Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482
Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482


Oleh : Wahono - Aktivis & Sekjend Aliansi Wargo Hutomo
Ketika kita berbicara tentang Banjarnegara, pertanyaan yang sering muncul adalah :
“Apa sebenarnya identitas Banjarnegara?”
1. Apakah Dawet Ayu?
2. Apakah Batik Gumelem?
3. Apakah Keramik Klampok?
4. Apakah Carica Dieng?
5. Apakah Ujungan?
6. Atau sesuatu yang lain?
Menurut saya, pertanyaan tersebut tidak perlu dijawab dengan memilih salah satunya.
Sebab Banjarnegara tidak dibangun oleh satu produk, satu kesenian, satu tradisi, atau satu simbol.
Banjarnegara adalah kumpulan dari berbagai identitas yang tumbuh dari perjalanan sejarah masyarakatnya.
Karena itu, yang kita perlukan bukan mencari satu identitas untuk mengalahkan identitas lainnya.
Yang kita perlukan adalah merumuskan sebuah identitas besar yang mampu menaungi semuanya.
Sering kali kita memahami identitas daerah hanya sebatas logo, maskot, ikon, slogan, atau produk unggulan.
Padahal identitas jauh lebih dalam daripada itu. Identitas adalah :
01. Siapa Kita,
02. Dari Mana Kita Berasal,
03. Bagaimana Karakter Kita,
04. Nilai Apa Yang Kita Pegang,
05. Apa Yang Kita Wariskan,
07. Apa Yang Kita Hasilkan,
08. Dan Bagaimana Kita Ingin Dikenal Oleh Dunia.
Karena itu, identitas Banjarnegara seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan :
“Apa produk khas kita?”
Tetapi harus dilanjutkan dengan pertanyaan :
1. “Siapa manusia Banjarnegara?”
2. "Bagaimana karakter masyarakat Banjarnegara?”
3. "Nilai-nilai apa yang diwariskan leluhur kita?”
4. “Apa budaya yang membentuk cara berpikir dan perilaku masyarakatnya?”
Dan yang tidak kalah penting :
“Apa yang membedakan Banjarnegara dengan daerah lain?”
Di sinilah pembicaraan tentang identitas menjadi jauh lebih menarik.
Dawet Ayu adalah produk.
Batik Gumelem adalah produk budaya.
Keramik Klampok adalah produk kerajinan.
Carica Dieng adalah produk pertanian dan olahan.
Durian Mimang dan Salak Pondoh adalah produk pertanian.
Ujungan adalah warisan seni dan tradisi.
Semuanya dapat menjadi wajah Banjarnegara.
Tetapi wajah bukanlah keseluruhan tubuh.
Di balik produk dan tradisi tersebut terdapat manusia, sejarah, nilai, cara berpikir, kreativitas, dan karakter masyarakat yang melahirkannya.
Karena itu, kalau kita ingin menemukan jati diri Banjarnegara, kita tidak cukup hanya melihat produknya.
Kita harus melihat Manusianya.
Di titik inilah gagasan tentang Bima Cablaka menjadi menarik untuk dikaji.
Bima dalam tradisi pewayangan dikenal sebagai sosok yang tegas, jujur, berani, sederhana, tidak banyak basa-basi, dan memiliki keberanian menghadapi persoalan.
Sementara cablaka dekat dengan karakter keterusterangan : mengatakan sesuatu sebagaimana adanya.Apabila nilai tersebut memang hidup dalam kebudayaan masyarakat Banjarnegara, maka ia bukan sekadar cerita budaya.
Ia dapat menjadi bahan untuk membaca : Karakter Masyarakat Banjarnegara.
Bukan berarti semua orang Banjarnegara otomatis memiliki karakter tersebut.
Tetapi nilai budaya yang hidup di masyarakat layak dikaji sebagai bagian dari proses menemukan identitas kolektif.
Dan kalau ternyata ada nilai-nilai luhur yang relevan dengan kehidupan masyarakat hari ini, mengapa tidak kita hidupkan kembali?
Identitas Banjarnegara sebenarnya bisa dibaca melalui banyak pintu.
1. Kita bisa masuk melalui sejarah.
2. Kita bisa masuk melalui bahasa dan dialek.
3. Kita bisa masuk melalui seni tradisi.
4. Kita bisa masuk melalui karakter masyarakat.
5. Kita bisa masuk melalui kuliner.
6. Kita bisa masuk melalui produk unggulan.
7. Kita bisa masuk melalui arsitektur dan lanskap.
Bahkan kita bisa masuk melalui cara masyarakat Banjarnegara membangun hubungan sosial.
Semua itu seperti potongan puzzle.
Tugas kita bukan memilih satu keping lalu membuang keping lainnya.
Tugas kita adalah menyatukan seluruh keping tersebut menjadi sebuah gambaran besar.
Gambaran itulah yang kemudian dapat kita sebut :
IDENTITAS DAN JATI DIRI BANJARNEGARA.
Di sinilah kita harus mulai berpikir lebih dewasa.
Apakah Banjarnegara harus memiliki satu produk yang ditetapkan sebagai ikon utama?
Tidak harus.
Bahkan bisa jadi justru lebih kuat apabila Banjarnegara memiliki Portofolio Identitas.
· Satu produk kuat di kuliner.
· Satu produk kuat di fashion dan kriya.
· Satu produk kuat di pertanian.
· Satu produk kuat di seni tradisi.
· Satu produk kuat di pariwisata.
· Satu produk kuat di ekonomi kreatif.
Dan semuanya menggunakan satu Master Brand: BANJARNEGARA.
Dengan demikian, tidak ada produk yang harus saling membunuh.
Tidak ada budaya yang harus merasa dikalahkan.
Tidak ada komunitas yang harus merasa dianaktirikan.
Semuanya memiliki ruang.
Semuanya memiliki nilai.
Semuanya menjadi bagian dari satu identitas besar.
Namun ada satu hal yang sangat penting.
Jangan sampai pembicaraan identitas berhenti pada seminar, diskusi, slogan, atau seremoni.
Identitas harus menghasilkan nilai.
1. Jika kita memiliki Batik Gumelem, bagaimana agar perajin mendapatkan penghasilan yang lebih baik?
2. Jika kita memiliki Keramik Klampok, bagaimana agar produknya mampu menembus pasar nasional?
3. Jika kita memiliki Carica Dieng, bagaimana agar petani dan pelaku UMKM mendapatkan nilai tambah?
4. Jika kita memiliki Dawet Ayu, bagaimana agar pedagangnya semakin sejahtera?
5. Jika kita memiliki Ujungan dan seni tradisi lainnya, bagaimana agar para pelaku budaya mendapatkan ruang hidup yang layak?
Inilah ukuran keberhasilan sesungguhnya. Bukan berapa banyak slogan yang kita buat.
Tetapi : Berapa banyak masyarakat yang kehidupannya menjadi lebih baik karena identitas daerahnya berhasil dikembangkan.
Identitas daerah bukan milik pemerintah.
Bukan milik DPRD.
Bukan milik kelompok tertentu.
Dan bukan milik satu komunitas.
Identitas Adalah Milik Masyarakat.
Pemerintah memiliki tugas untuk melindungi, memfasilitasi, mengembangkan, dan menciptakan ekosistem.
Masyarakat adalah pemilik sekaligus pelaku. Pelaku usaha mengembangkan nilai ekonominya.
Budayawan menjaga nilai budayanya.
Generasi muda memberikan inovasi baru.
Akademisi melakukan penelitian.
Komunitas menjaga keberlanjutan.
Media membantu membangun narasi.
Dan pemerintah memastikan semuanya mendapatkan ruang untuk tumbuh.
Jika semua elemen tersebut berhasil dirumuskan, Banjarnegara akan memiliki sesuatu yang jauh lebih kuat daripada sekadar ikon. Kita akan memiliki Positioning Daerah.
Bukan hanya : “Ini produk Banjarnegara.” - Tetapi :
“Inilah karakter Banjarnegara.”
“Inilah budaya Banjarnegara.”
“Inilah pengalaman yang hanya bisa ditemukan di Banjarnegara.”
Dan dari sinilah identitas dapat menjadi kekuatan pariwisata, ekonomi kreatif, investasi, perdagangan, pendidikan, hingga promosi daerah. Banjarnegara kemudian tidak sekadar menjadi tempat yang dikunjungi.
Tetapi menjadi Sebuah Brand Daerah Yang Memiliki Karakter.
Pada akhirnya, identitas lokal tidak boleh membuat kita menjadi masyarakat yang berpikir sempit. Justru sebaliknya.
Semakin kuat akar lokal, semakin kuat kemampuan kita untuk berdiri di panggung global.
Kita mengenal diri sendiri. Kemudian mengenal daerah sendiri.
Lalu memahami Indonesia.
Memahami Nusantara.
Dan akhirnya mampu berinteraksi dengan dunia.
Inilah yang dapat kita sebut : GLOBAL MINDSET BERBASIS LOCAL WISDOM.
Berpikir global. Berakar lokal. Berkarakter Nusantara.
Maka mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya : “Apa satu ikon Banjarnegara?”
Dan mulai bertanya : “Apa keseluruhan jati diri Banjarnegara?”
Jawabannya tidak akan ditemukan hanya di sebuah produk.
Tidak hanya di sebuah kesenian.
Tidak hanya di sebuah simbol.
Tidak hanya di sebuah slogan.
Tetapi ada di dalam manusia Banjarnegara, sejarahnya, budayanya, karakternya, tradisinya, kreativitasnya, produk-produknya, alamnya, dan cita-citanya.
Dawet Ayu adalah bagian dari Banjarnegara.
Batik Gumelem adalah bagian dari Banjarnegara.
Keramik Klampok adalah bagian dari Banjarnegara.
Carica Dieng adalah bagian dari Banjarnegara.
Ujungan adalah bagian dari Banjarnegara.
Bima Cablaka adalah bagian dari kajian karakter dan budaya yang perlu kita dalami.
Dan masih banyak lagi yang belum kita bongkar.
Semuanya berbeda.
Tetapi semuanya mempunyai satu rumah, yakni : BANJARNEGARA.
Karena itu, tugas kita bukan mencari satu identitas untuk menghapus identitas yang lain.
Tugas kita adalah menemukan benang merah yang menyatukan semuanya.
Dari sanalah kita menemukan : Identitas Dan Jati Diri Banjarnegara.
Dan dari sanalah pula kita membangun masa depan :
Banjarnegara Yang Berkarakter, Berbudaya, Berdaya Saing, Maju, Dan Sejahtera.