Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482
Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482


Oleh: Wahono – Aktifis Banjarnegara
Selama ini ketika berbicara tentang kekayaan energi Indonesia, pikiran kita biasanya langsung tertuju pada minyak bumi, gas alam, batu bara, atau bahkan energi surya. Padahal, ada kekayaan energi lain yang jumlahnya sangat besar dan secara harfiah berada di bawah kaki kita, yakni : panas bumi.
Menariknya, Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 40% potensi panas bumi dunia.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, potensi panas bumi Indonesia mencapai sekitar 23,2 GW.
Pertanyaannya sederhana : Kalau kekayaannya sebesar itu, mengapa pemanfaatannya masih relatif kecil?
Panas bumi atau geothermal adalah energi yang berasal dari panas alami di dalam bumi.
Sederhananya, bumi kita memiliki “mesin pemanas” raksasa di bawah permukaan.
Panas tersebut memanaskan air di dalam tanah hingga menghasilkan fluida panas dan uap.
Uap inilah yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).
Jadi, kita sebenarnya tidak sedang membakar batu bara atau minyak untuk menghasilkan listrik.
Kita sedang memanfaatkan panas alami bumi.
Dan yang membuat panas bumi semakin menarik adalah sifatnya yang relatif stabil.
Matahari hanya bersinar pada siang hari.
Angin tidak selalu bertiup dengan kecepatan yang sama.
Tetapi panas dari dalam bumi tersedia secara terus-menerus.
Karena itu, panas bumi dapat menjadi salah satu sumber listrik yang mampu beroperasi 24 jam, sehingga sangat penting untuk menopang kebutuhan listrik suatu negara.
Dunia sedang bergerak menuju energi yang lebih bersih.
Batu bara, minyak dan gas fosil masih digunakan, tetapi tekanan untuk mengurangi emisi karbon semakin besar.
Persoalannya, negara-negara tidak hanya membutuhkan energi yang bersih.
Mereka juga membutuhkan energi yang stabil dan dapat diandalkan.
Di sinilah panas bumi memiliki keunggulan.
Energi panas bumi tidak bergantung langsung pada apakah matahari sedang bersinar atau angin sedang bertiup.
Karena itu, panas bumi bisa menjadi salah satu pasangan penting bagi energi surya dan angin.
Surya dan angin menghasilkan energi ketika sumber alamnya tersedia.
Panas bumi dapat membantu menyediakan listrik secara terus-menerus.
Inilah salah satu alasan mengapa teknologi panas bumi semakin mendapatkan perhatian dunia.
Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire).
Konsekuensinya, Indonesia memiliki banyak gunung api dan aktivitas geologi yang menghasilkan potensi panas bumi sangat besar.
Kita memiliki sekitar 23,2 GW potensi panas bumi.
Bahkan Indonesia disebut memiliki sekitar 40% potensi panas bumi dunia.
Tetapi di sinilah muncul sebuah fakta yang cukup mengejutkan.
Dari potensi sekitar 23,2 GW tersebut, kapasitas panas bumi yang telah terpasang baru sekitar 2,8 GW.
Artinya, secara kasar baru sekitar 12% yang sudah dikembangkan menjadi kapasitas pembangkit.
Dengan kata lain, sebagian besar potensi tersebut masih berada di bawah tanah.
Ini seperti memiliki ladang energi raksasa, tetapi baru sebagian kecil yang sudah kita panen.
Panas bumi bukan satu-satunya kekuatan energi terbarukan Indonesia.
Kita juga memiliki potensi tenaga air yang sangat besar.
PLTA memanfaatkan energi dari air yang mengalir atau jatuh dari ketinggian untuk memutar turbin.
Sedangkan PLTP memanfaatkan panas bumi untuk menghasilkan uap atau fluida panas yang kemudian digunakan untuk memutar turbin.
Keduanya sama-sama energi terbarukan, tetapi sumber energinya berbeda.
PLTA membutuhkan air dan debit yang memadai.
PLTP membutuhkan reservoir panas bumi dan teknologi pengeboran.
PLTA sangat dipengaruhi oleh kondisi hidrologi, terutama ketersediaan air dan curah hujan.
Sementara panas bumi relatif tidak bergantung pada perubahan cuaca harian.
Karena itu, keduanya sebenarnya bukan untuk dipertentangkan. Justru sebaliknya.
PLTA dan PLTP dapat saling melengkapi dalam sistem energi nasional.
Inilah hal yang menurut saya perlu kita renungkan.
Indonesia sering berbicara tentang krisis energi, ketahanan energi, impor energi, harga energi dan transisi energi.
Namun di sisi lain, negeri ini mempunyai kekayaan energi terbarukan yang luar biasa besar.
Potensi energi terbarukan Indonesia mencapai ribuan gigawatt.
Energi surya sangat besar.
Energi angin juga tersedia.
Potensi hidro sangat besar.
Panas bumi kita termasuk yang terbesar di dunia.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi : “Apakah Indonesia mempunyai energi?”
Jawabannya jelas : YA.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah :
“Mengapa kita belum mampu mengubah kekayaan energi tersebut menjadi kekuatan ekonomi nasional?”
Inilah persoalan sebenarnya.
Energi seharusnya tidak berhenti sebagai listrik.
Energi harus menjadi mesin pertumbuhan ekonomi.
Bayangkan apabila energi bersih yang melimpah dapat menyediakan listrik yang stabil dan kompetitif.
Industri bisa tumbuh.
Investasi bisa masuk.
Pabrik dapat beroperasi.
Pusat data dapat berkembang.
Kawasan industri dapat dibangun.
UMKM mendapatkan energi yang lebih andal.
Transportasi listrik berkembang.
Bahkan daerah-daerah yang memiliki sumber panas bumi dapat memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar.
Dengan demikian, pembicaraan mengenai panas bumi sebenarnya bukan sekadar pembicaraan tentang PLTP.
Ini adalah pembicaraan mengenai :
Energi → Industri → Investasi → Lapangan Kerja → Pendapatan Masyarakat → Pertumbuhan Ekonomi.
Namun kita juga harus realistis.
Mengembangkan panas bumi bukan pekerjaan mudah.
Eksplorasi membutuhkan investasi besar.
Pengeboran memiliki risiko tinggi.
Lokasinya sering berada di daerah pegunungan atau kawasan yang memiliki persoalan sosial dan lingkungan.
Karena itu, diperlukan teknologi, modal, kepastian regulasi, tata kelola, serta keberanian mengambil risiko.
Tetapi justru karena itulah negara perlu hadir.
Jika seluruh risiko awal dibebankan kepada investor, pengembangan panas bumi bisa berjalan lambat.
Sebaliknya, apabila negara mampu menciptakan skema pembiayaan dan regulasi yang tepat, potensi yang selama ini berada di bawah tanah dapat diubah menjadi energi dan aktivitas ekonomi nyata.
Indonesia bukan negara yang miskin energi.
Kita adalah negara yang kaya sumber energi, tetapi masih menghadapi pekerjaan besar untuk mengubah kekayaan tersebut menjadi kekuatan ekonomi.
Panas bumi adalah salah satu contohnya.
Kita memiliki sekitar 40% potensi panas bumi dunia, tetapi sebagian besar potensinya belum dimanfaatkan.
Maka, mungkin sudah waktunya kita mengubah cara pandang.
Jangan melihat panas bumi hanya sebagai proyek pembangkit listrik.
Lihatlah panas bumi sebagai bagian dari strategi industrialisasi Indonesia.
Karena energi yang murah, bersih dan stabil bukan hanya menghasilkan listrik.
Energi dapat menghasilkan industri.
Industri menghasilkan pekerjaan.
Pekerjaan menghasilkan pendapatan.
Dan pendapatan menggerakkan ekonomi masyarakat.
Pada akhirnya, persoalannya bukan :
“Apakah Indonesia memiliki kekayaan energi?”
Tetapi : “Apakah kita cukup berani mengubah kekayaan energi yang berada di bawah kaki kita menjadi kekuatan ekonomi bagi rakyat?”
Sebab boleh jadi, “emas” masa depan Indonesia bukan hanya berada di dalam tambang—tetapi juga berupa panas yang selama jutaan tahun tersimpan di bawah tanah kita.