BANJARNEGARA MENJADI KOTA PARIWISATA

Sebuah Positioning Daerah
Menuju Banjarnegara yang Maju dan Sejahtera

Oleh: Wahono – Aktivis & Sekjend Aliansi Wargo Hutomo

BANJARNEGARA PERLU MENENTUKAN ARAH

Kabupaten Banjarnegara kini telah memasuki usia 455 tahun. Sebuah usia yang tidak pendek. Empat abad lebih perjalanan sejarah tentu telah memberikan banyak pengalaman, perubahan dan pembelajaran bagi masyarakat Banjarnegara. Namun, di balik perjalanan sejarah yang panjang tersebut, ada satu pertanyaan penting yang layak kita renungkan bersama : 
Ke mana sesungguhnya arah pembangunan Banjarnegara ke depan?

Pertanyaan ini bukan dimaksudkan untuk menyalahkan siapa pun. Justru sebaliknya. Pertanyaan ini perlu kita ajukan agar kita semua berani berpikir lebih jauh mengenai identitas dan positioning Banjarnegara di tengah persaingan antardaerah yang semakin ketat.

Hari ini hampir setiap kabupaten dan kota di Indonesia sedang berlomba menggali potensi unggulannya masing-masing. Potensi tersebut kemudian dikembangkan menjadi brand image daerah, dengan harapan mampu menjadi kekuatan ekonomi baru yang pada akhirnya bermuara pada satu tujuan : kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat. 

Karena itu, menurut saya, Banjarnegara juga perlu berani menentukan : Banjarnegara ingin dikenal sebagai apa?

JANGAN HANYA MEMILIKI POTENSI,
TETAPI MILIKILAH POSITIONING

Berdasarkan pengamatan dan analisis saya, dari 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah, belum terlihat adanya sebuah kabupaten yang secara tegas dan berani mengambil positioning untuk mendeklarasikan dirinya sebagai “Kota Pariwisata”.

Di sinilah saya melihat sebuah peluang. Mengapa Banjarnegara tidak mengambil ruang tersebut?
Sebab Banjarnegara sesungguhnya memiliki modal yang cukup kuat untuk membangun positioning sebagai daerah pariwisata.

Bahkan, jika sejumlah prasyaratnya kita susun secara sederhana, sebagian besar sebenarnya sudah tersedia. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengonsolidasikan, mengembangkan dan menghubungkan seluruh potensi tersebut menjadi sebuah kekuatan bersama.

BANJARNEGARA SUDAH MEMILIKI MAGNET BESAR

Untuk menjadi daerah dengan positioning pariwisata yang kuat, tentu diperlukan destinasi yang mempunyai daya ungkit dari berbagai tingkatan.Dan Banjarnegara mempunyai modal tersebut.

1. DIENG : MAGNET BERDAYA UNGKIT INTERNASIONAL

Salah satu prasyarat penting adalah adanya minimal satu destinasi pariwisata yang memiliki daya ungkit internasional. Banjarnegara memiliki Dieng. Dieng bukan hanya memiliki keindahan alam pegunungan. Dieng juga memiliki kekayaan sejarah, budaya, tradisi, lanskap dan berbagai daya tarik lainnya yang luar biasa.Dengan kekuatan tersebut, Dieng sangat layak diposisikan sebagai salah satu magnet utama pariwisata Banjarnegara.

Persoalannya bukan lagi apakah Banjarnegara memiliki destinasi unggulan. Kita sudah memiliki. Persoalannya adalah : Seberapa serius kita menjadikan destinasi tersebut sebagai lokomotif pariwisata daerah?

2. RAFTING : MAGNET BERDAYA UNGKIT NASIONAL

Banjarnegara juga memiliki wisata rafting atau arung jeram yang selama ini dikenal memiliki daya tarik kuat dan disebut sebagai salah satu yang terbaik di tingkat nasional. Ini merupakan modal yang sangat penting. Namun, jika kita ingin membangun sebuah ekosistem pariwisata yang kuat, tentu kita tidak boleh berhenti pada satu destinasi.

Kita membutuhkan setidaknya satu lagi destinasi yang mempunyai daya ungkit nasional. Dengan demikian, Banjarnegara mempunyai lebih dari satu pintu masuk bagi wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia.

3. TAMAN SERULINGMAS : MAGNET REGIONAL

Pada level regional, Banjarnegara memiliki Taman Serulingmas, yang selama ini menjadi salah satu destinasi wisata yang mempunyai daya tarik regional. Tetapi kita masih membutuhkan setidaknya dua destinasi regional lainnya.

Artinya, kita tidak harus selalu berpikir membangun destinasi dari nol.Kita bisa melakukan:identifikasi → pengembangan → peningkatan kualitas → branding → promosi. Potensi yang sudah ada perlu kita naikkan kelasnya sehingga mampu menjadi magnet baru bagi wisatawan.

4. WISATA LOKAL : JARINGAN PENGUAT

Di luar destinasi-destinasi besar tersebut, Banjarnegara sebenarnya tidak kekurangan destinasi wisata lokal. Berbagai desa dan wilayah memiliki potensi alam, budaya, kuliner, sejarah dan kreativitas masyarakat yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata.

Persoalannya adalah bagaimana seluruh destinasi tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri.
Kita harus menghubungkan destinasi lokal dengan magnet-magnet besar pariwisata Banjarnegara. Bayangkan : Wisatawan datang ke Dieng. Kemudian diarahkan menikmati destinasi lainnya. Mengunjungi desa wisata. Menikmati kuliner lokal. Menyaksikan kesenian rakyat. Membeli produk UMKM. Menginap di homestay. Menggunakan jasa transportasi lokal.

Dengan demikian, satu wisatawan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi kepada satu objek wisata. Tetapi manfaatnya menyebar ke berbagai sektor ekonomi masyarakat.  Inilah yang disebut multiplier effect pariwisata. Dan jika dirancang secara serius, dalam kurun waktu lima tahun kita seharusnya sudah mulai dapat merasakan daya ungkit ekonominya.

BANJARNEGARA TIDAK HANYA PUNYA ALAM,
TETAPI JUGA PUNYA JATI DIRI

Namun, membangun Banjarnegara sebagai daerah pariwisata tidak cukup hanya dengan menjual alam. Sebab pariwisata yang kuat membutuhkan identitas. Wisatawan bukan hanya mencari tempat yang indah. Mereka juga mencari : cerita, pengalaman, budaya dan keunikan.

Dan Banjarnegara mempunyai semua itu. Salah satunya adalah kesenian rakyat : EMBEG / KUDA KEPANG

Menurut data yang menjadi dasar tulisan ini, Banjarnegara memiliki lebih dari 350 kelompok kesenian Embeg/Kuda Kepang. Sementara jumlah desa dan kelurahan di Banjarnegara sekitar 278. Angka tersebut menunjukkan betapa kuatnya keberadaan kesenian Embeg/Kuda Kepang di tengah masyarakat.

Artinya, kesenian ini bukan sekadar tontonan. Ia telah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat Banjarnegara. Karena itu, menurut saya, sudah saatnya kita berani mengangkat dan memperkuat Embeg/Kuda Kepang sebagai salah satu identitas kesenian rakyat Banjarnegara.

Bukan berarti kita mengklaim kesenian tersebut hanya milik Banjarnegara. Tetapi kita perlu menemukan dan menonjolkan karakter khas Embeg Banjarnegara. Sebab sebuah daerah membutuhkan identitas budaya yang bisa dikenali. Dan kesenian rakyat bisa menjadi salah satu wajah tersebut.

CABLAKA :
KARAKTER BUDAYA YANG PERLU DIGALI

Selain kesenian, Banjarnegara juga memiliki kekayaan budaya yang tidak kalah menarik : CABLAKA
Cablaka merupakan bagian dari karakter budaya Banyumasan. Namun Banjarnegara tentu memiliki warna, ekspresi dan karakter masyarakatnya sendiri.

Kekhasan tersebut perlu digali lebih dalam. Sebab ketika kita berbicara tentang positioning daerah, kita tidak hanya berbicara mengenai : “Apa yang kita punya?” - Tetapi juga : “Siapa sebenarnya kita?” - Identitas daerah lahir dari sejarah, budaya, karakter masyarakat dan cara hidup yang berkembang dari generasi ke generasi. Dan itulah yang pada akhirnya dapat menjadi DNA sebuah daerah.

KITA SEDANG MEMBANGUN PARIWISATA,
BUKAN SEKADAR WISATA

Ini adalah satu hal yang menurut saya sangat penting untuk dipahami. Kita sedang membangun PARIWISATA, bukan sekadar WISATA.

Apa bedanya? Kalau kita berbicara tentang wisata, maka yang kita pikirkan mungkin hanya : Ada objek wisata, kemudian orang datang. Tetapi ketika kita berbicara tentang pariwisata, maka kita berbicara mengenai sebuah sistem yang jauh lebih besar. Kita berbicara tentang : destinasi, transportasi, akomodasi, kuliner, UMKM, ekonomi kreatif, budaya, event, promosi, investasi, SDM, digitalisasi, dan berbagai sektor pendukung lainnya.

Dengan kata lain : Pariwisata adalah sebuah industri.
Dan ketika kita berbicara mengenai industri, konsekuensinya tentu tidak sederhana. Ada investasi. Ada biaya. Ada infrastruktur. Ada teknologi. Ada SDM. Ada promosi. Ada manajemen. Ada standar pelayanan. Ada konsistensi.

Dengan kata lain, membangun industri pariwisata memang membutuhkan high cost.Tetapi justru karena itulah kita harus memiliki perencanaan yang matang. Jangan membangun pariwisata dengan pola : “Yang penting ada objek wisatanya.” - Kita harus berpikir : “Bagaimana seluruh ekosistem pariwisata itu bekerja dan menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat?”

DARI KABUPATEN BERIDENTITAS SAMAR
MENJADI DAERAH DENGAN IDENTITAS YANG JELAS

Saya memiliki keyakinan bahwa Banjarnegara sebenarnya mempunyai modal yang cukup untuk melakukan perubahan besar. Kita memiliki alam. Kita memiliki Dieng. Kita memiliki rafting. Kita memiliki Taman Serulingmas. Kita memiliki desa-desa dengan potensi wisata. Kita memiliki ratusan kelompok kesenian rakyat. Kita memiliki budaya Cablaka. Kita memiliki sejarah. Kita memiliki UMKM. Dan kita memiliki sumber daya manusia.

Yang perlu kita lakukan adalah menggali, mengembangkan dan menghubungkan seluruh potensi tersebut menjadi satu kekuatan. Dari yang selama ini mungkin terlihat sebagai potensi-potensi yang berdiri sendiri, menjadi sebuah ekosistem pariwisata yang terintegrasi. Dari daerah yang identitasnya masih samar, menjadi daerah yang mempunyai identitas yang jelas dan terarah.

PARIWISATA BUKAN TUJUAN AKHIR

Namun ada satu hal yang harus kita sepakati. Menjadikan Banjarnegara sebagai kota pariwisata bukan berarti pariwisata menjadi tujuan akhir pembangunan. Pariwisata adalah alat. Alat untuk menggerakkan ekonomi. Alat untuk membuka lapangan kerja. Alat untuk mengembangkan desa. Alat untuk menghidupkan UMKM. Alat untuk melestarikan budaya. Alat untuk menarik investasi. Dan pada akhirnya : ALAT UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT. 

Karena itu, keberhasilan pembangunan pariwisata tidak cukup diukur dari jumlah wisatawan. Tetapi harus dilihat dari : Seberapa besar masyarakat Banjarnegara mendapatkan manfaat ekonomi dari kedatangan wisatawan tersebut.

BANJARNEGARA HARUS BERANI MENENTUKAN POSITIONING

Pada akhirnya, setiap daerah membutuhkan keberanian untuk menentukan dirinya sendiri. Banjarnegara tidak harus menjadi seperti kabupaten lain. Kita tidak harus meniru daerah lain. Kita harus menemukan DNA Banjarnegara sendiri. Dan saya melihat salah satu peluang terbesar itu adalah : BANJARNEGARA KOTA PARIWISATA Bukan sekadar slogan. Bukan sekadar label. Bukan sekadar membuat objek wisata baru.

Tetapi sebuah positioning pembangunan daerah. Sebuah positioning yang mengintegrasikan : alam + sejarah + budaya + desa + SDM + UMKM + ekonomi kreatif + industri pariwisata. Jika semua itu dirancang dengan baik, dikelola secara profesional dan dilakukan secara konsisten, maka Banjarnegara bukan hanya memiliki banyak destinasi.

Banjarnegara akan memiliki identitas. Dan identitas itulah yang kemudian menjadi brand. Brand menjadi positioning. Positioning menjadi daya tarik. Daya tarik menjadi aktivitas ekonomi. Dan aktivitas ekonomi pada akhirnya menjadi kesejahteraan masyarakat.

DARI POTENSI MENUJU KESEJAHTERAAN

Saya yakin, dengan terus menggali dan mengembangkan potensi sumber daya manusia, sumber daya alam, sejarah dan budaya, Banjarnegara ke depan dapat menjadi sebuah kabupaten yang benar-benar maju dan sejahtera.

Kita tidak kekurangan potensi. Yang kita perlukan adalah visi, keberanian, perencanaan dan kemauan untuk bergerak bersama. Karena masa depan Banjarnegara tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita miliki. Masa depan Banjarnegara ditentukan oleh : bagaimana kita mengelola apa yang kita miliki.

Mungkin setelah 455 tahun perjalanan sejarah Banjarnegara, sudah waktunya kita mulai bertanya : 
Banjarnegara ingin dikenal sebagai apa? Dan mungkin jawabannya adalah : BANJARNEGARA KOTA PARIWISATA

Dari Potensi Menjadi Identitas.
Dari Identitas Menjadi Kekuatan.
Dari Kekuatan Menjadi Kesejahteraan.

Banjarnegara → Jawa Tengah → Indonesia → Dunia.
Bagi mereka yang berpikir.

whonesiasikoji
whonesiasikoji
Articles: 78

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *