Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482
Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482


Oleh : Wahono – Aktivis & Sekjend Aliansi Wargo Hutomo
Ada satu hal mendasar yang sering luput dalam membicarakan pembangunan daerah :
“Maju dan sejahtera” bukanlah sebuah visi.
Maju dan sejahtera adalah OUTPUT dari sebuah visi yang berhasil diwujudkan.
Kalimat ini mungkin terdengar sederhana.
Tetapi jika kita memahami makna strategis sebuah visi, maka perbedaannya menjadi sangat penting.
Sebab visi bukan sekadar kalimat indah yang ditempel pada dokumen perencanaan, baliho, atau pidato kepala daerah.
Visi adalah arah.
Visi adalah pilihan.
Visi adalah gambaran masa depan yang ingin dibangun.
Sedangkan kesejahteraan adalah salah satu hasil yang diharapkan lahir ketika arah tersebut benar-benar dijalankan.
Dalam perencanaan strategis, sebuah visi seharusnya menjawab pertanyaan :
“Kita ingin membawa daerah ini menjadi apa, dengan kekuatan apa, melalui strategi besar seperti apa?”
Karena itu, visi harus memiliki karakter yang jelas, spesifik, memiliki identitas, dan mampu menjadi penggerak seluruh kebijakan pembangunan.
Sementara kalimat : “Menjadikan daerah maju dan sejahtera.” masih terlalu umum.
Hampir semua daerah tentu ingin maju.
Hampir semua masyarakat tentu ingin sejahtera.
Lalu apa yang membedakannya?
Di situlah persoalannya.
Jika semua daerah menggunakan tujuan yang sama, maka kalimat tersebut belum menunjukkan positioning sebuah daerah.
Mari kita sederhanakan.
Bayangkan pembangunan sebuah daerah seperti sebuah perjalanan.
Maju dan sejahtera adalah kondisi yang ingin dicapai setelah perjalanan berhasil.
Sedangkan visi adalah :
Kita mau menuju ke mana, menjadi apa, dan melalui jalan yang seperti apa.
Misalnya sebuah kota menetapkan visi :
“Menjadi pusat logistik maritim berbasis teknologi hijau di Asia Tenggara.”
Ini jauh lebih strategis.
Sebab dari visi tersebut dapat diturunkan berbagai agenda :
01. Pembangunan Infrastruktur;
02. Pengembangan Sumber Daya Manusia;
03. Teknologi;
04. Investasi;
05. Pendidikan;
06. Transportasi;
07. Industri;
08. Energi;
09. Lingkungan;
10. Hingga Penciptaan Lapangan Kerja.
Jika seluruh strategi tersebut berhasil dijalankan, maka pertumbuhan ekonomi meningkat, kesempatan kerja bertambah, pendapatan masyarakat meningkat, dan kualitas hidup membaik.
Maju dan sejahtera kemudian menjadi OUTPUT. Bukan visi.
Visi yang baik bukan hanya menjelaskan apa yang ingin dicapai, tetapi juga memberikan alasan mengapa seluruh elemen masyarakat harus bergerak ke arah yang sama.
Karena itu, sebuah visi harus mampu menjadi kompas pembangunan.
Pemerintah tahu ke mana harus melangkah.
Dunia usaha tahu sektor apa yang harus dikembangkan.
Masyarakat tahu potensi apa yang harus diperkuat.
Generasi muda tahu kompetensi apa yang harus dipersiapkan.
Investor tahu peluang apa yang sedang dibangun.
Dan seluruh kebijakan daerah memiliki satu benang merah.
Itulah fungsi strategis sebuah visi.
Tanpa arah yang jelas, pembangunan mudah berubah menjadi kumpulan program.
Ada Proyek Jalan.
Ada Pembangunan Gedung.
Ada Festival.
Ada Program Ekonomi.
Ada Program Sosial.
Tetapi pertanyaan besarnya tetap :
Semua itu sebenarnya sedang membawa daerah menuju ke mana?
Di sinilah pertanyaan penting itu perlu kita ajukan kepada Banjarnegara.
Banjarnegara ingin menjadi apa?
Bukan sekadar : “Banjarnegara yang maju dan sejahtera.”
Tetapi : “Banjarnegara mau dibangun menjadi apa?”
01. Apakah Banjarnegara ingin menjadi daerah pariwisata?
02. Apakah ingin menjadi pusat agrowisata dan agroindustri?
03. Apakah ingin menjadi pusat ekonomi kreatif berbasis budaya?
04. Apakah ingin menjadi kawasan ekonomi pegunungan?
05. Apakah ingin menjadi daerah pendidikan?
06. Apakah ingin mengembangkan ekonomi berbasis pertanian dan pangan?
Ataukah Banjarnegara memiliki kombinasi kekuatan tertentu yang dapat menjadi identitas dan positioning baru bagi daerah ini?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang seharusnya menjadi bahan diskusi publik.
Karena setelah “mau menjadi apa” ditentukan, barulah kita dapat berbicara tentang :
Strategi, Kebijakan, Program, Anggaran, Infrastruktur, SDM, Investasi, Dan Target Pembangunan.
Kesalahan berpikir yang perlu kita hindari adalah memulai pembangunan dari kata : SEJAHTERA.
Padahal pertanyaan strategisnya justru harus dimulai dari :
“Apa yang kita miliki?”
“Apa keunggulan kita?”
“Apa yang membedakan kita dengan daerah lain?”
“Peluang apa yang bisa kita rebut?”
“Kita ingin dikenal sebagai apa?”
“Masyarakat seperti apa yang ingin kita bangun?”
Dari jawaban itulah lahir sebuah positioning daerah.
Dan dari positioning tersebut kemudian lahir visi.
Dari visi lahir strategi.
Dari strategi lahir program.
Dari program lahir tindakan.
Dan dari tindakan yang konsisten lahirlah OUTPUT : kemajuan dan kesejahteraan.
Sederhananya :
POSITIONING → VISI → STRATEGI → PROGRAM → AKSI → OUTPUT
Dan salah satu OUTPUT yang diharapkan adalah : MASYARAKAT YANG MAJU DAN SEJAHTERA.
Bukan berarti kata “maju dan sejahtera” tidak penting. Justru sebaliknya.
Maju dan sejahtera adalah tujuan besar pembangunan.
Yang perlu dikritisi adalah ketika kata tersebut digunakan sebagai satu-satunya jawaban atas pertanyaan tentang visi.
Sebab sebuah visi harus memberikan arah yang lebih konkret tentang masa depan seperti apa yang hendak dibangun.
Kalau visi hanya berbunyi : “Maju dan Sejahtera.”
Maka masyarakat masih berhak bertanya :
01. Maju seperti apa?
02. Sejahtera melalui sektor apa?
03. Dengan kekuatan apa?
04. Dengan strategi apa?
05. Menjadi pusat apa?
06. Dikenal sebagai apa?
Dan yang paling penting :
“Apa yang membuat Banjarnegara berbeda dari daerah lain?”
Pada akhirnya, pembangunan bukan hanya persoalan berapa banyak jalan yang dibangun, berapa banyak gedung yang berdiri, atau berapa banyak program yang dilaksanakan.
Pembangunan membutuhkan identitas dan arah.
Sebuah daerah harus mampu menjawab :
“Jika orang menyebut nama daerah kita, apa yang langsung terbayang dalam pikiran mereka?”
Itulah yang disebut positioning.
Dan positioning itulah yang kemudian dapat menjadi fondasi bagi visi pembangunan.
Banjarnegara memiliki banyak modal.
01. Pertanian.
02. Perkebunan.
03. Dieng.
04. Pariwisata.
05. Budaya.
06. Produk khas daerah.
07. Ekonomi kreatif.
08. UMKM.
09. Sumber daya manusia.
10. Dan berbagai potensi lokal lainnya.
Persoalannya bukan semata-mata apakah Banjarnegara memiliki potensi.
Persoalannya adalah apakah seluruh potensi tersebut telah dirangkai menjadi sebuah arah pembangunan yang jelas, terintegrasi, dan memiliki positioning yang kuat?
Maka perdebatan tentang visi pembangunan seharusnya tidak berhenti pada :
“Apakah kita ingin Banjarnegara maju dan sejahtera?”
Jawabannya tentu mudah : YA.
Tetapi pertanyaan strategisnya adalah :
“BANJARNEGARA MAU MENJADI APA AGAR KEMAJUAN DAN KESEJAHTERAAN ITU TERWUJUD?”
Inilah pertanyaan yang jauh lebih penting.
Karena maju dan sejahtera adalah hasil.
Sedangkan visi adalah arah untuk menciptakan hasil tersebut.
Maka jika sebuah daerah hanya mengatakan : “Kami ingin maju dan sejahtera,”
kita masih harus bertanya :
01. “Jalannya ke mana?”
02. “Kendaraannya apa?”
03. “Siapa yang mengemudikan?”
04. “Dan sebenarnya kita hendak menuju ke mana?”
Sebab pembangunan tanpa arah hanya akan menghasilkan banyak aktivitas.
Tetapi pembangunan dengan visi akan menghasilkan perubahan.
Dan mungkin inilah saatnya Banjarnegara tidak hanya berbicara tentang : MAJU DAN SEJAHTERA.
Tetapi mulai serius menentukan : BANJARNEGARA MAU MENJADI APA?
Karena ketika arah sudah jelas, langkah akan lebih terukur.
Ketika positioning sudah kuat, strategi akan lebih fokus.
Dan ketika strategi dijalankan secara konsisten, kemajuan dan kesejahteraan bukan lagi sekadar slogan—melainkan OUTPUT yang dapat dirasakan masyarakat.
Mari berdiskusi dan berani untuk mendefinikan ulang tentang cita-cita Banjarnegara akan di bangun menjadi kabupaten/kota apa?
Wahono