Latah mengucapkan kata BERKAH tapi lupa akan Makna Terdalamnya

Jangan sekadar mengatakan “berkah”, pahamilah maknanya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sangat sering mendengar kata “berkah”. “Semoga berkah.” - “Semoga rezekinya berkah.” - “Semoga usahanya berkah.” - “Semoga acaranya membawa berkah.” - “Semoga hidup kita penuh keberkahan.” Kalimat-kalimat tersebut terdengar baik, bahkan menjadi bagian dari kebiasaan kita dalam berkomunikasi.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: Apa sebenarnya arti “berkah”?
Jangan sampai kita terlalu sering mengucapkan sebuah kata hanya karena terdengar baik dan terlihat agamis, sementara kita sendiri tidak memahami makna yang terkandung di dalamnya.
Berkah bukan sekadar banyak
Secara sederhana, berkah dapat dipahami sebagai kebaikan yang Allah berikan dan menetap atau memberi manfaat secara nyata dalam kehidupan.
Karena itu, sesuatu yang banyak belum tentu berkah.Harta yang banyak belum tentu berkah. Jabatan yang tinggi belum tentu berkah. Umur yang panjang belum tentu berkah. Ilmu yang luas belum tentu berkah. Bahkan anak yang banyak pun belum tentu berkah.
Sebaliknya, sesuatu yang terlihat sederhana dan sedikit bisa saja memiliki keberkahan yang besar. Penghasilan mungkin tidak besar, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan, membuat hati tenang, dapat dinikmati bersama keluarga, dan tidak membawa seseorang kepada kesombongan atau kemaksiatan.
Itulah salah satu gambaran tentang keberkahan.
Berkah bukan berarti hidup tanpa masalah
Ini juga penting untuk dipahami. Jangan mengira bahwa kehidupan yang berkah berarti kehidupan yang selalu mudah, kaya, sehat, lancar, dan bebas dari masalah.
Tidak selalu demikian. Orang yang hidupnya penuh keberkahan tetap bisa mengalami kesulitan, kehilangan, kegagalan, bahkan ujian.
Perbedaannya adalah: ujian tersebut tidak membuatnya kehilangan arah, melainkan dapat menjadi jalan untuk bertumbuh, belajar, bersabar, dan semakin dekat kepada Tuhan. Maka, keberkahan bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi juga tentang apa yang terjadi pada diri kita melalui apa yang kita miliki.
Banyak belum tentu berkah
Coba kita renungkan…, Ada orang memiliki banyak uang, tetapi tidak pernah merasa cukup. Ada orang memiliki jabatan tinggi, tetapi hidupnya dipenuhi ketakutan. Ada orang memiliki rumah besar, tetapi keluarganya tidak pernah merasa nyaman di dalamnya. Ada orang memiliki ilmu tinggi, tetapi ilmunya justru digunakan untuk merendahkan orang lain. Ada orang memiliki banyak pengikut, tetapi tidak mampu menjadi teladan.
Apakah semua itu otomatis disebut berkah? Belum tentu. Sebab ukuran keberkahan bukan semata-mata kuantitas, tetapi kualitas dan manfaatnya.
Yang sedikit tetapi cukup, bisa lebih berkah daripada yang banyak tetapi tidak pernah merasa cukup.Yang sederhana tetapi menenteramkan, bisa lebih berkah daripada yang mewah tetapi membuat hati gelisah.
Berkah selalu berkaitan dengan manfaat
Salah satu cara sederhana untuk memahami keberkahan adalah dengan melihat manfaat yang lahir dari sesuatu.
Uang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membantu orang lain, membangun usaha yang jujur, dan memberikan manfaat bagi banyak orang dapat menjadi jalan keberkahan. Ilmu yang membuat seseorang semakin rendah hati dan bermanfaat bagi sesama dapat menjadi ilmu yang berkah.Kekuasaan yang digunakan untuk melayani masyarakat, bukan untuk menindas, dapat menjadi kekuasaan yang berkah.
Waktu yang digunakan untuk belajar, bekerja, beribadah, berkarya, dan membantu sesama dapat menjadi waktu yang berkah. Dengan demikian, keberkahan bukan hanya persoalan berapa banyak yang kita punya, tetapi untuk apa yang kita punya dan apa yang lahir darinya.
Berkah juga bukan kata untuk membenarkan segala sesuatu
Di sinilah kita perlu berhati-hati. Jangan setiap keberhasilan langsung kita sebut “berkah”, tanpa melihat bagaimana keberhasilan itu diperoleh. Sebab cara mendapatkan sesuatu juga penting.
Kalau harta diperoleh dengan cara yang tidak benar, lalu kita mengatakan “semoga berkah”, apakah cukup hanya dengan mengucapkan kata tersebut? Tentu tidak. Keberkahan bukan mantra yang membuat sesuatu yang salah menjadi benar. Bukan pula kata yang dapat menghapus proses yang tidak baik. Karena itu, sebelum mengatakan: “Semoga berkah,” - ada baiknya kita bertanya: “Apakah yang kita lakukan ini sudah benar?”
Sebab keberkahan seharusnya berjalan bersama dengan kebaikan, kejujuran, tanggung jawab, dan manfaat.
Jangan latah mengatakan “berkah”
Kita hidup di zaman ketika banyak kata menjadi populer karena sering digunakan. Sebuah kata diulang terus-menerus, kemudian menjadi kebiasaan. Akhirnya kita mengucapkannya tanpa benar-benar memahami maknanya. Termasuk kata “berkah”. Padahal setiap kata memiliki makna dan tanggung jawab. Ketika kita mengatakan: “Semoga berkah,”
Sesungguhnya kita sedang mengharapkan agar sesuatu yang baik itu mendapatkan kebaikan dari Tuhan, membawa manfaat, memberikan kecukupan, menghadirkan ketenteraman, serta memiliki nilai kebaikan yang melampaui sekadar jumlah atau ukuran duniawi.
Maka jangan jadikan “berkah” sekadar pemanis ucapan. Pahamilah sebelum mengucapkan. Renungkanlah sebelum meminta. Dan berusahalah menghadirkan kebaikan sebelum mengharapkan keberkahan.
Lalu, bagaimana kita mengetahui sesuatu itu berkah?
Tidak ada manusia yang dapat memastikan secara mutlak bahwa sesuatu yang dimilikinya pasti berkah, karena keberkahan pada akhirnya merupakan karunia dan kehendak Tuhan. Namun kita dapat melihat tanda-tanda kebaikan yang menyertainya.
Apakah sesuatu itu membuat kita semakin bersyukur?
Apakah membuat kita semakin rendah hati?
Apakah membuat kita semakin dekat kepada Tuhan?
Apakah memberi manfaat kepada keluarga dan orang lain?
Apakah membuat kita mampu berbagi?
Apakah membawa ketenteraman, bukan sekadar kesenangan sesaat?Apakah semakin banyak yang kita miliki membuat kita semakin menjadi manusia yang baik?
Jika iya, mungkin di situlah kita sedang merasakan buah dari keberkahan.
Pada akhirnya, berkah adalah tentang kualitas kehidupan
Mungkin inilah yang sering kita lupakan. Kita terlalu sibuk mengejar lebih banyak, tetapi lupa mengejar lebih bermakna. Kita mengejar banyak uang, tetapi lupa mencari ketenangan.Kita mengejar jabatan, tetapi lupa mencari manfaat. Kita mengejar popularitas, tetapi lupa membangun integritas. Kita mengejar kesenangan, tetapi lupa membangun kebahagiaan.
Padahal hidup bukan hanya tentang berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga berapa banyak kebaikan yang dapat kita lahirkan dari apa yang kita miliki.
Maka mulai sekarang, jangan hanya bertanya: “Berapa banyak yang saya punya?”
Tetapi bertanyalah: “Seberapa besar manfaat dari apa yang saya punya?”
Jangan hanya bertanya: “Seberapa tinggi kedudukan saya?”
Tetapi bertanyalah: “Seberapa banyak orang yang menjadi lebih baik karena keberadaan saya?”
Dan jangan hanya mengatakan: “Semoga berkah.”
Tetapi berusahalah agar apa yang kita miliki, apa yang kita kerjakan, dan apa yang kita lakukan benar-benar menjadi jalan kebaikan dan kemanfaatan.
Karena berkah bukan sekadar kata yang diucapkan.
Berkah adalah kebaikan yang dirasakan, manfaat yang ditumbuhkan, ketenteraman yang hadir, dan nilai baik yang terus mengalir dari apa yang kita miliki dan kita lakukan. Jangan latah mengucapkan “berkah”. Pahami maknanya, jaga prosesnya, dan hadirkan kebaikannya.
Semoga apa yang kita miliki bukan hanya banyak, tetapi juga cukup. Bukan hanya cukup, tetapi bermanfaat. Dan bukan hanya bermanfaat, tetapi menjadi jalan keberkahan.
Penulis : Wahono – Aktifis dan Sekjend AWH (Aliansi Wargo Hutomo)



