Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482
Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482


Oleh : Wahono - Aktifis
Ada sebuah pertanyaan sederhana tetapi sangat dalam : Untuk apa manusia diciptakan? - Pertanyaan ini telah menjadi bahan renungan manusia sepanjang zaman. Manusia membangun rumah, kota, negara, ilmu pengetahuan, teknologi dan berbagai sistem kehidupan. Manusia bahkan mampu mengirimkan kendaraan ke luar angkasa dan menciptakan kecerdasan buatan.
Tetapi di tengah kemajuan tersebut, muncul sebuah paradox : Mengapa manusia yang semakin cerdas belum tentu semakin bijaksana? - Mengapa ilmu pengetahuan yang begitu maju masih bisa berjalan berdampingan dengan peperangan, keserakahan, ketidakadilan, kebencian dan penghancuran lingkungan?
Mungkin persoalannya bukan karena manusia kekurangan ilmu. Mungkin persoalannya adalah karena perkembangan kecerdasan manusia tidak selalu diikuti perkembangan kesadarannya.
Di sinilah kita dapat mencoba membaca kembali perjalanan 25 Nabi dan Rasul dengan sebuah perspektif reflektif. Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai tafsir baru terhadap Al-Qur'an, apalagi menggantikan penafsiran para ulama.
Pemaknaan nama dan urutan yang digunakan di sini adalah pembacaan filosofis dan simbolik untuk mencari hikmah tentang perjalanan manusia. Jika dibaca sebagai sebuah peta perjalanan batin, kisah 25 Nabi dan Rasul dapat memberikan inspirasi tentang bagaimana manusia bergerak :
Dari kesadaran menuju pembelajaran, dari pembelajaran menuju pengetahuan, dari pengetahuan menuju kebijaksanaan, dari kebijaksanaan menuju akhlak, dan dari akhlak menuju peradaban.
Inilah yang saya sebut sebagai : 25 TAHAPAN EVOLUSI KESADARAN MANUSIA.
Segala perjalanan selalu mempunyai titik awal. Dan dalam tradisi Islam, perjalanan manusia dimulai dari Adam AS. Adam dapat kita jadikan simbol tentang lahirnya kesadaran manusia. Manusia bukan hanya jasad. Ada ruh. Ada jiwa. Ada pikiran. Ada perasaan. Ada emosi. Ada kehendak. Dan ada kesadaran.
Di dalam diri manusia terdapat berbagai kecenderungan yang terus berinteraksi. Ada dorongan untuk melakukan kebaikan, tetapi ada pula dorongan untuk mengikuti hawa nafsu. Karena itu, menjadi manusia sesungguhnya bukan hanya persoalan biologis. Menjadi manusia adalah sebuah proses kesadaran.
Bayangkan beberapa bayi yang baru lahir dari berbagai bangsa berada dalam satu ruangan. Ada bayi Indonesia, bayi Afrika, bayi Arab, bayi Tiongkok dan bayi dari berbagai latar belakang lainnya. Ketika baru lahir, mereka belum memahami ras, bangsa, status sosial, kekayaan maupun identitas politik.
Mereka hanya menangis ketika membutuhkan sesuatu dan tersenyum ketika merasakan kenyamanan. Seorang bayi tidak akan melihat bayi lain lalu berkata : "Kulitmu berbeda denganku." - "Bangsamulah yang paling hebat." - "Kamu lebih rendah dariku."
Perbedaan-perbedaan tersebut datang kemudian, ketika manusia mulai belajar tentang identitas, kelompok dan berbagai konstruksi sosial. Inilah yang dapat kita jadikan analogi tentang kesadaran murni.
Kesadaran murni tidak sibuk menghakimi. Ia melihat kehidupan sebagai sesuatu yang berasal dari Sang Pencipta. Karena itu, manusia perlu belajar satu prinsip : Jangan terlalu sibuk mengisi rapor kehidupan orang lain. Kita semua adalah murid dalam sekolah kehidupan. Dan yang paling berhak memberikan penilaian akhir terhadap setiap manusia adalah Tuhan.
Dari sinilah perjalanan dimulai :
Sadar bahwa aku ada. Sadar bahwa aku hidup. Sadar bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi daripada diriku.
Itulah tahap pertama. ADAM = Sang KESADARAN
Kesadaran tanpa pembelajaran akan berhenti sebagai pengalaman sesaat. Karena itu, setelah sadar, manusia harus belajar. Idris dalam pembacaan reflektif ini ditempatkan sebagai simbol pembelajaran.
Manusia yang sadar akan menyadari bahwa dirinya tidak tahu banyak hal. Semakin banyak belajar, semakin ia memahami luasnya kehidupan. Sekolah tidak hanya berada di ruang kelas. Kehidupan adalah sekolah. Orang tua adalah guru. Pengalaman adalah guru. Kegagalan adalah guru. Bahkan penderitaan pun dapat menjadi guru.
Maka manusia yang ingin berkembang tidak boleh berhenti belajar. Ia harus terus memperbarui pengetahuan, memperbaiki cara berpikir dan mengevaluasi dirinya sendiri. Karena manusia yang berhenti belajar akan mulai menganggap dirinya paling tahu. Dan ketika seseorang merasa paling tahu, sesungguhnya proses pertumbuhannya mulai berhenti.
IDRIS = BELAJAR
Belajar ternyata tidak selalu menyenangkan. Ada saatnya kita harus berkorban. Ada saatnya kita harus menahan diri. Ada saatnya kita harus bekerja lebih keras daripada orang lain. Ada saatnya kita harus berjalan sendirian.
Nuh dapat kita jadikan simbol bahtera kehidupan sekaligus ketekunan menghadapi proses. Bahtera tidak dibangun dalam satu malam. Ia membutuhkan waktu. Tenaga. Kesabaran. Dan keyakinan.
Begitu pula manusia. Tidak mungkin membangun kualitas diri tanpa proses. Tidak mungkin mendapatkan pengetahuan tanpa kesungguhan. Tidak mungkin memperoleh kedewasaan tanpa pengalaman. Maka kehidupan membutuhkan keprihatinan dalam arti kesediaan menjalani proses dengan disiplin dan kesabaran.
Bukan semua keinginan harus segera diwujudkan. Bukan semua kenikmatan harus segera dinikmati.Kadang-kadang seseorang harus berkata : “Tidak sekarang. Saya sedang membangun sesuatu yang lebih besar.” - Itulah semangat bahtera Nuh.
NUH = PROSES DAN KETEKUNAN
Belajar dan menjalani proses pada akhirnya membawa manusia kepada pencarian yang lebih tinggi : Apa yang benar?. Manusia membutuhkan arah. Pengetahuan tanpa arah dapat menyesatkan. Kecerdasan tanpa moral dapat berbahaya. Kekuatan tanpa kebijaksanaan dapat menghancurkan. Karena itu manusia membutuhkan petunjuk.
Hud dalam pembacaan reflektif ini menjadi simbol tentang petunjuk dan cahaya. Ketika manusia menemukan petunjuk, kehidupannya mulai berubah. Ia mulai mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang perlu dikejar dan mana yang harus ditinggalkan. Mana yang hanya menyenangkan sesaat dan mana yang benar-benar bernilai.
HUD = PETUNJUK
Petunjuk yang benar seharusnya menghasilkan perubahan perilaku. Manusia tidak cukup hanya mengetahui kebaikan. Ia harus melakukan kebaikan. Tidak cukup memahami keadilan. Ia harus berlaku adil. Tidak cukup berbicara tentang persatuan. Ia harus menjadi perekat persatuan. Tidak cukup berbicara tentang perubahan.
Ia harus menjadi bagian dari perubahan. Inilah makna reflektif dari Saleh : manusia yang membawa perbaikan. Maka ukuran kualitas seseorang bukan hanya apa yang ada di dalam pikirannya, tetapi juga apa yang keluar melalui perkataan dan tindakannya.
SALEH = KEBAIKAN YANG MENJADI TINDAKAN
Manusia kemudian memasuki tahap yang lebih tinggi : berpikir. Critical Thinking. Ibrahim menjadi simbol penting dalam perjalanan pencarian kebenaran. Ia tidak sekadar menerima sesuatu secara pasif. Ia mengamati. Ia bertanya. Ia menggunakan akal. Ia mencari alasan. Ia mencari kebenaran.
Dari sini kita belajar bahwa iman dan akal tidak harus dipertentangkan. Akal dapat menjadi alat untuk membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan. Manusia yang matang bukan manusia yang takut bertanya.Tetapi manusia yang berani bertanya dengan niat mencari kebenaran.
IBRAHIM = NALAR DAN PENCARIAN KEBENARAN
Pengetahuan yang hanya tinggal di kepala belum cukup. Seseorang dapat mengetahui teori tentang kesabaran tetapi tetap mudah marah. Dapat mengetahui teori tentang kejujuran tetapi masih suka berbohong. Dapat berbicara tentang kasih sayang tetapi gemar menghina orang lain.
Artinya pengetahuan belum menjadi kesadaran. Dalam pembacaan reflektif ini, Luth ditempatkan sebagai simbol sesuatu yang berkesan dan melekat di hati.
Kebenaran harus mengalami internalisasi. Dari kepala turun ke hati. Dari hati turun menjadi sikap. Dari sikap menjadi kebiasaan. Dan dari kebiasaan menjadi karakter.
LUTH = KEBENARAN YANG MERESAP MENJADI KARAKTER
Setelah manusia memiliki kesadaran dan kemampuan berpikir, ia perlu belajar mendengar. Mendengar adalah bentuk kerendahan hati. Orang yang tidak mau mendengar akan terjebak dalam pikirannya sendiri. Ia hanya mencari informasi yang membenarkan pendapatnya.
Ia tidak lagi mencari kebenaran. Ia mencari pembenaran. Karena itu, kemampuan mendengar merupakan bagian penting dari kecerdasan.
Dengarkan dahulu sebelum menilai.
ISMAIL = MENDENGAR
Di zaman modern, manusia menghadapi masalah baru : banjir informasi. Setiap hari kita menerima ribuan informasi. Berita. Video. Komentar. Opini. Propaganda. Iklan. Hoaks. Potongan-potongan fakta. Karena itu, manusia tidak cukup hanya mampu mendengar. Ia harus mampu menyaring.
Ishaq dalam pembacaan reflektif ini ditempatkan sebagai simbol kemampuan filtering.
Informasi harus diuji. Harus dianalisis. Harus dibandingkan. Harus dilihat konteksnya. Sebab : Tidak semua yang viral itu benar. Tidak semua yang populer itu baik. Dan tidak semua yang terdengar meyakinkan adalah kebenaran.
ISHAQ = MENYARING DAN MENGANALISIS
Mendengar. Menyaring. Menganalisis. Kemudian menyimpulkan. Inilah tahapan berpikir yang sehat.Manusia yang matang tidak mudah terprovokasi. Ia tidak terburu-buru mengambil keputusan. Ia memberikan kesempatan kepada akal untuk bekerja.
Karena itu, kesimpulan yang baik bukanlah hasil dari emosi sesaat. Ia adalah hasil dari proses berpikir.
YA'QUB = KESIMPULAN
Manusia yang mampu memahami masa lalu dan membaca masa kini mulai memiliki kemampuan berikutnya : membayangkan masa depan. Yusuf menjadi simbol tentang visi.
Seorang visioner tidak hanya bertanya : “Apa yang terjadi?” - Ia bertanya : “Apa yang akan terjadi?”. Dan pertanyaan yang lebih penting : “Apa yang harus saya lakukan sebelum itu terjadi?”,
Inilah dasar perencanaan. Inilah dasar strategi. Inilah dasar pembangunan. Sebuah bangsa yang tidak memiliki visi akan selalu menjadi pengikut perubahan. Tetapi bangsa yang memiliki visi dapat menjadi pengarah perubahan.
YUSUF = VISI
Tidak semua visi berjalan sesuai rencana. Ada kegagalan. Ada kehilangan. Ada penderitaan. Ada masa ketika hidup terasa tidak adil.
Ayyub menjadi simbol tentang : kesabaran, ketahanan dan kemampuan untuk tetap bertahan dalam ujian.
Manusia yang sadar bukan manusia yang tidak pernah jatuh. Manusia yang sadar adalah manusia yang mampu bangkit setelah jatuh. Karena itu, salah satu ukuran kematangan seseorang bukanlah seberapa sering ia menang. Tetapi seberapa kuat ia mampu bangkit ketika mengalami kekalahan.
AYYUB = KETAHANAN DAN PEMULIHAN
Kehidupan tidak pernah hanya terdiri dari satu perspektif. Ada perbedaan. Ada kepentingan. Ada pengalaman. Ada sudut pandang. Ada konflik. Dan manusia yang matang tidak selalu mencari siapa yang harus dikalahkan. Ia mencari : Apa yang dapat dipadukan?
Inilah semangat sintesis. Berbagai gagasan berbeda dapat dipertemukan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih utuh. Inilah salah satu kemampuan tertinggi manusia : mengubah perbedaan menjadi energi untuk menciptakan sesuatu yang baru.
SYU'AIB = SINTESIS
Pada tahap berikutnya, manusia memasuki wilayah kecerdasan. Musa menjadi salah satu simbol paling kuat dalam perjalanan kenabian tentang keberanian, ketegasan dan kecerdasan menghadapi persoalan.
Kecerdasan memungkinkan manusia memecahkan masalah. Dengan kecerdasan manusia menemukan teknologi. Dengan kecerdasan manusia membangun sistem. Dengan kecerdasan manusia menjelajah alam semesta.
Namun ada persoalan besar :
Apa yang terjadi jika kecerdasan tidak memiliki moral?
Kecerdasan tanpa akhlak bisa menjadi ancaman. Karena itu, Musa membutuhkan Harun.
Harun menjadi partner penting bagi Musa. Dari sini kita dapat mengambil sebuah pelajaran simbolik : Kecerdasan harus berjalan bersama kejujuran.
Orang pintar yang tidak jujur dapat memanipulasi. Orang cerdas yang tidak tulus dapat memperdaya. Orang berilmu yang tidak berakhlak dapat menggunakan ilmu untuk kepentingannya sendiri.
Maka manusia ideal bukan hanya : SMART - tetapi juga : GOOD.Bukan hanya cerdas. Tetapi benar. Bukan hanya mampu. Tetapi dapat dipercaya.
HARUN = KEJUJURAN DAN KETULUSAN
Setelah memperoleh ilmu dan kecerdasan, manusia memperoleh amanah. Apa yang dimiliki harus dipelihara. Kepercayaan harus dipelihara. Lingkungan harus dipelihara. Keluarga harus dipelihara.Masyarakat harus dipelihara. Peradaban harus dipelihara.
Inilah simbol Dzulkifli dalam perjalanan reflektif ini :
kemampuan menjaga apa yang telah dipercayakan Tuhan kepada manusia.
Sebab memperoleh sesuatu jauh lebih mudah daripada mempertahankannya.
DZULKIFLI = MEMELIHARA DAN BERTANGGUNG JAWAB
Ilmu tanpa karya hanya menjadi potensi. Gagasan tanpa tindakan hanya menjadi wacana. Mimpi tanpa kerja hanya menjadi angan-angan.
Daud menjadi simbol tentang kerja keras dan kemampuan mengolah kenyataan.
Di sinilah manusia mulai memasuki fase produktif : berpikir → mencipta → bekerja → menghasilkan. Sebab Pradaban tidak dibangun oleh manusia yang hanya pandai berbicara. Peradaban dibangun oleh manusia yang mau bekerja.
DAUD = KERJA DAN KARYA
Ketika manusia telah berhasil, ada bahaya baru : kesombongan. Ia merasa sudah tahu semuanya.Ia merasa sudah berhasil. Ia merasa sudah selesai. Padahal ilmu Tuhan begitu luas.
Sulaiman dapat kita jadikan simbol tentang rasa ingin tahu, eksplorasi dan kemampuan mengembangkan pengetahuan.
Manusia yang sadar akan selalu berkata : “Masih banyak yang belum saya ketahui.”Itulah sikap seorang peneliti. Ia tidak puas dengan jawaban lama ketika menemukan pertanyaan baru.
SULAIMAN = RISET DAN EKSPLORASI
Ilmu dan pengetahuan terkadang menempatkan manusia pada posisi yang tidak nyaman.
Ada saatnya kita harus berbeda.
Ada saatnya harus mengatakan tidak.
Ada saatnya harus berdiri sendirian.
Ilyas dapat ditempatkan sebagai simbol keberanian.Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut.
Keberanian adalah tetap melakukan yang benar meskipun rasa takut ada.
ILYAS = KEBERANIAN
Ilmu tidak boleh berhenti pada diri sendiri.Kebaikan tidak boleh berhenti pada keluarga sendiri.Kemajuan tidak boleh berhenti pada kelompok sendiri.Apa yang kita miliki harus dikembangkan agar manfaatnya semakin luas.Inilah semangat Ilyasa:
Pengembangan dan perluasan manfaat.
Dari individu menuju keluarga.Dari keluarga menuju masyarakat.Dari masyarakat menuju bangsa.Dari bangsa menuju kemanusiaan.
ILYASA = PENGEMBANGAN DAN PERLUASAN MANFAAT
Ada sebuah jebakan besar dalam perjalanan kesadaran : Ego.
Manusia bisa menjadi pintar lalu merasa paling pintar.
Menjadi kaya lalu merasa paling tinggi.
Menjadi pemimpin lalu merasa paling berkuasa.
Memiliki ilmu lalu merasa paling benar.
Karena itu, manusia perlu belajar tunduk dan rendah hati.Yunus dapat kita jadikan simbol tentang kesantunan, ketundukan dan kebijaksanaan.Semakin tinggi seseorang, seharusnya semakin rendah hati.Sebab manusia tetap manusia.Dan Tuhan tetap Tuhan.
YUNUS = RENDAH HATI DAN BIJAKSANA
Dalam kehidupan ada masa ketika seseorang mengalami kejenuhan.Rutinitas menjadi monoton.Semangat menurun.Harapan terasa jauh.Manusia merasa hidupnya berhenti.Namun justru pada titik itulah manusia harus kembali mencari makna.
Zakaria dapat kita jadikan simbol tentang fase ketika manusia membutuhkan harapan baru.
Ia mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak berhenti hanya karena sebuah keadaan tampak mustahil.Selalu ada kemungkinan baru.Selalu ada pintu yang belum terbuka.
ZAKARIA = MENEMUKAN KEMBALI HARAPAN
Setelah harapan muncul, lahirlah energi baru.Yahya dapat dibaca secara reflektif sebagai simbol daya hidup. Manusia yang kembali menemukan harapan akan memiliki energi untuk bergerak.Ia kembali berkarya.
Kembali bermimpi.Kembali mencintai kehidupan.
Kembali percaya bahwa masa depan masih mungkin diperbaiki.
Karena itu:
Selama harapan masih hidup, perjalanan belum selesai.
YAHYA = DAYA HIDUP DAN ENERGI BARU
Pada tahap yang lebih tinggi, manusia mulai menyadari bahwa kehidupan bukan hanya tentang dirinya.
Ia mulai melihat penderitaan orang lain.
Ia mulai merasakan kesedihan sesama.
Ia mulai memahami bahwa manusia saling terhubung.
Di sinilah Isa dapat kita tempatkan sebagai simbol kasih sayang dan welas asih.Kesadaran yang tinggi seharusnya tidak membuat manusia semakin dingin. Sebaliknya : semakin sadar, semakin peduli.
Semakin berilmu, semakin rendah hati.Semakin kuat, semakin melindungi.Semakin kaya, semakin berbagi.Semakin tinggi kedudukannya, semakin besar manfaatnya bagi orang lain.
ISA = WELAS ASIH
Dan akhirnya perjalanan itu sampai kepada Muhammad SAW.Muhammad bukan sekadar penutup urutan.Dalam pembacaan reflektif ini, Muhammad menjadi simbol integrasi seluruh kualitas manusia.
01. Adam → Kesadaran
02. Idris → Pembelajaran
03. Nuh → Keprihatinan dan ketekunan
04. Hud → Petunjuk
05. Saleh → Kebaikan dan perbaikan
06. Ibrahim → Nalar dan pencarian kebenaran
07. Luth → Internalisasi kebenaran
08. Ismail → Mendengar
09. Ishaq → Menyaring
10. Ya'qub → Menyimpulkan
11. Yusuf → Visi
12. Ayyub → Ketahanan dan pemulihan
13. Syu'aib → Sintesis
14. Musa → Kecerdasan
15. Harun → Kejujuran dan ketulusan
16. Dzulkifli → Memelihara
17. Daud → Kerja dan karya
18. Sulaiman → Riset dan eksplorasi
19. Ilyas → Keberanian
20. Ilyasa → Pengembangan
21. Yunus → Kebijaksanaan dan kerendahan hati
22. Zakaria → Harapan
23. Yahya → Daya hidup
24. Isa → Welas asih
Semuanya menemukan bentuk tertinggi dalam akhlak. Karena itu, puncak perjalanan manusia bukan sekadar menjadi manusia yang pintar.Bukan sekadar menjadi manusia yang kaya.
Bukan sekadar menjadi manusia yang berkuasa.Tetapi menjadi manusia yang mulia akhlaknya. Di sinilah Muhammad SAW menjadi simbol penting dalam perjalanan ini.
MUHAMMAD = KEMULIAAN
Jika seluruh tahapan tersebut kita ringkas, maka kita memperoleh sebuah peta :
01. Adam → Kesadaran
02. Idris → Pembelajaran
03. Nuh → Keprihatinan dan ketekunan
04. Hud → Petunjuk
05. Saleh → Kebaikan dan perbaikan
06. Ibrahim → Nalar dan pencarian kebenaran
07. Luth → Internalisasi kebenaran
08. Ismail → Mendengar
09. Ishaq → Menyaring
10. Ya'qub → Menyimpulkan
11. Yusuf → Visi
12. Ayyub → Ketahanan dan pemulihan
13. Syu'aib → Sintesis
14. Musa → Kecerdasan
15. Harun → Kejujuran dan ketulusan
16. Dzulkifli → Memelihara
17. Daud → Kerja dan karya
18. Sulaiman → Riset dan eksplorasi
19. Ilyas → Keberanian
20. Ilyasa → Pengembangan
21. Yunus → Kebijaksanaan dan kerendahan hati
22. Zakaria → Harapan
23. Yahya → Daya hidup
24. Isa → Welas asih
25. Muhammad → Kemuliaan akhlak
Jika disederhanakan lagi :
SADAR → BELAJAR → BERPROSES → MENDAPAT PETUNJUK → BERBUAT BAIK → BERPIKIR → MENDENGAR → MENYARING → MENYIMPULKAN → MEMILIKI VISI → BERTAHAN → MENSINTESIS → CERDAS → JUJUR → BERTANGGUNG JAWAB → BEKERJA → MENELITI → BERANI → MENGEMBANGKAN → RENDAH HATI → BERHARAP → HIDUP → MENGASIHI → MULIA.
Di sinilah gagasan ini menjadi semakin menarik. Sebab perjalanan 25 tahap tersebut tidak harus berhenti pada individu. Ia dapat kita naikkan satu tingkat : kesadaran individu → kesadaran keluarga → kesadaran masyarakat → kesadaran bangsa → kesadaran peradaban.
Bayangkan apabila sebuah bangsa memiliki manusia-manusia yang : sadar, mau belajar, tekun, memiliki petunjuk moral, berbuat baik, mampu berpikir kritis, mau mendengar, mampu menyaring informasi, mampu menyimpulkan secara objektif, memiliki visi, tahan menghadapi krisis, mampu menyatukan perbedaan, cerdas, jujur, bertanggung jawab, produktif, gemar melakukan riset, berani,mampu mengembangkan diri, rendah hati, memiliki harapan, memiliki daya hidup, penuh kasih dan berakhlak mulia.
Bangsa seperti apa yang akan lahir? - Tentu bukan bangsa yang sempurna.
Tetapi bangsa yang memiliki modal manusia untuk membangun peradaban.
Karena itu, sesungguhnya pembangunan manusia jauh lebih fundamental daripada sekadar pembangunan fisik. Jalan raya penting. Gedung penting. Teknologi penting. Ekonomi penting. Tetapi semuanya membutuhkan manusia yang mampu mengelolanya.
Jika manusia tidak berubah, pembangunan fisik hanya akan memperbesar kapasitas manusia—termasuk kapasitas manusia untuk melakukan kesalahan.
Hari ini kita hidup dalam zaman yang luar biasa. Informasi tersedia di ujung jari. Teknologi berkembang sangat cepat. Kecerdasan buatan mulai memasuki berbagai bidang kehidupan. Tetapi pertanyaan mendasarnya tetap sama :
Apakah kesadaran manusia berkembang secepat teknologinya?
Kita mungkin memiliki teknologi yang semakin canggih. Tetapi jika kesadaran kita masih dikuasai ego, teknologi hanya menjadi alat untuk memperbesar ego.
Kita mungkin memiliki media sosial yang mampu menghubungkan miliaran manusia. Tetapi jika kesadaran kita rendah, media sosial justru dapat menjadi ruang untuk menyebarkan kebencian.
Kita mungkin memiliki kecerdasan buatan. Tetapi jika manusia tidak memiliki kebijaksanaan, kecerdasan itu dapat digunakan untuk memperbesar masalah.
Karena itu, tantangan terbesar abad ini bukan hanya :
“Bagaimana membuat manusia semakin pintar?” Tetapi : “Bagaimana membuat manusia semakin sadar?”
Jika gagasan 25 tahapan ini dibawa ke konteks Indonesia, kita menemukan pertanyaan yang lebih besar : Manusia Indonesia seperti apa yang ingin kita bangun?
Apakah cukup manusia yang memiliki ijazah?
Apakah cukup manusia yang memiliki pekerjaan?
Apakah cukup manusia yang menguasai teknologi?
Apakah cukup manusia yang memiliki kekayaan?
Tentu tidak.
Kita membutuhkan manusia yang utuh.
Manusia yang memiliki kecerdasan intelektual.
Memiliki kecerdasan emosional.
Memiliki kecerdasan sosial.
Memiliki kecerdasan spiritual.
Memiliki karakter.
Memiliki integritas.
Memiliki kepedulian.
Dan memiliki kemampuan menciptakan manfaat.
Dengan demikian, pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan orang pintar. Pendidikan harus menghasilkan manusia sadar.
Ekonomi tidak hanya menghasilkan orang kaya.
Ekonomi harus menghasilkan manusia sejahtera yang mampu menyejahterakan orang lain.
Politik tidak hanya menghasilkan penguasa.
Politik harus menghasilkan pemimpin yang melayani.
Teknologi tidak hanya menghasilkan inovasi.T
eknologi harus menghasilkan kemanfaatan bagi kehidupan.
Mungkin di sinilah kita menemukan makna paling sederhana dari seluruh perjalanan ini. Secara biologis, kita semua adalah manusia. Tetapi secara kualitas kesadaran, kita masih berada dalam perjalanan.
Kita mungkin sudah dewasa secara usia, tetapi belum tentu dewasa secara kesadaran. Kita mungkin berpendidikan tinggi, tetapi belum tentu bijaksana. Kita mungkin kaya, tetapi belum tentu memiliki kelapangan hati. Kita mungkin memiliki kekuasaan, tetapi belum tentu mampu mengendalikan diri.
Maka menjadi manusia adalah sebuah proses seumur hidup.
1. Dari Adam kita belajar kesadaran.
2. Dari Idris kita belajar untuk terus belajar.
3. Dari Nuh kita belajar menjalani proses.
4. Dari Hud kita belajar mencari petunjuk.
5. Dari Saleh kita belajar melakukan perbaikan.
6. Dari Ibrahim kita belajar menggunakan akal.
7. Dari Luth kita belajar menginternalisasikan kebenaran.
8. Dari Ismail kita belajar mendengar.
9. Dari Ishaq kita belajar menyaring.
10. Dari Ya'qub kita belajar menyimpulkan.
11. Dari Yusuf kita belajar memiliki visi.
12. Dari Ayyub kita belajar bertahan.
13. Dari Syu'aib kita belajar menyatukan perbedaan.
14. Dari Musa kita belajar menjadi cerdas.
15. Dari Harun kita belajar jujur.
16. Dari Dzulkifli kita belajar menjaga amanah.
17. Dari Daud kita belajar bekerja.
18. Dari Sulaiman kita belajar meneliti.
19. Dari Ilyas kita belajar berani.
20. Dari Ilyasa kita belajar mengembangkan.
21. Dari Yunus kita belajar rendah hati.
22. Dari Zakaria kita belajar berharap.
23. Dari Yahya kita belajar menghidupkan kembali energi kehidupan.
24. Dari Isa kita belajar mencintai.
25. Dan dari Muhammad SAW kita belajar bagaimana seluruh kualitas itu bermuara pada kemuliaan akhlak.
Mungkin selama ini manusia terlalu sibuk membangun dunia di luar dirinya. Kita membangun rumah, tetapi lupa membangun rumah batin. Kita membangun jalan, tetapi lupa membangun arah kehidupan. Kita membangun teknologi, tetapi lupa membangun kebijaksanaan. Kita membangun ekonomi, tetapi lupa membangun integritas. Kita membangun kekuasaan, tetapi lupa membangun akhlak.
Padahal peradaban sesungguhnya tidak pernah jauh dari kualitas manusia yang membangunnya.Manusia yang buruk akan menghasilkan sistem yang buruk.Manusia yang baik akan berusaha membangun sistem yang baik.
Karena itu, jika kita ingin mengubah bangsa, jangan hanya bertanya : “Sistem apa yang harus diubah?” - Tanyakan pula : “Manusia seperti apa yang harus kita lahirkan?”
Jika ingin membangun Indonesia baru, kita membutuhkan manusia baru. Bukan manusia baru secara fisik. Tetapi manusia yang mengalami transformasi kesadaran.
1. Manusia yang sadar.
2. Manusia yang mau belajar.
3. Manusia yang mampu berpikir.
4. Manusia yang memiliki visi.
5. Manusia yang tahan menghadapi ujian.
6. Manusia yang jujur.
7. Manusia yang bertanggung jawab.
8. Manusia yang produktif.
9. Manusia yang berani.
10. Manusia yang rendah hati.
11. Manusia yang penuh kasih.
Dan akhirnya : manusia yang mulia akhlaknya.
Maka 25 Nabi dan Rasul dapat kita renungkan bukan hanya sebagai rangkaian nama dalam pelajaran agama. Tetapi sebagai cermin perjalanan manusia untuk terus bertumbuh. Dari kesadaran menuju ilmu. Dari ilmu menuju kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan menuju akhlak. Dari akhlak menuju kemanfaatan. Dan dari kemanfaatan menuju peradaban.
Sebab pada akhirnya :
Peradaban yang besar bukanlah peradaban yang hanya memiliki manusia-manusia paling pintar. Peradaban besar adalah peradaban yang mampu melahirkan manusia-manusia yang sadar, berilmu, berkarakter, berakhlak dan bermanfaat.
Dan mungkin, perjalanan 25 Nabi dan Rasul itu sedang mengajukan satu pertanyaan kepada kita : “Di tahap kesadaran manakah kita sedang berada?” - Karena perjalanan itu belum selesai. Kita masih berada di dalam bahtera kehidupan.
Dan setiap hari, kita masih diberi kesempatan untuk naik satu tingkat lagi :
menjadi lebih sadar, lebih belajar, lebih bijaksana, lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih dekat kepada Tuhan.Itulah evolusi kesadaran manusia. Itulah perjalanan dari “sekadar menjadi orang” menuju “menjadi manusia”.
Dan mungkin, dari sanalah sebuah peradaban baru benar-benar dimulai.
[…] dengan Nabi Isa AS?Dalam pembacaan hakikat, sebagaimana gagasan yang telah dibahas dalam tulisan “25 Tahapan Evolusi Kesadaran Manusia”, Nabi Isa AS dapat dimaknai sebagai simbol welas asih atau kasih sayang.Jika Dajjal menggambarkan […]