EMBEG – KESENIAN RAKYAT BANJARNEGARA YANG TAK LEKANG OLEH ZAMAN

Lebih dari 300 kelompok, tumbuh di tengah masyarakat, dan terus hidup dari generasi ke generasi.

Oleh : Wahono – Aktifis & Sekjend Aliansi Wargo Hutomo

Ketika kita berbicara tentang kesenian rakyat Banjarnegara, pertanyaan sederhananya adalah : Kesenian apa yang paling mengakar, paling merata, dan paling mampu bertahan hidup di tengah masyarakat Banjarnegara dari generasi ke generasi? 

Jawabannya barangkali ada pada sebuah kesenian yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat : Embeg atau Kuda Kepang. Bukan karena kita ingin mengklaim bahwa Embeg adalah kesenian asli atau hanya milik Banjarnegara. Bukan pula untuk menafikan keberadaan berbagai kesenian lain yang hidup dan berkembang di daerah ini. 

Namun, jika kita melihat dari sebaran, jumlah kelompok, keberlangsungan, dan kedekatannya dengan masyarakat, Embeg/Kuda Kepang memiliki posisi yang sangat kuat untuk disebut sebagai kesenian rakyat Banjarnegara.

Lebih dari 300 Kelompok Embeg

Berdasarkan data dari komunitas paguyuban kesenian Embeg/Kuda Kepang Banjarnegara, BAMBU AJI, pada tahun 2026 jumlah kelompok Embeg/Kuda Kepang di Banjarnegara diperkirakan telah mencapai lebih dari 300 kelompok. 

Angka ini menarik jika kita bandingkan dengan jumlah wilayah administratif Banjarnegara. Kabupaten Banjarnegara memiliki 278 desa dan kelurahan. Artinya, secara sederhana, jumlah kelompok Embeg/Kuda Kepang bahkan lebih banyak daripada jumlah desa dan kelurahan yang ada di Banjarnegara. 

Tentu angka tersebut tidak otomatis berarti setiap desa memiliki satu kelompok Embeg. Tetapi angka ini memberikan gambaran betapa luas dan kuatnya akar kesenian Embeg/Kuda Kepang di tengah masyarakat Banjarnegara. 

Ia tidak hanya hidup di panggung pertunjukan. Ia hidup di kampung-kampung. Hidup dalam kegiatan masyarakat. Hidup dalam hajatan. Hidup dalam acara budaya. Hidup dalam perayaan masyarakat. Dan yang paling penting, ia terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Kesenian yang Melampaui Zaman

Ada sesuatu yang menarik dari Embeg/Kuda Kepang. Ia telah melewati perjalanan sejarah yang panjang. Dari masa perjuangan, masa kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, hingga memasuki era digital seperti sekarang, kesenian ini tetap menemukan ruang untuk hidup. 

Zaman berubah. Teknologi berubah. Selera masyarakat berubah. Generasi berganti. Namun Embeg tetap muncul kembali di tengah masyarakat. Inilah salah satu kekuatan terbesar kesenian rakyat. Ia tidak hidup karena instruksi pemerintah. Ia tidak hidup karena proyek. Ia hidup karena masyarakat masih merasa memiliki.

Dan sesuatu yang mampu bertahan karena masih dicintai masyarakat sesungguhnya mempunyai nilai budaya yang sangat besar.

Bukan Milik Banjarnegara, Tetapi Menjadi Identitas Banjarnegara

Kita tentu tidak perlu mengatakan : “Embeg adalah milik Banjarnegara.” - Sebab kesenian Embeg/Kuda Kepang juga dikenal dan berkembang di berbagai daerah di Jawa dan Nusantara dengan berbagai nama, bentuk, karakter, serta tradisi yang berbeda. 

Kita tidak perlu melakukan klaim kepemilikan. Yang jauh lebih penting adalah melihat realitas sosial-budaya yang berkembang di Banjarnegara. Jika sebuah kesenian tumbuh luas di masyarakat, memiliki ratusan kelompok, dimainkan oleh berbagai lapisan masyarakat, diwariskan lintas generasi, dan terus bertahan melewati perubahan zaman, maka kesenian tersebut layak mendapatkan perhatian sebagai bagian dari identitas budaya daerah. 

Dalam konteks itulah kita dapat mengatakan : Embeg/Kuda Kepang adalah salah satu representasi terkuat kesenian rakyat Banjarnegara. Bahkan, berdasarkan realitas sebaran dan eksistensinya, kita berani mengangkat gagasan yang lebih kuat, yakni : “KESENIAN RAKYAT BANJARNEGARA ADALAH EMBEG.” 

Kalimat tersebut bukanlah klaim bahwa Embeg hanya ada di Banjarnegara. Melainkan sebuah positioning budaya. Sebuah cara untuk mengatakan kepada masyarakat luas : Jika ingin melihat salah satu wajah kesenian rakyat Banjarnegara, lihatlah Embeg.

Dari Kesenian Menjadi Identitas Daerah

Persoalannya kemudian bukan lagi sekadar : “Berapa banyak kelompok Embeg di Banjarnegara?” – Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah : “Apa yang akan kita lakukan dengan potensi sebesar itu?” 

Lebih dari 300 kelompok bukan sekadar angka. Di dalamnya terdapat ribuan pelaku seni. Ada penari. Ada pemusik. Ada pengrajin properti. Ada pembuat kostum. Ada pelatih. Ada generasi muda. Ada komunitas. Ada pelaku ekonomi kreatif. Ada UMKM yang bergerak di sekitarnya. 

Dengan demikian, Embeg sesungguhnya bukan hanya persoalan seni pertunjukan. Ia dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif dan pariwisata budaya Banjarnegara. 

Bayangkan apabila kekuatan tersebut dikelola secara serius. Kelompok-kelompok Embeg dapat didata dan dipetakan. Pelaku seni diberikan ruang untuk berkembang. Generasi muda diberikan kesempatan untuk belajar. Kualitas pertunjukan ditingkatkan. Kostum dan properti dikembangkan. Pertunjukan dikemas secara profesional. 

Festival Embeg Banjarnegara dapat diselenggarakan secara rutin. Dan pada akhirnya, Embeg dapat menjadi salah satu ikon budaya yang memperkuat branding Banjarnegara.

Jangan Hanya Dijadikan Obyek Politik

Di sinilah kita perlu berbicara secara jujur.Kesenian rakyat jangan hanya dicari ketika ada kepentingan politik.
Jangan hanya didatangi ketika membutuhkan massa.Jangan hanya dipuji ketika membutuhkan panggung.
Jangan hanya difoto ketika membutuhkan publikasi.Kemudian setelah kepentingan selesai, para pelaku kesenian kembali berjalan sendiri.Itu bukan pemberdayaan. 

Masyarakat seni tidak membutuhkan sekadar seremoni.
01. Mereka membutuhkan ekosistem yang memungkinkan mereka tumbuh.
02. Mereka membutuhkan ruang pertunjukan.Mereka membutuhkan pembinaan.
03. Mereka membutuhkan regenerasi.Mereka membutuhkan akses pasar.
04. Mereka membutuhkan dukungan promosi. 


Dan yang tidak kalah penting, mereka membutuhkan penghargaan bahwa apa yang mereka lakukan adalah bagian dari kekayaan budaya Banjarnegara.

Embeg sebagai Aset Pembangunan Banjarnegara

Jika Banjarnegara ingin membangun dirinya sebagai daerah pariwisata, maka kekuatan budaya lokal seharusnya menjadi salah satu fondasi utamanya. Pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan pemandangan alam. Wisatawan juga mencari pengalaman, cerita, tradisi, budaya, dan identitas lokal. 

Di sinilah Embeg memiliki peluang besar. Alam Banjarnegara memberikan pemandangan. Budaya memberikan cerita. Embeg memberikan pertunjukan. Masyarakat memberikan kehidupan. 

Keempatnya dapat menjadi sebuah ekosistem pariwisata yang saling memperkuat. Karena itu, Embeg jangan dipandang hanya sebagai hiburan rakyat. Embeg adalah aset budaya. Dan apabila dikelola dengan baik, ia dapat berkembang menjadi :
01. Aset Pariwisata;
02. Aset Ekonomi Kreatif;
03. Sarana Pendidikan Budaya;
04. Ruang Regenerasi Generasi Muda;
05. Penguat Identitas Daerah;

Sekaligus Sumber Penghasilan Masyarakat.

Dari “Kesenian Rakyat” Menjadi “Branding Banjarnegara”

Banjarnegara membutuhkan identitas yang mudah dikenali. Sebuah daerah akan lebih kuat ketika memiliki sesuatu yang membuat orang berkata : “Oh, itu Banjarnegara!” – Embeg dapat menjadi salah satu elemen dari identitas tersebut.  Bukan berarti seluruh wajah Banjarnegara harus diwakili oleh Embeg.

Banjarnegara memiliki banyak kekayaan budaya, tradisi, kuliner, alam, sejarah, serta berbagai kesenian lainnya. Namun Embeg mempunyai kelebihan : Ia hidup di tengah rakyat. Ia tersebar luas. Ia memiliki banyak kelompok. Ia diwariskan lintas generasi.
Dan ia masih terus dimainkan hingga hari ini. Itulah modal sosial dan budaya yang sangat berharga.

Saatnya Pemerintah Hadir Secara Serius

Kalau benar jumlah kelompok Embeg/Kuda Kepang di Banjarnegara telah mencapai lebih dari 300 kelompok, maka sudah waktunya pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas, akademisi, budayawan, dan masyarakat duduk bersama. 

Bukan untuk mengatur kesenian rakyat secara berlebihan. Tetapi untuk membangun ekosistemnya. Mulai dari pendataan. Pembinaan. Regenerasi. Pelatihan manajemen kelompok. Digitalisasi. Promosi. Festival. Dokumentasi. Pengembangan ekonomi kreatif. Hingga menjadikan pertunjukan Embeg sebagai bagian dari paket wisata budaya Banjarnegara. 

Dengan pendekatan seperti itu, kita tidak sedang sekadar melestarikan masa lalu. Kita sedang menciptakan masa depan dari kekayaan budaya yang kita miliki.

EMBEG BUKAN SEKADAR KUDA KEPANG

Pada akhirnya, Embeg bukan sekadar seperangkat kuda kepang yang dimainkan di atas panggung. Di baliknya ada sejarah. Ada kreativitas. Ada gotong royong. Ada kebersamaan. Ada identitas masyarakat. Ada ekonomi. Ada generasi muda. 

Dan ada sebuah pesan penting :Bahwa kebudayaan yang benar-benar hidup adalah kebudayaan yang tumbuh dari masyarakat, dicintai masyarakat, dan diwariskan oleh masyarakat. 

Karena itu, sudah saatnya kita berhenti memandang Embeg hanya sebagai kesenian tradisional. Mari melihatnya sebagai kekuatan budaya Banjarnegara. Mari memberdayakannya. Mari mengembangkannya. Mari menjadikannya bagian dari strategi pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif daerah. 

Dan yang paling penting : Jangan datang kepada kesenian rakyat hanya ketika membutuhkan mereka. 

Tetapi datanglah untuk membangun mereka. Sebab ketika kesenian rakyat tumbuh, masyarakat ikut tumbuh. Ketika budaya hidup, identitas daerah semakin kuat. Dan ketika identitas daerah kuat, Banjarnegara akan semakin memiliki alasan untuk dikenal, dikunjungi, dan dicintai. 

EMBEG HIDUP.
EMBEG BERKARYA.
EMBEG BERDAYA.
EMBEG MENJADI IDENTITAS BUDAYA BANJARNEGARA.

whonesiasikoji
whonesiasikoji
Articles: 78

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *