BLUEPRINT KOTA PARIWISATA BANJARNEGARA TAHUN 2030–2035

Sebuah Positioning Daerah
Menuju Banjarnegara yang Maju dan Sejahtera

Penulis & Penggagas : Wahono – Aktivis & Sekjend Aliansi Wargo Hutomo

I. GAGASAN BESAR

BANJARNEGARA HARUS MEMILIKI ARAH

Banjarnegara telah memasuki usia 455 tahun. Lebih dari empat abad perjalanan sejarah telah dilalui. Namun usia yang panjang tidak otomatis membuat sebuah daerah memiliki positioning yang kuat. Di tengah persaingan antardaerah yang semakin tajam, setiap daerah perlu menjawab satu pertanyaan mendasar : Banjarnegara ingin dikenal sebagai apa? 

Inilah titik awal gagasan Banjarnegara Kota Pariwisata. Kota Pariwisata dalam blueprint ini bukan perubahan status administratif Kabupaten Banjarnegara menjadi kota. “Kota Pariwisata” adalah sebuah positioning atau identitas pembangunan daerah. 

Artinya, Banjarnegara diposisikan sebagai sebuah destination city : daerah tujuan wisata yang mengintegrasikan alam, sejarah, budaya, desa, ekonomi kreatif, UMKM, SDM dan industri pariwisata dalam satu ekosistem.

II. GRAND VISION

BANJARNEGARA KOTA PARIWISATA

Menjadikan Banjarnegara sebagai destination city berbasis alam, sejarah, budaya, desa dan ekonomi kreatif yang mampu menggerakkan industri pariwisata serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Visi tersebut dibangun dengan satu prinsip :

PARIWISATA BUKAN TUJUAN AKHIR.
PARIWISATA ADALAH INSTRUMEN MENUJU KESEJAHTERAAN.

Karena itu, pembangunan pariwisata harus memberikan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap :
1. Lapangan Pekerjaan;
2. Pendapatan Masyarakat;
3. UMKM;
4. Desa;
5. Ekonomi Kreatif;
6. Investasi;
7. Kebudayaan;
8. Infrastruktur;
9. Dan Kualitas Hidup Masyarakat.

III. GRAND PRINCIPLE

DARI POTENSI MENJADI KESEJAHTERAAN

Banjarnegara tidak kekurangan potensi. Kita memiliki : sumber daya manusia, sumber daya alam, sejarah, budaya, kesenian, desa, UMKM, ekonomi kreatif, dan berbagai potensi lokal lainnya. Masalahnya bukan semata-mata kekurangan potensi. Persoalannya adalah bagaimana potensi-potensi tersebut digali, dikembangkan, dihubungkan dan dikemas menjadi kekuatan daerah. Karena itu blueprint ini mempunyai rantai nilai :

POTENSI
↓
IDENTITAS
↓
POSITIONING
↓
BRAND
↓
DESTINASI
↓
EKOSISTEM
↓
INDUSTRI PARIWISATA
↓
EKONOMI
↓
KESEJAHTERAAN

Inilah DNA pembangunan Banjarnegara Kota Pariwisata.

IV. PARIWISATA :

IBUKAN SEKADAR WISATA

Ini merupakan prinsip yang sangat penting. WISATA ≠ PARIWISATA
Wisata berbicara mengenai aktivitas kunjungan ke sebuah objek. Sementara pariwisata berbicara mengenai sebuah industri dan ekosistem ekonomi.

Ketika kita membangun pariwisata, kita harus berbicara mengenai :
01. Destinasi;
02. Transportasi;
03. Akomodasi;
04. Restoran;
06. Kuliner;
07. UMKM;
08. Ekonomi kreatif;
09. Event;
10. SDM;
11. Keamanan;
12. Kebersihan;
13. Digitalisasi;
14. Promosi;
15. Investasi;
16. Dan pelayanan.

Karena itu, pembangunan pariwisata memang membutuhkan biaya besar. High cost. Tetapi jika dikelola secara profesional, pariwisata juga mempunyai multiplier effect yang besar. Satu wisatawan bisa menghidupkan banyak sektor : hotel → transportasi → restoran → UMKM → desa → seniman → petani → ekonomi kreatif.

Itulah mengapa Banjarnegara harus berpikir dalam kerangka industri pariwisata, bukan sekadar menambah jumlah objek wisata.

V. POSITIONING BANJARNEGARA

BANJARNEGARA DESTINATION CITY

Positioning yang ditawarkan :  BANJARNEGARA — DESTINATION CITY OF NATURE, CULTURE & COMMUNITY 
Atau dalam bahasa sederhana : Banjarnegara: Destinasi Alam, Budaya dan Kehidupan Masyarakat.
Positioning tersebut harus dibangun dari DNA asli Banjarnegara, bukan sekadar slogan yang dibuat oleh biro iklan.

VI. ARSITEKTUR DESTINASI BANJARNEGARA

Banjarnegara perlu membangun sistem destinasi berlapis.

LEVEL 1 — INTERNATIONAL MAGNETDIENG

Dieng menjadi salah satu magnet utama Banjarnegara.
Kekuatan Dieng :
01. Alam;
02. Pegunungan;
03. Sejarah;
05. Candi;
06. Budaya;
07. Tradisi;
08. Landscape;
09. Kuliner;
10. Event.

Target :
Dieng menjadi gateway internasional menuju pengalaman Banjarnegara.

VII. LEVEL 2 — NATIONAL MAGNET

Banjarnegara membutuhkan minimal dua destinasi berdaya ungkit nasional.

NATIONAL MAGNET #1

RAFTING

Rafting menjadi salah satu ikon adventure tourism Banjarnegara. Yang perlu dilakukan bukan hanya mempertahankan eksistensinya, tetapi meningkatkan :
01. Kualitas;
02. Keamanan;
03. Fasilitas;
04. Promosi;
05. Paket wisata;
06. Event;
07. Dan integrasinya dengan destinasi lain.

NATIONAL MAGNET #2

Banjarnegara perlu menetapkan satu destinasi potensial lain untuk dikembangkan menjadi magnet nasional baru. Penentuannya harus berdasarkan kajian : keunikan + aksesibilitas + daya tarik + kapasitas + keamanan + pasar + investasi.

VIII. LEVEL 3 — REGIONAL MAGNET

Banjarnegara membutuhkan sedikitnya tiga destinasi regional.

REGIONAL MAGNET #1
TAMAN SERULINGMAS

Kemudian ditentukan :

REGIONAL MAGNET #2
dan
REGIONAL MAGNET #3

Kedua destinasi baru tidak harus selalu dibangun dari nol.Prinsipnya : 
Find → Develop → Upgrade → Brand → Promote
Cari potensi. Kembangkan. Naikkan kelas. Bangun brand. Promosikan.

IX. LEVEL 4 — DESA WISATA

Desa merupakan salah satu kunci utama.
Setiap magnet besar harus mempunyai desa-desa penyangga.
Modelnya:

DESTINASI BESAR
↓
DESTINASI REGIONAL
↓
DESA WISATA
↓
UMKM
↓
EKONOMI MASYARAKAT

Dengan demikian, pembangunan pariwisata tidak berhenti di kawasan objek wisata.
Manfaat ekonomi harus masuk ke desa.

X. LEVEL 5 — LOCAL TOURISM

Setiap kecamatan perlu dipetakan berdasarkan :
01. Alam;
02. Sejarah;
03. Budaya;
04. Kuliner;
05. Pertanian;
06. Peternakan;
07. Kerajinan;
08. Kesenian;
09. Ekonomi kreatif;
10. Dan karakter masyarakat.
Tidak semua desa harus menjadi destinasi.
Tetapi setiap desa harus mempunyai peluang untuk masuk ke dalam rantai nilai pariwisata.

XI. BANJARNEGARA CULTURAL IDENTITY

Pariwisata tanpa identitas budaya akan mudah kehilangan karakter. Karena itu Banjarnegara membutuhkan Cultural Branding.

1. EMBEG / KUDA KEPANG

Menurut data yang menjadi dasar gagasan ini, terdapat lebih dari 350 kelompok kesenian Embeg/Kuda Kepang di Banjarnegara. Angka tersebut menunjukkan bahwa kesenian ini memiliki akar sosial yang kuat.Maka perlu dilakukan :

EMBEG CULTURAL DEVELOPMENT

Meliputi :
01. Pendataan kelompok;
02. Dokumentasi;
03. Regenerasi seniman;
04. Festival;
05. Kompetisi;
06. Pendidikan;
07. Pertunjukan rutin;
08. Digital content;
09. Merchandise;
10. Dan pengembangan ekonomi kreatif.

Target jangka panjang :
BANJARNEGARA EMBEG FESTIVAL
Bahkan tidak menutup kemungkinan berkembang menjadi event berskala nasional.

XII. CABLAKA SEBAGAI CULTURAL CHARACTER

Banjarnegara juga perlu menggali karakter Cablaka sebagai bagian dari identitas budaya.
Pertanyaan yang perlu dijawab :
Apa karakter khas Cablaka Banjarnegara?

Apakah :
01. Terbuka?
02. Jujur?
03. Apa adanya?
04. Bersahaja?
05. Berani?
06. Humoris?
07. Dekat dengan masyarakat?

Kajian budaya diperlukan agar karakter tersebut dapat diterjemahkan menjadi personality brand Banjarnegara.

XIII. THE 10 TOURISM ENGINES

Agar pariwisata menjadi industri, Banjarnegara perlu membangun minimal sepuluh mesin ekonomi :

1. NATURE TOURISM = Wisata alam dan pegunungan.
2. CULTURAL TOURISM = Seni dan tradisi.
3. HERITAGE TOURISM = Sejarah dan peninggalan budaya.
4. ADVENTURE TOURISM = Rafting, trekking, camping dan petualangan.
5. VILLAGE TOURISM = Desa wisata berbasis masyarakat.
6. CULINARY TOURISM = Kuliner khas Banjarnegara.
7. CREATIVE ECONOMY = Desain, kriya, fashion, musik, konten dan kreativitas.
8. EVENT TOURISM = Festival, olahraga, konser, pameran dan event budaya.
9. AGRO TOURISM = Pertanian, perkebunan dan peternakan.
10. DIGITAL TOURISM = Platform digital dan pemasaran digital terpadu.

XIV. BANJARNEGARA TOURISM CIRCLE

Semua komponen harus saling terhubung.
DIENG
↓
MAGNET NASIONAL
↓
MAGNET REGIONAL
↓
DESA WISATA
↓
KULINER
↓
UMKM
↓
KESENIAN
↓
HOMESTAY
↓
EKONOMI KREATIF
↓
WISATAWAN

Tujuannya sederhana : 
Satu wisatawan harus mampu menghidupkan sebanyak mungkin sektor ekonomi lokal.

XV. TOURISM MULTIPLIER EFFECT

Kita harus mengubah cara menghitung keberhasilan pariwisata.
Bukan hanya : Berapa wisatawan yang datang?
Tetapi : Berapa rupiah yang dibelanjakan wisatawan dan berapa banyak yang berputar di masyarakat Banjarnegara? 

Karena itu indikator yang perlu diperhatikan antara lain :
Jumlah wisatawan → Lama tinggal → Pengeluaran → Transaksi UMKM → Lapangan Kerja → Pendapatan Masyarakat.
Inilah yang menjadi Tourism Multiplier Effect.

XVI. BANJARNEGARA TOURISM DIGITAL PLATFORM

Banjarnegara membutuhkan satu ekosistem digital pariwisata. Nama brand dapat ditentukan melalui kajian lebih lanjut. Salah satu gagasan:

VISIT BANJARNEGARA

Platform tersebut dapat mengintegrasikan :
01. Destinasi;
02. Hotel;
03. Homestay;
04. Restoran;
05. Kuliner;
06. Transportasi;
07. Event;
08. Desa wisata;
09. UMKM;
10. Paket perjalanan;
11. Tiket;
12. Peta digital;
13. Kalender wisata;
14. Marketplace produk lokal.
Target :
Wisatawan mengenal Banjarnegara sebelum mereka datang.

XVII. BANJARNEGARA ANNUAL EVENT CALENDAR

Daerah pariwisata membutuhkan alasan agar wisatawan datang sepanjang tahun.Karena itu diperlukan :

BANJARNEGARA ANNUAL EVENT CALENDAR

Event dapat dikembangkan berdasarkan :
01. Budaya;
02. Olahraga;
03. Kuliner;
04. Musik;
05. Kreativitas;
06. Sejarah;
07. Desa;
08. Ekonomi kreatif;
09. Dan alam. 

Contoh flagship event : 
01. DIENG CULTURAL FESTIVAL
02. BANJARNEGARA EMBEG FESTIVAL
03. BANJARNEGARA ADVENTURE FESTIVAL
04. BANJARNEGARA CULINARY FESTIVALBAN
05. JARNEGARA CREATIVE ECONOMY FESTIVAL
06. BANJARNEGARA TOURISM SUMMIT


Prinsipnya :
Setiap bulan harus selalu ada alasan bagi orang untuk datang ke Banjarnegara.

XVIII. BANJARNEGARA TOURISM PASS

Dalam tahap pengembangan digital, dapat dirancang :

BANJARNEGARA TOURISM PASS

Contohnya :
1 Day Pass - Family Pass
2 Days Pass - Adventure Pass
3 Days Pass - Culture Pass
Sistem ini dapat mengintegrasikan tiket, promo, rute perjalanan dan berbagai layanan wisata.

XIX. PENTAHELIX PARIWISATA

Pariwisata tidak mungkin dibangun hanya oleh pemerintah.Diperlukan : 
GOVERNMENT : Regulator dan fasilitator.
ACADEMIA : Riset, kajian dan inovasi.
BUSINESS : Investasi dan pengembangan usaha.
COMMUNITY : Pelaku sekaligus penjaga budaya.
MEDIA : Promosi dan pembentukan citra.Maka dibangun:

PENTAHELIX PARIWISATA BANJARNEGARA

Pemerintah + Akademisi + Dunia Usaha + Komunitas + Media
dalam satu ekosistem pembangunan.

XX. ROADMAP 2030–2035

2030 — FOUNDATION
“MENENTUKAN ARAH”

Fokus :
01. Audit Seluruh Potensi;
02. Pemetaan Destinasi;
03. Pemetaan Budaya;
04. Pemetaan Sdm;
05. Pemetaan Umkm;
06. Kajian Positioning;
07. Penentuan Brand;
08. Penyusunan Masterplan;
09. Penetapan Destinasi Prioritas.
Output : 
BANJARNEGARA TOURISM MASTERPLAN

2031 — CONSOLIDATION
“MEMBANGUN EKOSISTEM”

Program :
01. Peningkatan Kualitas Destinasi;
02. Penguatan SDM;
03. Desa Wisata;
04. Homestay;
05. UMKM;
06. Kuliner;
07. Digitalisasi;
08. Aksesibilitas;
09. Event.
Output : 
BANJARNEGARA TOURISM ECOSYSTEM

2032 — ACCELERATION
“BANJARNEGARA GO NATIONAL”

Fokus :
01. Promosi Nasional;
02. Digital Marketing;
03. Influencer;
04. Travel Operator;
05. Media;
06. Event Nasional;
07. Investasi.
Target : 
Banjarnegara menjadi salah satu tujuan wisata yang semakin dikenal secara nasional.

2033 — EXPANSION
“BANJARNEGARA GO INTERNATIONAL”

Fokus :
01. Pasar ASEAN;
02. Pasar Asia;
03. Wisatawan Mancanegara;
04. International Event;
05. Investasi Pariwisata;
06. Peningkatan Standar Layanan.
Target : 
Banjarnegara mulai masuk radar pasar pariwisata internasional.

2034–2035 — MATURITY
“TOURISM AS ECONOMIC ENGINE”

Pada tahap ini pariwisata diharapkan telah berkembang menjadi salah satu : 

LOKOMOTIF EKONOMI BANJARNEGARA

Pariwisata bukan lagi sekadar program pemerintah.
Tetapi menjadi : Ekosistem Ekonomi Masyarakat.

XXI. 12 PROGRAM STRATEGIS

Blueprint ini dapat diterjemahkan menjadi dua belas program besar : 
01 — BANJARNEGARA TOURISM MASTERPLAN : Peta besar pembangunan pariwisata.
02 — DESTINATION DEVELOPMENT : Pengembangan destinasi prioritas.
03 — VILLAGE TOURISM : Pengembangan desa wisata.
04 — CULTURAL IDENTITY : Penguatan budaya dan kesenian.
05 — UMKM TOURISM : Integrasi UMKM dengan rantai pariwisata.
06 — CREATIVE ECONOMY : Pengembangan industri kreatif.
07 — HUMAN CAPITAL : Pendidikan dan pelatihan SDM pariwisata.
08 — DIGITAL TOURISM : Digitalisasi destinasi dan layanan.
09 — EVENT TOURISM : Kalender event sepanjang tahun.
10 — TOURISM INVESTMENT : Mendorong investasi pariwisata.
11 — INFRASTRUCTURE : Akses, konektivitas, sanitasi, kebersihan dan fasilitas.
12 — BRANDING & PROMOTION : Membangun brand Banjarnegara secara konsisten.

XXII. TARGET 2035

Blueprint ini harus mempunyai target yang terukur.
Setidaknya indikatornya meliputi :
01. Peningkatan Jumlah Wisatawan;
02. Peningkatan Lama Tinggal;
03. Peningkatan Belanja Wisatawan;
04. Pertumbuhan Umkm Pariwisata;
05. Peningkatan Tenaga Kerja;
06. Peningkatan Desa Wisata Aktif;
07. Peningkatan Event;
08. Peningkatan Investasi;
09. Peningkatan Kontribusi Ekonomi Pariwisata;
10. Peningkatan Pendapatan Masyarakat Di Kawasan Destinasi.

Angka targetnya perlu ditetapkan setelah dilakukan baseline study pada tahun 2030.
Prinsipnya : 
Kita tidak boleh menetapkan target berdasarkan perkiraan.
Target harus berdasarkan data awal yang terukur.

XXIII. GOVERNANCE

Blueprint membutuhkan satu sistem pengelolaan yang jelas.
Diperlukan : 

BANJARNEGARA TOURISM BOARD

atau bentuk kelembagaan lain yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Fungsinya antara lain :
01. Koordinasi;
02. Branding;
03. Promosi;
04. Investasi;
05. Event;
06. Riset;
07. Pengembangan Destinasi;
08. Kemitraan;
09. Dan Evaluasi.
Dengan demikian program pariwisata tidak terfragmentasi antarinstansi dan antarprogram.

XXIV. PRINSIP PEMBANGUNAN

Seluruh pembangunan pariwisata Banjarnegara harus berpegang pada prinsip : 
1. COMMUNITY BASED : Masyarakat menjadi pelaku utama.
2. SUSTAINABLE : Alam tidak boleh dikorbankan demi wisata.
3. CULTURE BASED : Budaya menjadi identitas.
4. PROFESSIONAL : Dikelola dengan standar industri.
5. DIGITAL : Memanfaatkan teknologi.
6. INCLUSIVE : Manfaatnya dirasakan sebanyak mungkin masyarakat.
7. COLLABORATIVE : Dikerjakan bersama.
8. DATA DRIVEN : Berbasis data dan kajian.

XXV. RISIKO YANG HARUS DIHINDARI

Membangun industri pariwisata juga memiliki risiko.
Jangan sampai :

1. Alam Rusak Karena Eksploitasi;
2. Budaya Kehilangan Makna Karena Komersialisasi;
3. Masyarakat Lokal Hanya Menjadi Penonton;
4. Investasi Hanya Menguntungkan Segelintir Pihak;
5. Destinasi Ramai Tetapi Ekonomi Masyarakat Tidak Tumbuh;
6. Pembangunan Terlalu Berorientasi Fisik;
8. Branding Besar Tetapi Pelayanan Buruk.


Karena itu prinsipnya harus jelas : 
PARIWISATA HARUS TUMBUH BERSAMA MASYARAKAT, BUKAN DI ATAS MASYARAKAT.

XXVI. THE BIG FORMULA

Seluruh blueprint ini dapat diringkas menjadi satu formula : 
POTENSI
Alam + SDM + Sejarah + Budaya
↓
IDENTITAS
Menemukan DNA Banjarnegara
↓
POSITIONING
Banjarnegara Kota Pariwisata
↓
DESTINASI
International + National + Regional + Local
↓
EKOSISTEM
Desa + UMKM + Kuliner + Seni + Ekraf
↓
INDUSTRI
Investasi + SDM + Digital + Event + Infrastruktur
↓
BRAND
Banjarnegara Experience
↓
ECONOMIC IMPACT
Lapangan Kerja + Pendapatan + Investasi
↓
FINAL GOAL
BANJARNEGARA MAJU DAN SEJAHTERA

XXVII. PENUTUP

Banjarnegara tidak kekurangan potensi.
Yang kita perlukan adalah arah. 

Kita membutuhkan keberanian untuk menentukan positioning.
Kita membutuhkan perencanaan.
Kita membutuhkan investasi.
Kita membutuhkan SDM.
Kita membutuhkan kolaborasi.
Dan kita membutuhkan konsistensi.

Setelah 455 tahun perjalanan sejarah, mungkin sudah waktunya Banjarnegara tidak lagi hanya bertanya : 
“Apa yang kita punya?” - Tetapi mulai bertanya : “Apa yang akan kita lakukan dengan apa yang kita punya?”

Sebab daerah yang maju bukanlah daerah yang memiliki potensi paling banyak. Daerah yang maju adalah daerah yang mampu mengubah potensinya menjadi kekuatan. Dan kekuatan itu kemudian diubah menjadi : 
01. Identitas,
02. Brand,
03. Industri,
04. Lapangan Pekerjaan,
05. Pertumbuhan Ekonomi,

Dan akhirnya berujung pada : KESEJAHTERAAN MASYARAKAT.

Maka gagasan : BANJARNEGARA KOTA PARIWISATA 2030–2035
Bukanlah sekadar slogan. Ia adalah sebuah ajakan untuk mengubah cara berpikir tentang pembangunan Banjarnegara.

Dari : wisata → pariwisata.
Dari : Objek → Ekosistem.
Dari : Potensi → Industri.
Dari : Identitas Samar → Identitas Yang Kuat.
Dari : Pembangunan Parsial → Pembangunan Terintegrasi. dan
Dari : Potensi → Kesejahteraan.

BANJARNEGARA KOTA PARIWISATA
Dari Potensi Menjadi Identitas.
Dari Identitas Menjadi Kekuatan.
Dari Kekuatan Menjadi Kesejahteraan.

Banjarnegara → Jawa Tengah → Indonesia → Dunia.Bagi mereka yang berpikir. 

THIS IS BLUE PRINT 
KOTA PARIWISATA BANJARNEGARA
TAHUN 2030–2035

Sebuah Positioning Daerah Menuju Banjarnegara yang Maju dan Sejahtera
By : Wahono

whonesiasikoji
whonesiasikoji
Articles: 78

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *