POSITIONING DAN TARGETING INDONESIA

Dari Soekarno hingga Prabowo : Ke Mana Indonesia Hendak Dibawa?

Oleh : Wahono – Aktifis & Sekjend Aliansi Wargo Hutomo

MEMBACA INDONESIA DARI SISI POSITIONING DAN TARGETING

Setiap pemerintahan pada dasarnya memiliki cara sendiri dalam menempatkan Indonesia di tengah perubahan geopolitik dunia.

Jika istilah positioning digunakan untuk menggambarkan bagaimana Indonesia ingin ditempatkan dan dikenal dalam percaturan internasional, maka targeting menggambarkan negara seperti apa yang hendak diwujudkan sebagai tujuan pembangunan.

Dengan cara pandang tersebut, perjalanan Indonesia dapat dibaca melalui beberapa fase penting :
Soekarno, Soeharto, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, hingga Prabowo Subianto.

Masing-masing memiliki tekanan yang berbeda, meskipun terdapat kesinambungan di antara satu era dengan era berikutnya.

1. ERA SOEKARNO

Indonesia sebagai Kekuatan Politik Dunia Baru

Pada era Presiden Soekarno, positioning Indonesia di panggung internasional sangat kuat pada kedaulatan politik, anti-kolonialisme, solidaritas negara-negara Asia-Afrika, dan upaya membangun tatanan dunia yang tidak didominasi kekuatan besar.

Konferensi Asia-Afrika 1955 menjadi salah satu tonggak penting.
Indonesia tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi ikut mendorong solidaritas negara-negara Asia dan Afrika serta prinsip-prinsip yang kemudian dikenal sebagai Dasasila Bandung.

Kementerian Luar Negeri juga menempatkan KAA sebagai salah satu tonggak awal peran aktif Indonesia di dunia internasional. (Museum Konperensi Asia Afrika)

Positioning
Indonesia ingin ditempatkan sebagai : 
PELOPOR GERAKAN ANTIKOLONIALISME DAN KEKUATAN POLITIK NEGARA-NEGARA BARU.

Dalam kerangka pemikiran Soekarno, Indonesia tidak ingin menjadi sekadar pengikut Blok Barat maupun Blok Timur.
Indonesia berusaha membangun kekuatan politik sendiri melalui solidaritas negara-negara yang baru merdeka.

Gagasan NEFO (New Emerging Forces) menggambarkan upaya Soekarno membangun kekuatan baru yang berhadapan dengan dominasi kekuatan lama atau OLDEFO/Old Established Forces.

Dengan demikian, positioning Soekarno lebih menonjolkan : 
KEDAULATAN POLITIK + KEKUATAN GEOPOLITIK + IDENTITAS BANGSA.

Targeting
Indonesia diarahkan menjadi negara yang :
01. Berdaulat Secara Politik;
02. Berdikari Secara Ekonomi;
03. Berkepribadian Dalam Kebudayaan;
04. Memiliki Kekuatan Pertahanan Yang Disegani;
05. Mampu Memainkan Peranan Penting Dalam Percaturan Dunia;
06. Menjadi Salah Satu Pusat Solidaritas Bangsa-Bangsa Yang Menentang Kolonialisme.

Gagasan Politik Mercusuar juga menunjukkan keinginan menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki daya simbolik dan pengaruh besar di antara negara-negara berkembang.

Pembangunan berbagai proyek monumental seperti Monumen Nasional, Hotel Indonesia dan kompleks olahraga Senayan merupakan bagian dari semangat tersebut.

Inti positioning Soekarno dapat diringkas :
INDONESIA HARUS BERDIRI SEBAGAI BANGSA YANG BERDAULAT DAN DIHORMATI DUNIA.

2. ERA SOEHARTO

Indonesia sebagai Negara Stabil dan Kekuatan Ekonomi yang Sedang Tumbuh

Ketika memasuki era Presiden Soeharto, orientasi Indonesia mengalami perubahan besar.

Jika Soekarno lebih menonjolkan kekuatan politik dan geopolitik, Soeharto lebih menekankan stabilitas nasional dan pembangunan ekonomi.

Positioning
Indonesia diposisikan sebagai : 
NEGARA YANG STABIL, AMAN, TERBUKA TERHADAP KERJA SAMA INTERNASIONAL, DAN BERGERAK MENUJU NEGARA INDUSTRI.

Indonesia kembali aktif dalam institusi internasional dan membuka ruang lebih besar bagi investasi serta kerja sama ekonomi. Di tingkat kawasan, Indonesia juga memainkan peran penting dalam pembentukan dan perkembangan ASEAN.

Dengan demikian, positioning era Soeharto dapat diringkas :
STABILITAS POLITIK + PEMBANGUNAN EKONOMI + INDUSTRIALISASI.

Targeting
Target besarnya adalah mengubah Indonesia dari negara berkembang yang tertinggal menjadi negara dengan ekonomi yang lebih modern dan industrial.

Jalan yang ditempuh antara lain : 
pertanian → swasembada pangan → agroindustri → industrialisasi → pembangunan ekonomi nasional.

Salah satu tonggak pentingnya adalah tercapainya swasembada beras pada 1984.
Dengan Repelita, pembangunan diarahkan secara bertahap dan terencana.

Maka jika Soekarno berbicara tentang : "Indonesia harus menjadi bangsa yang berdaulat."
Maka Soeharto lebih banyak berbicara tentang : "Indonesia harus membangun agar menjadi negara yang maju."

Inti positioning Soeharto :
INDONESIA HARUS STABIL, MEMBANGUN, TUMBUH, DAN BERTRANSFORMASI MENJADI NEGARA INDUSTRI.

3. ERA SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Indonesia sebagai Emerging Economy dan Demokrasi yang Matang

Memasuki era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Indonesia memasuki fase yang berbeda lagi.

Indonesia Tidak Lagi Hanya Berbicara Tentang Keluar Dari Keterpurukan Ekonomi.
Indonesia mulai berbicara mengenai posisi sebagai emerging economy dan negara demokrasi yang semakin matang.

SBY secara terbuka berbicara mengenai visi Indonesia menjadi emerging economy pada 2030 dan negara maju pada abad ke-21. Dalam visi 2045 yang disampaikan pada masa pemerintahannya, Indonesia dibayangkan memiliki ekonomi kuat dan berkeadilan, demokrasi matang dan stabil, serta peradaban yang maju. (Setneg)

Positioning
Indonesia diarahkan menjadi : 
EMERGING ECONOMY YANG DEMOKRATIS, STABIL DAN SEMAKIN DIPERHITUNGKAN DALAM EKONOMI GLOBAL.

Indonesia mulai memperkuat identitas sebagai negara demokrasi besar sekaligus anggota penting dalam forum ekonomi global seperti G20. (Setneg)

Targeting
Targetnya semakin bersifat jangka panjang : 
2030 → emerging economy2045 → strong nationabad ke-21 → developed nation

Pilar yang ditekankan meliputi :
01. Ekonomi Kuat Dan Berkeadilan;
02. Demokrasi Stabil;
03. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia;
04. Teknologi Dan Inovasi;
05. Ekonomi Kreatif;
06. Pembangunan Yang Berkelanjutan.

Dengan demikian, SBY membawa Indonesia dari sekadar : 
NEGARA YANG SEDANG MEMBANGUN - menuju : NEGARA YANG INGIN DIKENAL SEBAGAI EMERGING ECONOMY DAN DEMOKRASI BESAR.

4. ERA JOKO WIDODO

Indonesia sebagai Kekuatan Ekonomi Baru dan Menuju Indonesia Emas 2045

Pada era Presiden Joko Widodo, orientasi pembangunan semakin diarahkan kepada transformasi struktural ekonomi.
Indonesia tidak hanya ingin tumbuh, tetapi ingin meningkatkan posisi dalam rantai nilai ekonomi dunia.

Positioning
Indonesia diarahkan menjadi : 
KEKUATAN EKONOMI BARU DI ASIA DAN DUNIA.

Salah satu gagasan pentingnya adalah menjadikan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi besar pada 2045.
Pemerintah juga menempatkan Indonesia Emas 2045 sebagai visi jangka panjang pembangunan nasional.

Dalam dokumen visi 2045, Indonesia diarahkan memiliki pendapatan per kapita setara negara maju, kemiskinan yang sangat rendah, serta kepemimpinan dan pengaruh yang kuat di dunia internasional. (Bappenas)

Targeting
Target besarnya : Indonesia menjadi negara maju pada 2045.

Bahkan Presiden Jokowi pernah menyampaikan peluang Indonesia untuk masuk kelompok empat atau lima besar ekonomi dunia pada 2045. (Setneg)

Untuk menuju ke sana, strategi yang ditekankan antara lain : 
1. Hilirisasi
Indonesia tidak ingin terus-menerus mengekspor bahan mentah.Sumber daya alam harus diolah di dalam negeri sehingga menciptakan nilai tambah, industri, lapangan kerja dan penerimaan ekonomi yang lebih besar.

2. Infrastruktur
Konektivitas nasional diperkuat untuk memperlancar arus manusia, barang, jasa dan investasi.

3. Digitalisasi
Indonesia diarahkan memasuki ekonomi digital dan meningkatkan kemampuan teknologi.

4. Kemaritiman
Gagasan Poros Maritim Dunia kembali mengangkat posisi geografis Indonesia sebagai kekuatan strategis.

5. Indonesia Emas 2045
Seluruh proses tersebut diarahkan menuju transformasi Indonesia menjadi negara maju pada 100 tahun kemerdekaan.

Bappenas juga menempatkan RPJPN 2025–2045 sebagai panduan pembangunan jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045. (Bappenas)

Inti positioning Jokowi :
INDONESIA HARUS NAIK KELAS: DARI NEGARA BERKEMBANG MENJADI KEKUATAN EKONOMI BESAR DUNIA.

5. ERA PRABOWO SUBIANTO

Indonesia sebagai Negara Maju, Berdaulat dan Rising Giant

Pada era Presiden Prabowo Subianto, terdapat kesinambungan dengan agenda sebelumnya, tetapi dengan penekanan yang lebih kuat pada kedaulatan, ketahanan nasional, swasembada dan kekuatan ekonomi.

Positioning
Indonesia diarahkan menjadi : 
NEGARA MAJU, MODERN, BERDAULAT DAN MENJADI RISING GIANT DALAM PERCATURAN DUNIA.

Dalam konteks geopolitik, Prabowo secara terbuka menegaskan kembali prinsip politik luar negeri bebas aktif dan nonblok.

Pada 2026, pemerintah kembali menegaskan bahwa Indonesia tidak ingin bergabung dengan blok mana pun. (Setkab)
Ini menunjukkan adanya kesinambungan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia sebelumnya, tetapi ditempatkan dalam situasi geopolitik global yang berbeda.

Targeting
Target utamanya adalah membangun Indonesia yang :
01. Maju Dan Modern;
02. Mandiri Dalam Pangan;
03. Semakin Mandiri Dalam Energi;
04. Kuat Secara Ekonomi;
05. Memiliki Industri Nasional;
06. Mampu Mengelola Sumber Daya Alam Sendiri;
07. Memiliki Sdm Berkualitas;
08. Mempunyai Daya Tawar Kuat Dalam Hubungan Internasional.

Prabowo juga menekankan bahwa kemandirian nasional merupakan fondasi dari politik luar negeri bebas aktif. (Setkab)
Strategi yang ditekankan antara lain : 
SWASEMBADA PANGAN → SWASEMBADA ENERGI → HILIRISASI → INDUSTRIALISASI → PENGUATAN SDM → KEDAULATAN EKONOMI.

Pemerintah juga menggunakan istilah rising giant untuk menggambarkan aspirasi Indonesia menjadi kekuatan besar yang semakin diperhitungkan.

Namun, penting membedakan target dengan capaian.
Karena pemerintahan Prabowo masih berjalan, sebagian besar sasaran tersebut merupakan agenda dan target yang sedang dikerjakan, bukan hasil akhir yang sudah dapat dinilai secara historis.

LALU, APA PERBEDAAN MENDASARNYA?

Jika seluruh perjalanan tersebut kita sederhanakan, maka terlihat adanya pergeseran pusat gravitasi strategi Indonesia.

SOEKARNO
KEDAULATAN POLITIK
Indonesia ingin menjadi kekuatan politik dunia baru dan pelopor bangsa-bangsa yang menentang kolonialisme.
"Indonesia harus menentukan jalannya sendiri."

SOEHARTO
PEMBANGUNAN EKONOMI
Indonesia ingin menjadi negara yang stabil, tumbuh dan bertransformasi menuju industrialisasi.
"Indonesia harus membangun agar menjadi negara maju."

SBY
EMERGING ECONOMY + DEMOKRASI
Indonesia ingin menjadi kekuatan ekonomi yang sedang naik dan demokrasi besar yang matang.
"Indonesia harus naik kelas dan semakin diperhitungkan."

