PENDIDIKAN ADALAH PONDASI DASAR UNTUK MEMBANGUN SEBUAH PERADABAN

Sebuah Refleksi atas 81 Tahun Indonesia Merdeka
Ada sebuah pertanyaan sederhana, tetapi sangat mendasar: Mengapa sebuah bangsa yang memiliki sumber daya alam melimpah, jumlah penduduk besar, wilayah luas, keragaman budaya luar biasa, serta sejarah perjuangan yang panjang, masih terus bergulat dengan berbagai persoalan fundamental?
Apakah persoalannya semata-mata ekonomi?, Apakah karena politik?, Apakah karena hukum?, Apakah karena korupsi?, Atau jangan-jangan ada persoalan yang jauh lebih mendasar, yaitu persoalan manusia yang mengelola bangsa ini?
Di sinilah pendidikan menjadi sangat penting. Karena pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya membutuhkan sumber daya alam, tetapi membutuhkan manusia yang mampu memahami, mengelola, menjaga, dan mengembangkan seluruh sumber daya tersebut untuk kepentingan bersama.
BELAJAR DARI PERJALANAN PERADABAN
Sejarah dunia menunjukkan bahwa perubahan besar sebuah peradaban tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer ataupun kekayaan alam, tetapi juga oleh kemampuan manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, cara berpikir dan kebudayaannya.
Eropa pernah mengalami masa yang sering disebut sebagai Dark Ages. Kemudian muncul Renaissance atau "kelahiran kembali" yang mendorong perkembangan ilmu pengetahuan, seni, teknologi, pemikiran dan akhirnya menjadi salah satu fondasi lahirnya dunia modern.
Namun perjalanan peradaban manusia tidak pernah berjalan lurus. Perang Dunia I terjadi pada 1914–1918. Perang Dunia II berlangsung pada 1939–1945. Pada Agustus 1945, bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Pemerintah Kota Hiroshima memperkirakan sekitar 140.000 orang meninggal akibat bom dan dampaknya hingga akhir Desember 1945. (Hiroshima City)
Semua itu memberikan satu pelajaran penting: Kemajuan ilmu pengetahuan tanpa kematangan moral manusia dapat berubah menjadi kekuatan penghancur. Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan manusia yang pintar. Pendidikan harus menghasilkan manusia yang beradab.
INDONESIA: BANGSA BESAR DENGAN PERSOALAN BESAR
Indonesia adalah negara yang luar biasa besar. Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk Indonesia pada 2026 diproyeksikan sekitar 287,2 juta jiwa. (Badan Pusat Statistik Indonesia) Indonesia juga memiliki 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota, serta puluhan ribu wilayah administrasi di tingkat desa dan kelurahan. BPS mencatat data pemerintahan dan kewilayahan tersebut dalam Statistik Indonesia dan Podes. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
Kita memiliki ratusan kelompok etnis, bahasa, tradisi, agama, kesenian dan kebudayaan. Kita memiliki laut yang luas. Memiliki hutan. Memiliki tambang. Memiliki tanah pertanian. Memiliki bonus demografi. Memiliki generasi muda yang sangat besar.
Lalu pertanyaannya: Mengapa semua potensi tersebut belum sepenuhnya berubah menjadi kekuatan peradaban? Di sinilah kita perlu berani melakukan introspeksi nasional. Bukan untuk menyalahkan siapa-siapa. Tetapi untuk mencari akar persoalan.
DELAPAN PERSOALAN FUNDAMENTAL INDONESIA
01. PENDIDIKAN: PERSOALAN PALING MENDASAR
Indonesia telah merdeka selama 81 tahun. Reformasi telah berlangsung selama 28 tahun.Berbagai perubahan kurikulum telah dilakukan. Berbagai program pendidikan telah dijalankan.Tetapi pertanyaan terpentingnya adalah: Wujud manusia Indonesia seperti apa yang sebenarnya ingin kita lahirkan melalui pendidikan nasional?
Menurut saya, inilah pertanyaan yang harus dijawab terlebih dahulu sebelum kita berbicara terlalu jauh mengenai kurikulum. Sebab kurikulum hanyalah alat. Yang jauh lebih penting adalah manusia seperti apa yang hendak dibentuk oleh alat tersebut.
Manusia Indonesia yang seutuhnya, dalam pandangan saya, bukan sekadar manusia yang memiliki ijazah. Bukan sekadar manusia yang mendapatkan nilai tinggi. Bukan sekadar manusia yang mampu menguasai teknologi. Tetapi manusia yang: mengenal dirinya; memahami jati dirinya; memahami sejarah bangsanya; mengenal budaya leluhurnya; memiliki ilmu pengetahuan; memiliki karakter; memiliki tanggung jawab sosial; mampu berpikir kritis; mampu menghormati perbedaan; memiliki etika; dan mampu menggunakan ilmunya untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Inilah pendidikan yang seharusnya menjadi pondasi peradaban. Karena orang pintar belum tentu bijaksana. Orang berpendidikan belum tentu beradab. Orang kaya belum tentu peduli. Dan orang yang memiliki kekuasaan belum tentu memiliki kesadaran. Maka pendidikan harus bergerak dari sekadar transfer pengetahuan menuju transformasi manusia.
02. EKONOMI: PERTUMBUHAN BELUM TENTU BERARTI KESEJAHTERAAN
Kita sering mendengar bahwa ekonomi Indonesia tumbuh. Secara makro, angka pertumbuhan memang penting. Namun masyarakat tidak hidup dari angka pertumbuhan PDB. Masyarakat hidup dari pendapatan, pekerjaan, harga kebutuhan pokok, daya beli dan kepastian masa depan.
Karena itu, pemerintah harus melihat ekonomi bukan hanya dari pertumbuhan statistik, tetapi dari kehidupan nyata masyarakat. Pertanyaan sederhananya:
1. Apakah masyarakat semakin mudah memenuhi kebutuhan hidup?
2. Apakah lapangan pekerjaan semakin terbuka?
3. Apakah anak-anak muda semakin memiliki masa depan?
4. Apakah petani, nelayan, buruh, pedagang kecil dan UMKM semakin sejahtera?
Pertumbuhan ekonomi yang tidak dirasakan masyarakat akan melahirkan paradoks: Ekonomi tumbuh, tetapi masyarakat merasa semakin sulit. Karena itu, pembangunan ekonomi harus kembali kepada tujuan akhirnya: manusia yang sejahtera dan bermartabat.
03. SOSIAL POLITIK: KETIKA MASYARAKAT MULAI BERTANYA
Demokrasi bukan hanya tentang memilih pemimpin. Demokrasi adalah tentang bagaimana rakyat dapat menyampaikan aspirasi, kritik dan harapan tanpa kehilangan hak dan martabatnya sebagai warga negara.
Ketika demonstrasi muncul, kita tidak seharusnya langsung melihatnya sebagai ancaman. Demonstrasi juga dapat dibaca sebagai bahasa masyarakat ketika saluran komunikasi politik tidak berjalan dengan baik.
Pemerintah perlu mendengar. Masyarakat juga perlu menyampaikan kritik dengan bertanggung jawab.Karena negara yang sehat bukan negara tanpa kritik. Negara yang sehat adalah negara yang mampu mengelola kritik menjadi bahan perbaikan.
04. IDENTITAS DAN BUDAYA: KITA SEDANG KEHILANGAN AKAR?
Bangsa yang tidak mengenal jati dirinya akan mudah kehilangan arah. Di tengah arus globalisasi, anak-anak Indonesia dapat mengenal budaya dari berbagai belahan dunia hanya melalui telepon genggam.
Mereka mengenal budaya global. Tetapi ironisnya, tidak sedikit yang justru tidak mengenal sejarah desanya sendiri. Tidak mengenal kesenian daerahnya. Tidak mengenal bahasa ibunya. Tidak mengenal filosofi leluhurnya. Tidak mengenal sejarah tanah kelahirannya.
Akibatnya, lahirlah generasi yang memiliki banyak referensi tetapi kehilangan akar. Padahal: Globalisasi seharusnya membuat kita semakin terbuka, bukan semakin kehilangan identitas.Menjadi modern tidak berarti harus meninggalkan budaya. Justru bangsa yang memiliki akar budaya kuat akan lebih percaya diri menghadapi dunia.
05. KORUPSI: KETIKA KEKUASAAN KEHILANGAN MORAL
Korupsi bukan hanya persoalan mengambil uang negara. Korupsi adalah persoalan moral dan karakter manusia. Ketika kekuasaan digunakan untuk memperkaya diri dan kelompok, maka yang dirusak bukan hanya APBN atau APBD. Yang dirusak adalah kepercayaan rakyat.
Data Indonesia Corruption Watch menunjukkan bahwa potensi kerugian negara akibat perkara korupsi yang terpantau pada 2024 mencapai sekitar Rp279,9 triliun. Namun angka tersebut sebagian besar dipengaruhi satu kasus besar, sehingga tidak tepat jika seluruh angka tersebut dianggap sebagai "uang yang telah dicuri" dalam pengertian yang sama. (Antikorupsi)
Karena itu, perang melawan korupsi tidak cukup hanya dengan memperberat hukuman. Kita harus membangun manusia yang sejak kecil memahami: jabatan adalah amanah, bukan kesempatan memperkaya diri. Di sinilah pendidikan karakter kembali menjadi sangat penting.
06. HUKUM DAN KEADILAN: NEGARA HARUS HADIR SECARA SETARA
Hukum adalah salah satu tiang utama peradaban. Ketika hukum dipercaya, masyarakat percaya kepada negara. Tetapi ketika hukum dianggap tajam kepada yang lemah dan tumpul kepada yang kuat, kepercayaan publik akan runtuh.
Karena itu reformasi hukum harus diarahkan pada satu prinsip sederhana: Tidak boleh ada manusia yang terlalu kuat untuk disentuh hukum, dan tidak boleh ada manusia yang terlalu lemah untuk mendapatkan keadilan.
Perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan baru. Kejahatan siber, kecerdasan buatan, manipulasi informasi, pencurian data dan berbagai bentuk kejahatan digital membutuhkan sistem hukum yang mampu bergerak mengikuti perkembangan zaman.
Namun hukum juga harus tetap menjamin kebebasan sipil, hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat dan perlindungan terhadap warga yang memperjuangkan kepentingan publik.
07. ENERGI DAN GEOPOLITIK: KETAHANAN BANGSA TIDAK BOLEH RAPUH
Dunia sedang mengalami perubahan geopolitik yang cepat. Konflik antarnegara dapat memengaruhi harga minyak. Gangguan jalur perdagangan dapat memengaruhi harga pangan. Krisis energi dapat memengaruhi industri.
Dan semua itu akhirnya dirasakan masyarakat dalam bentuk kenaikan biaya hidup. Karena itu, ketahanan nasional tidak cukup hanya berbicara mengenai pertahanan militer.
Kita membutuhkan: ketahanan energi, ketahanan pangan, ketahanan ekonomi dan ketahanan sosial. Sebuah bangsa akan sulit berdiri tegak jika kebutuhan strategisnya terlalu bergantung kepada pihak lain.
08. LINGKUNGAN: BUMI BUKAN WARISAN UNTUK DIHABISKAN
Persoalan sampah sering dianggap sebagai persoalan kecil. Padahal sebenarnya sampah adalah cermin dari peradaban. Cara sebuah masyarakat memperlakukan sampah menunjukkan bagaimana masyarakat tersebut memperlakukan lingkungannya.
TPA yang penuh. Sungai yang tercemar. Laut yang dipenuhi plastik. Saluran air tersumbat. Banjir.Longsor. Semua itu tidak muncul tiba-tiba. Ada hubungan antara perilaku manusia, sistem pengelolaan lingkungan dan kebijakan pembangunan.
Karena itu, pendidikan lingkungan harus dimulai dari rumah. Dari sekolah. Dari desa. Dari pasar. Dari kantor. Dari pemerintah. Dan dari setiap individu. Sampah seharusnya tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang harus dibuang.
Dalam paradigma ekonomi sirkular, sebagian sampah dapat dipandang sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai ekonomi. Dengan demikian, menyelesaikan persoalan lingkungan sekaligus dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan sumber pendapatan masyarakat.
LALU, APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?
Mungkin kita terlalu sering membicarakan: ganti presiden, ganti menteri, ganti kepala daerah, ganti pejabat, ganti sistem. Tetapi kita jarang bertanya: Bagaimana mengganti kualitas manusianya?
Sebab jika manusianya tidak berubah, sistem yang bagus pun dapat disalahgunakan. Kita bisa memiliki undang-undang yang hebat. Tetapi jika manusianya korup, hukum dapat dipermainkan. Kita bisa memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Tetapi jika manusianya tidak memiliki ilmu, kekayaan tersebut dapat dikuasai pihak lain. Kita bisa memiliki teknologi canggih. Tetapi jika manusianya tidak memiliki moral, teknologi dapat menjadi alat kejahatan. Kita bisa memiliki demokrasi. Tetapi jika manusianya tidak dewasa, demokrasi dapat berubah menjadi pertarungan kepentingan.
Karena itu, perubahan bangsa harus dimulai dari perubahan manusia. Dan perubahan manusia harus dimulai dari PENDIDIKAN.
PENDIDIKAN BUKAN HANYA SOAL SEKOLAH
Kita harus memperluas makna pendidikan. Pendidikan bukan hanya sekolah. Pendidikan adalah proses orang belajar menjadi manusia. Rumah adalah sekolah pertama. Orang tua adalah guru pertama. Lingkungan adalah ruang belajar. Masyarakat adalah laboratorium sosial. Dan pengalaman hidup adalah bagian dari pendidikan.
Karena itu, pendidikan nasional tidak boleh hanya mengejar manusia yang mampu menjawab soal ujian. Kita harus melahirkan manusia yang mampu menjawab persoalan kehidupan.
1. Bukan hanya mampu mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan pekerjaan.
2. Bukan hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi mampu menciptakan teknologi.
3. Bukan hanya mampu menikmati budaya, tetapi mampu menjaga dan mengembangkan budaya.
4. Bukan hanya mampu menjadi pemimpin, tetapi mampu menjadi pemimpin yang amanah.
DARI PENDIDIKAN MENUJU PERADABAN
Peradaban tidak dibangun dalam satu malam. Ia dibangun oleh generasi demi generasi. Sebuah bangsa mungkin membutuhkan puluhan tahun untuk membangun jalan. Tetapi membutuhkan lebih lama untuk membangun karakter manusianya. Kita boleh membangun gedung pencakar langit.
Kita boleh membangun jalan tol. Kita boleh membangun bendungan. Kita boleh membangun kawasan industri. Tetapi jangan sampai kita lupa membangun manusianya. Sebab pada akhirnya:
Gedung yang megah tidak akan berarti jika di dalamnya dihuni manusia yang kehilangan moral.
Jalan yang panjang tidak akan membawa bangsa menuju tujuan jika pengendaranya tidak tahu arah.
Teknologi yang canggih tidak akan menyelamatkan bangsa jika manusianya kehilangan kebijaksanaan.
Maka pembangunan sejati bukan hanya pembangunan fisik. Pembangunan sejati adalah pembangunan manusia.
INDONESIA MEMBUTUHKAN MANUSIA INDONESIA YANG SEUTUHNYA
Indonesia tidak kekurangan manusia. Yang kita butuhkan adalah manusia Indonesia yang sadar akan dirinya. Sadar bahwa dirinya adalah bagian dari keluarga. Bagian dari masyarakat. Bagian dari bangsa.Bagian dari sejarah. Bagian dari kebudayaan. Dan bagian dari masa depan.
Manusia yang tidak hanya bertanya: "Apa yang bisa saya dapatkan dari Indonesia?"Tetapi juga bertanya: "Apa yang bisa saya berikan untuk Indonesia?"
Inilah perubahan cara berpikir yang harus dibangun.Dari menuntut menjadi memberi. Dari menguasai menjadi melayani. Dari mengambil menjadi menjaga. Dari berkompetisi tanpa batas menjadi berkolaborasi. Dari sekadar pintar menjadi bijaksana. Dan dari manusia yang berpendidikan menjadi manusia yang beradab.
PENUTUP: MEMBANGUN INDONESIA DARI PONDASINYA
Hari ini kita sedang menghadapi berbagai persoalan besar: Pendidikan. Ekonomi. Politik. Hukum. Korupsi. Identitas. Energi. Lingkungan. Semua persoalan tersebut terlihat seperti persoalan yang berbeda. Tetapi jika kita melihat lebih dalam, semuanya kembali kepada satu hal: kualitas manusia yang menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Karena itu, saya percaya bahwa salah satu pekerjaan terbesar bangsa Indonesia bukan sekadar membangun infrastruktur. Bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi. Bukan sekadar memenangkan kontestasi politik. Tetapi: MEMBANGUN MANUSIA INDONESIA.
Sebab manusia adalah pelaku pembangunan. Manusia adalah penjaga kebudayaan. Manusia adalah pengelola ekonomi. Manusia adalah pembuat hukum. Manusia adalah pemegang kekuasaan. Dan manusia pula yang menentukan apakah kekuasaan digunakan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan bangsa.
Maka, jika kita ingin membangun Indonesia yang kuat, adil, sejahtera dan beradab, jangan hanya membangun dari atas. Bangunlah dari fondasinya. Dan fondasi itu adalah: PENDIDIKAN.
Karena pendidikan adalah pondasi dasar untuk membangun sebuah peradaban. Dan peradaban yang besar hanya mungkin lahir dari manusia-manusia yang besar kesadarannya.
Penulis - Wahono
Aktivis & Sekretaris Jenderal Aliansi Wargo Hutomo




Mantap..mari berperan memajukan pendidikan
Mari kita mulai dari yang kecil dan sederhana di sekitar dan atau lingkungan kita yak kang…
Rahayu