Orang Tua yang Melahirkan Anak, atau Justru Anak yang Melahirkan Orang Tua?

Sebuah Renungan untuk Kita yang Menyandang Peran sebagai Orang Tua - RE-Parenting
Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: “Siapa sebenarnya yang melahirkan siapa?”
Secara biologis, tentu orang tua yang melahirkan anak. Namun jika kita melihatnya dari sudut pandang peran dan identitas, ada sebuah kenyataan menarik: Justru Anaklah yang menjadikan seseorang disebut sebagai orang tua.
Inilah salah satu cara melihat konsep Re-Parenting—sebuah ajakan untuk melihat kembali makna menjadi orang tua, bukan sekadar sebagai orang yang melahirkan atau membesarkan anak, tetapi sebagai manusia yang mendapatkan kesempatan untuk belajar menjadi orang tua melalui kehadiran seorang anak.
Dari Suami dan Istri Menjadi Orang Tua
Ketika seorang laki-laki dan perempuan menjalin hubungan, kemudian menikah, mereka disebut suami dan istri. Selama belum memiliki anak, mereka belum menyandang identitas sebagai ayah dan ibu. Lalu lahirlah seorang anak dari rahim sang ibu. Atau dalam kondisi tertentu, mereka mendapatkan amanah untuk mengasuh dan membesarkan seorang anak melalui proses pengangkatan atau adopsi. Sejak saat itulah, mereka mulai dipanggil: Ayah dan Ibu atau Bapak dan Ibu atau Orang tua.
Menariknya, secara sosial dan peran, kehadiran anaklah yang membuat seorang suami menjadi ayah dan seorang istri menjadi ibu. Dengan kata lain:
Maka, menjadi orang tua seharusnya tidak hanya dipahami sebagai sebuah status, tetapi sebagai amanah dan proses pembelajaran sepanjang kehidupan.
Anak Tidak Pernah Memilih Dilahirkan
Kita sering mendengar kalimat: “Anak harus berbakti kepada orang tua.” Tentu, berbakti kepada orang tua adalah nilai yang sangat luhur. Namun sebelum menuntut anak untuk berbakti, ada pertanyaan yang layak kita renungkan: Apakah orang tua juga sudah benar-benar berbakti kepada anak?
Sebab anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Anak tidak pernah diberi pilihan:
“Saya ingin lahir dari keluarga seperti apa?”
“Saya ingin memiliki ayah dan ibu siapa?”
“Saya ingin lahir dalam keadaan kaya atau miskin?”
“Saya ingin tinggal di lingkungan seperti apa?”
“Saya ingin memiliki wajah, tubuh, kemampuan dan keadaan seperti apa?”
Semua itu sudah ditentukan sebelum anak mampu membuat pilihan.
Karena itu, ketika kita memilih untuk menghadirkan seorang anak ke dunia, sesungguhnya kitalah yang mengambil keputusan tersebut.
Anak kemudian hadir membawa kehidupannya sendiri. Maka, memiliki anak bukan sekadar mendapatkan keturunan. Memiliki anak berarti menerima amanah.
Jangan Paksa Anak Menjadi “Durian”
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam pola pengasuhan adalah ketika orang tua terlalu sibuk menentukan anak harus menjadi apa, tanpa terlebih dahulu memahami anak sebenarnya memiliki potensi menjadi siapa.
Bayangkan seorang anak memiliki potensi seperti mangga. Tetapi karena orang tuanya menyukai durian, anak itu dipaksa untuk menjadi durian. Diajari menjadi durian. Diarahkan menjadi durian. Dibandingkan dengan durian lain. Bahkan ketika anak tumbuh menjadi mangga yang luar biasa, orang tua masih mengatakan: “Kenapa kamu tidak bisa seperti durian?”
Padahal mungkin persoalannya bukan pada anak.
Persoalannya adalah orang tua belum memahami bahwa setiap anak memiliki benih, karakter, bakat dan jalan pertumbuhannya sendiri.
Tugas orang tua bukan menciptakan anak sesuai dengan ambisi mereka. Tugas orang tua adalah: menemukan potensi, merawatnya, mengarahkannya, mendidiknya dan memberikan ruang agar potensi itu tumbuh secara optimal.
Kalau anak memiliki bakat seni, jangan dipaksa menjadi insinyur hanya karena orang tua menginginkannya. Kalau anak memiliki bakat berdagang, jangan dianggap gagal hanya karena tidak menjadi pegawai. Kalau anak memiliki kemampuan di bidang olahraga, jangan dianggap masa depannya tidak jelas hanya karena jalannya berbeda.
Tentu orang tua tetap memiliki kewajiban untuk mendidik, memberikan batasan, menanamkan nilai moral, agama, tanggung jawab dan kedisiplinan. Tetapi mendidik bukan berarti mematikan pilihan. Mengarahkan bukan berarti memaksakan. Melindungi bukan berarti mengurung. Dan mencintai bukan berarti memiliki sepenuhnya.
Berbakti kepada Anak
Mungkin terdengar aneh jika kita mengatakan: “Orang tua harus berbakti kepada anak.”
Bukankah selama ini anak yang harus berbakti kepada orang tua?
Jawabannya: keduanya.
Anak memiliki kewajiban menghormati dan berbakti kepada orang tua. Namun orang tua juga memiliki tanggung jawab moral untuk berbakti kepada amanah yang telah dipercayakan Tuhan kepadanya.
Berbakti kepada anak bukan berarti menuruti semua keinginan anak. Bukan pula memanjakan anak tanpa batas. Berbakti kepada anak berarti memberikan apa yang memang menjadi haknya: kasih sayang, pendidikan, perlindungan, keteladanan, kesempatan berkembang, penghargaan terhadap dirinya, serta bimbingan untuk menjadi manusia yang baik.
Orang tua juga perlu belajar meminta maaf kepada anak ketika melakukan kesalahan. Belajar mendengarkan. Belajar memahami. Belajar menerima bahwa anak bukanlah salinan dirinya.
Dan yang paling penting: belajar melepaskan ego.
Karena anak bukan proyek kehidupan orang tua. Anak adalah manusia yang memiliki kehidupan, kehendak, potensi dan jalan hidupnya sendiri.
Lalu, Kapan Anak Harus Berbakti kepada Orang Tua?
Ketika anak tumbuh, berkembang, mendapatkan pendidikan, memiliki karakter yang baik dan mampu memahami nilai kehidupan, maka akan tumbuh pula kesadaran dalam dirinya untuk menghormati dan berbakti kepada orang tua.
Berbakti tidak selalu berarti memberikan uang. Tidak selalu berarti memenuhi semua keinginan orang tua. Berbakti dapat diwujudkan melalui hal-hal sederhana: berbicara dengan sopan, menjaga komunikasi, memperhatikan keadaan orang tua, menghormati keputusan mereka, membantu ketika membutuhkan, serta menjaga nama baik keluarga.
Dan ketika orang tua semakin tua, anak dapat hadir bukan karena terpaksa, melainkan karena kesadaran dan rasa cinta.
Di situlah hubungan orang tua dan anak menjadi hubungan yang matang. Bukan lagi sekadar: “Saya orang tua, kamu harus patuh.”
Tetapi berubah menjadi: “Kita adalah dua generasi yang saling menjaga, saling menghormati dan saling menyayangi.”
Re-Parenting: Orang Tua Juga Perlu “Dilahirkan Kembali”
Menjadi orang tua bukanlah sesuatu yang selesai ketika seorang anak lahir. Justru saat anak lahir, proses menjadi orang tua baru saja dimulai.
Anak tumbuh, Orang tua belajar.
Anak berubah, Orang tua harus beradaptasi.
Anak menemukan dirinya, Orang tua belajar melepaskan.
Inilah makna penting Re-Parenting: kesediaan orang tua untuk terus mengevaluasi cara mendidik, memperbaiki kesalahan masa lalu, menyembuhkan pola pengasuhan yang keliru, dan belajar menjadi orang tua yang lebih baik.
Karena tidak ada orang tua yang sempurna.
Ada orang tua yang pernah salah.
Ada yang pernah terlalu keras.
Ada yang terlalu mengekang.
Ada yang terlalu banyak menuntut.
Ada yang tanpa sadar menjadikan anak sebagai pelampiasan ambisi.
Tetapi selama masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri, semuanya belum terlambat. Orang tua juga boleh berkata kepada anak:
“Maaf, dulu Bapak/Ibu mungkin terlalu keras kepadamu.”
“Maaf, dulu kami terlalu banyak menuntut.”
“Sekarang kami ingin belajar memahami kamu.”
Kalimat sederhana seperti itu kadang jauh lebih bermakna dari pada seribu nasihat.
Pada Akhirnya, Kita Saling Melahirkan
Mungkin kita selama ini melihat hubungan orang tua dan anak secara satu arah: Orang tua melahirkan anak. Anak berbakti kepada orang tua.
Namun jika direnungkan lebih dalam, hubungan itu sebenarnya berjalan dua arah. Orang tua melahirkan anak secara biologis. Anak melahirkan identitas orang tua secara sosial dan emosional.
Orang tua membesarkan anak, Anak mengajarkan orang tua tentang kesabaran.
Orang tua memberikan kehidupan, Anak memberikan makna baru dalam kehidupan orang tua.
Orang tua mendidik anak, Namun dalam banyak hal, anak juga mendidik orang tua untuk menjadi manusia yang lebih sabar, lebih bertanggung jawab, lebih dewasa dan lebih mencintai tanpa syarat.
Maka, jangan hanya bertanya: “Apakah anak saya sudah berbakti kepada saya?”
Sesekali tanyakan juga kepada diri sendiri: “Apakah saya sudah berbakti kepada anak saya?”
Bukan karena anak lebih tinggi daripada orang tua. Bukan pula untuk membalikkan kewajiban.Tetapi agar kita memahami bahwa menjadi orang tua adalah amanah, bukan sekadar gelar. Sebab pada akhirnya, seorang anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang mau hadir, mau belajar, mau mendengarkan, mau memahami, mau mengakui kesalahan, dan mau tumbuh bersama mereka.
Dan inilah hakikat Re-Parenting:
Karena anak bukan hanya buah hati yang kita lahirkan. Anak juga adalah guru yang Tuhan hadirkan untuk mengajarkan kita tentang kehidupan.
Penulis : Wahono - Aktifis dan Sekjend AWH (Aliansi Wargo Hutomo)
