Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482
Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482


Oleh : Wahono – Aktivis & Sekjend Aliansi Wargo Hutomo
Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, kita sering berbicara tentang pemimpin yang hebat. Namun, pertanyaannya kemudian menjadi sederhana : Pemimpin seperti apa yang sesungguhnya kita butuhkan?
01. Apakah pemimpin yang hanya pintar berbicara?
02. Apakah pemimpin yang memiliki kekuasaan?
03. Ataukah pemimpin yang mampu menjadi teladan, memberi penerangan, menciptakan keadilan, dekat dengan rakyat, sekaligus memiliki wawasan yang luas?
Jauh sebelum konsep-konsep kepemimpinan modern berkembang, masyarakat Jawa telah memiliki sebuah falsafah kepemimpinan yang sangat dalam, yaitu Hasta Brata. Hasta berarti delapan, sedangkan Brata berarti laku, perilaku, atau tindakan.
Dengan demikian, Hasta Brata berarti delapan laku atau delapan karakter yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin.
Dalam tradisi pewayangan, ajaran Hasta Brata dikenal melalui kisah Sri Rama yang memberikan wejangan kepada Wibisana ketika Wibisana akan menjadi raja Alengka setelah berakhirnya perang Rama–Rahwana.
Delapan ajaran tersebut mengambil keteladanan dari sifat-sifat alam : bintang, bulan, matahari, api, tanah, angin, air, dan samudra.
Menariknya, Hasta Brata tidak hanya berbicara tentang bagaimana seseorang menjadi pemimpin bagi orang lain. Lebih dalam dari itu, Hasta Brata mengajarkan bagaimana seseorang menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri terlebih dahulu.
Sebab, bagaimana mungkin seseorang mampu memimpin orang lain jika ia belum mampu memimpin dirinya sendiri?
Kartika berarti bintang.
Bintang berada di langit dan biasanya tampak ketika malam datang. Cahayanya mungkin kecil dan tidak sebesar bulan atau matahari. Namun ketika ribuan bintang muncul bersama-sama, langit malam menjadi indah.
Dari sinilah kita dapat belajar tentang kepercayaan diri.
Tidak semua manusia dilahirkan dengan kelebihan yang sama. Ada yang memiliki kemampuan besar, ada yang memiliki keterbatasan. Namun keterbatasan bukan alasan untuk berhenti memberikan arti.
Justru ketika kita mampu memahami dan mengolah kekurangan yang kita miliki, kekurangan itu dapat berubah menjadi kekuatan.
Bintang juga mengajarkan keteguhan.
Ia tetap berada di tempatnya dan tetap memancarkan cahaya, meskipun malam gelap.
Begitu pula seorang pemimpin. Ia harus memiliki pendirian, prinsip dan keyakinan yang jelas. Bukan pribadi yang mudah berubah hanya karena tekanan, kepentingan atau keadaan.
Ada ungkapan Jawa :
“Sabda pandhita ratu tan kena wola-wali.”
Apa yang telah diucapkan harus dapat dipertanggungjawabkan. Seorang pemimpin harus memiliki integritas antara ucapan, sikap dan perbuatannya. Pemimpin boleh berubah karena menemukan kebenaran baru, tetapi bukan karena kehilangan prinsip.
Candra berarti bulan.
Bulan hadir ketika malam gelap. Ia memberikan cahaya, tetapi tidak membakar.
Inilah salah satu pelajaran kepemimpinan yang sangat penting : Mampu menerangi tanpa menyakiti.
Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki pengetahuan dan kemampuan memberikan solusi. Ia juga harus mampu menghadirkan rasa aman, ketenangan dan keteduhan bagi orang-orang yang dipimpinnya.
Ketika masyarakat menghadapi persoalan, seorang pemimpin seharusnya hadir sebagai penerang, bukan justru menambah kegelapan.Ketika terjadi perbedaan, ia tidak memperbesar konflik. Ketika terjadi persoalan, ia tidak mencari kambing hitam.Ia hadir membawa tuntunan, solusi dan ketenangan.
Dari sinilah kepercayaan publik tumbuh.Sebab masyarakat bukan hanya membutuhkan pemimpin yang mampu menunjukkan jalan, tetapi juga pemimpin yang membuat mereka merasa dilindungi dan diayomi ketika berjalan menuju jalan tersebut.
Baskara berarti matahari.
Matahari adalah sumber energi dan kehidupan. Dari matahari kita belajar bahwa seorang pemimpin bukan hanya harus mampu memberikan penerangan, tetapi juga harus mampu memberikan energi, semangat, motivasi dan harapan.
Pemimpin seharusnya mampu membangkitkan keyakinan bahwa keadaan yang lebih baik selalu mungkin diperjuangkan. Dalam perspektif nilai keagamaan, perjuangan tersebut dapat dimaknai sebagai upaya menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Allah berfirman : “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”(QS. An-Nahl: 125)
Namun Hanyu Lakuning Baskara tidak berhenti pada kemampuan memotivasi. Energi matahari mengajarkan tentang tekad yang membara.
Generasi muda, calon pemimpin bangsa, harus mampu mengubah impian menjadi keberanian untuk bertindak. Sebab perubahan tidak lahir dari sekadar keinginan.
Perubahan lahir ketika impian bertemu dengan tekad dan tindakan.
Dari sinilah semangat : “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.”
menjadi bukan sekadar slogan, tetapi sebuah keberanian untuk terus bergerak menghadapi berbagai rintangan.
Dhahana berarti api.
Api memiliki sifat membakar dan tidak memilih-milih apa yang berada di hadapannya. Dari sifat ini kita belajar tentang ketegasan dan keadilan.
Jika kita berbicara tentang keadilan, maka hukum tidak boleh hanya tajam kepada kelompok tertentu tetapi tumpul kepada kelompok lainnya. Keadilan harus berdiri di atas prinsip, bukan kepentingan.
Begitu pula dalam pemberantasan kejahatan. Jika sebuah persoalan memang harus diselesaikan, maka penyelesaiannya harus dilakukan secara serius dan menyentuh akar masalahnya.
Namun ketegasan tidak berarti kebencian. Ketegasan harus tetap berada dalam koridor hukum, moral dan kemanusiaan.
Pada akhirnya, semangat Hanyu Lakuning Dhahana bermuara pada cita-cita yang terkandung dalam sila kelima Pancasila : “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Kisma berarti tanah.
Tanah diinjak, dibajak, digali dan dipergunakan manusia. Namun tanah tetap memberikan kehidupan. Ia tidak banyak menuntut, tetapi terus memberikan.
Dari tanah kita belajar tentang welas asih, kepedulian dan pengabdian.
Seorang pemimpin harus memiliki empati. Ia harus mampu merasakan kesulitan orang lain, bukan hanya mengetahui kesulitan itu dari laporan di atas meja.
Kepemimpinan bukan sekadar tentang memerintah. Kepemimpinan adalah tentang memberi kehidupan dan manfaat.
Ketika rasa empati tumbuh, lahirlah kepedulian. Dari kepedulian tumbuh welas asih.Dan dari welas asih lahirlah keinginan untuk mengabdi kepada sesama dan menjaga lingkungan.
Dalam perspektif spiritual, nilai tersebut dapat menjadi manifestasi sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim, kasih sayang Allah yang tercermin dalam perilaku manusia.
Samirana berarti angin.
Angin dapat bergerak ke mana saja. Ia melewati ruang-ruang kehidupan tanpa mengenal batas kelas sosial.
Dari sinilah seorang pemimpin belajar untuk turun langsung ke tengah masyarakat. Jangan hanya menerima laporan.Jangan hanya duduk di ruang kerja. Jangan hanya melihat masyarakat melalui angka dan dokumen.
Datanglah. Dengarkan. Rasakan. Lihat sendiri. Dengan berada di tengah masyarakat, seorang pemimpin akan lebih memahami apa yang sebenarnya terjadi.
01. Apa yang menjadi kebutuhan masyarakat?
02. Apa yang menjadi keluhan mereka?
03. Apa yang menjadi harapan mereka?
04. Dan apa yang selama ini mungkin tidak pernah sampai ke meja pengambil keputusan?
Angin mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus mampu bergaul dengan seluruh lapisan masyarakat tanpa pandang bulu. Sebab pemimpin bukan milik kelompok tertentu.Ia hadir untuk seluruh masyarakat.
Tirta berarti air.
Air adalah simbol kehidupan. Air juga memberikan pelajaran tentang prinsip keadilan. Air mengalir menuju tempat yang lebih rendah. Ia tidak bertanya apakah tempat tersebut dihuni orang kaya atau miskin, terdapat emas atau bahkan sesuatu yang kotor. Ia mengalir karena memang demikian hukum alamnya.
Dari sinilah seorang pemimpin belajar tentang keadilan dan pemerataan.
Pembangunan tidak boleh hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu.Tidak boleh hanya menguntungkan kelompok tertentu.
Tidak boleh hanya memperhatikan mereka yang memiliki akses dan kekuasaan.
Pendidikan, kesehatan, agama, seni, budaya, pariwisata, ekonomi, infrastruktur dan berbagai sektor pembangunan harus dapat dirasakan secara layak oleh seluruh masyarakat.
Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukan hanya tentang membangun tempat.Pembangunan adalah membangun kehidupan manusia.
Samudra adalah lautan yang luas.
Ia mampu menampung berbagai aliran air yang datang kepadanya.
Dari samudra kita belajar tentang keluasan wawasan, keluasan pengetahuan dan keluasan hati.
Seorang pemimpin tidak boleh memiliki pikiran yang sempit.Ia harus mau belajar.
01. Mau mendengar.
02. Mau menerima kritik.
03. Mau memahami perbedaan.
04. Dan mampu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang sebelum mengambil keputusan.
Semakin luas pengetahuan dan pengalaman seseorang, semestinya semakin bijaksana pula ia dalam mengambil keputusan.
Pemimpin tidak boleh hanya berpikir tentang kepentingan dirinya.
Tidak hanya kepentingan keluarga.
Tidak hanya kepentingan kelompok.
Tidak hanya kepentingan organisasi.
Apalagi hanya kepentingan politik sesaat.
Kepemimpinan pada akhirnya harus dikembalikan kepada kepentingan masyarakat dan masa depan bersama.
Samudra juga mengajarkan pentingnya menghargai sejarah, budaya dan akar kehidupan kita.
Sebab manusia yang memiliki wawasan global tidak harus kehilangan identitas lokalnya.
Justru semakin luas cakrawala seseorang, semakin penting baginya untuk mengetahui dari mana ia berasal dan untuk apa ia berjalan.
Jika kita renungkan lebih dalam, delapan ajaran Hasta Brata tersebut sesungguhnya bukanlah delapan karakter yang berdiri sendiri.
Kedelapannya merupakan satu kesatuan.
01. Kartika mengajarkan keteguhan.
02. Candra mengajarkan keteduhan.
03. Baskara mengajarkan energi dan semangat.
04. Dhahana mengajarkan ketegasan.
05. Kisma mengajarkan welas asih.
06 Samirana mengajarkan kedekatan dengan masyarakat.
07. Tirta mengajarkan keadilan dan pemerataan.
08. Samudra mengajarkan keluasan wawasan dan kebijaksanaan.
Jika kedelapan sifat tersebut menyatu dalam diri seseorang, maka lahirlah sebuah karakter kepemimpinan yang tidak hanya kuat, tetapi juga bijaksana.
Tidak hanya tegas, tetapi juga adil.
Tidak hanya cerdas, tetapi juga berwelas asih.
Tidak hanya berani, tetapi juga mampu mengendalikan diri.
Dan yang paling penting :
Tidak hanya ingin menjadi pemimpin, tetapi bersedia menjadi pelayan bagi kehidupan.
Pada akhirnya, Hasta Brata bukan hanya pelajaran untuk mereka yang duduk di kursi kekuasaan.
Hasta Brata adalah pelajaran bagi setiap manusia.
Karena setiap orang sesungguhnya adalah pemimpin.
Kita memimpin diri sendiri.
Orang tua memimpin keluarga.
Guru memimpin murid.
Tokoh masyarakat memimpin lingkungannya.
Pemimpin organisasi memimpin anggotanya.
Dan pemimpin negara memimpin rakyatnya.
Maka sebelum kita bertanya :
“Siapa pemimpin yang kita butuhkan?”
mungkin pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
“Sudahkah sifat-sifat seorang pemimpin itu tumbuh di dalam diri kita sendiri?”
Sebab perubahan besar tidak selalu dimulai dari istana, kantor pemerintahan atau ruang kekuasaan.Perubahan besar dapat dimulai dari kesadaran satu manusia.
Dari satu manusia menjadi keluarga.
Dari keluarga menjadi masyarakat.
Dari masyarakat menjadi bangsa.
Dan dari bangsa lahirlah sebuah peradaban.
Inilah mungkin pesan terdalam Hasta Brata :
Jangan terburu-buru ingin memimpin orang lain.
Belajarlah terlebih dahulu memimpin dirimu sendiri.
Karena sesungguhnya, kepemimpinan bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri di atas orang lain, tetapi seberapa besar manfaat yang mampu ia berikan kepada kehidupan.
Dan mungkin, di situlah kita menemukan kembali makna sejati dari Wahyu Hasta Brata.
Delapan laku.
Delapan karakter.
Satu jiwa kepemimpinan.
Untuk manusia yang mampu menerangi, menghidupi, melindungi, mengayomi dan membawa kehidupan menuju kebaikan.