MENGENAL SIKLUS PERADABAN INDONESIA

Membaca Masa Depan Bangsa 
dari Spirit Sumpah Pemuda

Oleh : Wahono – Aktivis & Sekjend Aliansi Wargo Hutomo 

Ada sebuah pertanyaan menarik yang layak kita renungkan bersama : Apakah perjalanan sebuah bangsa memiliki siklus tertentu? Apakah sejarah hanya sekadar rangkaian peristiwa masa lalu, atau justru menyimpan pola yang dapat kita baca untuk memahami perjalanan bangsa di masa depan? 

Tulisan ini mencoba melihat perjalanan peradaban Indonesia melalui perspektif siklus kalender Jawa, dengan menjadikan satu peristiwa besar sebagai starting point, yaitu Kongres Pemuda 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda. 

Tentu, pembacaan ini bukan dimaksudkan sebagai kepastian atau ramalan masa depan. Ia lebih tepat ditempatkan sebagai perspektif budaya dan bahan perenungan tentang bagaimana sebuah bangsa bergerak dari satu fase sejarah menuju fase berikutnya.

Dari Organisasi Perhimpunan Indonesia
Menuju Sumpah Pemuda

Cikal bakal tumbuhnya kesadaran kebangsaan Indonesia sebenarnya telah berlangsung jauh sebelum Sumpah Pemuda. Pada 1908, para mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Belanda membentuk organisasi yang kemudian dikenal sebagai Perhimpunan Indonesia. Organisasi ini menjadi salah satu wadah penting dalam pertumbuhan kesadaran nasional dan gagasan tentang Indonesia sebagai sebuah bangsa. 

Kemudian, pada 1915, berdirilah Tri Koro Dharmo, organisasi kepemudaan yang kemudian berkembang menjadi Jong Java. Semangat organisasi kepemudaan terus tumbuh. Berbagai kelompok pemuda berdasarkan daerah dan latar belakang masing-masing mulai membangun komunikasi dan kesadaran bersama. 

Puncaknya terjadi pada Kongres Pemuda I tahun 1926. Dalam kongres tersebut mulai muncul gagasan mengenai pentingnya penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 28 Oktober 1928, berlangsung Kongres Pemuda II yang menghasilkan sebuah ikrar monumental yang kemudian kita kenal sebagai : SUMPAH PEMUDA
Satu tanah air : Indonesia
Satu bangsa : Indonesia
Satu bahasa : Indonesia
Inilah salah satu titik balik terpenting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

1928 :
Sebuah Starting Point Peradaban

Mengapa tahun 1928 menarik untuk dijadikan titik awal pembacaan siklus? Karena Sumpah Pemuda bukan sekadar sebuah deklarasi kaum muda. Di dalamnya terdapat perubahan cara berpikir. Pemuda-pemuda yang sebelumnya berdiri dengan identitas kedaerahan mulai menyadari bahwa mereka memiliki rumah yang lebih besar. 

Mereka mulai bergerak dari : “Aku orang Jawa.” - “Aku orang Sumatera.” - “Aku orang Sulawesi.” dan berbagai identitas daerah lainnya, menuju sebuah kesadaran baru:“Kita adalah bangsa Indonesia.”

Perubahan kesadaran inilah yang kemudian menjadi salah satu fondasi penting menuju Proklamasi Kemerdekaan 1945. Dengan demikian, Sumpah Pemuda bukan hanya peristiwa sejarah. Sumpah Pemuda adalah revolusi kesadaran.

Membaca Indonesia
Melalui Siklus 32 Tahunan

Dalam perspektif kalender Jawa dikenal konsep windu, yaitu siklus delapan tahunan. Empat windu kemudian membentuk satu putaran yang secara sederhana dapat dibaca sebagai : 4 × 8 tahun = 32 tahun. 

Jika peristiwa Sumpah Pemuda tahun 1928 dijadikan titik awal, maka perjalanan sejarah berikutnya dapat dibaca melalui putaran siklus tersebut. Dari 1928 menuju 1960, kemudian 1992, lalu 2024.Artinya, pada tahun 2024–2032, dalam perspektif siklus ini, Indonesia memasuki sebuah fase baru.Fase tersebut dikenal sebagai : WINDU SANCAYA

Empat Fase Windu
dalam Perspektif Kalender Jawa

Untuk memahami gagasan tersebut, kita dapat mengenal empat jenis windu yang sering digunakan dalam pembacaan siklus kalender Jawa.
1. Windu Adi
Windu Adi sering dimaknai sebagai fase yang baik, agung, atau utama. Fase ini melambangkan : kesejahteraan, kemakmuran, dan pertumbuhan.

2. Windu Kunthara
Windu Kunthara dipahami sebagai fase yang menghadirkan berbagai godaan, rintangan, dan tantangan. Karena itu, fase ini mengajarkan : kewaspadaan dan kehati-hatian.

3. Windu Sengara
Windu Sengara menggambarkan fase yang penuh kesulitan, cobaan, dan tantangan. Pesan utama fase ini adalah : kesabaran, ketahanan, dan kemampuan menghadapi ujian.

4. Windu Sancaya
Windu Sancaya dimaknai sebagai fase kembalinya keberuntungan dan kejayaan. Dalam perspektif ini, Sancaya merupakan fase ketika kerja keras dan proses panjang pada fase-fase sebelumnya mulai menghasilkan buah. Namun, apakah kejayaan itu akan datang dengan sendirinya? Tentu tidak.

Windu Sancaya dan Syarat Bernama Rekonsiliasi

Di sinilah letak gagasan terpenting dari tulisan ini. Sebuah siklus tidak akan menghasilkan perubahan hanya karena waktu terus berjalan. Perubahan membutuhkan manusia yang sadar dan mau bergerak. 

Jika Windu Sancaya dimaknai sebagai fase kembalinya keberuntungan dan kejayaan, maka bangsa Indonesia tetap membutuhkan sebuah energi sosial yang sangat besar. Energi tersebut adalah : REKONSILIASI.

Apa makna rekonsiliasi?
Rekonsiliasi bukan berarti menghapus sejarah. Bukan pula berarti mengatakan bahwa semua kesalahan masa lalu tidak pernah terjadi. Rekonsiliasi adalah keberanian untuk mengatakan : 
“Kita boleh berbeda pandangan, tetapi kita tetap satu bangsa.”
“Kita boleh berbeda pilihan, tetapi kita tetap saudara.”
“Kita boleh memiliki masa lalu yang berbeda, tetapi kita memiliki masa depan yang sama.” 

Pada titik tertentu, bangsa ini harus mampu keluar dari pertarungan : siapa yang paling benar dan siapa yang paling salah. Harus ada keberanian untuk meninggalkan mentalitas : menang-kalah, aku-kamu, kelompokku-kelompokmu. Kemudian menggantinya dengan satu kesadaran : KITA. Kita adalah Indonesia.

Belajar dari Pemuda 1928

Jika kita kembali melihat Sumpah Pemuda, sesungguhnya terdapat pelajaran luar biasa yang dapat kita ambil. Sumpah Pemuda tidak mungkin lahir apabila para pemuda saat itu masih mempertahankan ego kelompok masing-masing. 

Ada setidaknya tiga energi besar yang dapat kita pelajari dari para pemuda 1928.

PERTAMA : 
MENURUNKAN EGO
Para pemuda dari berbagai daerah harus berani menurunkan ego kelompok. Tidak ada yang mengatakan : “Kelompok saya yang paling hebat.” - Tidak ada yang mengatakan : “Bahasa saya yang paling utama.” - Tidak ada yang mengatakan : “Daerah saya harus berada di atas daerah lain.” 

Mereka justru menemukan sesuatu yang lebih besar daripada identitas kelompoknya : INDONESIA. Persatuan lahir ketika manusia mampu menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok.

KEDUA :
BERANI BERKORBAN
Kemerdekaan tidak lahir dari orang-orang yang hanya ingin mendapatkan sesuatu. Kemerdekaan lahir dari mereka yang bersedia memberikan sesuatu. Waktu Tenaga – Pikiran – Pengetahuan – Harta – Bahkan jiwa dan raga. 

Para pemuda saat itu memberikan apa yang mereka miliki untuk sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya mereka nikmati hasilnya. Mereka berjuang bukan hanya untuk dirinya sendiri. Mereka berjuang untuk generasi sesudahnya. 

Inilah yang disebut sebagai sedekah intelektual, sedekah waktu, sedekah tenaga, dan sedekah pengabdian kepada bangsa.

KETIGA :
BERANI MEMAAFKAN
Persatuan juga membutuhkan kemampuan untuk memaafkan. Bangsa yang terus hidup dalam dendam masa lalu akan sulit membangun masa depan. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan. Memaafkan adalah melepaskan beban masa lalu agar kita memiliki energi untuk membangun hari esok. 

Dari sinilah kita menemukan makna persaudaraan yang sangat sederhana : Kita sama-sama menghirup udara di bumi Indonesia. Tidak peduli suku. Tidak peduli agama. Tidak peduli ras. Tidak peduli golongan.Ketika kita memilih Indonesia sebagai rumah bersama, maka sesungguhnya : KITA ADALAH SAUDARA.

Lalu Bagaimana dengan Indonesia Emas 2045?

Indonesia memiliki cita-cita besar yang dikenal dengan istilah Indonesia Emas 2045. Tahun tersebut dipilih karena bertepatan dengan 100 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Secara konvensional, 2045 memang merupakan momentum satu abad Indonesia merdeka. 

Namun, apabila perjalanan bangsa dibaca menggunakan perspektif siklus 32 tahunan dan titik awalnya diletakkan pada Sumpah Pemuda 1928, maka muncul pembacaan yang berbeda. Dalam hitungan siklus tersebut, 2045 masih berada dalam rentang fase Windu Sengara, yang secara simbolik dimaknai sebagai fase penuh tantangan, ujian, dan cobaan. 

Artinya, angka 2045 tidak perlu kita pertentangkan dengan pembacaan siklus budaya tersebut. Justru keduanya dapat ditempatkan secara berbeda. 2045 adalah target politik dan pembangunan bangsa. Sementara pembacaan siklus adalah refleksi budaya dan spiritual tentang perjalanan peradaban. 

Dengan demikian, pertanyaan yang lebih penting bukan : “Apakah Indonesia Emas terjadi pada 2045 atau tidak?” – Melainkan : “Indonesia seperti apa yang ingin kita lahirkan setelah satu abad kemerdekaan?”

2056–2064 :
Sebuah Horizon Peradaban?

Jika kita meneruskan pembacaan siklus 32 tahunan dari titik 1928, maka akan muncul horizon waktu berikutnya sekitar 2056–2064. 

Dalam perspektif siklus kalender Jawa yang menjadi dasar tulisan ini, rentang tersebut dapat dibaca sebagai kemungkinan fase ketika hasil dari proses panjang sebelumnya mulai menemukan bentuknya. Sebagian pembacaan terhadap tradisi Jawa, termasuk yang dikaitkan dengan karya-karya kuno seperti Pustaka Weda Sasangka, digunakan sebagai bahan untuk memahami pola perjalanan tersebut. 

Namun sekali lagi, angka tersebut bukan kepastian sejarah dan bukan ramalan yang tidak dapat berubah. Masa depan tetap ditentukan oleh pilihan manusia. Jika bangsa Indonesia memilih ego, perpecahan, kebencian, dan pertarungan tanpa akhir, maka siklus apa pun tidak akan otomatis membawa kejayaan. 

Sebaliknya, jika bangsa ini mampu membangun kesadaran bersama, memperkuat persatuan, melakukan rekonsiliasi, dan bekerja untuk kepentingan generasi berikutnya, maka masa depan yang lebih baik bukan sesuatu yang mustahil.

Virus Kesadaran
Harus Dimulai dari Sedikit Orang

Lalu apakah rekonsiliasi tersebut realistis? Mungkin jawabannya tidak mudah. Tetapi perubahan besar dalam sejarah hampir selalu dimulai dari sekelompok kecil manusia yang memiliki kesadaran baru.

Tidak perlu menunggu seluruh bangsa sadar terlebih dahulu. Cukup dimulai dari sebagian kecil orang.Mereka saling mengingatkan. Kemudian kesadaran itu menyebar. Dari individu menjadi kelompok. Dari kelompok menjadi komunitas. Dari komunitas menjadi gerakan. Dari gerakan menjadi budaya. Dan akhirnya menjadi kesadaran kolektif bangsa. 

Inilah yang saya sebut sebagai : VIRUS KESADARAN.Virus yang tidak menghancurkan. Tetapi justru menyembuhkan. Virus yang menyembuhkan ego. Virus yang menyembuhkan kebencian. Virus yang menyembuhkan perpecahan. Virus yang menghidupkan kembali persaudaraan.

Sumpah Pemuda Bukan Sekadar Sejarah

Pada akhirnya, kita perlu kembali kepada satu pertanyaan mendasar : Mengapa Sumpah Pemuda masih relevan untuk dibicarakan hampir satu abad kemudian? Karena persoalan terbesar bangsa hari ini mungkin bukan lagi bagaimana merebut kemerdekaan dari penjajahan. 

Persoalannya adalah :
Bagaimana menjaga kemerdekaan itu agar menghasilkan peradaban yang besar. 

Pemuda 1928 telah memberikan contoh bahwa persatuan tidak lahir dari kesamaan. Persatuan justru lahir dari kemampuan mengelola perbedaan. Mereka berbeda suku. Berbeda daerah. Berbeda latar belakang. Tetapi mereka memiliki satu kesadaran : Indonesia harus menjadi rumah bersama.

Dan mungkin, inilah pesan terbesar yang harus kita bawa memasuki fase sejarah Indonesia berikutnya.

DARI SUMPAH PEMUDA
MENUJU SUMPAH PERADABAN

Kalau dahulu para pemuda bersumpah : Satu tanah air — Indonesia. Satu bangsa — Indonesia.Satu bahasa — Indonesia. Maka generasi hari ini membutuhkan sebuah komitmen baru :

Satu kesadaran untuk menjaga Indonesia.
Satu keberanian untuk membangun Indonesia.
Satu tekad untuk mewariskan Indonesia yang lebih baik kepada generasi berikutnya. 

Karena pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak akan ditentukan semata-mata oleh pergantian presiden, pergantian pemerintahan, pergantian partai politik, atau pergantian generasi. Masa depan Indonesia akan ditentukan oleh : KUALITAS KESADARAN MANUSIA INDONESIA. 

Jika kesadarannya berubah, maka perilakunya berubah.Jika perilakunya berubah, maka budaya berubah.Jika budaya berubah, maka sistem berubah.Dan ketika sistem berubah, maka: PERADABAN PUN BERUBAH.

whonesiasikoji
whonesiasikoji
Articles: 78

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *