Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482
Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482


Oleh : Wahono – Aktifis Banjarnegara
Ada satu kata yang kelihatannya sederhana, tetapi ternyata sangat sulit untuk kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Kata itu adalah : TENANG.
Coba kita pikirkan. Bagaimana mungkin seorang rakyat kecil di pedesaan bisa benar-benar tenang ketika besok harus membayar kebutuhan sekolah anak, membayar iuran, biaya kuliah, kos, kebutuhan rumah tangga, sementara penghasilan belum tentu cukup?
Belum lagi ketika kita membuka media sosial.Hampir setiap hari kita disuguhi kegaduhan. Semua orang seolah menjadi ahli. Semua merasa paling tahu tentang negara, ekonomi, politik, hukum, bahkan berbagai persoalan yang sesungguhnya belum tentu mereka pahami secara utuh.
Sesuatu yang belum tentu benar bisa dengan cepat berubah menjadi tuduhan.Perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan. Dan kesalahan seseorang dengan mudah digeneralisasi menjadi kesalahan seluruh pemerintah.
Bahkan ketika terjadi persoalan atau bencana, tidak jarang yang pertama kali dicari adalah siapa yang harus disalahkan. Seolah-olah manusia tidak pernah salah.
Apakah kita benar-benar manusia yang sempurna?
Bukankah kita semua memiliki keterbatasan?
Bukankah kita semua bisa keliru dalam berpikir, berbicara maupun mengambil keputusan?
Coba kita ingat kembali ketika masih sekolah.
Saat ujian kenaikan kelas, ujian sekolah, bahkan ujian kuliah, biasanya ada tulisan yang ditempel di depan ruang ujian : “HARAP TENANG — ADA UJIAN.” - Mengapa?
Karena dalam suasana gaduh, seseorang akan sulit berpikir dengan jernih.
Soal yang sebenarnya bisa dijawab menjadi terasa sulit ketika pikiran panik.
Jawaban yang sebenarnya sudah kita ketahui bisa terlupakan ketika hati dipenuhi kecemasan.
Sebaliknya, ketika kita tenang, pikiran memiliki ruang untuk berpikir.
Hati memiliki ruang untuk merasakan.
Dan kita memiliki kesempatan untuk melihat persoalan dengan lebih jernih. Begitu pula dengan kehidupan.
Mungkin saja persoalan hidup tidak langsung hilang hanya karena kita tenang.
Tetapi ketenangan dapat mengubah cara kita menghadapi persoalan.
Dalam ketenangan, kita tidak mudah mengambil keputusan karena emosi.
Tidak mudah percaya pada informasi yang belum tentu benar.
Tidak mudah menghakimi orang lain.
Dan tidak mudah ikut terbawa arus kegaduhan.
Bagi orang yang beriman, ketenangan juga menjadi ruang untuk mendekat kepada Tuhan.
Ketika pikiran tidak lagi dipenuhi kebisingan,
hati menjadi lebih terbuka untuk menerima kedamaian dan petunjuk-Nya.
Bukan berarti setelah tenang semua masalah otomatis selesai.
Tetapi dari ketenangan, mungkin kita menemukan jalan untuk menyelesaikannya.
Pertanyaan yang lebih besar justru ada di sini.
Jika kehidupan berbangsa adalah sebuah perjalanan dan berbagai persoalan yang kita hadapi merupakan bagian dari ujian,
bagaimana kita bisa melewatinya jika masyarakatnya terus-menerus berada dalam kegaduhan?
Kita boleh kritis.
Kita boleh berbeda pendapat.
Kita boleh menyampaikan kritik kepada pemerintah maupun siapa pun yang memiliki tanggung jawab publik.
Tetapi kritik tidak harus lahir dari kebencian.Perbedaan tidak harus berakhir dengan permusuhan.
Dan kebebasan berbicara tidak berarti kita bebas menyebarkan sesuatu yang belum kita pastikan kebenarannya.
Tenang bukan berarti diam.
Tenang bukan berarti pasrah.
Tenang bukan berarti tidak peduli.
Tenang berarti memberikan kesempatan kepada akal untuk bekerja dan hati untuk tetap jernih sebelum kita bertindak. Mungkin bangsa ini memang sedang menghadapi banyak persoalan.Tetapi barangkali ada satu persoalan lain yang sering tidak kita sadari :
Kita Terlalu Gaduh Untuk Bisa Melihat Persoalan Dengan Jernih.
Maka sebelum kita sibuk mencari siapa yang salah, mungkin sesekali kita perlu berhenti sejenak.
Tarik napas. Tenangkan pikiran. Buka hati. Lalu tanyakan kepada diri sendiri :
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”
“Apa yang bisa saya lakukan?”
Dan yang paling penting :
“Apakah sikap saya ikut menyelesaikan masalah, atau justru menambah kegaduhan?”
Sebab pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang bagaimana kita menghadapi ujian.
Tetapi juga tentang bagaimana kita bersikap ketika sedang diuji.
Dan mungkin, tulisan sederhana di depan ruang ujian itu masih sangat relevan untuk bangsa kita hari ini : HARAP TENANG — ADA UJIAN.