Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482
Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482


Oleh : Wahono – Aktivis & Sekjend Aliansi Wargo Hutomo
Indonesia tidak pernah kekurangan orang pintar.
Kita memiliki banyak orang berpendidikan tinggi.
Banyak orang memiliki gelar.
Banyak orang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, politik dan berbagai bidang kehidupan.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah :
Apakah kepandaian selalu melahirkan kebijaksanaan?
Belum tentu.
Karena kepemimpinan tidak hanya membutuhkan kecerdasan.
Kepemimpinan membutuhkan karakter.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, ketika teknologi berkembang, informasi bergerak tanpa batas dan masyarakat semakin kritis, Indonesia membutuhkan manusia yang bukan hanya cerdas berpikir, tetapi juga matang dalam bersikap dan kuat dalam memegang nilai.
Di sinilah kita perlu kembali melihat kekayaan pemikiran Nusantara.
Salah satunya adalah Hasta Brata.
Sebuah falsafah kepemimpinan Jawa yang mengajarkan delapan karakter melalui simbol-simbol alam :
Bintang, Bulan, Matahari, Api, Tanah, Angin, Air dan Samudra.
Delapan unsur alam tersebut sesungguhnya menyimpan sebuah pesan besar :
Pemimpin yang baik harus mampu belajar dari kehidupan, bukan hanya belajar dari buku.
Hasta berarti delapan, sedangkan Brata berarti laku, perilaku atau tindakan.
Artinya, Hasta Brata bukan sekadar delapan teori tentang kepemimpinan.
Ia adalah delapan laku yang harus diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Dalam tradisi pewayangan, ajaran Hasta Brata dikaitkan dengan wejangan Sri Rama kepada Wibisana menjelang Wibisana menjadi raja Alengka setelah perang Rama–Rahwana.
Namun jika kita melepaskan Hasta Brata dari sekadar konteks cerita pewayangan, kita akan menemukan sesuatu yang jauh lebih universal.
Hasta Brata sebenarnya berbicara tentang : Bagaimana manusia membangun dirinya, Bagaimana manusia memperlakukan sesamanya,dan akhirnya, Bagaimana manusia menggunakan kekuasaan dan tanggung jawabnya.
Dengan demikian, Hasta Brata tidak hanya relevan bagi raja.
Ia relevan bagi orang tua, guru, tokoh masyarakat, pemimpin organisasi, pemimpin daerah, pemimpin negara, bahkan setiap individu.
Karena sebelum seseorang menjadi pemimpin bagi orang lain, ia harus mampu menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.
Bintang mungkin kecil. Cahayanya tidak sebesar matahari. Namun dalam kegelapan, sekecil apa pun cahaya tetap memiliki arti. Inilah pelajaran pertama : Jangan pernah meremehkan kekuatan diri sendiri hanya karena kita memiliki keterbatasan.
Manusia tidak harus menjadi yang paling besar untuk memberikan manfaat. Yang diperlukan adalah keberanian untuk tetap bercahaya. Kartika mengajarkan percaya diri, keteguhan dan konsistensi.
Pemimpin harus mempunyai prinsip. Tidak mudah berubah hanya karena tekanan. Tidak mudah tergoda oleh kepentingan. Dan tidak mudah kehilangan arah ketika menghadapi kesulitan.
Karena masyarakat membutuhkan pemimpin yang bisa dipercaya. Apa yang dikatakan harus memiliki hubungan dengan apa yang dilakukan.Ucapan, sikap dan perbuatan harus berada dalam satu garis.
Bulan muncul ketika malam datang. Ia memberikan cahaya, tetapi tidak membakar.
Inilah karakter kepemimpinan yang sering terlupakan : mampu menerangi tanpa menyakiti.
Seorang pemimpin seharusnya mampu memberikan solusi tanpa merendahkan.
Memberikan kritik tanpa menghina.
Memberikan arahan tanpa menciptakan ketakutan.
Dan memberikan ketegasan tanpa kehilangan kemanusiaan.
Pemimpin harus mampu menjadi sumber keteduhan ketika masyarakat sedang menghadapi kegelapan.
Karena masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang tahu jalan.
Mereka membutuhkan seseorang yang mampu menuntun mereka melewati jalan tersebut dengan rasa aman.
Matahari memberikan kehidupan. Ia memberikan energi. Ia memberikan cahaya.
Dari Baskara kita belajar bahwa pemimpin harus mampu menjadi sumber energi positif bagi lingkungan.
Pemimpin tidak boleh menjadi sumber keputusasaan.
Ia harus mampu membangkitkan optimisme.
Menyalakan semangat.
Membangun harapan.
Dan mengubah harapan menjadi tekad untuk bertindak.
Di sinilah semangat perjuangan menjadi penting.
Impian harus diterjemahkan menjadi tindakan.
Sebab bangsa tidak akan berubah hanya karena banyak orang memiliki mimpi.
Bangsa berubah ketika ada manusia yang berani mengatakan:“Saya akan mulai.”
Api tidak mengenal kompromi terhadap apa yang dibakarnya.
Dari sini kita belajar tentang ketegasan.
Pemimpin harus berani mengambil keputusan ketika keputusan memang diperlukan.
Keadilan tidak boleh bergantung pada siapa yang sedang berhadapan dengan kita.
Tidak boleh karena hubungan keluarga.
Tidak boleh karena kedekatan.
Tidak boleh karena jabatan.
Tidak boleh karena kekuasaan.
Keadilan harus berdiri di atas prinsip.
Namun api juga mengingatkan kita bahwa kekuatan harus dikendalikan.
Ketegasan tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi kesewenang-wenangan.
Karena itu, karakter api harus berjalan bersama karakter lainnya.Tegas, tetapi tetap manusiawi.
Tanah diinjak manusia. Dibajak. Digali. Namun tanah tetap memberikan kehidupan.
Dari tanah kita belajar tentang ketulusan memberi. Inilah karakter welas asih.
Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan merasakan penderitaan orang lain.
Tidak cukup hanya mengetahui angka kemiskinan.
Ia harus memahami manusia di balik angka tersebut.
Tidak cukup hanya mengetahui pengangguran.
Ia harus memahami keluarga yang kehilangan harapan karena tidak memiliki pekerjaan.
Tidak cukup hanya membaca laporan pembangunan.
Ia harus melihat bagaimana pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat.
Kepemimpinan yang kehilangan empati akan kehilangan ruhnya.
Angin bergerak ke mana-mana. Ia tidak mengenal batas. Ia dapat hadir di ruang elite maupun ruang rakyat biasa.
Dari Samirana kita belajar : pemimpin tidak boleh hanya mengenal rakyat melalui laporan. Turun ke lapangan.Bertemu masyarakat. Mendengarkan keluhan. Melihat kondisi nyata. Merasakan denyut kehidupan.
Karena sering kali persoalan yang paling penting justru tidak pernah masuk ke dalam laporan resmi.
Pemimpin yang berada terlalu jauh dari masyarakat berisiko membuat keputusan berdasarkan apa yang dikatakan orang lain, bukan berdasarkan apa yang benar-benar terjadi.
Maka : datanglah kepada rakyat sebelum membuat keputusan tentang rakyat.
Air mengalir menuju tempat yang lebih rendah. Ia tidak bertanya siapa pemilik tanah tersebut. Ia tidak memilih berdasarkan status sosial. Ia hanya mengikuti hukum alamnya.
Dari Tirta kita belajar tentang keadilan dan pemerataan.
Pembangunan harus dirasakan seluruh wilayah.
Pendidikan.
Kesehatan.
Ekonomi.
Infrastruktur.
Agama.
Seni.
Budaya.
Pariwisata.
Teknologi.
Kesempatan kerja.
Semuanya harus menjadi bagian dari pembangunan manusia.
Sebab pembangunan bukan sekadar membangun gedung.
Pembangunan adalah memastikan manusia memiliki kesempatan untuk tumbuh.
Samudra adalah ruang yang luas. Ia menerima berbagai aliran sungai.
Dari Samudra kita belajar tentang keluasan hati, keluasan pengetahuan dan keluasan cara berpikir.
Pemimpin tidak boleh berpikir sempit.
Tidak boleh hanya mendengar orang yang selalu setuju.
Tidak boleh takut terhadap kritik.
Tidak boleh menutup diri dari perubahan.
Ia harus mampu menerima berbagai pandangan, mengolah informasi, mempertimbangkan berbagai kepentingan, lalu mengambil keputusan dengan bijaksana.
Inilah yang disebut kedewasaan kepemimpinan.
Semakin tinggi seseorang berada dalam struktur kekuasaan, seharusnya semakin luas pula cara pandangnya.
Di sinilah Hasta Brata menjadi menarik jika kita tarik ke dalam konteks Indonesia.
Indonesia bukan hanya sebuah negara.
Indonesia adalah ruang pertemuan berbagai budaya, bahasa, tradisi, agama, etnis dan kearifan lokal.Kita memiliki kekayaan pemikiran dari berbagai penjuru Nusantara.
Karena itu, membangun manusia Indonesia tidak harus selalu dimulai dengan mencari teori baru dari luar.
Kita juga perlu menggali kembali kekayaan pengetahuan yang telah tumbuh di tanah sendiri.
Hasta Brata adalah salah satunya.
Bukan untuk mempertentangkan budaya Jawa dengan budaya lainnya.Justru sebaliknya.
Nilai lokal dapat menjadi bagian dari kekayaan nasional ketika nilai tersebut memiliki pesan universal.
Keteguhan. Keteduhan. Energi. Ketegasan. Welas asih. Kedekatan dengan masyarakat. Keadilan. Kebijaksanaan.
Bukankah semua itu merupakan karakter yang dibutuhkan oleh manusia Indonesia?
Di sinilah kita dapat menarik sebuah garis besar : Local Wisdom → National Character → Global Mindset
Kita tidak harus meninggalkan akar budaya untuk menjadi manusia global.
Justru manusia yang memiliki akar kuat akan lebih siap berdiri di tengah dunia yang semakin terbuka.
Berpikir global, tetapi tetap membumi.Berwawasan dunia, tetapi tidak kehilangan jati diri.Menguasai teknologi, tetapi tetap memiliki etika.Mengejar kemajuan, tetapi tidak kehilangan kemanusiaan.
Inilah yang seharusnya menjadi salah satu fondasi pembangunan manusia Indonesia.
Jika Hasta Brata diterjemahkan ke dalam bahasa pembangunan manusia modern, kita dapat membacanya sebagai :
Hasta Brata Simbol Karakter
01. Kartika = Bintang = Teguh & percaya diri
02. Candra = Bulan = Teduh & mampu menerangi
03. Baskara = Matahari = Energik & membangkitkan harapan
04. Dhahana = Api = Tegas & berani
05. Kisma= Tanah = Welas asih & mengabdi
06. Samirana = Angin = Dekat & peka terhadap masyarakat
07. Tirta = Air = Adil & merata
08. Samudra = Lautan = Luas wawasan & bijaksana
Delapan karakter tersebut kemudian dapat menjadi sebuah arsitektur karakter kepemimpinan.
Bukan untuk mencetak manusia yang sempurna.
Tetapi untuk membentuk manusia yang sadar terhadap tanggung jawabnya.
Kita sering bertanya : “Pemimpin seperti apa yang dibutuhkan Indonesia?”
Tetapi mungkin pertanyaan itu perlu dibalik :
“Manusia seperti apa yang harus kita lahirkan agar Indonesia memiliki pemimpin seperti yang kita harapkan?”
Karena pemimpin tidak muncul dari ruang kosong.
Pemimpin lahir dari karakter manusia yang dibentuk oleh keluarga, pendidikan, lingkungan, budaya dan pengalaman hidup.
Maka kalau kita ingin mengubah kepemimpinan Indonesia, kita tidak cukup hanya mengganti orang di kursi kepemimpinan.
Kita harus membangun manusianya. Dari sanalah perubahan dimulai. Membangun manusia.Kemudian membangun masyarakat.Kemudian membangun bangsa. Dan akhirnya membangun peradaban.
Hasta Brata mungkin lahir dari tradisi lama.
Tetapi nilai yang dikandungnya tidak harus menjadi masa lalu.
Ia dapat menjadi bahan refleksi untuk masa depan.
Karena zaman boleh berubah.
Teknologi boleh berubah.
Sistem ekonomi boleh berubah.
Sistem politik boleh berubah.
Tetapi manusia tetap membutuhkan :
keteguhan, keteduhan, semangat, ketegasan, welas asih, kedekatan dengan sesama, keadilan, dan kebijaksanaan.
Delapan nilai itulah yang membuat Hasta Brata tetap menarik untuk dibicarakan.
Bukan karena kita harus kembali ke masa lalu.
Tetapi karena mungkin kita perlu membawa nilai-nilai terbaik masa lalu untuk menjawab tantangan masa depan.
Dan mungkin inilah makna paling sederhana dari sebuah gagasan besar :
“Berakar pada kearifan lokal, berkarakter sebagai manusia Indonesia, dan berpikir untuk dunia.”
Dari Local Wisdom menuju National Character.
Dari National Character menuju Global Mindset.
Dan dari manusia yang berkarakter itulah,Indonesia masa depan dapat dibangun.