PERGESERAN DARI BUDAYA MEMBACA MENUJU BUDAYA SCROLLING

Ketika Manusia Tidak Lagi Kehabisan Informasi, Tetapi Kehabisan Perhatian

Oleh : Wahono – Aktivis & Sekjend Aliansi Wargo Hutomo

Pernahkah kita memperhatikan kebiasaan kita sendiri?
Dulu, ketika memegang sebuah buku, kita bisa duduk berlama-lama untuk menyelesaikan beberapa halaman.

Sekarang, ketika memegang telepon genggam, belum tentu kita sanggup bertahan membaca satu halaman penuh.
Kita membuka satu konten. 
Scroll. Muncul konten berikutnya. 
Scroll lagi. Video berikutnya. 
Scroll lagi. Berita berikutnya. 
Scroll lagi. 

Tanpa terasa, puluhan menit bahkan berjam-jam telah berlalu.Kita bukan lagi sekadar membaca.
Kita sedang scrolling . 

Dan mungkin, inilah salah satu perubahan kebiasaan manusia yang paling besar di era digital : 
Dari budaya membaca menuju budaya scrolling.

BUKAN BERARTI KITA BERHENTI MEMBACA

Pertama-tama, kita harus berhati-hati.Jangan buru-buru mengatakan bahwa masyarakat Indonesia sudah tidak suka membaca.
Data justru menunjukkan bahwa aktivitas membaca masih dilakukan secara luas.

Dalam data 2025, 89,75% penduduk Indonesia tercatat pernah membaca dalam seminggu terakhir.

Persoalannya kemudian menjadi jauh lebih menarik : 
Kalau masyarakat masih membaca, lalu apa yang sebenarnya berubah?

Yang berubah mungkin bukan sekadar apakah manusia membaca atau tidak.
Tetapi : apa yang dibaca, bagaimana cara membacanya, berapa lama perhatian dipertahankan, dan untuk apa informasi itu digunakan. Di sinilah fenomena scrolling menjadi penting untuk dibicarakan. 

DUNIA YANG SEMAKIN TERHUBUNG

Indonesia telah memasuki kehidupan digital dalam skala yang sangat besar.
Pada awal 2025, terdapat sekitar 212 juta pengguna internet di Indonesia, atau sekitar 74,6% dari populasi.

Pada periode yang sama, terdapat sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial, setara sekitar 50,2% populasi.
Angka tersebut menunjukkan satu perubahan mendasar : sumber informasi masyarakat semakin berpindah ke ruang digital.

Hari ini kita tidak perlu pergi ke perpustakaan untuk mendapatkan informasi.
Tidak perlu menunggu koran pagi.
Tidak perlu membeli ensiklopedia.
Bahkan tidak selalu perlu membuka buku.

Cukup membuka layar.
Dunia informasi datang sendiri kepada kita.Dan masalahnya justru dimulai dari sini.

KITA TIDAK LAGI MENCARI INFORMASI.
INFORMASI YANG MENCARI KITA.

Inilah perbedaan besar antara era buku dan era algoritma.Ketika membaca buku, kita biasanya mempunyai tujuan.
Kita mengambil buku.
Membuka halaman.
Membaca.
Mengikuti alur.
Berpikir.
Kemudian melanjutkan halaman berikutnya.

Dalam ekosistem digital, pengalaman itu berubah.
Kita membuka aplikasi.
Kemudian algoritma memilihkan apa yang muncul di layar.
Satu konten disusul konten lain.
Video pendek digantikan video pendek berikutnya.
Judul berita digantikan judul berita berikutnya.
Komentar digantikan komentar berikutnya.
Tidak ada halaman terakhir.

Selalu ada sesuatu yang baru.
Itulah kekuatan sekaligus tantangannya.
Karena dalam budaya scrolling, pertanyaan yang muncul bukan lagi : “Apa yang ingin saya baca?”
Tetapi sering kali berubah menjadi : “Apa yang muncul berikutnya?”

DARI MEMBACA MENDALAM KE MENCARI YANG MENARIK

Membaca buku membutuhkan kesabaran.
Kita harus mengikuti argumentasi penulis.
Menunggu penjelasan.
Memahami konteks.
Menghubungkan satu gagasan dengan gagasan lainnya.

Sementara scrolling bekerja dengan prinsip yang berbeda.
Cepat. Pendek. Visual. Bergerak. Berulang.

Satu konten harus segera menarik perhatian agar kita tidak berpindah ke konten berikutnya.
Akibatnya, perhatian manusia menjadi semakin bernilai.

Dalam dunia digital, perhatian adalah mata uang.
Siapa yang mampu merebut perhatian kita, dialah yang mendapatkan waktu kita.
Dan waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dikembalikan.

MASALAH TERBESARNYA BUKAN INFORMASI

Menariknya, kita hidup pada zaman ketika informasi sangat mudah diperoleh.
Tetapi kemudahan memperoleh informasi tidak otomatis membuat manusia semakin berpengetahuan.

Karena : informasi bukan pengetahuan.
Informasi adalah bahan mentah.

Ia baru menjadi pengetahuan ketika dipahami.
Dan pengetahuan baru menjadi kebijaksanaan ketika mampu digunakan secara tepat.

Di sinilah budaya membaca mendalam mempunyai peran.
Seseorang yang hanya berpindah dari satu konten ke konten lain mungkin mendapatkan ribuan informasi.
Tetapi belum tentu mendapatkan satu pemahaman yang utuh.

KETIKA JEMPOL LEBIH CEPAT DARI PADA PIKIRAN

Ada fenomena lain yang tidak kalah menarik.
Dalam budaya scrolling, jempol kita bisa bergerak lebih cepat daripada pikiran kita.

Belum selesai membaca sebuah informasi, kita sudah berpindah.
Belum memahami sebuah berita, kita sudah melihat berita berikutnya.

Belum memeriksa kebenaran sebuah pernyataan, kita sudah membagikannya.
Belum memahami konteks sebuah persoalan, kita sudah memberikan komentar.

Akibatnya, masyarakat dapat mengalami paradoks :
Semakin banyak informasi yang dikonsumsi, tetapi belum tentu semakin dalam pemahamannya.

Inilah tantangan literasi digital.
Bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi.
Tetapi kemampuan untuk berhenti sejenak.
Membaca.
Memahami.
Memeriksa.
Membandingkan.
Kemudian mengambil kesimpulan.

PERPUSNAS MEMBERIKAN SINYAL PENTING

Perpustakaan Nasional mencatat Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) nasional 2025 berada di angka 54,8.

Perpusnas juga menjelaskan bahwa pengukuran 2025 menggunakan pendekatan baru yang melihat tiga tahap: pra-membaca, saat membaca, dan pasca-membaca.

Karena instrumen tersebut berbeda dari model sebelumnya, skor 2025 tidak tepat diperlakukan sebagai perbandingan langsung dengan skor 2024. Justru di sinilah kita memperoleh pelajaran penting.

Literasi bukan hanya persoalan : berapa banyak yang kita baca.
Tetapi juga : bagaimana kita membaca. Apa yang kita baca. Mengapa kita membacanya. Apakah kita memahaminya. Dan apa yang kita lakukan setelah membaca.

JANGAN PERANGI SCROLLING. NAIKKAN KUALITASNYA.

Kita tidak mungkin mengembalikan masyarakat Indonesia ke zaman sebelum internet.
Dan kita juga tidak perlu memusuhi teknologi.

Scrolling sudah menjadi bagian dari kehidupan digital.
Yang perlu kita lakukan adalah mengubah cara kita menggunakannya.

Mengapa scrolling harus selalu berarti hiburan?
Mengapa scrolling tidak bisa menjadi pintu menuju pengetahuan?
Mengapa video pendek tidak bisa menjadi pintu masuk menuju buku?
Mengapa sebuah konten digital tidak bisa membuat seseorang penasaran untuk membaca lebih dalam?

Mungkin persoalannya bukan : membaca atau scrolling.
Tetapi : bagaimana scrolling dapat menjadi pintu masuk menuju membaca.

Satu video pendek dapat menjadi pemantik.
Satu infografis dapat menjadi pengantar.
Satu kutipan dapat menjadi pertanyaan.
Satu konten dapat membuat seseorang mencari sumber aslinya.
Dan dari situlah budaya membaca bisa tumbuh kembali dalam bentuk yang baru.

PERPUSTAKAAN JUGA HARUS MASUK KE DUNIA SCROLLING

Kalau masyarakat berpindah ke ruang digital, maka gerakan literasi juga harus hadir di sana.
Perpustakaan tidak cukup hanya menunggu masyarakat datang.

Buku tidak cukup hanya menunggu dibaca.
Para pegiat literasi harus mampu membawa pengetahuan ke tempat masyarakat menghabiskan waktunya.
Masuk ke media sosial.
Masuk ke YouTube.
Masuk ke TikTok.
Masuk ke Instagram.
Masuk ke podcast.
Masuk ke berbagai ruang digital yang digunakan masyarakat sehari-hari.

Tetapi dengan satu tujuan : 
Membawa masyarakat dari konten pendek menuju pemahaman yang lebih panjang.

Dari video menuju buku.
Dari kutipan menuju gagasan.
Dari informasi menuju pengetahuan.
Dari pengetahuan menuju kesadaran.

MASA DEPAN LITERASI BUKAN MEMILIH BUKU ATAU GAWAI

Kita mungkin tidak sedang menyaksikan matinya budaya membaca.
Kita sedang menyaksikan evolusi cara manusia membaca.

Dulu kita membaca halaman.
Sekarang kita membaca layar.

Dulu kita mencari buku.
Sekarang algoritma menyodorkan konten.

Dulu kita menyelesaikan satu tulisan sebelum berpindah.
Sekarang kita berpindah bahkan sebelum sebuah tulisan selesai.

Perubahan ini tidak otomatis baik atau buruk.
Tetapi perubahan ini nyata dan perlu dipahami.

Karena tantangan literasi masa depan bukan hanya membuat masyarakat gemar membaca.
Tantangannya adalah membuat manusia tetap mampu berpikir mendalam di tengah dunia yang bergerak semakin cepat.

DARI SCROLLING MENUJU THINKING

Mungkin inilah arah baru gerakan literasi Indonesia.Bukan memusuhi scrolling.
Tetapi menjadikan scrolling sebagai pintu masuk menuju thinking.

Dari : SCROLLING → READING → UNDERSTANDING → THINKING → CREATING

Dari melihat menjadi membaca.
Dari membaca menjadi memahami.
Dari memahami menjadi berpikir.
Dari berpikir menjadi menciptakan gagasan.
Dan dari gagasan menjadi tindakan.

Sebab bangsa ini tidak kekurangan informasi.
Yang kita perlukan adalah manusia yang mampu mengolah informasi menjadi pengetahuan dan pengetahuan menjadi kebijaksanaan.

Pada akhirnya, persoalan terbesar bukanlah apakah masyarakat Indonesia masih membaca atau tidak.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah : 
Di tengah jutaan konten yang setiap hari kita scroll, apakah kita masih menyediakan waktu untuk berhenti, membaca, berpikir, dan memahami?

Sebab mungkin...
Yang sedang terancam bukan budaya membaca kita.
Yang sedang terancam adalah kemampuan kita untuk bertahan cukup lama pada satu gagasan.

Dan ketika kemampuan itu hilang, manusia mungkin akan mengetahui banyak hal...tetapi memahami sangat sedikit.

whonesiasikoji
whonesiasikoji
Articles: 78

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *