ISLAM BUKAN SEKADAR IDENTITAS, ISLAMI ADALAH KUALITAS

Ketika Keislaman Tidak Berhenti pada Nama, Tetapi Menjelma Menjadi Akhlak dan Perilaku

Oleh : Wahono - Aktifis

Ada sebuah pertanyaan sederhana yang mungkin layak kita renungkan bersama : Apakah menjadi seorang Muslim sudah cukup untuk membuat kita menjadi manusia yang Islami? Pertanyaan ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Bukan pula untuk mempertanyakan keislaman seseorang. 

Justru sebaliknya, pertanyaan ini adalah cermin untuk melihat ke dalam diri kita sendiri. Sebab boleh jadi kita sudah memiliki identitas Islam sejak lahir, memiliki KTP dengan agama Islam, rajin menjalankan ritual keagamaan, bahkan merasa bangga dengan identitas tersebut. 

Tetapi, sudahkah nilai-nilai Islam benar-benar hidup dalam perilaku kita? Di sinilah kita perlu membedakan antara Islam sebagai identitas dan Islami sebagai kualitas.

Islam Adalah Identitas, Islami Adalah Kualitas

Islam adalah sebuah identitas sekaligus jalan hidup. Namun identitas hanyalah titik awal. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana identitas tersebut kemudian membentuk karakter, akhlak, sikap dan perilaku manusia. 

Seseorang boleh mengatakan : “Saya seorang Muslim.” - Tetapi masyarakat seharusnya dapat merasakan dari dirinya tentang : kejujuran, kedamaian, kasih sayang, keadilan, amanah, kesabaran dan kepedulian. 

Karena pada akhirnya, kualitas keislaman seseorang tidak hanya terlihat dari apa yang ia katakan tentang agamanya, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan sesama manusia. Maka:Islam adalah identitas. Islami adalah kualitas. Islam adalah keyakinan. Islami adalah perwujudan keyakinan dalam kehidupan.

Lalu, Apa Arti Berserah Diri kepada Tuhan?

Islam memiliki makna yang sangat dalam tentang berserah diri kepada Allah. Berserah diri bukan berarti menyerah terhadap kehidupan. Bukan pula berarti berhenti berusaha. Justru manusia tetap harus berikhtiar, berpikir, bekerja dan berjuang sebaik mungkin, tetapi menyadari bahwa manusia bukanlah penguasa mutlak atas hasil kehidupan. 

Kita merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan. Kita berusaha, tetapi Tuhan yang menetapkan hasilnya. Kita berjalan dengan segala kemampuan yang kita miliki, tetapi tetap menyadari bahwa ada kehendak Tuhan yang berada di luar kendali kita. 

Inilah yang dalam gagasan sederhana dapat disebut sebagai : Absolute Surrender — Berserah Diri Secara Total kepada Tuhan. Bukan kehilangan kehendak, tetapi menundukkan kehendak pribadi kepada kehendak dan ketentuan Tuhan.

Belajar dari Wayang dan Sang Dalang

Dalam budaya Jawa ada sebuah filosofi yang sangat menarik. Wayang tidak pernah mengatur dalang. Wayang bergerak karena digerakkan oleh dalang. Wayang tidak pernah merasa lebih tahu daripada dalang tentang ke mana ia harus bergerak. 

Begitu pula manusia. Kita diberikan akal untuk berpikir. Kita diberikan hati untuk merasakan. Kita diberikan kehendak untuk memilih. Kita diberikan kesempatan untuk berikhtiar. Tetapi jangan pernah lupa bahwa kita bukanlah Tuhan atas kehidupan kita sendiri. 

Ada batas kemampuan manusia. Ada ketentuan yang tidak mampu kita kendalikan. Ada wilayah kehidupan yang hanya Tuhan yang mengetahui. Maka manusia perlu menjalani kehidupan dengan dua sikap sekaligus : Maksimal dalam ikhtiar, total dalam berserah diri.

Jangan Bangga Hanya Karena Identitas

Salah satu persoalan manusia adalah ketika kita terlalu bangga dengan label, tetapi lupa membangun kualitas. Kita bangga menjadi Muslim. Itu tentu bukan sesuatu yang salah. Tetapi jangan sampai kebanggaan terhadap identitas membuat kita lupa bertanya : “Sudahkah perilaku saya mencerminkan Islam?” 

Sebab sangat mudah mengatakan : “Saya Islam.” - Tetapi tidak selalu mudah menjadi manusia yang :
Jujur ketika berbohong lebih menguntungkan;
Amanah ketika tidak ada yang mengawasi;
Sabar ketika sedang disakiti;
Memaafkan ketika memiliki alasan untuk membalas;
Tidak iri ketika orang lain mendapatkan keberhasilan;
Menghargai perbedaan ketika orang lain tidak sependapat;


Tetap rendah hati ketika mendapatkan kekuasaan;Tetap peduli ketika melihat orang lain sedang kesulitan.Di situlah kualitas keislaman diuji.

Ketika Identitas dan Perilaku Tidak Sejalan

Kita sering melihat sebuah paradoks dalam kehidupan. Ada manusia yang identitas agamanya berbeda dengan kita, tetapi perilakunya sangat baik. Ia jujur. Ia amanah. Ia suka menolong. Ia menghormati perbedaan. Ia menjaga lingkungan. Ia tidak mengambil hak orang lain. Ia mampu hidup berdampingan dengan siapa pun. 

Sebaliknya, kita juga terkadang menemukan orang yang secara identitas adalah seorang Muslim, tetapi masih mudah iri, membenci, memfitnah, menyimpan dendam, tidak amanah atau tidak mampu menghargai perbedaan. 

Fenomena ini seharusnya tidak membuat kita sibuk menghakimi orang lain. Justru seharusnya menjadi alarm bagi diri kita sendiri. Sebab kita tidak pernah tahu bagaimana penilaian Tuhan terhadap seseorang. 

Yang bisa kita lakukan adalah memperbaiki diri sendiri. Jangan sibuk menghitung dosa orang lain, sementara kita lupa menghitung kekurangan diri sendiri.

Islam Seharusnya Terlihat dari Perilaku

Bayangkan jika setiap orang yang mengaku Muslim benar-benar berusaha menjadi manusia yang Islami.
· Ketika menjadi pedagang, ia jujur.
· Ketika menjadi pejabat, ia amanah.
· Ketika menjadi pengusaha, ia tidak mengeksploitasi.
· Ketika menjadi pemimpin, ia adil.
· Ketika menjadi rakyat, ia bertanggung jawab.
· Ketika berbeda pendapat, ia tetap menghormati.
·  Ketika mendapatkan keberhasilan, ia tidak sombong.
· Ketika mendapatkan kegagalan, ia tidak menyalahkan Tuhan.
· Ketika disakiti, ia belajar memaafkan.
·  Ketika melihat orang lain berhasil, ia ikut bersyukur.

Bukankah kehidupan seperti itu akan menghadirkan kedamaian? Bukankah itulah salah satu esensi dari Islam?

Dari Simbol Menuju Substansi

Sudah waktunya kita tidak hanya sibuk memperdebatkan simbol, tetapi juga membangun substansi. Bukan hanya memperdebatkan siapa yang paling Islam, tetapi bertanya : “Siapa yang paling mampu menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupannya?”. 

Bukan hanya memperbanyak kata-kata tentang Tuhan, tetapi juga menghadirkan sifat-sifat mulia dalam hubungan dengan manusia. Bukan hanya rajin beribadah secara ritual, tetapi memastikan bahwa ibadah tersebut melahirkan akhlak yang lebih baik. 

Sebab agama yang hanya berhenti di mulut akan menjadi wacana. Agama yang masuk ke hati akan menjadi keyakinan. Tetapi agama yang benar-benar hidup dalam perilaku akan menjadi peradaban.

Islam sebagai Jalan, Islami sebagai Tujuan Perilaku

Mungkin kita bisa melihatnya dengan sederhana : Islam adalah jalan yang kita pilih. Islami adalah kualitas yang kita bangun sepanjang perjalanan itu.

· Kita tidak dituntut menjadi manusia sempurna.
· Kita hanya dituntut untuk terus belajar menjadi manusia yang lebih baik.
· Hari ini lebih jujur daripada kemarin.
· Hari ini lebih sabar daripada kemarin.
· Hari ini lebih mampu memaafkan daripada kemarin.
· Hari ini lebih mampu menghargai perbedaan daripada kemarin.
· Hari ini lebih bermanfaat bagi orang lain daripada kemarin.


Karena sesungguhnya perjalanan menjadi manusia yang Islami adalah perjalanan seumur hidup.

Pada Akhirnya, Semua Kembali kepada Diri Kita

Islam bukan sekadar nama. Islam bukan sekadar identitas. Islam bukan sekadar simbol. Islam adalah amanah. Dan amanah itu harus diwujudkan dalam kehidupan. Maka mungkin pertanyaan yang paling penting bukan lagi : “Apakah saya sudah Islam?” – Tetapi : “Apakah kehidupan saya sudah mencerminkan nilai-nilai Islam?” 

· Apakah orang lain merasa aman ketika berada di dekat kita?
· Apakah kehadiran kita membawa kedamaian?
· Apakah ucapan kita dapat dipercaya?
· Apakah tangan kita bermanfaat?
·  Apakah hati kita mampu memaafkan?
·  Apakah kita mampu menghargai perbedaan? 


Dan ketika Tuhan memberikan keberhasilan kepada orang lain, mampukah kita ikut bersyukur tanpa merasa iri? – Jika jawabannya belum, tidak perlu berkecil hati. Karena menjadi Islami bukan tentang merasa sudah sempurna. Menjadi Islami adalah keberanian untuk terus memperbaiki diri.

ISLAM ADALAH IDENTITASI - SLAMI ADALAH KUALITAS

Dan mungkin inilah salah satu perjalanan spiritual manusia : Dari sekadar memiliki identitas, menuju memiliki integritas. Dari sekadar mengaku beriman, menuju menghadirkan iman dalam perilaku. Dari sekadar berbicara tentang kebaikan, menuju menjadi bagian dari kebaikan itu sendiri. 

Sebab pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan lebih banyak manusia yang mengaku baik. Dunia membutuhkan lebih banyak manusia yang benar-benar berbuat baik. Dan jika Islam adalah jalan menuju kedamaian dan keselamatan, maka tugas kita bukan hanya mengatakan bahwa kita berada di jalan itu. 

Tugas kita adalah menghadirkan kedamaian dan keselamatan tersebut dalam kehidupan nyata. Mulailah dari diri sendiri. Mulailah dari keluarga. Mulailah dari lingkungan terdekat.

Karena perubahan besar dalam kehidupan sering kali tidak dimulai dari mimbar, panggung, atau kekuasaan. Perubahan besar dimulai ketika seseorang berani bertanya kepada dirinya sendiri : “Sudahkah saya menjadi seorang Muslim yang benar-benar Islami?”

whonesiasikoji
whonesiasikoji
Articles: 78

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *