bank Sampah Banjarnegara menunjukkan bahwa sampah yang masuk ke TPA Winong berada di kisaran 460 ton per hari. Perbedaan angka ini menunjukkan satu hal penting, bahwa: tidak seluruh sampah yang dihasilkan masyarakat berakhir di TPA. 

Sebagian mungkin dikelola sendiri, dibakar, dibuang sembarangan, didaur ulang, masuk ke bank sampah, atau berada dalam rantai pengelolaan informal. Dan justru di sinilah peluangnya.

Kalau Sampah Dibedah, Apa yang Kita Temukan?

Dalam kajian BSB, sekitar 30 persen dari sampah tersebut merupakan sampah plastik. Jika menggunakan ilustrasi rata-rata 27 ton sampah per kecamatan per hari, maka sekitar: 30% × 27.000 kg = 8.100 kg atau sekitar 8,1 ton sampah plastik per kecamatan setiap hari

Bayangkan jika sampah plastik sebanyak itu tidak lagi dipandang sebagai limbah, melainkan sebagai bahan baku energi. Inilah yang menjadi menarik. Bank Sampah Banjarnegara telah mengembangkan teknologi pirolisis untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar cair yang dikenal sebagai PETASOL

Pengembangan teknologi tersebut juga telah melibatkan BRIN. BRIN menyebut PETASOL dikembangkan melalui teknologi Fast Pyrolysis atau FASPOL, dan kerja sama tersebut juga menghasilkan pendaftaran paten untuk mesin pirolisis dan katalis serta hak cipta dataset Life Cycle Inventory

Dengan kata lain, gagasan ini bukan sekadar angan-angan. Ada teknologi, ada proses riset, ada inventor, dan ada pengalaman implementasi di lapangan.

Dari Desa Kasilib, Banjarnegara, Menuju Teknologi Nasional

Di balik inovasi ini terdapat nama Budi Trisno Aji, pegiat lingkungan dan inovator asal Desa Kasilib, Kecamatan Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara. Kang Budi telah aktif dalam gerakan Bank Sampah Banjarnegara sejak 2014. 

Berangkat dari persoalan sederhana—bagaimana mengatasi sampah plastik yang sulit dimanfaatkan—ia bersama komunitasnya tidak berhenti pada kegiatan mengumpulkan sampah. Mereka mencoba mencari jalan yang lebih jauh: bagaimana sampah plastik dapat memiliki nilai ekonomi sekaligus menghasilkan energi? Dari proses panjang itulah lahir pengembangan teknologi Faspol, hingga mencapai generasi 5.0. 

Pemerintah Kabupaten Banjarnegara sendiri pernah menyoroti inovasi Budi Trisno Aji dan menyebut bahwa inovasi tersebut dikembangkan untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif, dengan hasil yang telah melalui pengujian dan dimanfaatkan masyarakat. 

BRIN juga menyebut Budi sebagai penggerak inovasi akar rumput yang bekerja bersama peneliti dalam pengembangan PETASOL. Ini menarik. Karena teknologi tersebut tidak lahir pertama-tama dari gedung pencakar langit atau laboratorium besar.Ia berawal dari persoalan nyata di sebuah desa.

Ketika Sampah Menjadi Energi

Secara sederhana, teknologi pirolisis bekerja dengan memanaskan bahan berbasis plastik dalam kondisi yang sangat terbatas oksigen sehingga menghasilkan produk hidrokarbon yang kemudian dikondensasikan menjadi bahan bakar cair. 

Dalam pengembangan BSB-BRIN, mesin pirolisis tersebut dirancang dengan sistem multikondensor.DJKI mencatat permohonan paten P00202314623 dengan judul “Mesin Pirolisis Pengolah Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar dengan Multikondensor”. Dokumen tersebut mencantumkan Budi Trisno Aji bersama sejumlah inventor lainnya. Kapasitas mesin yang dijelaskan dalam abstraknya berada pada kisaran 50–100 kg per batch sampah plastik. 

BRIN juga mencatat pengembangan lain yang melibatkan Budi Trisno Aji, yaitu P00202405655, terkait katalis untuk produksi bahan bakar cair dari sampah plastik. Artinya, inovasi ini sudah memasuki wilayah yang jauh lebih serius daripada sekadar eksperimen komunitas.

Lalu, Berapa Besar Potensi Ekonominya?

Di sinilah gagasan tersebut menjadi menarik untuk dibawa ke meja pemerintah daerah. Dalam simulasi BSB, dari sekitar 8,1 ton sampah plastik per kecamatan per hari, diproyeksikan dapat menghasilkan sekitar 6.480 liter PETASOL, dengan asumsi hasil sekitar 0,8 liter bahan bakar per kilogram bahan baku plastik. 

Kemudian, dalam simulasi ekonomi yang disampaikan, hasil tersebut dibagi menjadi tiga kelompok produk: 80% solar/petasol, 10% bensin/petasol, 10% bahan bakar khusus/racer 

Jika seluruh produk tersebut dapat diproduksi, memenuhi spesifikasi teknis, memperoleh legalitas yang diperlukan, dan benar-benar terserap pasar dengan harga sebagaimana asumsi kajian, maka simulasi nilai ekonominya mencapai sekitar: Rp. 220,32 juta per kecamatan per hari. 

Dengan asumsi produksi 25 hari dalam satu bulan: Rp5,508 miliar per kecamatan per bulan. Dan dalam satu tahun: Rp66,096 miliar per kecamatan. 

Apabila model tersebut benar-benar dapat direplikasi di 20 kecamatan, maka simulasi kasarnya mencapai: Rp1,321 triliun per tahun. 

Namun angka ini harus dipahami sebagai simulasi potensi bruto, bukan sebagai angka PAD yang otomatis akan masuk ke kas daerah. 

Masih diperlukan kajian mendalam mengenai kapasitas bahan baku, rendemen aktual, biaya pengumpulan dan pemilahan, investasi mesin, tenaga kerja, biaya energi, pemeliharaan, kualitas produk, legalitas, distribusi, perpajakan, harga jual, serta kepastian pasar. 

Justru karena itu, angka tersebut seharusnya menjadi alasan untuk melakukan studi kelayakan, bukan sekadar menjadi angka promosi.

Investasi Besar, Tetapi Apakah Layak?

Dalam konsep yang diajukan, kebutuhan investasi mesin pirolisis semi-industri, lahan, dan bangunan diperkirakan sekitar Rp.3 miliar per titik. Jika dibangun 20 titik di 20 kecamatan, kebutuhan investasi awal diproyeksikan sekitar: Rp60 miliar. 

Sementara dalam simulasi yang diajukan, biaya produksi diperkirakan sekitar 70 persen dan margin bersih sekitar 30 persen. Jika asumsi tersebut terbukti melalui studi kelayakan dan uji komersial, maka proyek ini berpotensi memiliki tingkat pengembalian investasi yang menarik. 

Tetapi sekali lagi: BEP bukan sesuatu yang boleh diasumsikan hanya dari perkalian angka. BEP harus dibuktikan melalui business plan, cash flow projection, unit economics, kapasitas produksi nyata, biaya logistik, dan kepastian penjualan. Dan justru di sinilah peran pemerintah daerah menjadi sangat penting.

Jangan Hanya Membangun Mesin, Bangun Ekosistemnya!

Kesalahan terbesar dalam program pengelolaan sampah adalah berpikir bahwa persoalan selesai setelah membeli mesin. Tidak. Mesin hanyalah salah satu bagian dari ekosistem. 

Jika Banjarnegara benar-benar ingin menjadikan sampah sebagai sumber ekonomi baru, maka yang harus dibangun adalah rantai nilai sampah dari hulu sampai hilir.Mulai dari: Rumah tangga → pemilahan → bank sampah → pengumpulan → transportasi → bahan baku plastik → mesin pirolisis → PETASOL → pengujian kualitas → legalitas → pasar → pendapatan. 

Dengan model seperti itu, sampah bukan sekadar dipindahkan dari rumah ke TPA. Tetapi diubah menjadi komoditas ekonomi.

Setiap Kecamatan Bisa Memiliki “Pabrik Energi Rakyat”

Bayangkan jika 20 kecamatan di Banjarnegara mempunyai pusat pengolahan sampah plastik yang dikelola secara profesional. Di tingkat desa, masyarakat memilah sampah. Bank sampah menjadi pusat pengumpulan. 

Pemuda desa mendapatkan pekerjaan sebagai pengelola dan operator. Pemerintah desa mendapatkan manfaat ekonomi. Pelaku UMKM mendapatkan bahan bakar alternatif. Petani dapat memperoleh akses energi untuk mesin pertanian, apabila produk telah memenuhi persyaratan teknis dan regulasi. Dan pemerintah daerah memiliki peluang membangun ekosistem ekonomi sirkular. 

Konsepnya sederhana: sampah dari masyarakat kembali kepada masyarakat dalam bentuk energi dan nilai ekonomi.

Dari Bank Sampah Menjadi Bank Energi

Selama ini kita mengenal istilah Bank Sampah. Ke depan, bukan tidak mungkin Banjarnegara mengembangkan gagasan yang lebih besar: Bank Sampah menjadi Bank Energi. 

Sampah plastik tidak lagi hanya dijual kiloan. Ia menjadi bahan baku energi. Masyarakat bukan hanya menjadi konsumen pengelolaan sampah. Mereka dapat menjadi bagian dari rantai produksi. 

Inilah konsep ekonomi sirkular yang sesungguhnya. Uang tidak keluar dari daerah hanya untuk membeli energi. Sebagian nilai ekonominya dapat diputar kembali di daerah melalui pengumpulan sampah, tenaga kerja, jasa transportasi, pengoperasian fasilitas, pemeliharaan mesin, dan aktivitas ekonomi turunannya.

Peluang PAD, Tetapi Harus Dirancang dengan Benar

Gagasan menjadikan pengolahan sampah sebagai salah satu sumber pendapatan daerah memang menarik. Tetapi pemerintah daerah perlu berhati-hati membedakan antara: omzet usaha, laba usaha, dan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ketiganya bukan hal yang sama. 

Jika proyek ini nantinya dikelola melalui BUMD, koperasi, badan usaha desa, kemitraan swasta, atau model kelembagaan lainnya, maka mekanisme kontribusinya terhadap daerah harus dirancang sesuai aturan yang berlaku. 

Karena itu, langkah pertama bukan langsung membangun 20 pabrik. Langkah pertama yang jauh lebih rasional adalah: Membuat Pilot Project.
1.      Satu kecamatan.
2.      Satu fasilitas.
3.      Satu model bisnis.
4.      Satu sistem pengumpulan.
5.      Satu pasar.
6.      Kemudian diukur.
7.      Berapa kilogram sampah masuk?
8.      Berapa liter produk keluar?
9.      Berapa biaya produksinya?
10.  Berapa biaya logistiknya?
11.  Berapa biaya tenaga kerja?
12.  Berapa nilai produk?
13.  Bagaimana kualitasnya?
14.  Bagaimana aspek keselamatannya?
15.  Bagaimana legalitasnya? 

Dan yang paling penting: berapa rupiah keuntungan bersih yang benar-benar tersisa? Jika satu pilot project terbukti sehat secara teknis, ekonomis, lingkungan, dan hukum, barulah model tersebut direplikasi ke kecamatan lainnya. Ya, sekali lagi project ini membutuhkan payungh hukum yang jelas dari pemerintah daerah.

Banjarnegara Tidak Kekurangan Sampah.
Yang Kita Butuhkan Adalah Cara Pandang Baru.

Selama bertahun-tahun, sampah dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang. Mungkin sudah saatnya cara berpikir itu berubah. Sampah memang masalah. Tetapi di balik masalah itu terdapat bahan baku. Di balik bahan baku terdapat teknologi. Di balik teknologi terdapat nilai ekonomi. Dan di balik nilai ekonomi terdapat kesempatan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

Banjarnegara memiliki potensi itu. Kita memiliki masyarakat. Kita memiliki desa. Kita memiliki komunitas bank sampah. Kita memiliki anak-anak muda. Kita memiliki perguruan tinggi dan lembaga riset. Kita memiliki pengalaman inovasi PETASOL. Dan yang paling penting, kita memiliki persoalan sampah yang setiap hari menghasilkan bahan baku dalam jumlah besar. 

Pertanyaannya sekarang bukan lagi: “Bagaimana membuang sampah Banjarnegara?” Tetapi: “Bagaimana mengubah sampah Banjarnegara menjadi energi, pekerjaan, dan nilai ekonomi bagi masyarakat Banjarnegara?”

Dari Kasilib untuk Banjarnegara

Kisah Budi Trisno Aji seharusnya tidak berhenti sebagai kisah seorang inovator. Ia bisa menjadi inspirasi bahwa inovasi besar tidak selalu lahir dari pusat kota. Kadang ia lahir dari desa. Dari keresahan seorang warga. Dari tumpukan sampah. Dari keterbatasan. Kemudian tumbuh menjadi teknologi. 

Dan akhirnya mendapatkan ruang untuk diuji serta dikembangkan bersama lembaga riset nasional.BRIN mencatat kolaborasi dengan BSB dalam pengembangan PETASOL, sementara inovasi tersebut juga telah mendapat perhatian pemerintah dan media nasional. 

Ini adalah pesan penting bagi generasi muda Banjarnegara: Jangan hanya menjadi pengguna teknologi. Jadilah pencipta teknologi. Jangan hanya melihat masalah. Cari nilai yang tersembunyi di balik masalah tersebut.

Saatnya Banjarnegara Berani Menguji

Gagasan menjadikan sampah plastik sebagai sumber energi dan potensi ekonomi daerah memang masih membutuhkan banyak tahapan. Tetapi justru karena itulah pemerintah daerah, DPRD, Bapperida, perangkat daerah terkait, BUMD, dunia usaha, perguruan tinggi, BRIN, Aktifis, komunitas, desa, dan masyarakat perlu duduk bersama. 

Bukan untuk memperdebatkan siapa yang paling hebat. Tetapi untuk menjawab satu pertanyaan:Apakah Banjarnegara berani mengubah masalah sampah menjadi peluang ekonomi?Jika jawabannya ya, maka mari mulai dari satu kecamatan. Uji. Ukur. Evaluasi. Perbaiki. Kemudian kembangkan. 

Karena pembangunan daerah tidak selalu harus dimulai dari proyek yang besar. Kadang pembangunan besar justru dimulai dari: satu ide, satu mesin, satu desa, satu komunitas, dan satu keberanian untuk mencoba. 

Sampah hari ini jangan hanya menjadi beban Banjarnegara.Mari kita lihat kemungkinan lain: sampah menjadi energi, energi menjadi ekonomi, ekonomi menjadi kesejahteraan, dan kesejahteraan kembali kepada rakyat. 

Dari Banjarnegara untuk Indonesia.

CATATAN PENTING

Angka produksi sampah, persentase plastik, rendemen PETASOL, harga jual, komposisi produk, biaya produksi, margin 30 persen, serta proyeksi Rp1,321 triliun per tahun dalam tulisan ini merupakan angka dan asumsi yang bersumber dari bahan kajian/paparan yang disampaikan penulis dan BSB, sehingga sebaiknya diposisikan sebagai simulasi potensi, bukan sebagai angka PAD yang sudah pasti. 

Untuk publikasi media massa atau dokumen resmi pemerintah, angka-angka tersebut idealnya dilengkapi dengan sumber data tertulis (sudah ada), hasil uji laboratorium (sudah ada), studi kelayakan ekonomi (on progress), analisis lingkungan (on progress), serta dasar regulasi dan perizinan BBM (butuh segera payung hukum berupa perda atau perbup tentang penanganan sampah – perihal perizinan BBM on progress)

Dengan pendekatan tersebut, gagasan ini akan jauh lebih kuat: bukan sekadar “sampah bisa menghasilkan uang”, tetapi sebuah proposal ekonomi sirkular berbasis inovasi lokal yang layak diuji secara serius.

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

2 Comments

  1. Good artikel, mudah2an menjadi pemicu, inspirasi berbagai pihak untuk banyak berinovasi, berinvestasi untuk membangun Banjarnegara. Right..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Penting Menanti Anda!

Ketik alamat email anda di sini dan nikmati berita terbaru dari saya.