Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482
Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482


Oleh : Wahono – Aktifis & Sekjend Aliansi Wargo Hutomo
Belakangan ini istilah Desil 1, Desil 2, Desil 3 hingga Desil 10 semakin sering terdengar di tengah masyarakat.
Ada yang bertanya : “Saya masuk D3. Artinya saya miskin?”
Ada pula yang mengatakan : “Saya D5, berarti saya sudah orang mampu?”
Belum tentu.
Inilah yang perlu dipahami terlebih dahulu :
DESIL BUKAN LABEL MISKIN ATAU KAYA.
Desil adalah peringkat relatif tingkat kesejahteraan keluarga dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
BPS membagi keluarga ke dalam 10 kelompok, masing-masing sekitar 10 persen dari populasi keluarga yang diperingkatkan.
D1 adalah kelompok dengan posisi kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan D10 adalah kelompok dengan posisi relatif paling tinggi.
Bayangkan seluruh keluarga di Indonesia disusun dalam sebuah antrean panjang berdasarkan posisi kesejahteraan relatifnya. Kemudian antrean tersebut dibagi menjadi 10 bagian.
D1 merupakan kelompok dengan posisi kesejahteraan relatif paling rendah.
Kelompok ini menjadi salah satu kelompok yang sangat penting dalam berbagai kebijakan perlindungan sosial.
Desil 1 juga merupakan kelompok yang berada pada 10 persen terbawah dalam tingkat kesejahteraan keluarga secara nasional. Kelompok ini dikategorikan sebagai miskin ekstrem dan menjadi prioritas utama pemerintah dalam menerima bantuan bansos.
Namun, D1 tetap bukan berarti setiap keluarga di dalamnya otomatis memiliki kondisi yang persis sama.
D2 berada satu tingkat di atas D1.
Secara relatif, kelompok ini masih berada pada bagian bawah distribusi kesejahteraan.
Desil 2 juga merupakan kelompok keluarga yang berada pada 11 sampai 20 persen dalam tingkat kesejahteraan.
Keluarga dengan desil ini dikategorikan miskin dan tetap masuk prioritas pemerintah dalam menerima bantuan bansos.
Karakteristik sosial-ekonominya dapat beragam, sehingga tidak tepat menyimpulkan kondisi seluruh keluarga D2 hanya dari satu indikator.
D3 berarti keluarga tersebut berada pada kelompok ketiga dalam peringkat kesejahteraan.
Secara sederhana, posisinya masih berada dalam 30 persen terbawah.
Desil 3 adalah keluarga pada posisi 21 hingga 30 persen dalam pengelompokkan kesejahteraan.
Kelompok ini ekonominya mulai membaik, tetapi masih rentan mengalami kesulitan keuangan dan masih berpeluang menerima bantuan pemerintah.
Tetapi sekali lagi : D3 bukan otomatis berarti “orang miskin”.
D4 merupakan kelompok keempat.
Secara posisi relatif, keluarga dalam D4 masih termasuk bagian dari 40 persen terbawah dalam pemeringkatan kesejahteraan.
Desil 4 merupakan keluarga pada 31 hingga 40 persen dalam pengelompokkan kesejahteraan.
Kelompok ini memiliki kondisi ekonomi yang cukup dan masih rentan terdampak krisis finansial.
Kelompok D1 sampai D4 inilah yang sering menjadi perhatian utama dalam berbagai program perlindungan sosial, meskipun sasaran akhir tetap mengikuti ketentuan masing-masing program.
D5 berada di tengah distribusi.Sederhananya, sekitar separuh keluarga berada pada kelompok di bawahnya dan separuh lainnya pada kelompok di atasnya.
Desil 5 adalah keluarga pada 41 hingga 50 persen dalam pengelompokan kesejahteraan keluarga.
Kelompok ini termasuk kondisi ekonomi menengah ke bawah yang relatif stabil dengan peluang menerima bantuan yang lebih terbatas dan bersifat khusus.
Tetapi D5 juga bukan berarti “kelas menengah” dalam pengertian ekonomi yang baku.Desil hanya menunjukkan posisi relatif dalam pemeringkatan DTSEN.
D6 berada di atas titik tengah distribusi.
Artinya posisi relatif kesejahteraannya lebih tinggi dibanding kelompok D1–D5. Desil 6-10 meliputi keluarga pada posisi 51 hingga 100 persen dalam tingkat kesejahteraan.
Kelompok ini tergolong pada kondisi ekonomi cukup hingga sejahtera sehingga tidak menjadi prioritas bansos rutin. Meski begitu, kelompok ini masih dapat mengakses program pemberdayaan tertentu bila memenuhi syarat.
Namun tetap tidak tepat menyebut semua keluarga D6 sebagai “orang kaya”.
D7 berada pada kelompok yang secara relatif lebih sejahtera dibanding D1 sampai D6.
Namun, sekali lagi, desil bukan ukuran langsung mengenai jumlah pendapatan atau kekayaan seseorang.
D8 berarti posisi keluarga tersebut berada di bagian yang relatif tinggi dalam pemeringkatan kesejahteraan.
Secara sederhana, sekitar 80 persen kelompok berada di bawahnya dan sekitar 20 persen berada di atasnya.
D9 berada sangat dekat dengan kelompok paling atas.Secara relatif, hanya kelompok D10 yang berada di atasnya.
Tetapi tetap harus diingat : D9 bukan ukuran nominal kekayaan.
D10 merupakan kelompok dengan posisi kesejahteraan relatif paling tinggi dalam pemeringkatan DTSEN.
Namun D10 juga tidak boleh diterjemahkan secara sederhana sebagai :
“10 persen orang terkaya di Indonesia.”
Itu bukan fungsi desil.
Desil menggambarkan posisi relatif berdasarkan berbagai karakteristik sosial-ekonomi, bukan daftar kekayaan masyarakat.
Ini bagian yang sangat penting.
Bukan hanya penghasilan.
Dalam pemeringkatan DTSEN, berbagai karakteristik sosial-ekonomi dipertimbangkan secara bersama-sama.
Di antaranya :
01. Kondisi Tempat Tinggal;
02. Sumber Air Minum;
03. Energi Atau Bahan Bakar Untuk Memasak;
04. Listrik;
05. Kepemilikan Aset;
06. Komposisi Keluarga;
07. Pendidikan;
08. Pekerjaan;
09. Kondisi Kesehatan;
10. Disabilitas;
11. Serta Karakteristik Sosial-Ekonomi Lainnya.
BPS menggunakan pendekatan statistik Proxy Means Test (PMT) untuk memperkirakan posisi kesejahteraan berdasarkan karakteristik yang dapat diamati.Karena itu, satu indikator saja tidak otomatis menentukan desil seseorang.
Misalnya seseorang memiliki sepeda motor, itu tidak otomatis membuatnya masuk D7.Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki kendaraan juga tidak otomatis masuk D1. Semua karakteristik diperhitungkan secara bersama-sama.
Di sinilah desil menjadi penting.
DTSEN digunakan pemerintah sebagai salah satu basis untuk perencanaan, penetapan sasaran, dan evaluasi berbagai program.
Dalam konteks perlindungan sosial, kelompok desil bawah menjadi perhatian utama.
Namun perlu digarisbawahi : DESIL BUKAN DAFTAR PENERIMA BANSOS.
Artinya :
D1 tidak otomatis menerima semua bansos.
D4 tidak otomatis menerima semua bansos.
D5 juga tidak otomatis berarti tidak mendapatkan program pemerintah.
Pengaruh Desil Terhadap Penerimaan BansosBerdasarkan sistem tersebut, berikut kategori penerima untuk beberapa program Bansos utama :
1. Program Keluarga Harapan (PKH) Desil 1–4.
2. Program Sembako (BPNT) Desil 1–5.
3. Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK) Desil 1–5 (atau melalui asesmen).
4. Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) Desil 1–5 (atau melalui asesmen).
Bansos lain dari Kemensos Disesuaikan kebijakan.
Desil 1–4 adalah kelompok yang paling berpeluang menerima seluruh jenis Bansos.
Desil 5 masih dapat menerima beberapa bantuan tertentu.
Desil 6 ke atas tidak menjadi prioritas dalam Bansos reguler karena dianggap sudah sejahtera.
Sebab setiap program memiliki kriteria, mekanisme, dan ketentuan masing-masing.
BPS juga menegaskan bahwa desil digunakan sebagai salah satu dasar penentuan sasaran atau prioritas program sesuai tujuan masing-masing program.
Ini juga penting untuk diketahui masyarakat.
Desil seseorang bukan angka permanen seumur hidup.
Kondisi sosial-ekonomi keluarga dapat berubah.Data juga terus diperbarui.
Karena itu posisi desil dapat berubah ketika kondisi keluarga berubah atau ketika posisi relatifnya terhadap keluarga lain berubah.
Bahkan pada 2026, BPS menjelaskan adanya kasus sebuah keluarga yang sebelumnya tercatat D1 kemudian berubah setelah dilakukan pengecekan dan pemutakhiran data.
Setelah proses pemutakhiran dilakukan, posisi keluarga tersebut menjadi D3 sesuai kondisi terkini.Ini menunjukkan satu hal : DESIL BUKAN VONIS. DESIL ADALAH POSISI DATA PADA SUATU WAKTU.
Menurut saya, masyarakat jangan berhenti pada pertanyaan :
“Saya masuk desil berapa?”
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah :
“Mengapa saya berada di desil tersebut, apakah datanya sudah benar, dan bagaimana kondisi kesejahteraan keluarga saya dapat berubah?”
Karena tujuan akhirnya bukan sekadar memberi label kepada masyarakat.
Tujuan penggunaan DTSEN adalah membantu pemerintah mempunyai basis data sosial-ekonomi yang lebih terpadu dan terus diperbarui untuk mendukung kebijakan dan program yang lebih tepat sasaran.
Dengan kata lain : D1–D10 bukan sekadar angka.
Ia adalah gambaran posisi relatif sebuah keluarga dalam peta sosial-ekonomi Indonesia.
Dan semakin akurat datanya, semakin besar peluang kebijakan pemerintah menyentuh masyarakat yang memang membutuhkan.
Kalau konsep ini kita tarik ke tingkat daerah, sebenarnya ada pertanyaan yang jauh lebih menarik :
Berapa jumlah keluarga D1, D2, D3, D4, sampai D10 di Banjarnegara?
Di kecamatan mana konsentrasi D1–D4 paling besar?
Desa mana yang memiliki tingkat kesejahteraan relatif paling rendah?
Apa penyebabnya?Apakah karena pendidikan?
Lapangan pekerjaan?
Akses ekonomi?
Kondisi rumah?
Aset?
Kesehatan?
Atau kombinasi semuanya?
Dan yang paling penting :
Apa yang harus dilakukan pemerintah daerah agar keluarga yang berada di D1–D4 tidak selamanya berada di D1–D4?
Di titik inilah data berubah menjadi kebijakan.
Dan kebijakan yang baik bukan hanya memberikan bantuan agar masyarakat bertahan hidup.
Tetapi juga menciptakan jalan agar masyarakat naik kelas kesejahteraan.
Dari D1 menuju D2.
Dari D2 menuju D3.
Dari D3 menuju D4.
Dan seterusnya.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya berapa banyak bantuan yang dibagikan, tetapi juga berapa banyak keluarga yang berhasil meningkatkan kualitas kehidupannya.