JOKOWI
TRANSFORMASI EKONOMI
Indonesia ingin naik dari negara berkembang menuju negara maju dan kekuatan ekonomi besar, melalui pembangunan infrastruktur, hilirisasi, digitalisasi dan penguatan konektivitas.
"Indonesia harus menciptakan nilai tambah dan menjadi kekuatan ekonomi besar."

PRABOWO
KEDAULATAN + KETAHANAN + KEKUATAN
Indonesia diarahkan menjadi negara maju yang mandiri, berdaulat, memiliki ketahanan pangan dan energi, serta mempunyai daya tawar geopolitik yang kuat.
"Indonesia harus kuat dari dalam agar berdaulat dan disegani dari luar."

SATU GARIS BESAR PERJALANAN INDONESIA

Jika kita tarik garis lurusnya, perjalanan tersebut dapat dibaca sebagai berikut : 
SOEKARNO → MEMBANGUN KEDAULATAN DAN IDENTITAS
↓
SOEHARTO → MEMBANGUN STABILITAS DAN EKONOMI
↓
SBY → MEMBANGUN DEMOKRASI DAN EMERGING ECONOMY
↓
JOKOWI → MEMBANGUN INFRASTRUKTUR DAN TRANSFORMASI EKONOMI
↓
PRABOWO → MEMBANGUN KEDAULATAN, KETAHANAN DAN KEKUATAN NASIONAL

DARI "SIAPA KITA?"
MENUJU "SEKUAT APA KITA?"

Inilah perbedaan mendasar yang menurut saya penting dipahami masyarakat.

Soekarno lebih banyak membangun posisi dan identitas Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat.
Soeharto membangun fondasi stabilitas dan mesin ekonomi Indonesia.
SBY memperkuat demokrasi dan posisi Indonesia sebagai emerging economy.
Jokowi mendorong transformasi ekonomi agar Indonesia naik kelas dalam rantai nilai global. Sedangkan - 
Prabowo membawa penekanan pada kedaulatan dan ketahanan nasional sebagai dasar menuju negara maju dan kekuatan besar.

Dengan demikian, sebenarnya terdapat kesinambungan :
BERDAULAT → MEMBANGUN → NAIK KELAS → TRANSFORMASI → BERDAULAT DAN BERDAYA TAWAR.

Namun bentuk tantangannya berubah mengikuti zaman.
Soekarno menghadapi dunia pasca-kolonial dan Perang Dingin.
Soeharto menghadapi tantangan kemiskinan, stabilitas dan pembangunan ekonomi.
SBY menghadapi era globalisasi, demokratisasi dan integrasi ekonomi dunia.
Jokowi menghadapi persaingan rantai pasok, teknologi, industri dan ekonomi digital.
Prabowo menghadapi dunia yang semakin ditandai kompetisi geopolitik, ketahanan pangan-energi, perebutan sumber daya, industri strategis dan perubahan tata ekonomi global.

PENUTUP

Karena itu, kurang tepat jika perjalanan Indonesia hanya dibaca sebagai pergantian presiden.
Lebih menarik apabila dibaca sebagai perubahan strategi positioning sebuah negara.

Setiap era mempunyai tantangan zamannya sendiri, bahasa strateginya sendiri, dan target masa depannya sendiri.
Dan pada akhirnya seluruh perjalanan itu bermuara pada satu pertanyaan besar : 

SETELAH 81 TAHUN MERDEKA, INDONESIA INGIN DIKENAL DUNIA SEBAGAI NEGARA APA?

Apakah hanya sebagai negara dengan ekonomi besar?
Ataukah sebagai negara maju yang ekonominya kuat, rakyatnya sejahtera, teknologinya maju, budayanya berkarakter, pertahanannya kuat, mandiri dalam pangan dan energi, serta memiliki pengaruh yang nyata dalam menentukan arah dunia?

Sebab menjadi negara besar secara ekonomi belum tentu otomatis berarti menjadi negara besar secara geopolitik.
Dan menjadi negara besar secara geopolitik juga belum tentu berarti rakyatnya otomatis sejahtera.

Maka tantangan Indonesia ke depan bukan hanya : 
"SEBERAPA BESAR EKONOMI INDONESIA?"
Tetapi : 
"SEBERAPA BESAR KEDAULATAN, KESEJAHTERAAN, KEKUATAN, PENGARUH DAN PERADABAN INDONESIA DI DUNIA?"

Di titik inilah positioning dan targeting Indonesia untuk masa depan harus didefinisikan dengan lebih jelas.

whonesiasikoji
whonesiasikoji
Articles: 78

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *