Menikah Adalah Menjodohkan Terus-Menerus Sepanjang Hayat

Soul Married, Not Body Married

Penulis : Wahono – Aktivis & Sekjend Aliansi Wargo Hutomo

Apa sebenarnya yang kita nikahi ketika kita memutuskan untuk menikah?
Apakah hanya tubuhnya?
Wajahnya yang cantik atau ganteng?
Tubuhnya yang indah dan menarik?
Atau sesuatu yang jauh lebih dalam yakni : Jiwanya? 

Sebab jika pernikahan hanya dibangun karena body, kita harus menyadari satu hal : body pada akhirnya akan mengalami masa kedaluwarsa.

Yang hari ini cantik, ganteng dan seksi, suatu saat akan menua.
Rambut berubah, kulit keriput, tubuh melemah, dan penampilan tidak lagi seperti ketika pertama kali bertemu. 

Lalu, ketika daya tarik fisik mulai berubah, apakah cinta juga ikut expired?
Jika jawabannya iya, maka tidak mengherankan jika kemudian muncul kekecewaan, konflik, bahkan perceraian. 

Tetapi jika sejak awal yang kita nikahi adalah soul—jiwanya, maka perubahan fisik bukanlah akhir dari cinta.
Sebab yang kita cintai bukan sekadar wajahnya, tetapi manusia yang berada di balik wajah itu.

Bukan sekadar tubuhnya, tetapi jiwa yang hidup di dalam tubuh tersebut. Dan di situlah sesungguhnya makna “Soul Married, Not Body Married.”

Jodoh Tidak Selesai Di Pelaminan

Ada satu hal yang menarik untuk kita renungkan. Kita sering mengatakan : “Dia adalah jodohku.” Kemudian mereka menikah. Tetapi kenyataannya, ada pasangan yang setelah menikah akhirnya bercerai. Lantas, apakah setelah menikah mereka tiba-tiba bukan jodoh lagi? 

Pertanyaan ini tentu perlu kita renungkan lebih dalam. Mungkin persoalannya bukan pada kata “Jodoh”, tetapi pada pemahaman kita tentang jodoh itu sendiri. Sebab pernikahan bukanlah akhir dari proses berjodoh. Justru pernikahan adalah awal dari proses menjodohkan kembali dua manusia, setiap hari, sepanjang hayat. 

Hari ini kita memilihnya. Besok kita kembali memilihnya. Ketika bahagia, kita memilihnya. Ketika kecewa, kita belajar memahaminya. Ketika keadaan ekonomi membaik, kita bersyukur bersamanya. Ketika ekonomi sedang terpuruk, kita belajar bertahan bersamanya. 

Itulah sebabnya pernikahan membutuhkan komitmen, kesetiaan, kesabaran dan kemauan untuk terus bertumbuh bersama.

Menikah Adalah Kampus Kehidupan

Menikah bukan hanya menyatukan dua insan : laki-laki dan perempuan.Menikah juga berarti menyatukan Dua Keluarga Besar, dua latar belakang, dua kebiasaan, dua cara berpikir, dan dua perjalanan kehidupan. 

Dalam perspektif kehidupan beragama, pernikahan juga dipahami sebagai bagian dari perjalanan untuk menyempurnakan iman. Jika sejak lahir sampai menjelang pernikahan kita ibarat menjalani Sekolah Kehidupan, maka setelah menikah kita memasuki Kampus Kehidupan. 

Dalam kampus kehidupan itu, pasangan hidup adalah teman bertumbuh. Sedangkan anak-anak adalah guru yang sering kali mengajarkan kepada kita tentang kesabaran, tanggung jawab, keikhlasan dan cinta. Anak-anak juga menjadi cermin bagi orang tuanya. 

Apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan dari orang tuanya, sedikit banyak akan membentuk diri mereka. Pada akhirnya, seluruh perjalanan rumah tangga bukan hanya tentang bagaimana kita hidup bersama pasangan dan anak-anak. 

Lebih jauh lagi, bagaimana perjalanan itu membawa kita semakin dekat kepada Gusti Kang Murbeng Dumadi — Allah SWT.

Ketika Rumah Tangga Diuji

Tidak ada kapal yang berlayar menuju samudera luas tanpa menghadapi gelombang. Begitu pula pernikahan. Awal pernikahan mungkin terasa indah. Tetapi kehidupan rumah tangga tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita bayangkan. 

Ada badai. Ada ombak. Ada pasang surut. Dan justru di situlah kualitas sebuah pernikahan diuji. Setidaknya ada beberapa persoalan yang sering menjadi tantangan dalam kehidupan rumah tangga.

1. FAKTOR EKONOMI

Ekonomi adalah salah satu ujian besar dalam rumah tangga.
Ketika ekonomi sedang baik, pertanyaannya bukan hanya :

“Apakah kita mampu menikmatinya?”
Tetapi juga : 
“Apakah kita mampu menjaga amanah ketika keadaan sedang berlimpah?” 

Sebaliknya, ketika ekonomi sedang terpuruk, pertanyaannya berubah :
“Apakah kita mampu tetap bergandengan tangan ketika keadaan tidak sesuai harapan?” 

Di sinilah komitmen pasangan benar-benar diuji.
Sebab kehidupan tidak selalu tentang bagaimana mendapatkan sesuatu.Kadang-kadang kehidupan justru mengajarkan bagaimana :

Bertahan Bersama Ketika Sesuatu Itu Sedang Tidak Kita Miliki.

2. KETIKA BUAH HATI BELUM HADIR

Ada pasangan yang secara ekonomi baik-baik saja. Hubungan mereka juga baik. Tetapi bertahun-tahun menikah, buah hati belum juga hadir karena berbagai sebab. Sebagian pasangan mampu melewati persoalan tersebut dengan penuh kesabaran. 

Namun persoalan bisa menjadi semakin berat ketika tekanan datang dari luar : dari mertua, keluarga besar, tetangga maupun lingkungan sosial. Pertanyaan yang terus berulang tentang keturunan, yang mungkin dianggap sederhana oleh orang lain, bisa menjadi beban psikologis bagi sebuah pasangan. 

Karena itu, persoalan anak seharusnya menjadi ruang untuk saling menguatkan, bukan ruang untuk saling menyalahkan.

3. CAMPUR TANGAN KELUARGA BESAR

Pernikahan memang menyatukan dua keluarga besar.
Namun menyatukan keluarga bukan berarti memberikan ruang bagi semua orang untuk mengatur kehidupan rumah tangga pasangan tersebut. 

Ada kalanya sebuah keluarga sudah memiliki ekonomi yang baik.
Anak-anak sudah hadir. Rumah tangga tampak baik-baik saja.
Tetapi intervensi yang terlalu jauh dari keluarga besar justru dapat menjadi sumber konflik. 

Karena itu, orang tua dan mertua juga membutuhkan kebijaksanaan.
Mencintai Anak Bukan Berarti Harus Terus-Menerus Mengendalikan Kehidupannya. 

Ada saatnya orang tua harus belajar melepaskan.Membiarkan anak-anaknya membangun rumah tangganya sendiri.
Membiarkan mereka belajar menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

4. HADIRNYA PRIA ATAU WANITA IDAMAN LAIN

Pihak ketiga merupakan salah satu ujian berat dalam kehidupan rumah tangga.
Di sinilah komitmen kembali diuji.Seberapa kuat seseorang menjaga janji?
Seberapa besar ia menghargai pasangan? 

Dan seberapa jauh ia mampu membedakan antara ketertarikan sesaat dengan cinta yang telah dibangun melalui perjalanan panjang? 

Jika pernikahan hanya dibangun di atas ketertarikan fisik, maka ketika hadir seseorang yang dianggap lebih menarik, godaan dapat menjadi semakin besar.

Tetapi jika yang dibangun adalah hubungan jiwa, nilai, komitmen dalam perjalanan bersama, maka seseorang memiliki fondasi yang lebih dalam untuk mempertahankan rumah tangganya.

Perceraian Adalah Pilihan Terakhir

Namun kita juga harus jujur terhadap realitas kehidupan.
Tidak semua pernikahan mampu dipertahankan.
Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan cara yang sama.

Perceraian adalah pilihan yang berat dan semestinya menjadi jalan terakhir, setelah berbagai upaya untuk memperbaiki hubungan dilakukan. Perceraian juga tidak selalu berarti bahwa seseorang sudah tidak memiliki rasa sayang atau cinta.

Ada keadaan ketika dua orang justru memilih berpisah karena mereka menyadari bahwa :
Jika terus bersama hanya akan membuat keduanya semakin saling menyakiti. Karena itu, perceraian bukan sesuatu yang layak dirayakan.

Tetapi juga bukan sesuatu yang harus selalu dipandang secara hitam-putih.
Yang terpenting adalah bagaimana keputusan tersebut diambil dengan kesadaran, tanggung jawab dan tetap menghormati martabat masing-masing pihak.

Respon Kita Menentukan Arah Kehidupan

Ada satu hal penting yang sering kita lupakan :
Tidak semua hal yang datang dari luar diri kita dapat kita kendalikan. 

Persoalan ekonomi, perkataan orang lain, kehadiran pihak ketiga, perbedaan karakter, masalah keluarga dan berbagai keadaan hidup bisa datang tanpa kita undang. Tetapi kita masih memiliki ruang untuk menentukan : Bagaimana Kita Meresponsnya. 

Sesuatu yang datang dari luar pada awalnya bisa kita lihat sebagai sebuah keadaan yang netral. Yang kemudian menjadikannya baik atau buruk, positif atau negatif dalam kehidupan kita, salah satunya adalah respons kita terhadap keadaan tersebut. 

Karena itu, jangan terlalu cepat bereaksi. Berikan jeda. Tarik napas. Berpikir jernih. Cari informasi dan literasi. Tenangkan hati. Baru kemudian mengambil sikap. Sebab respons yang lahir dari ketenangan sering kali menghasilkan keputusan yang berbeda dengan respons yang lahir dari kemarahan.

Kita perlu belajar meninggalkan sifat reaktif—dorongan spontan yang sering membuat persoalan semakin rumit.

Pada Akhirnya, Apa Yang Kita Nikahi?

Mungkin inilah pertanyaan terbesar yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri sebelum menikah :
Apakah aku hanya menikahi tubuhnya?

Ataukah aku siap menikahi : jiwanya, karakternya, kekurangannya, kelebihannya, keluarganya, masa lalunya, masa depannya, serta seluruh perjalanan hidup yang akan kita lalui bersama? 

Karena body akan berubah.
Tetapi jiwa, nilai, karakter, kesetiaan, komitmen dan perjalanan bersama dapat menjadi sesuatu yang justru semakin matang seiring bertambahnya usia.

Maka menikahlah bukan hanya karena apa yang terlihat oleh mata.
Tetapi karena apa yang mampu dirasakan oleh jiwa. 

MENIKAH IS SOUL MARRIED,NOT BODY MARRIED. 

Dan jangan menganggap bahwa setelah akad, proses berjodoh telah selesai. Justru setelah akad itulah kita harus belajar menjodohkan kembali diri kita dengan pasangan—setiap hari, setiap saat, sepanjang hayat. 

Sebab pernikahan bukan tentang menemukan manusia yang sempurna.
Pernikahan adalah tentang dua manusia yang bersedia terus belajar, bertumbuh dan saling menjaga di tengah ketidaksempurnaan. 

Dan jika pada suatu titik perceraian memang menjadi jalan terakhir, semoga ia bukan lahir dari kebencian.
Melainkan dari kesadaran bahwa terkadang mencintai juga berarti berhenti saling melukai.

Menikah adalah perjalanan dua jiwa untuk terus bertumbuh. Bukan sekadar menyatukan body, tetapi menyatukan soul.

whonesiasikoji
whonesiasikoji
Articles: 78

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *