Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482
Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482


Kalau kita lihat secara dingin, persoalan Perindo bukan karena partai ini tidak mempunyai modal.
Justru modalnya cukup banyak:
- Memiliki Jaringan Nasional;
- Memiliki Pengalaman Politik;
- Mempunyai Figur Nasional;
- Mempunyai Sumber Daya Komunikasi Yang Kuat;
- Memiliki Anggota Legislatif di Berbagai Daerah;
- Memiliki Pengalaman Pemilu 2019 dan 2024; Dan
- Mempunyai Positioning Politik Kesejahteraan.
Tetapi ada persoalan mendasar:
Modal politik Perindo belum berubah menjadi kekuatan elektoral nasional yang konsisten.
Pemilu 2024 menjadi bukti paling jelas. Perindo memperoleh sekitar 1,955 juta suara secara nasional, tetapi masih jauh dari ambang batas parlemen 4%. (JDIH KPU)
Jadi pertanyaan strategisnya bukan : “Bagaimana Perindo mendapatkan tambahan suara?”
Tetapi : “Mengapa orang mau memilih Perindo, dan alasan itu cukup kuat untuk membuat mereka memilih Perindo secara konsisten?” Ini jauh lebih fundamental.
Menurut saya, ini adalah operasi paling penting.
Perindo harus bisa menjawab dalam satu kalimat: “Perindo itu partai apa?”
Kalau masyarakat membutuhkan penjelasan panjang untuk menjawab pertanyaan tersebut, berarti positioning politiknya belum cukup tajam.
Partai modern harus memiliki DNA politik.
Contohnya secara konseptual:
PDI-P → nasionalisme kerakyatan
PKS → politik berbasis kader dan nilai keumatan
Golkar → jaringan politik dan pemerintahan
NasDem → restorasi
Gerindra → nasionalisme dan kepemimpinan kuat
Perindo membutuhkan satu ruang politik yang benar-benar menjadi miliknya sendiri.
Saya melihat ruang itu bisa berupa:
Partai Perindo adalah Partai PARTAI PEMBERDAYAAN RAKYAT
Bukan sekadar: “Partai untuk kesejahteraan rakyat.”
Tetapi :“Partai yang membangun kemandirian rakyat.”
Ini berbeda.
Kesejahteraan adalah Hasil.
Pemberdayaan adalah Proses.
Kemandirian adalah Tujuan.
Ini menurut saya titik baliknya.
Partai jangan hanya hidup ketika:
2027 → Mulai Persiapan
2028 → Rekrutmen Caleg
2029 → Kampanye
Tetapi : 2026 → 2029 harus menjadi MASA PEMBUKTIAN.
Bayangkan kalau setiap struktur Perindo mempunyai program nyata untuk masyarakat.
Misalnya :
01. Desa Perindo : Setiap desa memiliki satu program pemberdayaan.
02. Petani Perindo : Pendampingan produksi dan pemasaran.
03. UMKM Perindo : Pendampingan usaha kecil.
04. Pemuda Perindo : Pelatihan kerja, digital, kewirausahaan.
05. Perempuan Perindo : Penguatan ekonomi keluarga.
06. Rumah Diskusi & Aspirasi Perindo : Tempat masyarakat menyampaikan persoalan.
Maka terjadi perubahan besar : Partai tidak lagi datang kepada rakyat untuk meminta suara.
Tetapi : Partai datang kepada rakyat untuk bekerja.
Kemudian suara menjadi konsekuensi, bukan satu-satunya tujuan.
Struktur partai jangan hanya dibangun berdasarkan administrasi.
Kita membutuhkan dua struktur :
Struktur formal
DPP
↓
DPW
↓
DPD
↓
DPC
↓
DPRT
dan
Struktur sosial
Partai
↓
Komunitas
↓
Tokoh masyarakat
↓
Pelaku usaha
↓
Pemuda
↓
Perempuan
↓
Petani
↓
Pekerja
↓
Masyarakat desa
Struktur formal memberikan legitimasi.
Struktur sosial memberikan kehidupan.
Inilah yang saya sebut : “JARINGAN POLITIK ORGANIK”
Bukan jaringan yang aktif hanya menjelang pemilu.
Ini bagian yang sering dilupakan partai.
Partai tidak boleh hanya mencari : Orang Terkenal untuk Menjadi Caleg.
Tetapi harus menciptakan : Orang Biasa Menjadi Pemimpin.
Saya akan membuat jenjang:
KADER DASAR : Memahami nilai dan platform partai.
↓
KADER KOMUNITAS : Aktif menyelesaikan persoalan masyarakat.
↓
KADER PEMIMPIN : Mampu memimpin organisasi.
↓
KADER PUBLIK : Mampu berbicara, berargumentasi, bekerja dan mempertanggungjawabkan kebijakan.
↓
KADER POLITIK : Siap menjadi calon legislatif/kepala daerah.
↓
PEMIMPIN NASIONAL : Dengan sistem seperti ini, partai tidak akan kehabisan calon pemimpin.
Ini salah satu penyakit politik elektoral kita.
Caleg biasanya menjual: “Pilih saya.”
Padahal masyarakat membutuhkan jawaban: “Kalau saya memilih Perindo, Apa yang akan Berubah?”
Maka Perindo harus mempunyai:
10 PROGRAM RAKYAT PERINDO
Misalnya:
01. Kemandirian Ekonomi Rakyat - (Petani + Nelayan + UMKM)
02. Desa Produktif - (Desa harus faham tentang dirinya : strengths and weaknesses)
03. Pertanian Modern - (Sustainable Smart Farming Integrated)
04. Pendidikan Berbasis Budaya dan Keterampilan - (Membangun Manusia Indonesia yang Seutuhnya)
05. Lapangan Kerja untuk para Generasi Muda - (Perindo STARUP)
06. Digitalisasi Ekonomi Rakyat - (Pengejawantahan Dunia dalam Genggaman)
07. Kesehatan Masyarakat - (Memahami Persoalan Stunting Nasional)
08. Reformasi Pelayanan Publik
09. Penguatan Demokrasi dan Partisipasi Masyarakat
10. Mengubah Sampah Plastik menjadi Cuan yang Berkelanjutan (Environment Etic)
Caleg tinggal membawa platform yang sama, tetapi menerjemahkannya sesuai kebutuhan daerah.
Perindo memiliki keuntungan yang tidak semua partai punya : pengalaman dalam ekosistem media dan komunikasi. Tetapi tantangannya adalah mengubah : media communication menjadi political community.
Jangan hanya : membuat konten → mendapatkan views.
Tetapi : konten → diskusi → komunitas → kegiatan → kader → gerakan sosial.
Formula sederhananya :
CONTENT → COMMUNITY → ACTION → CADRE → VOTE
KONTEN → KOMUNITAS → AKSI → KADER → SUARA
Bukan : CONTENT → LIKE
Website DPP adalah Induk Pergerakan
Website DPW adalah Jembatan Komunikasi
Website DPD adalah Kearifan Lokal
Nah, di sinilah saya melihat gagasan yang pernah kita diskusikan tentang “Indonesia Reset dari Desa” bisa menjadi sangat relevan. Kalau Perindo ingin mencari diferensiasi yang kuat, saya justru akan mendorong: “PERINDO DARI DESA UNTUK INDONESIA”
Mengapa? Karena Indonesia bukan hanya Jakarta.
Indonesia adalah: 84.291 desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten, kota, dan komunitas masyarakat.
Partai yang mampu membangun jaringan sosial dari bawah akan memiliki fondasi yang jauh lebih kuat daripada partai yang hanya mengandalkan popularitas elite.
Ini harus diubah total.
Jangan : “Siapa yang Punya Uang dan Popularitas?”
Tetapi : “Siapa yang Mempunyai Rekam Jejak dan Kepercayaan Masyarakat serta Gagasan Kebaruan untuk Dearah dan Indonesia?”
Saya akan membuat 5 indikator calon:
25% Integritas
20% Rekam jejak
20% kemampuan memimpin
20% jaringan sosial
15% kemampuan komunikasi
Dengan demikian, uang bukan menjadi tiket utama.
Partai modern harus tahu :
- Di Mana Basis Suaranya;
- Di Mana Kelemahannya;
- Siapa Kader Aktif;
- Siapa Anggota;
- Apa Persoalan Masyarakat;
- Apa Program yang Sudah Berjalan;
- Berapa Relawan;
- Berapa Komunitas;
- Berapa Tokoh Lokal; dan
- Bagaimana Perkembangan Organisasi dari Waktu ke Waktu.
Data harus digunakan untuk administrasi, organisasi, pelayanan publik, dan strategi umum partai — bukan untuk manipulasi atau profiling politik yang invasif terhadap individu.
Partai masa depan harus menjadi : Data - Driven organization
bukan sekadar : Opinion - Driven organization.
Ini menurut saya sesuatu yang sangat menarik untuk Perindo.
Buat sebuah : PERINDO POLICY & INNOVATION LAB
Tempat untuk Mengembangkan:
- Kebijakan Publik;
- Ekonomi Desa;
- UMKM;
- Pendidikan;
- Teknologi;
- Lingkungan;
- Pertanian;
- Kesehatan;
- Tata Kelola Pemerintahan;
- dan Inovasi Sosial.
Sehingga Perindo tidak hanya memiliki : Politisi
tetapi Partai Perindo juga dapat sebagai : Think Tank + Kader + Inovator + Aktivis Sosial.
Partai oposisi atau partai pendukung pemerintah sebenarnya bukan persoalan utama.
Yang lebih penting adalah: Seperti apa posisi Perindo terhadap kepentingan rakyat?
Prinsipnya:
- Dukung Kalau Benar.
- Kritik Kalau Salah.
- Tawarkan Solusi.
Dengan demikian Perindo bisa mengambil posisi : “PARTAI SOLUSI”
bukan sekadar partai : Pro Pemerintah atau Oposisi Pemerintah.
Saya akan melakukan Rebranding Politik, bukan necessarily mengganti nama atau logo.
Perindo harus memiliki tiga lapisan identitas:
IDENTITAS : Siapa kita? = Partai Persatuan Indonesia (RUH)
IDEOLOGI : Nilai apa yang kita perjuangkan? = Pemberdayaan Masyarakat (Esesnsi)
AKSI : Apa yang sudah kita kerjakan? = Petani + Nelayan + UMKM
Dan masyarakat harus bisa melihat hubungan: IDE → PROGRAM → AKSI → HASIL
Kalau hubungan ini konsisten selama tiga tahun, brand politik akan terbentuk secara organik.
Saya tidak akan langsung berkata: “Perindo harus mendapatkan sekian juta suara.”
Lebih sehat menggunakan tiga lapis KPI (Key Performance Indicator).
KPI 1 — ORGANISASI = Berapa struktur yang aktif?
KPI 2 — MASYARAKAT = Berapa komunitas yang benar-benar dilayani?
KPI 3 — ELEKTORAL = Berapa suara yang diperoleh?
Dengan demikian:
ORGANISASI → GERAKAN → KEPERCAYAAN → SUARA
bukan: UANG → CALEG → KAMPANYE → SUARA
Kalau dibuat seperti hasil pemeriksaan dokter:
ORGAN
Identitas politik
Figur
Media/komunikasi
Struktur
Akar rumput
Kaderisasi
Program rakyat
Diferensiasi
Digital
Elektoral nasional
Desa/komunitas
Peluang 2029
KONDISI
⚠️ Perlu dipertajam
🟢 Kuat
🟢 Potensial kuat
🟡 Perlu penguatan
🔴 Harus diperkuat
🔴 Harus direformasi
🟡 Perlu dikonkretkan
🔴 Belum cukup tajam
🟡 Potensi besar
🔴 Belum aman
🔴 Ruang ekspansi besar
🟢 Masih terbuka
Dan satu fakta harus menjadi alarm adalah :
Perindo mendapatkan sekitar 1,955 juta suara pada Pemilu 2024 dan berada di bawah ambang batas parlemen 4%. (JDIH KPU) Jadi 2029 bukan sekadar pemilu berikutnya.
Bagi Perindo, 2029 adalah: Ujian apakah Perindo mampu bertransformasi dari partai yang memiliki modal politik menjadi partai yang memiliki basis sosial-politik.
Kalau saya diberi kesempatan menyusun konsep strategisnya, saya tidak akan menamakannya sekadar : “Strategi Pemenangan Perindo 2029.”
Saya akan memberi nama :
PERINDO RESET 2029 = Dari Partai Elektoral Menjadi Partai Pemberdayaan Rakyat
Dengan 5 revolusi utama :
REVOLUSI 1 — IDENTITAS : Menemukan DNA politik Perindo.
REVOLUSI 2 — ORGANISASI : Dari struktur administratif menjadi jaringan politik organik.
REVOLUSI 3 — KADERISASI : Dari mencari tokoh menjadi mencetak pemimpin.
REVOLUSI 4 — PEMBERDAYAAN : Dari meminta suara menjadi bekerja untuk rakyat.
REVOLUSI 5 — DESA : Dari politik elite menjadi politik yang tumbuh dari bawah.
Dan saya kira bagian paling menariknya adalah membuat :
“Peta Jalan Perindo 2026–2029”
apa yang harus dilakukan :
- 90 hari pertama, - 1 tahun pertama, - 2027, - 2028, - sampai hari-H Pemilu 2029, lengkap dengan struktur DPP–DPW–DPD–DPC–DPRT, sistem kaderisasi, program desa, digital, rekrutmen caleg, dan indikator keberhasilannya.
Itu sudah bisa kita jadikan Dokumen Blueprint Politik yang Serius, bukan sekadar artikel opini.
Penulis : Wahono - Aktifis & Wakil Ketua II DPW Perindo Jawa Tengah