Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482
Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482


Oleh : Wahono - Aktifis
Syahadat adalah salah satu rukun Islam yang pertama. Kita bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Namun, pernahkah kita bertanya lebih jauh : Apakah syahadat hanya sebuah kalimat yang kita ucapkan, ataukah sebuah kesaksian yang harus kita jalani sepanjang hayat?
Jika syahadat berarti bersaksi, maka sesungguhnya menjadi saksi atas keagungan Tuhan bukanlah pekerjaan sesaat. Ia adalah proses sepanjang kehidupan—setiap waktu, setiap keadaan, bahkan setiap detik.
Allah adalah Rabb, Tuhan Yang Maha Memelihara. Di dalam makna Rabb terdapat dimensi pemeliharaan sekaligus pendidikan. Artinya, kehidupan yang kita jalani bukan sekadar rangkaian kejadian yang datang dan pergi.
Di balik setiap pengalaman, selalu ada kemungkinan adanya pelajaran, pesan, dan hikmah yang dapat kita baca. Menariknya, cara Tuhan mendidik manusia tidak selalu sama. Setiap orang memiliki jalan pendidikannya sendiri.
Ada yang dididik melalui keberhasilan.
Ada yang belajar melalui kegagalan.
Ada yang menemukan kebijaksanaan melalui kehilangan.
Ada yang menjadi kuat karena menghadapi kesulitan.
Dan ada pula yang justru menemukan dirinya ketika berada dalam kesunyian. Inilah keunikan cara Tuhan mendidik manusia.
Tuhan senantiasa berkomunikasi dengan manusia melalui cara-Nya. Persoalannya bukan apakah Tuhan memberi tanda atau tidak, tetapi : Apakah kita mampu menangkap pesan tersebut?
Sering kali kita terlalu sibuk mengejar apa yang kita inginkan, sehingga tidak sempat membaca apa yang sedang Tuhan ajarkan. Sebuah peristiwa kita anggap sebagai musibah, padahal mungkin di dalamnya terdapat pelajaran.
Sebuah kegagalan kita anggap sebagai akhir, padahal mungkin Tuhan sedang mengarahkan kita menuju jalan yang berbeda. Sebuah kehilangan kita anggap sebagai penderitaan, padahal mungkin di dalamnya terdapat proses pendewasaan.
Dengan demikian, kehidupan sesungguhnya dapat menjadi ruang belajar yang tidak pernah berhenti.
Untuk dapat menangkap pesan-pesan kehidupan tersebut, manusia membutuhkan kesiapan batin dan kesadaran. Dalam bahasa sederhana, kita perlu membangun keselarasan antara diri kita dengan kehendak dan nilai-nilai ketuhanan.
Bukan berarti manusia harus menyamai Tuhan—karena manusia dan Tuhan tentu tidak berada pada kedudukan yang sama. Yang dimaksud adalah bagaimana kesadaran, hati, pikiran, dan perilaku manusia semakin selaras dengan petunjuk-Nya.
Semakin jernih kesadaran seseorang, semakin peka pula ia membaca makna di balik berbagai peristiwa kehidupannya. Di sinilah istilah energi, vibrasi, dan frekuensi dapat dipahami sebagai sebuah metafora untuk menggambarkan tingkat keselarasan kesadaran manusia dengan nilai-nilai ketuhanan.
Salah satu sifat Allah adalah Al-Wujud—Yang Maha Ada. Keberadaan-Nya tidak berarti Tuhan identik dengan alam atau segala sesuatu yang ada. Justru alam semesta adalah ciptaan dan tanda-tanda kebesaran-Nya.
Langit, bumi, manusia, kehidupan, perubahan, kelahiran, kematian, kebahagiaan, kesedihan, bahkan perjalanan hidup kita sendiri dapat menjadi ruang untuk merenungkan kebesaran Allah. Karena itu, menerima realitas kehidupan bukan berarti pasrah tanpa usaha.
Menerima realitas adalah kemampuan untuk melihat kenyataan sebagaimana adanya, kemudian mengambil hikmah dan menentukan tindakan terbaik di dalamnya.
Kita menerima kenyataan, tetapi tidak menyerah kepada keadaan. Kita membaca apa yang terjadi, belajar darinya, kemudian berikhtiar memperbaiki kehidupan.
Semua proses tersebut membutuhkan akal. Akal bukan sekadar alat untuk menghitung, membandingkan, atau memecahkan persoalan duniawi. Akal juga merupakan instrumen penting bagi manusia untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah dalam kehidupan.
Ketika akal diberdayakan secara optimal, manusia tidak hanya melihat apa yang terjadi, tetapi juga mulai bertanya : Mengapa ini terjadi? - Apa yang sedang saya pelajari? - Apa hikmah di baliknya? - Apa yang harus saya lakukan setelah memahami semua ini?
Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang membawa manusia dari sekadar mengalami kehidupan menuju memahami kehidupan.
Pada akhirnya, syahadat bukan hanya persoalan ucapan lisan. Syahadat adalah sebuah kesadaran tauhid yang seharusnya menjiwai seluruh perjalanan hidup. Jika kita benar-benar bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, maka seluruh kehidupan semestinya diarahkan untuk mengenal, mengingat, menaati, dan mendekat kepada-Nya.
Dan jika kita bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, maka kesaksian itu juga seharusnya tercermin dalam upaya meneladani akhlak dan jalan hidup yang beliau ajarkan.
Dengan demikian, syahadat tidak berhenti di bibir. Syahadat harus turun ke hati, diterjemahkan oleh akal, diwujudkan dalam perilaku, dan dibuktikan sepanjang kehidupan.
Di sinilah kita dapat melihat syahadat sebagai fondasi dari seluruh bangunan keislaman. Syahadat → Shalat → Zakat → Puasa → Haji. Kelima rukun Islam bukan sekadar rangkaian kewajiban ritual yang berdiri sendiri.
Syahadat menjadi kesadaran dasarnya. Shalat melatih hubungan dan kesadaran kita kepada Allah.Zakat melatih kepedulian dan tanggung jawab sosial. Puasa melatih pengendalian diri. Haji mengajarkan totalitas penghambaan, persaudaraan, dan perjalanan spiritual manusia menuju Allah.
Maka, ketika syahadat benar-benar hidup dalam kesadaran, seluruh rukun Islam semestinya tidak berhenti sebagai ritual, tetapi berkembang menjadi kualitas kehidupan.
Mungkin inilah makna yang lebih dalam dari “Syahadat Sepanjang Hayat.” - Bukan hanya bersaksi dengan lisan bahwa Allah adalah Tuhan kita. Tetapi belajar menyaksikan kebesaran-Nya dalam setiap perjalanan hidup.
Bukan hanya mengucapkan nama-Nya. Tetapi belajar membaca tanda-tanda-Nya. Bukan hanya mengaku percaya kepada-Nya. Tetapi menjadikan kepercayaan itu sebagai dasar dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.
Karena sesungguhnya kehidupan adalah sekolah yang tidak pernah tutup. Setiap hari adalah pelajaran. Setiap peristiwa adalah pengalaman. Setiap pengalaman mengandung hikmah. Dan setiap hikmah dapat membawa kita semakin mengenal Sang Pencipta.
Maka, syahadat bukan hanya untuk diucapkan sekali. Syahadat adalah kesaksian yang semestinya hidup—sepanjang hayat.