DAYA DAN UPAYA ITU DUA HAL YANG BERBEDA

Kita sering diajarkan untuk berusaha sekuat tenaga demi mencapai apa yang kita inginkan. Itu benar. Tetapi ada satu hal yang sering kita lupakan: Tidak semua hasil kehidupan ditentukan oleh seberapa besar usaha kita.
Ada yang disebut DAYA dan ada yang disebut UPAYA.
Upaya adalah apa yang kita lakukan sebagai manusia. Kita belajar. Kita bekerja. Kita berdoa. Kita merencanakan. Kita berjuang. Kita mencari jalan keluar. Itulah ikhtiar kemanusiaan kita.
Sementara daya adalah kesadaran bahwa di atas segala kemampuan manusia, ada kekuatan Tuhan yang jauh lebih besar.
Karena itu kita mengenal kalimat: “Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘aẓīm.” - Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Maha Agung.
Maka, jangan hanya memperbesar upaya. Perkuat juga daya. Karena sering kali kita begitu sibuk mengejar hasil, sampai lupa siapa yang sebenarnya menentukan hasil.
Kita bekerja keras, tetapi lupa berdoa.
Kita menyusun strategi, tetapi lupa berserah.
Kita mengejar kesuksesan, tetapi lupa menata hati.
Kita ingin mengendalikan semuanya, padahal tidak semua hal berada dalam kendali kita.
UPAYA 100%, HASIL SERAHKAN KEPADA TUHAN
Dalam sebuah refleksi spiritual, kita bisa menggambarkan bahwa daya memiliki porsi yang lebih besar daripada upaya—misalnya 70% daya dan 30% upaya. Bukan sebagai rumus matematika, tetapi sebagai pengingat bahwa hasil akhir tidak pernah sepenuhnya berada di tangan manusia.
Tugas kita adalah berupaya maksimal. Tetapi setelah upaya dilakukan, jangan memaksa Tuhan mengikuti keinginan kita. Di situlah pentingnya tawakal. Tawakal bukan berarti berhenti berusaha.Tawakal adalah berusaha sekuat tenaga, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.
Kita menanam. Tuhan yang menumbuhkan.
Kita berusaha. Tuhan yang menentukan hasil.
Kita mengetuk pintu. Tuhan yang menentukan pintu mana yang akan terbuka.
Maka, setelah semua upaya kita lakukan, belajarlah mengatakan:
“Ya Gusti, aku sudah melakukan yang terbaik dengan kemampuan yang Engkau berikan. Selebihnya, aku serahkan kepada-Mu.”
Itulah absolute surrender. Bukan menyerah karena kalah. Tetapi berserah karena sadar bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar daripada diri kita. Dan mungkin, di situlah letak ketenangan yang sesungguhnya:
Berjuang tanpa merasa paling berkuasa.
Berusaha tanpa kehilangan doa.
Mengejar cita-cita tanpa kehilangan Tuhan.
Dan berserah tanpa kehilangan semangat untuk berbuat.
Karena pada akhirnya:
UPAYA ADALAH TUGAS KITA.
DAYA ADALAH PERTOLONGAN-NYA.
HASIL ADALAH KEHENDAK-NYA.
Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh.
Semoga kita menjadi manusia yang bukan hanya pandai berjuang, tetapi juga pandai berserah.
Penulis : Wahono - Aktifis dan Sekjend AWH ( Aliansi Wargo Hutomo )


