Perbedaan Orang dan Manusia

Sebuah Renungan tentang Jati Diri dalam Perspektif Ketuhanan
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan kata orang dan manusia seolah-olah keduanya memiliki arti yang sama. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, kedua istilah tersebut dapat dipahami sebagai dua tingkatan kesadaran yang berbeda. Tulisan ini bukan bertujuan mengubah makna bahasa Indonesia secara baku, melainkan mengajak kita merenungkan hakikat diri manusia dari sudut pandang spiritual.
Orang : Identitas Sebagai Makhluk
Secara sederhana, orang dapat dipahami sebagai identitas yang membedakan seseorang dari makhluk lainnya. Di alam semesta, Tuhan menciptakan berbagai makhluk dengan identitas masing-masing: malaikat, jin, manusia, hewan, tumbuhan, serta seluruh ciptaan-Nya.
Di antara makhluk-makhluk tersebut, manusia memiliki keistimewaan berupa otak yang mampu digunakan untuk berpikir, merenung, mengambil pelajaran, dan melahirkan kebijaksanaan. Kemampuan inilah yang dalam banyak pembahasan disebut sebagai akal.
Apabila kehidupan hanya diisi dengan bekerja demi mempertahankan hidup, maka hewan pun melakukan hal yang sama. Jika tujuan hidup hanya melanjutkan keturunan, hewan juga memiliki naluri tersebut.
Lalu, di manakah letak keistimewaan orang?
Jawabannya terletak pada kemampuan menggunakan akal untuk berpikir, memahami, dan mengenali Tuhannya. Tidak mengherankan apabila Al-Qur'an berulang kali mengajak manusia untuk berpikir. Lebih dari tujuh puluh ayat di dalam Al-Qur'an diakhiri dengan ungkapan seperti, "bagi kaum yang berpikir" atau "agar kamu berpikir." Pesan ini menunjukkan bahwa berpikir bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan jalan menuju pengakuan atas kebesaran Allah SWT.
Manusia: Sebuah kesadaran Murni tentang Ketuhanan
Jika orang berbicara mengenai identitas, maka manusia dapat dipahami sebagai pribadi yang telah mencapai kesadaran akan hakikat dirinya sebagai makhluk Tuhan.
Apa yang dimaksud dengan kesadaran tersebut?
Bayangkan ada empat bayi yang baru lahir secara bersamaan: satu berasal dari Afrika, satu dari Indonesia, satu dari Tiongkok, dan satu dari dunia Arab. Pada saat itu mereka belum mengenal warna kulit, bangsa, bahasa, agama, status sosial, maupun perbedaan lainnya.
Mereka belum memiliki pengetahuan yang ditanamkan oleh lingkungan. Yang ada hanyalah kepolosan dan kemurnian. Jika mereka saling memandang, tidak ada ejekan, tidak ada prasangka, tidak ada kebencian. Mereka hanyalah sesama makhluk ciptaan Tuhan.
Seiring bertambahnya usia, berbagai pengetahuan mulai diperkenalkan. Identitas-identitas sosial mulai disematkan: ini orang Indonesia, itu orang Afrika, ini orang Arab, itu orang Tiongkok, ini si A, itu si B.
Identitas memang penting dalam kehidupan bermasyarakat. Namun apabila identitas tersebut melahirkan kesombongan, kebencian, atau merasa lebih tinggi dari yang lain, maka manusia mulai menjauh dari kesadaran akan persaudaraan sebagai sesama ciptaan Tuhan.
Amanah Menjadi Khalifah di Bumi
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hijr ayat 28–29:
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.'"
Ayat ini menggambarkan bahwa manusia memperoleh kemuliaan bukan semata-mata karena berasal dari tanah, melainkan karena Allah meniupkan ruh ciptaan-Nya dan mengamanahkan tugas sebagai khalifah di muka bumi. Dalam pemahaman para ulama, sujud para malaikat kepada Nabi Adam merupakan bentuk penghormatan atas perintah Allah, bukan penyembahan kepada manusia.
Kemuliaan tersebut diberikan karena ilmu, amanah, dan kedudukan yang Allah anugerahkan kepada manusia. Sebaliknya, Iblis menolak bersujud karena terjebak dalam kesombongan. Ia merasa asal penciptaannya lebih mulia daripada Adam. Kesombongan itulah yang menjadikannya jatuh.
Pelajaran ini tetap relevan hingga hari ini. Kemuliaan seseorang tidak diukur dari asal-usul, suku, warna kulit, jabatan, maupun kekayaan, melainkan dari ketakwaan, ilmu, akhlak, dan kemampuannya menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi.
Membangun Manusia Indonesia Seutuhnya
Para pendiri bangsa Indonesia pernah mencita-citakan lahirnya manusia Indonesia seutuhnya. Gagasan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral, spiritual, dan sosial.
Pendidikan seharusnya tidak hanya melahirkan orang-orang yang pandai berbicara, tetapi juga manusia yang mampu berpikir jernih, mencari solusi, menghargai perbedaan, dan mengutamakan kepentingan bersama.
Di era media sosial saat ini, kita sering menyaksikan budaya reaktif: mudah menghujat, cepat menghakimi, dan gemar memperbesar perbedaan tanpa menawarkan jalan keluar. Padahal bangsa ini jauh lebih membutuhkan manusia-manusia yang berpikir sebelum berbicara, yang menghadirkan solusi daripada sekadar kritik, serta yang menjadikan akal sebagai sarana untuk semakin mengenal kebesaran Tuhan.
Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh banyaknya orang yang hidup di dalamnya, tetapi oleh semakin banyaknya manusia yang sadar akan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi, membawa manfaat bagi sesama, dan mengabdikan seluruh kehidupannya kepada Sang Pencipta.
Penulis : Wahono - Aktifis dan Sekjend Aliansi Wargo Hutomo


