Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482
Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482


Oleh : Wahono – Aktivis & Sekjend Aliansi Wargo Hutomo
Ada sebuah kisah yang sangat dikenal dalam tradisi keagamaan tentang akhir zaman.Dikisahkan bahwa pada akhir zaman akan muncul seorang tokoh bernama Dajjal, dengan segala sifat buruk dan kejahatannya. Salah satu ciri yang sering disebutkan adalah bahwa Dajjal memiliki satu mata.
Kemudian, Nabi Isa AS akan datang kembali dan menumpas kejahatan Dajjal beserta segala bentuk angkara murkanya.
Setelah itu, akan hadir Imam Mahdi, yang akan memimpin lahirnya sebuah tatanan kehidupan dan peradaban baru.
Jika kisah tersebut kita pahami semata-mata pada level syariat dan teks secara literal, maka yang muncul dalam bayangan kita adalah sosok demi sosok : sosok Dajjal yang mengerikan, sosok Nabi Isa AS yang turun kembali ke dunia untuk mengalahkan Dajjal, kemudian sosok Imam Mahdi yang akan memimpin tatanan dunia baru yang damai dan penuh kesejahteraan.
Namun, bagaimana jika kisah tersebut kita baca lebih dalam?
Bagaimana jika kita menaikkan cara pandang kita dari sekadar memahami sosok menuju pemahaman tentang hakikat dan makna simboliknya?
Di sinilah mungkin kita menemukan sebuah pesan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari.
Pada level hakikat, simbol Dajjal yang bermata satu dapat dibaca sebagai gambaran tentang manusia yang hanya melihat kehidupan dari satu sudut pandang.
Ia merasa dirinya paling benar.
Ia merasa paling pintar.
Ia merasa paling alim.
Ia merasa paling tahu.
Sementara orang lain dianggap bodoh, salah, rendah, bahkan sesat.Inilah manusia yang hanya menggunakan “satu mata” dalam melihat kehidupan : hanya melihat dirinya sendiri, tetapi tidak mampu melihat keberadaan, kebenaran, dan martabat orang lain.Ia senang merendahkan.Ia senang menghakimi.
Ia merasa lebih tinggi dibandingkan sesamanya.Padahal, sifat-sifat semacam itu telah ada sejak ribuan tahun yang lalu.
Dan selama manusia masih memiliki ego, kesombongan, merasa paling benar, serta senang merendahkan orang lain, selama itu pula “Dajjal” akan terus lahir dalam bentuk sifat manusia.
Karena itu, pada level hakikat, Dajjal bukan hanya tentang pertanyaan : “Siapa Dajjal?” - Tetapi jauh lebih penting : “Apakah sifat Dajjal masih hidup di dalam diri kita?”
Lalu bagaimana dengan Nabi Isa AS?
Dalam pembacaan hakikat, sebagaimana gagasan yang telah dibahas dalam tulisan “25 Tahapan Evolusi Kesadaran Manusia”, Nabi Isa AS dapat dimaknai sebagai simbol welas asih atau kasih sayang.
Jika Dajjal menggambarkan kesombongan, ego, merasa paling benar, merendahkan orang lain dan berbagai bentuk angkara murka manusia, maka Nabi Isa AS menggambarkan lahirnya kesadaran yang lebih tinggi : kasih sayang, welas asih, dan penghormatan terhadap sesama makhluk Tuhan.
Dengan demikian, “lahirnya kembali Isa” tidak hanya harus dipahami sebagai persoalan tentang hadirnya kembali sebuah sosok. Pada level hakikat, ia dapat dimaknai sebagai lahirnya kembali sifat Isa dalam diri manusia.
Ketika welas asih tumbuh dalam diri seseorang, maka kesombongan mulai kehilangan tempat.
Ketika kasih sayang tumbuh, kebencian mulai melemah.Ketika kesadaran ketuhanan tumbuh, ego tidak lagi menjadi pusat kehidupan.
Inilah yang selaras dengan wisdom leluhur Nusantara : “SURA DIRA JAYANINGRAT, LEBUR DENING PANGESTUTI.”
Sebuah ungkapan yang dapat dimaknai bahwa segala bentuk angkara murka pada akhirnya akan luluh oleh kebaikan, ketulusan, kasih sayang, dan kebajikan.
Dengan demikian, pertarungan antara Dajjal dan Isa pada level hakikat dapat dibaca sebagai pertarungan di dalam diri manusia sendiri :
Antara Ego Dan Welas Asih,
Antara Kesombongan Dan Kerendahan Hati,
Antara Merasa Paling Benar Dan Kesediaan Memahami,
Antara Kebencian Dan Kasih Sayang.
Setelah manusia mampu melewati fase tersebut, muncullah simbol berikutnya : Imam Mahdi.
Pada level hakikat, Imam dapat dimaknai sebagai pemimpin, sedangkan Mahdi dimaknai sebagai knowledge atau pengetahuan.
Maka, jika kita tarik ke dalam konteks peradaban manusia, tatanan dunia baru tidak cukup hanya dibangun oleh kekuasaan.
Ia membutuhkan kepemimpinan yang berlandaskan ilmu pengetahuan, penguasaan teknologi, kebijaksanaan, serta welas asih.
Ilmu tanpa kasih sayang dapat melahirkan kesombongan dan kehancuran.
Teknologi tanpa kebijaksanaan dapat menjadi alat untuk memperbesar kekuasaan.
Kekuasaan tanpa welas asih dapat berubah menjadi penindasan.
Karena itu, peradaban masa depan membutuhkan kolaborasi antara :
ILMU PENGETAHUAN + TEKNOLOGI + KEPEMIMPINAN + WELAS ASIH.
Dalam perspektif ini, Imam Mahdi bukan semata-mata persoalan tentang siapa sosok yang akan memimpin dunia, tetapi juga tentang kualitas kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan oleh manusia untuk memasuki peradaban baru.
Lalu, kapan semua itu mencapai titik akhirnya?
Ketika manusia secara kolektif mulai mampu membunuh sifat Dajjal di dalam dirinya.
Ketika ego tidak lagi menjadi penguasa utama.
Ketika manusia memperbesar ruang welas asih terhadap sesama makhluk Tuhan.
Ketika ilmu pengetahuan terus berkembang.
Ketika teknologi digunakan untuk kemaslahatan.
Ketika kepemimpinan tidak lagi hanya berbicara tentang kekuasaan, tetapi tentang tanggung jawab terhadap kehidupan.
Dan ketika kehidupan manusia semakin selaras dengan hukum semesta atau sunatullah.
Pada titik itulah kita dapat memahami makna kiamat dalam perspektif hakikat.
Kiamat tidak semata-mata dipahami sebagai kehancuran, tetapi juga sebagai sebuah kebangkitan.
Dalam gagasan ini, kata kiyam dimaknai sebagai bangkit.
Sedangkan tambahan “-at” dipahami sebagai sesuatu yang tidak terbatas.
Maka, kiamat dapat dibaca sebagai sebuah kebangkitan tanpa batas.
sebuah transformasi kesadaran manusia menuju tingkat kehidupan yang lebih tinggi.
Dengan demikian, “akhir zaman” bukan hanya berbicara tentang berakhirnya dunia.
Ia juga dapat dimaknai sebagai berakhirnya sebuah zaman kesadaran manusia yang lama dan lahirnya zaman kesadaran yang baru.
Jika seluruh rangkaian tersebut kita baca pada level hakikat, maka pertanyaan pentingnya bukan lagi sekadar :
“Di mana Dajjal?”
“Kapan Isa turun?”
“Kapan Imam Mahdi datang?”
Tetapi : “Apa yang sedang terjadi di dalam diri manusia hari ini?”
Dajjal adalah sifat ketika manusia merasa paling benar dan merendahkan yang lain.
Isa adalah sifat ketika manusia mampu menumbuhkan kasih sayang dan welas asih.
Imam Mahdi adalah kualitas kepemimpinan yang dituntun oleh ilmu pengetahuan, kebijaksanaan dan kesadaran.
Maka ketiganya dapat dibaca sebagai sebuah perjalanan evolusi kesadaran manusia.
Dari ego menuju welas asih.
Dari kesombongan menuju kesadaran.
Dari kebodohan menuju pengetahuan.
Dari kekuasaan menuju kepemimpinan.
Dan dari kehidupan yang dikuasai ego menuju kehidupan yang selaras dengan sunatullah.
Karena itu, mungkin pertanyaan terbesar tentang Dajjal bukanlah kapan ia akan muncul.
Bisa jadi pertanyaan yang jauh lebih penting adalah :
“Jangan-jangan Dajjal itu sedang tumbuh di dalam diri kita sendiri?”
Ketika kita merasa paling pintar.
Ketika kita merasa paling benar.
Ketika kita merasa paling suci.
Ketika kita menganggap orang lain bodoh.
Ketika kita senang merendahkan.
Ketika kita menggunakan ilmu untuk menyombongkan diri.
Ketika kita menggunakan kekuasaan untuk menindas.
Di situlah sifat Dajjal bekerja.
Sebaliknya,
ketika kita mampu mengembangkan kasih sayang, menghargai sesama, membuka pikiran, terus belajar, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menggunakan semuanya untuk kemaslahatan kehidupan, maka sesungguhnya sifat Isa dan kualitas kepemimpinan Mahdi sedang tumbuh di dalam diri manusia.
Maka pada akhirnya, secara hakikat :
DAJJAL BUKAN SEKADAR SOSOK, MELAINKAN SIFAT.
ISA BUKAN SEKADAR SOSOK, MELAINKAN SIFAT WELAS ASIH YANG LAHIR KEMBALI DALAM KESADARAN MANUSIA.
IMAM MAHDI BUKAN SEKADAR SOSOK, MELAINKAN SIMBOL KEPEMIMPINAN YANG DITUNTUN OLEH ILMU PENGETAHUAN, KEBIJAKSANAAN DAN WELAS ASIH.
Dan mungkin, di situlah letak pesan terdalam dari kisah akhir zaman :
Dunia tidak akan berubah sebelum manusia berubah.
Peradaban tidak akan berubah sebelum kesadaran manusia berubah.
Dan perubahan terbesar itu selalu dimulai dari satu tempat : DIRI MANUSIA SENDIRI.
Saya tertarik dengan tulisan ini. Bagus sekali. Menggambarkan dajjal, Nabi Isa dan Imam Mahdi dalam sudut pandang yang berbeda.
Alhamdulillah – Matursuwun kang sudaha berkenan mampir ke BLOG saya dan berani meninggalkan jejak – sampai ketemu di artikel selanjutnya. Semoga bisa menjadi nutrisi otak dan sesuatu yang Mind Glowing yanag berujung peningkatan IMAN kita kepada Sang Gusti.
Sehat selalu dan Rahayu
Wahono
HP 083150403092
Alhamdulillah dapat ilmu
083150403092
Siyap kang…. – saya save – sugeng tepang.
[…] Oleh : Wahono – Aktifis Banjarnegara […]