HUJAN BUKAN BENCANA, KEMARAU BUKAN MUSIBAH

Yang Salah Adalah Cara Kita Mengelola Air

Oleh: Wahono – Aktifis & Sekjend Aliansi Wargo Hutomo

Setiap tahun kita menjalani siklus yang sama. Hujan datang. Kemarau datang. Hujan bukan peristiwa luar biasa. Kemarau juga bukan kejadian yang mengejutkan. Keduanya adalah bagian dari siklus alam yang sudah berlangsung sejak manusia mengenal kehidupan. 

Tetapi yang selalu membuat kita heran adalah : Mengapa setiap tahun kita masih menghadapi persoalan yang sama? - Ketika hujan turun deras, berita tentang banjir, tanah longsor, jalan terputus, rumah terendam, dan gagal panen memenuhi media sosial. 

Beberapa bulan kemudian ketika kemarau datang, berita berganti menjadi kekeringan, kekurangan air bersih, gagal tanam, gagal panen, dan penderitaan petani. Lalu siklus itu berulang. Tahun ini. Tahun depan. Dan tahun berikutnya lagi. 

Pertanyaannya : Apakah kita benar-benar tidak mampu belajar dari kejadian yang sama?

AIR : BERKAH YANG BERUBAH MENJADI BENCANA

Sesungguhnya hujan adalah berkah. Tanpa hujan, tidak ada pertanian. Tidak ada sumber air. Tidak ada sungai yang mengalir. Tidak ada kehidupan sebagaimana yang kita kenal. Tetapi ketika air hujan tidak mampu kita kelola, berkah itu berubah menjadi bencana. 

Air yang seharusnya masuk ke tanah justru mengalir deras di permukaan. Air yang seharusnya disimpan untuk menghadapi kemarau justru terbuang ke sungai dan akhirnya ke laut. Ketika hujan terlalu deras, kita kebanjiran. Ketika hujan berhenti, kita kekeringan. Ironis bukan? 

Kita bisa mengalami banjir ketika air terlalu banyak, sekaligus mengalami kekeringan ketika air terlalu sedikit. Padahal keduanya sesungguhnya adalah persoalan yang saling berkaitan : Kita gagal mengelola air.

MASALAHNYA BUKAN HUJAN DAN KEMARAU

Kita terlalu sering menyalahkan keadaan. “Ini karena hujan ekstrem.” - “Ini karena perubahan iklim.” -“Ini karena kemarau panjang.” Semua itu mungkin benar dan harus diperhitungkan. Tetapi ada pertanyaan yang lebih penting : Apa yang sudah kita lakukan sebelum hujan datang? Dan : Apa yang sudah kita persiapkan sebelum kemarau tiba? 

Sebab pemerintah yang baik bukan hanya pemerintah yang cepat memberikan bantuan ketika bencana terjadi. Pemerintahan yang baik adalah pemerintahan yang mampu membangun sistem agar masyarakat tidak terus-menerus menjadi korban dari persoalan yang sebenarnya dapat diprediksi.

JANGAN TUNGGU BANJIR UNTUK BERPIKIR TENTANG AIR

Kita sering baru sibuk setelah banjir terjadi. Drainase diperbaiki. Sungai dibersihkan. Bantuan diberikan. Rapat digelar. Pernyataan dikeluarkan. Kamera pun bekerja. Setelah banjir surut, perhatian perlahan ikut surut. Sampai hujan berikutnya datang. 

Begitu pula ketika kekeringan terjadi. Air bersih didistribusikan. Bantuan diberikan. Sumur dibor. Foto kegiatan dipublikasikan. Setelah hujan kembali turun, persoalan seolah selesai. Padahal belum tentu.Karena yang diselesaikan sering kali adalah gejalanya, bukan sistem penyebabnya.

AIR HUJAN HARUS DISIMPAN, BUKAN SEKADAR DIALIRKAN

Sudah waktunya paradigma pengelolaan air kita berubah. Kita tidak boleh hanya berpikir : “Bagaimana membuang air hujan secepat mungkin agar tidak banjir?” - Tetapi juga harus berpikir : “Bagaimana menahan, menyimpan, meresapkan, dan memanfaatkan air hujan sebanyak mungkin untuk kehidupan?” 

Air hujan harus menjadi cadangan. Embung harus diperbanyak. Daerah resapan harus dijaga.Mata air harus dilindungi. Hutan dan lahan harus dikonservasi. Irigasi harus dibangun dan dirawat. Kolam retensi, sumur resapan, penampungan air dan berbagai teknologi pengelolaan air harus menjadi bagian dari perencanaan pembangunan. 

Karena : Air yang kita buang ketika musim hujan, bisa jadi adalah air yang kita cari ketika musim kemarau. Inilah logika sederhana yang seharusnya menjadi dasar kebijakan.

PETANI JANGAN HANYA DIBERI BANTUAN, TETAPI DIBERI KEPASTIAN

Petani adalah kelompok yang paling merasakan dampak buruk dari ketidakmampuan kita mengelola air. Ketika hujan terlalu banyak, tanaman rusak. Ketika kemarau terlalu panjang, tanaman tidak bisa ditanam. Akhirnya petani mengalami gagal tanam atau gagal panen. 

Kemudian pemerintah datang memberikan bantuan. Tentu bantuan itu penting. Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar : Mengapa kita terus-menerus membantu petani setelah mereka gagal, tetapi belum cukup serius membangun sistem agar mereka tidak gagal? 

Petani tidak hanya membutuhkan bantuan. Mereka membutuhkan kepastian air, kepastian irigasi, kepastian produksi, kepastian pasar, dan kepastian masa depan.

BENCANA JANGAN DIJADIKAN PANGGUNG PENCITRAAN

Di sinilah kita perlu berbicara lebih jujur. Bencana memang membutuhkan solidaritas.Ketika rakyat mengalami kesulitan, pemerintah, partai politik, organisasi masyarakat, dunia usaha dan masyarakat sipil harus hadir. 

Tetapi jangan sampai penderitaan rakyat berubah menjadi panggung pencitraan. Jangan sampai bantuan lebih sibuk difoto daripada masalahnya diselesaikan. Jangan sampai banjir menjadi kesempatan untuk menunjukkan siapa yang paling peduli. Jangan sampai kekeringan menjadi panggung untuk menunjukkan siapa yang paling dermawan. 

Sebab rakyat tidak membutuhkan sekadar foto kehadiran. Rakyat membutuhkan solusi dan perubahan. Rakyat tidak membutuhkan pahlawan yang datang setiap kali bencana terjadi. Rakyat membutuhkan sistem yang mampu mencegah bencana sebelum terjadi.

ORANG PINTAR MENYELESAIKAN MASALAH, ORANG BIJAK MENCEGAHNYA

Ada sebuah kalimat sederhana yang layak kita renungkan : Orang pintar mampu menyelesaikan persoalan. Tetapi : Orang bijak mampu mencegah persoalan. Dan dalam kehidupan politik, ada pula tipe yang berbeda. Kaum Sengkuni. Mereka bukan tidak pintar. Justru mungkin sangat pintar membaca situasi. Tetapi kepintarannya digunakan untuk memanfaatkan keadaan demi kepentingan sendiri. 

Ketika rakyat susah, mereka mencari panggung. Ketika masyarakat terpecah, mereka mencari keuntungan. Ketika terjadi persoalan, mereka mencari popularitas. Dan yang paling menyedihkan adalah mereka yang memilih diam dan pasrah. 

Maka bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang bijak, bukan sekadar orang pintar. Kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pandai menjelaskan mengapa masalah terjadi. Tetapi mampu mengatakan : “Inilah yang harus kita lakukan agar masalah itu tidak terjadi lagi.”

DARI POLITIK PENCITRAAN MENUJU POLITIK PENYELESAIAN

Sudah waktunya ukuran keberhasilan pembangunan kita berubah. Jangan hanya mengukur :
Berapa banyak bantuan yang dibagikan?
Berapa kali pejabat turun ke lapangan?
Berapa banyak kegiatan yang dipublikasikan?
Berapa banyak spanduk yang dipasang?


Tetapi ukur juga :
Berapa banyak banjir yang berhasil dicegah?
Berapa banyak air hujan yang berhasil disimpan?
Berapa banyak lahan pertanian yang mampu bertahan ketika kemarau?
Berapa banyak petani yang berhasil diselamatkan dari gagal tanam dan gagal panen?
Berapa banyak sumber mata air yang berhasil dipertahankan? 

Karena pembangunan bukan tentang seberapa banyak kita terlihat bekerja.
Pembangunan adalah tentang seberapa besar masalah rakyat benar-benar berkurang.

JANGAN WARISKAN MASALAH YANG SAMA KEPADA GENERASI BERIKUTNYA

Kita tidak bisa mengendalikan hujan. Kita tidak bisa menghentikan kemarau. Kita tidak bisa sepenuhnya mengendalikan perubahan iklim. Tetapi kita bisa memilih :

Apakah air hujan akan menjadi bencana atau menjadi cadangan kehidupan.
Apakah musim kemarau akan menjadi krisis atau menjadi musim yang sudah kita antisipasi.
Apakah petani akan terus menjadi korban atau menjadi bagian dari sistem ketahanan pangan yang kuat.

Dan kita bisa memilih jenis kepemimpinan seperti apa yang kita inginkan. Kepemimpinan yang hanya datang setelah masalah terjadi? - Atau kepemimpinan yang bekerja sebelum masalah datang?

HUJAN ADALAH BERKAH.
KEMARAU ADALAH SIKLUS ALAM.

Yang harus kita ubah bukan alamnya. Yang harus kita ubah adalah cara berpikir kita.Berhenti menjadi bangsa yang selalu reaktif. Berhenti membangun solusi setelah bencana. Berhenti menjadikan penderitaan rakyat sebagai panggung pencitraan. 

Mulailah membangun budaya antisipasi. Mulailah membangun ketahanan air. Mulailah mengubah air hujan menjadi cadangan kehidupan. Dan mulailah membangun politik yang ukurannya bukan sekadar seberapa sering hadir di tengah masalah, tetapi seberapa banyak masalah yang berhasil dicegah. 

Sebab pada akhirnya :
Orang pintar sibuk menyelesaikan masalah.
Orang bijak mencegah masalah.
Kaum Sengkuni memanfaatkan masalah.
Sedangkan orang bodoh hanya diam dan pasrah melihat masalah berulang. 

Maka pilihannya ada di tangan kita :
Mau terus menjadi bangsa yang sibuk mengatasi bencana, atau menjadi bangsa yang cukup bijak untuk mencegahnya? 

Karena hujan bukan bencana. Kemarau bukan musibah. Yang menjadi masalah adalah ketika kita tahu keduanya pasti datang, tetapi tetap tidak menyiapkan apa-apa. 

whonesiasikoji
whonesiasikoji
Articles: 78

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *