MEMAHAMI KEHIDUPAN

Dari Masalah, Keinginan, Rasa Cukup, hingga Menemukan Makna Hidup

Oleh : Wahono – Aktifis

Barangkali masalah terbesar manusia bukan karena hidupnya terlalu sedikit, tetapi karena keinginannya terlalu banyak.

Ada satu hal yang hampir pasti dialami oleh setiap manusia : MASALAH. Tidak ada manusia yang hidup tanpa masalah. Sejak kita lahir sampai meninggalkan dunia, masalah datang silih berganti. Ketika masih kecil, kita memiliki masalah sebagai anak-anak. Ketika remaja, muncul masalah tentang pergaulan, pendidikan dan pencarian jati diri. Ketika dewasa, masalah berubah menjadi pekerjaan, ekonomi, keluarga, pasangan, tanggung jawab dan masa depan. 

Ketika usia semakin bertambah, masalah pun berganti bentuk. Seolah-olah kehidupan memang tidak pernah benar-benar bebas dari masalah. Tetapi pertanyaannya : Apakah kehidupan memang terlalu banyak masalah? 

Ataukah sebenarnya ada sesuatu di dalam diri kita yang membuat masalah terasa semakin besar? Mungkin kita perlu mundur sejenak. Bukan untuk mencari siapa yang salah. Tetapi untuk mencoba memahami akar dari masalah itu sendiri.

01. MASALAH : KETIKA KEINGINAN BERTEMU KENYATAAN

Mari kita mulai dari sebuah pemahaman yang sederhana.
Masalah muncul ketika apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan kenyataan.

a. Kita ingin kaya, tetapi penghasilan belum mencukupi.
b. Kita ingin dihargai, tetapi orang lain tidak menghargai kita.
c. Kita ingin dicintai, tetapi orang yang kita cintai tidak memiliki perasaan yang sama.
d. Kita ingin sehat, tetapi tubuh mengalami gangguan.
e. Kita ingin semuanya berjalan sesuai rencana, tetapi kenyataan justru bergerak ke arah yang berbeda.


Di situlah masalah muncul. Semakin besar jarak antara keinginan dan kenyataan, sering kali semakin besar pula rasa kecewa yang kita rasakan. 

Maka, salah satu cara sederhana untuk mengurangi masalah adalah : mengurangi jarak antara keinginan dan kenyataan. Bagaimana caranya? Bukan selalu dengan memaksa kenyataan mengikuti keinginan kita. Tetapi kadang-kadang dengan menyesuaikan keinginan kita dengan kenyataan.

02. MENGURANGI KEINGINAN, BUKAN MENGHENTIKAN CITA-CITA

Apakah kita harus berhenti memiliki keinginan? Tentu tidak. Keinginan adalah bagian dari manusia.Keinginan membuat kita bergerak. Keinginan membuat kita belajar. Keinginan membuat kita bekerja. Keinginan membuat manusia menciptakan teknologi, membangun peradaban dan mencari kehidupan yang lebih baik. 

Persoalannya bukan pada keinginan. Persoalannya adalah ketika keinginan tidak mengenal batas. Kita ingin memiliki lebih banyak. Setelah mendapatkan lebih banyak, kita ingin lebih banyak lagi. Satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan berikutnya. 

Akhirnya kita hidup dalam sebuah perlombaan yang tidak pernah selesai. Karena itu, yang perlu dilakukan bukan membunuh keinginan. Tetapi mengelola keinginan. Kita perlu belajar bertanya : “Apakah ini benar-benar saya butuhkan?” – atau : “Saya hanya menginginkannya?”. Pertanyaan sederhana ini bisa menjadi pintu masuk menuju kehidupan yang lebih tenang.

03. KEBUTUHAN DAN KEINGINAN

Kebutuhan dan keinginan sering kali kita campuradukkan. Kebutuhan adalah sesuatu yang memang kita perlukan untuk hidup. Makan. Minum. Tempat tinggal. Pendidikan. Kesehatan. Keamanan. Hubungan sosial. Dan berbagai hal yang membuat kehidupan dapat berjalan secara layak. 

Sementara keinginan bisa berkembang jauh melampaui kebutuhan. Kita membutuhkan kendaraan untuk beraktivitas. Tetapi kita mungkin menginginkan kendaraan yang jauh lebih mahal. Kita membutuhkan rumah untuk tinggal. Tetapi kita mungkin menginginkan rumah yang jauh lebih besar daripada yang sebenarnya kita perlukan. 

Kita membutuhkan pakaian. Tetapi kita bisa menginginkan pakaian karena merek, tren atau gengsi.Di sinilah manusia sering terjebak. Keinginan diberi status sebagai kebutuhan. Akibatnya, sesuatu yang sebenarnya tidak kita perlukan terasa seperti sesuatu yang wajib kita miliki. Dan ketika tidak mendapatkannya, kita merasa kekurangan.

04. MANUSIA DAN KEINGINAN YANG TIDAK PERNAH SELESAI

Coba perhatikan kehidupan kita. Ketika belum memiliki rumah, kita berpikir : “Kalau sudah punya rumah, saya akan bahagia.” - Ketika rumah sudah dimiliki, muncul keinginan : “Kalau rumah saya lebih besar, pasti lebih bahagia.” 

Begitu pula dengan uang. Ketika penghasilan masih kecil, kita berpikir : “Kalau penghasilan saya naik, hidup saya akan tenang.” - Penghasilan naik. Tetapi ternyata kebutuhan ikut naik. Gaya hidup ikut naik. Keinginan ikut naik. Akhirnya kita kembali merasa kurang. 

Inilah paradoks manusia. Yang bertambah bukan hanya penghasilannya, tetapi juga standar keinginannya. Maka, bukan hal aneh jika seseorang memiliki lebih banyak daripada sebelumnya, tetapi tetap merasa kekurangan. 

Karena masalahnya bukan selalu pada berapa banyak yang kita miliki. Masalahnya bisa berada pada berapa banyak yang kita inginkan.

05. KETIKA KEINGINAN BERUBAH MENJADI KESERAKAHAN

Keinginan yang tidak terkendali dapat berubah menjadi keserakahan. Awalnya kita berkata : “Saya ingin hidup lebih baik.” - Itu sehat. Kemudian berubah menjadi : “Saya harus memiliki lebih banyak.” Masih bisa dipahami. 

Tetapi kemudian berubah menjadi : “Saya harus memiliki sebanyak-banyaknya, tidak peduli bagaimana caranya.” - Di titik itulah masalah mulai menjadi serius. Keserakahan membuat manusia kehilangan kemampuan untuk mengatakan cukup. Tidak cukup memiliki. Tidak cukup mendapatkan. Tidak cukup berkuasa. Tidak cukup dihormati. Tidak cukup kaya. 

Bahkan ketika kebutuhan sudah terpenuhi, keinginan untuk menguasai masih terus tumbuh. Dan ketika rasa cukup hilang, manusia bisa melakukan apa saja demi memenuhi keinginannya. Karena itu, persoalan keserakahan bukan hanya persoalan ekonomi. Ia juga dapat menjadi persoalan moral.

06. KITA SERING TERJEBAK DALAM PERBANDINGAN

Ada satu kekuatan besar yang membuat manusia semakin sulit merasa cukup : PERBANDINGAN. Kita melihat kehidupan orang lain. Kemudian kita membandingkannya dengan kehidupan kita. 

Orang lain punya rumah bagus. Kita merasa rumah kita kurang bagus. Orang lain memiliki kendaraan baru. Kita merasa kendaraan kita sudah ketinggalan. Orang lain berlibur ke tempat yang indah. Kita merasa hidup kita membosankan. Orang lain terlihat sukses. Kita merasa diri kita gagal. 

Padahal kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh cerita di balik kehidupan orang tersebut. Kita hanya melihat apa yang tampak. Kita melihat hasilnya. Kita tidak melihat perjuangannya. Kita melihat kemewahannya. Kita tidak melihat bebannya. Kita melihat keberhasilannya. Kita tidak melihat kegagalannya. 

Akhirnya, kita menggunakan kehidupan orang lain sebagai ukuran untuk menilai kehidupan kita sendiri. Ini adalah jebakan. Karena setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda.

07. BELAJAR MENERIMA KENYATAAN

Menerima kenyataan sering kali dianggap sebagai bentuk menyerah. Padahal tidak selalu demikian. Menerima kenyataan adalah kemampuan melihat keadaan sebagaimana adanya. Kalau hari ini kita belum kaya, kita akui. Kalau kemampuan kita masih terbatas, kita akui. Kalau ada sesuatu yang belum bisa kita ubah, kita terima. 

Tetapi menerima bukan berarti berhenti berusaha. Kita menerima kenyataan sebagai titik awal untuk melakukan perubahan. Petani tidak bisa memerintah hujan turun sesuai keinginannya. Tetapi petani bisa mengatur kapan menanam, bagaimana mengolah tanah dan bagaimana memanfaatkan air. 

Kita tidak bisa mengendalikan seluruh keadaan. Tetapi kita bisa mengendalikan respons kita terhadap keadaan. Di situlah kedewasaan mulai tumbuh.

08. MUSUH TERBESAR TERKADANG ADA DI DALAM DIRI

Kita sering mencari sumber masalah di luar diri. Menyalahkan keadaan. Menyalahkan orang lain. Menyalahkan pemerintah. Menyalahkan keluarga. Menyalahkan lingkungan. Menyalahkan nasib. 

Tentu saja, tidak semua masalah berasal dari diri sendiri. Ada ketidakadilan. Ada keadaan yang memang sulit. Ada sistem yang tidak sempurna. Ada orang lain yang memang bisa menjadi sumber persoalan. 

Tetapi ada satu wilayah yang selalu berada dalam kendali kita : diri kita sendiri. Bagaimana kita berpikir. Bagaimana kita merespons. Apa yang kita kejar. Apa yang kita lepaskan. Apa yang kita anggap penting. Dan terutama : seberapa jauh kita mampu mengendalikan keinginan kita sendiri. Karena orang yang mampu mengendalikan dirinya tidak mudah diperbudak oleh keadaan.

09. SENI MERASA CUKUP

Merasa cukup bukan berarti tidak memiliki cita-cita. Merasa cukup bukan berarti malas. Merasa cukup bukan berarti menerima kemiskinan sebagai takdir tanpa usaha. Justru sebaliknya.

Rasa cukup adalah kemampuan menikmati apa yang sudah ada sambil terus memperbaiki apa yang masih kurang. 

Kita boleh ingin lebih kaya. Tetapi jangan sampai kekayaan menjadi satu-satunya ukuran kebahagiaan. Kita boleh ingin memiliki jabatan. Tetapi jangan sampai jabatan menentukan harga diri kita. Kita boleh ingin dihormati. Tetapi jangan sampai penghormatan orang lain menentukan ketenangan jiwa kita. Kita boleh mengejar keberhasilan. Tetapi jangan sampai keberhasilan membuat kita kehilangan jati diri kita sendiri. 

Karena pada akhirnya :
yang kita butuhkan bukan kehidupan yang sempurna, tetapi kemampuan untuk menjalani kehidupan dengan kesadaran.

10. DARI RASA CUKUP MENUJU RASA SYUKUR

Ada satu langkah lebih tinggi setelah rasa cukup : SYUKUR.
Rasa cukup berkata : “Saya memiliki apa yang saya butuhkan.”
Sedangkan syukur berkata : “Saya menghargai apa yang telah saya miliki."

Orang yang bersyukur bukan berarti tidak punya masalah. Ia hanya tidak membiarkan masalah menghapus seluruh kebaikan yang masih ada dalam hidupnya. Kita mungkin belum memiliki semuanya. Tetapi kita masih memiliki sesuatu. 

Kita mungkin belum mencapai tujuan. Tetapi kita masih memiliki kesempatan. Kita mungkin pernah gagal. Tetapi kita masih memiliki pengalaman. Kita mungkin pernah kehilangan. Tetapi kita masih memiliki kehidupan. 

Dan selama masih hidup, selalu ada kemungkinan untuk memperbaiki keadaan. Karena itu, syukur bukan sekadar ucapan. Syukur adalah cara memandang kehidupan.

11. APAKAH MEMILIKI BANYAK HAL BERARTI BAHAGIA?

Kita hidup dalam zaman ketika keberhasilan sering diukur dari apa yang terlihat. Rumah. Mobil. Jabatan. Uang. Popularitas. Jumlah pengikut. Gaya hidup. Tetapi semua itu hanyalah ukuran yang terlihat dari luar. 

Kita tidak pernah benar-benar bisa mengukur kedamaian seseorang hanya dari apa yang dimilikinya. Ada orang yang sederhana tetapi bahagia. Ada pula orang yang memiliki banyak hal tetapi hidupnya penuh kegelisahan. 

Maka kita perlu membedakan : memiliki banyak dengan merasa cukup.

Memiliki banyak adalah persoalan kuantitas. Merasa cukup adalah persoalan kualitas batin. Dan sering kali, kualitas batin jauh lebih menentukan kualitas kehidupan daripada jumlah benda yang kita miliki.

12. HIDUP SEDERHANA BUKAN BERARTI KEKURANGAN

Kesederhanaan sering disalahartikan sebagai kemunduran. Padahal hidup sederhana justru membutuhkan kedewasaan. Sederhana berarti kita tahu mana yang penting. Sederhana berarti kita tidak perlu membuktikan diri kepada semua orang. Sederhana berarti kita tidak harus mengikuti semua tren.

Sederhana berarti kita mampu berkata : “Saya tidak membutuhkan itu.” 

Ketika kita mampu mengatakan itu, sebenarnya kita sedang memperoleh kebebasan. Kita tidak lagi menjadi budak dari keinginan. Tidak menjadi budak gengsi. Tidak menjadi budak penilaian orang lain. Tidak menjadi budak gaya hidup.

Dan pada akhirnya : kesederhanaan dapat menjadi bentuk kebebasan.

13. BERHENTI MEMBANDINGKAN DIRI

Setiap manusia memiliki perjalanan yang berbeda. Ada yang lebih cepat. Ada yang lebih lambat. Ada yang berhasil di usia muda. Ada yang menemukan keberhasilannya ketika sudah tua. Ada yang memulai dari keluarga berada. Ada yang harus memulai dari titik paling bawah. 

Maka jangan terlalu sibuk membandingkan bab kehidupan kita dengan bab kehidupan orang lain. Kita semua memiliki buku kehidupan masing-masing. Yang penting bukan apakah kita lebih hebat dari orang lain.

Yang penting adalah : Apakah hari ini kita menjadi lebih baik daripada diri kita yang kemarin? - Jika iya, maka kita sedang bertumbuh.

14. MENEMUKAN KEBAHAGIAAN

Mungkin selama ini kita mencari kebahagiaan di tempat yang salah. Kita mencarinya dalam uang. Dalam jabatan. Dalam pengakuan. Dalam kepemilikan. Dalam pujian. Dalam pencapaian. Padahal kebahagiaan yang paling mendasar mungkin justru lahir dari hubungan kita dengan diri sendiri. Ketika kita mampu menerima diri.

Ketika kita mampu berdamai dengan masa lalu. Ketika kita mampu menikmati hari ini. Ketika kita memiliki harapan terhadap hari esok. Ketika kita mampu mencintai tanpa harus memiliki semuanya. 

Dan ketika kita mampu berkata :
“Saya belum memiliki semuanya, tetapi saya tetap bersyukur atas apa yang saya miliki.” - Mungkin di situlah kebahagiaan mulai menemukan rumahnya.

15. LALU, UNTUK APA KITA HIDUP?

Setelah perjalanan panjang ini, akhirnya kita sampai pada pertanyaan yang paling mendasar : Untuk apa sebenarnya kita hidup?

- Apakah hidup hanya untuk mencari uang?
- Apakah hidup hanya untuk mendapatkan jabatan?
- Apakah hidup hanya untuk mengejar popularitas?
- Apakah hidup hanya untuk memiliki sebanyak-banyaknya?
- Kalau jawabannya iya, maka ketika semua itu hilang, apa yang tersisa? 

Mungkin kehidupan memiliki tujuan yang jauh lebih dalam. Kita hidup bukan hanya untuk memiliki, tetapi juga untuk menjadi.

Menjadi manusia yang lebih baik. Menjadi pribadi yang lebih sadar. Menjadi seseorang yang berguna bagi orang lain. Menjadi manusia yang mampu memberikan makna bagi kehidupannya. 

Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan hanya :
“Apa yang berhasil kita kumpulkan?” – Tetapi : “Apa yang berhasil kita berikan?”

PENUTUP : DARI KEINGINAN MENUJU KESADARAN

Mungkin kehidupan tidak pernah menjanjikan kita bebas dari masalah. Tetapi kehidupan memberi kita kesempatan untuk belajar memahami masalah. Masalah mengajarkan kita tentang keinginan. Keinginan mengajarkan kita tentang kebutuhan. Kebutuhan mengajarkan kita tentang batas. Batas mengajarkan kita tentang rasa cukup. Rasa cukup membawa kita kepada rasa syukur.

Dan rasa syukur perlahan membawa kita kepada kebahagiaan. Pada akhirnya, mungkin kebahagiaan bukan tentang mendapatkan semua yang kita inginkan.

Kebahagiaan adalah ketika kita mampu menyelaraskan apa yang kita inginkan dengan apa yang benar-benar kita butuhkan, menerima kenyataan dengan lapang, dan tetap berusaha menjadi manusia yang lebih baik.

Kita tidak harus memiliki semuanya. Kita tidak harus menjadi yang paling kaya. Kita tidak harus menjadi yang paling hebat. Kita tidak harus selalu menang. Kita hanya perlu memastikan bahwa perjalanan hidup kita memiliki makna. 

Sebab suatu hari nanti, semua yang kita kumpulkan akan kita tinggalkan. Rumah akan kita tinggalkan.Kekayaan akan kita tinggalkan. Jabatan akan kita tinggalkan. Popularitas akan kita tinggalkan. Bahkan tubuh kita sendiri pada akhirnya akan kita tinggalkan. 

Lalu apa yang tersisa?
Mungkin yang tersisa adalah jejak kebaikan yang pernah kita tinggalkan dalam kehidupan orang lain.

Maka barangkali pertanyaan terbaik dalam menjalani kehidupan bukan lagi :
“Berapa banyak yang bisa saya dapatkan?” – Tetapi : “Berapa banyak kebaikan yang bisa saya berikan?” 

Dan bukan lagi : “Apa yang belum saya miliki?” – Melainkan : “Apa yang sudah Tuhan berikan kepada saya, dan apa yang bisa saya lakukan dengan semua itu?” 

Karena pada akhirnya...

hidup bukan perlombaan untuk memiliki sebanyak-banyaknya. Hidup adalah perjalanan untuk memahami siapa diri kita, apa yang benar-benar kita butuhkan, apa yang layak kita perjuangkan, apa yang harus kita lepaskan, dan untuk apa kita diberi kesempatan hidup.

Dan mungkin, di situlah kita akhirnya memahami satu hal sederhana :

Semakin sedikit yang kita tuntut dari kehidupan, semakin banyak yang bisa kita syukuri.

Semakin mampu kita mengendalikan keinginan, semakin bebas kita menjalani kehidupan.

Dan semakin kita menemukan makna, semakin kita memahami arti sebenarnya dari hidup.

whonesiasikoji
whonesiasikoji
Articles: 78

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *