Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482
Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482


Penulis : Wahono – Aktivis & Sekjend Aliansi Wargo Hutomo
Setiap daerah tentu memiliki sejarah, budaya, karakter, simbol dan nilai-nilai yang membentuk identitas masyarakatnya. Demikian pula Banjarnegara. Banjarnegara bukan sekadar sebuah wilayah administratif. Di dalamnya terdapat sejarah panjang, kebudayaan, bahasa, tradisi, tokoh, alam, serta karakter masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pertanyaannya kemudian :
Apakah Banjarnegara sudah memiliki identitas budaya yang benar-benar mencerminkan karakter masyarakatnya sendiri?
Pertanyaan ini penting untuk didiskusikan. Sebab, sebuah daerah yang ingin tumbuh menjadi daerah maju tidak cukup hanya memiliki pembangunan fisik. Ia juga membutuhkan Identitas, Karakter Dan Jati Diri yang kuat. Dan dalam upaya menemukan identitas tersebut, kita tidak bisa melepaskan Banjarnegara dari akar budaya Banyumasan.
Secara historis, Banjarnegara merupakan bagian dari wilayah eks-Karesidenan Banyumas, bersama Banyumas, Purbalingga dan Cilacap. Keempat daerah tersebut memiliki kedekatan sejarah dan kebudayaan yang sangat kuat. Salah satu ciri paling mudah dikenali adalah bahasa. Masyarakat di wilayah ini memiliki dialek Jawa yang khas, yang populer disebut dialek Banyumasan atau dialek Ngapak.
Namun, siapa sebenarnya Wong Banyumasan?
Dalam salah satu tulisan Mukhamad Hamid Samiaji, Pegiat Literasi di Lembaga Kajian Nusantara Raya UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto, dijelaskan bahwa identitas Wong Banyumasan tidak semata-mata ditentukan oleh batas administratif maupun garis keturunan. Setidaknya terdapat beberapa dimensi yang dapat menunjukkan identitas Wong Banyumasan.
Pertama : mereka yang memiliki hubungan leluhur dengan wilayah eks-Karesidenan Banyumas dan masih mengakui dirinya sebagai bagian dari trah Banyumas.
Kedua : mereka yang memiliki kebanggaan sebagai bagian dari masyarakat Banyumasan, termasuk kecintaan terhadap bahasa Ngapak dan kehidupan sosial budayanya.
Ketiga : bahkan mereka yang pernah tinggal dan hidup di wilayah Banyumasan, kemudian merasa nyaman, menyukai budaya, bahasa, pergaulan dan kehidupan sosial masyarakat Banyumasan.
Dengan demikian, identitas Banyumasan sesungguhnya tidak hanya soal di mana seseorang dilahirkan, tetapi juga soal rasa memiliki terhadap kebudayaan tersebut. Bahkan dalam perspektif sejarah, masyarakat Banyumasan sering dipahami sebagai hasil pembauran budaya di wilayah perbatasan Jawa dan Sunda.
Artinya, budaya Banyumasan sejak awal memiliki karakter yang Terbuka, Egaliter Dan Cair.Dan salah satu karakter terpentingnya adalah : CABLAKA.
Cablaka secara sederhana dapat dipahami sebagai karakter berbicara Apa Adanya. Tidak ditutup-tutupi. Tidak bertele-tele. Tidak menggunakan banyak basa-basi. Tidak terlalu terikat oleh sekat-sekat sosial.
Namun ada satu hal penting : Cablaka bukan berarti kasar. Cablaka adalah keterusterangan. Ia merupakan keberanian untuk mengatakan sesuatu sebagaimana adanya. Dalam budaya Banyumasan, keterusterangan tersebut sering dibungkus dengan gaya baworan—canda, humor, guyonan dan keakraban.
Maka lahirlah karakter komunikasi yang unik : Serius, Tetapi Tidak Selalu Tegang; Tegas, Tetapi Tetap Akrab; Terus Terang, Tetapi Disampaikan Dengan Guyon. Inilah yang membuat karakter Banyumasan berbeda dengan banyak kultur komunikasi lainnya.
Orang luar terkadang bisa salah memahami. Bahasa yang sangat lugas bisa dianggap tidak memiliki unggah-ungguh. Candaan yang terlalu spontan bisa dianggap kasar. Kata-kata yang bagi masyarakat Banyumasan merupakan bentuk keakraban, bisa dianggap menyinggung bagi orang yang belum memahami konteks budayanya.
Padahal di balik itu terdapat sebuah nilai : Keterbukaan Dan Kesetaraan.
Dalam tradisi Banyumasan dikenal berbagai istilah yang memiliki semangat serupa dengan cablaka, antara lain blakasuta dan thokmelong. Intinya sama : Berbicara Terus Terang, Apa Adanya Dan Tidak Menyembunyikan Sesuatu.
Ada pula istilah Glogok Soar—menuangkan suara secara terbuka. Semua istilah tersebut menggambarkan karakter masyarakat yang spontan, lugas dan tidak suka dibuat-buat. Dalam hubungan sosial, karakter tersebut juga melahirkan sifat egaliter. Tidak terlalu mempersoalkan status sosial. Tidak selalu melihat siapa yang pejabat, siapa yang rakyat biasa, siapa yang kaya dan siapa yang miskin.
Dalam percakapan sehari-hari, hubungan sosial terasa lebih cair. Inyong, Kowe, Rika, Kono, dan berbagai bentuk sapaan lainnya justru menjadi bagian dari kedekatan. Karena itu, cablaka sebenarnya bukan sekadar gaya bicara. Cablaka adalah karakter sosial.
Karakter cablaka juga dapat ditelusuri dalam berbagai cerita dan sastra lisan maupun tulisan Banyumasan. Salah satunya tercermin dalam kisah Jaka Kaiman atau Bagus Mangun. Ketika mendapat panggilan untuk menghadap Sultan Pajang, Jaka Kaiman menyatakan kesediaannya secara terbuka. Ia bahkan secara terus terang menyampaikan bahwa apabila kemudian mendapat anugerah dan diangkat menjadi penguasa, saudara-saudaranya tidak boleh merasa iri atau dengki.
Pernyataan itu justru menunjukkan sesuatu yang menarik : Kejujuran Tanpa Manipulasi. Tidak ada kepura-puraan. Tidak ada ambisi yang disembunyikan. Dan sejarah kemudian mencatat bahwa Jaka Kaiman menjadi Adipati Wargautama II dan memiliki peran penting dalam lahirnya wilayah Banyumas. Dari sinilah kita dapat melihat bahwa cablaka tidak selalu identik dengan sekadar "Ngomong Ceplas-Ceplos".
Cablaka juga dapat berarti : Berani Berkata Benar, Berani Mengambil Sikap Dan Berani Bertanggung Jawab Atas Apa Yang Dikatakan.
Jika cablaka merupakan karakter budaya Banyumasan, maka tokoh wayang Bawor selama ini banyak digunakan sebagai representasi simboliknya. Bawor dikenal sebagai tokoh Punakawan yang memiliki karakter egaliter, jenaka, terbuka dan dekat dengan rakyat. Ia tidak tampil sebagai tokoh yang berjarak. Ia hadir melalui humor dan guyonan.
Namun di balik kelucuannya terdapat keberanian menyampaikan kritik dan kebenaran. Karena itu, Bawor sangat kuat sebagai simbol budaya Banyumasan secara luas. Tetapi di sinilah muncul pertanyaan berikutnya :Apakah simbol yang mewakili Banyumasan secara umum otomatis menjadi simbol yang paling tepat untuk Banjarnegara?
Belum tentu. Sebab Banjarnegara adalah bagian dari Banyumasan, tetapi Banjarnegara juga memiliki sejarah, alam dan karakter lokal yang khas. Maka diperlukan pencarian lebih jauh.
Jika suatu daerah ingin membangun branding atau identitas daerah, maka simbol yang dipilih tidak seharusnya hanya berdasarkan pada sesuatu yang populer. Simbol daerah idealnya mampu menjawab setidaknya tiga pertanyaan :
1. Apa nilai sejarahnya?
2. Apa nilai filosofinya?
3. Apa nilai kebermanfaatannya bagi masyarakat?
Dengan demikian, sebuah ikon tidak berhenti sebagai gambar, maskot atau ornamen. Ia menjadi simbol yang mempunyai cerita. Dan ketika kita mulai mencari simbol yang memiliki hubungan kuat dengan Banjarnegara, maka kita akan menemukan satu nama yang sangat penting, yakni : SERAYU.
Sungai Serayu membentang dan berkelok-kelok melintasi wilayah Banjarnegara. Sejak dahulu, keberadaan Serayu memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat. Airnya menjadi bagian dari kehidupan, pertanian dan berbagai aktivitas masyarakat.
Nilai kebermanfaatannya bahkan semakin besar setelah dibangunnya PLTA Mrica, yang memanfaatkan potensi aliran Sungai Serayu untuk menghasilkan energi listrik. Dengan demikian, Serayu bukan hanya sebuah sungai. Ia adalah sumber kehidupan dan sumber energi.
Dan menariknya, nilai kebermanfaatan Serayu tidak berhenti di Banjarnegara. Energi yang dihasilkan dari sistem kelistrikan tersebut terhubung dengan kebutuhan wilayah yang lebih luas. Artinya, Serayu memiliki filosofi yang sangat kuat : Bermula Dari Satu Tempat, Tetapi Memberikan Manfaat Jauh Melampaui Batas Wilayahnya.
Bukankah karakter seperti ini juga seharusnya menjadi bagian dari identitas Banjarnegara?
Dalam pembacaan filosofis yang berkembang di masyarakat, nama Serayu sering dikaitkan dengan ungkapan “Serah Hayu”. Sebuah tafsir filosofis yang dapat dimaknai sebagai : Berserah Diri Kepada Tuhan Untuk Memperoleh Keselamatan, Kebaikan Dan Kehidupan Yang Lebih Baik.
Di sini kita menemukan sebuah jembatan filosofis yang menarik. Serayu adalah air yang mengalir. Air tidak pernah mempertahankan bentuknya sendiri. Ia mengikuti jalan. Ia menghidupi. Ia memberi manfaat. Dan akhirnya kembali kepada sumber serta tujuan yang lebih besar.
Dari sinilah muncul sebuah gagasan :
Serayu sebagai simbol perjalanan manusia untuk memberi manfaat melalui sikap berserah diri kepada Tuhan.
Di kawasan Dataran Tinggi Dieng terdapat sumber mata air yang dikenal dengan nama Tuk Bima Lukar. Dalam tradisi dan mitologi lokal, nama Bima Lukar berkaitan dengan tokoh Bima dalam dunia pewayangan. Dan di sinilah rangkaian pencarian identitas Banjarnegara menjadi semakin menarik.
Kita memiliki Serayu. Kita memiliki Serah Hayu. Kita memiliki Tuk Bima Lukar. Dan kita memiliki Bima. Sebuah rangkaian simbol yang memiliki hubungan kuat dengan ruang geografis, sejarah, mitologi dan kehidupan masyarakat Banjarnegara.
Bima atau Werkudara atau Sena merupakan salah satu tokoh utama dalam pewayangan. Bima dikenal sebagai sosok yang kuat, teguh, jujur, berani dan tidak mudah berkompromi terhadap ketidakbenaran. Namun ada sisi Bima yang sangat menarik untuk dijadikan bahan refleksi. Bima bukan hanya simbol kekuatan fisik. Ia juga dapat dibaca sebagai simbol keteguhan jiwa dalam perjalanan mencari kebenaran.
Dalam kisah spiritual dan filosofis pewayangan, perjalanan Bima menuju pencarian hakikat kehidupan menggambarkan keberanian manusia untuk meninggalkan berbagai atribut dan kepentingan duniawi demi menemukan kebenaran yang lebih tinggi. Karena itu, Bima dapat dibaca sebagai symbol : Keteguhan, Keberanian, Kesederhanaan, Kejujuran Dan Pencarian Kebenaran.
Jika kita melihat karakter masyarakat Banjarnegara, terdapat sesuatu yang menarik. Masyarakat Banjarnegara merupakan bagian dari masyarakat Banyumasan. Karena itu, karakter CABLAKA tentu tetap menjadi bagian dari warisan budaya masyarakatnya.
Namun Banjarnegara juga memiliki karakter geografis dan sejarah yang berbeda. Banjarnegara memiliki Dieng. Memiliki Serayu. Memiliki Bima Lukar. Memiliki masyarakat pegunungan dan lembah yang hidup berdampingan dengan alam.
Dan karakter Bima terasa dekat dengan karakter masyarakat yang : Tegas, Lugas, Sederhana, Egaliter, Berani Dan Apa Adanya.
Bima sebenarnya mampu berbahasa Jawa dengan berbagai tingkat tutur. Namun karakter Bima dalam pewayangan justru lebih dikenal dengan gaya komunikasi yang lugas. Tidak berputar-putar. Tidak banyak basa-basi. Tidak menyembunyikan sikap. Bima berkata sebagaimana adanya. Di sinilah Bima bertemu dengan Cablaka.
Maka muncullah sebuah gagasan yang layak menjadi bahan kajian dan diskusi : BIMA CABLAKA
Bukan sekadar cablaka. Tetapi CABLAKA yang memiliki karakter BIMA. Jika Cablaka Banyumasan menekankan keterbukaan, keterusterangan dan egalitarianisme, maka Bima memberikan lapisan karakter berupa : Ketegasan, Keberanian, Keteguhan, Kesederhanaan Dan Pencarian Kebenaran.
Dengan demikian :BIMA CABLAKA adalah karakter manusia Banjarnegara yang berani berkata apa adanya, tanpa basa-basi, tegas dan lugas, tetapi tetap egaliter, akrab, ramah dan mampu menghadirkan humor dalam kehidupan sosial.
Baworan tidak hilang. Canda tidak hilang. Tradisi Banyumasan tetap menjadi akar. Tetapi Banjarnegara memberikan warna khasnya sendiri.
Penting untuk ditegaskan : Bima Cablaka bukan upaya memisahkan Banjarnegara dari budaya Banyumasan. Justru sebaliknya. Banyumasan adalah akar budaya. Cablaka adalah salah satu karakter utamanya. Sedangkan Bima Cablaka dapat menjadi tafsir baru tentang bagaimana karakter Banyumasan tersebut menemukan ekspresi yang lebih khas dalam konteks Banjarnegara.
Ibarat pohon :
01. Banyumasan adalah akarnya.
02. Cablaka adalah batang karakternya.
03. Bima adalah ruh simboliknya.
04. Serayu adalah aliran kehidupannya.
05. Dieng dan Bima Lukar adalah salah satu titik penting sumber ceritanya.
Dan Banjarnegara adalah ruang tempat semuanya tumbuh dan menemukan bentuknya.
Pada akhirnya, pencarian identitas daerah bukan sekadar mencari ikon. Bukan sekadar memilih gambar. Bukan sekadar menentukan maskot. Dan bukan pula sekadar membuat slogan. Identitas daerah harus lahir dari kesadaran kolektif tentang siapa kita.
Dari mana kita berasal. Nilai apa yang kita warisi. Karakter apa yang ingin kita pertahankan. Dan manusia seperti apa yang ingin kita bangun di masa depan. Karena itu, jika Banjarnegara ingin memiliki identitas yang kuat, maka prosesnya harus dilakukan melalui kajian sejarah, budaya, filosofi dan kehidupan masyarakat secara serius.
Dan salah satu gagasan yang menarik untuk kita kaji bersama adalah : BIMA CABLAKA
01. Bicara apa adanya. Tanpa basa-basi. Tegas dan lugas.
02. Berani mengatakan benar sebagai benar. Tetap egaliter. Tetap ramah. Tetap penuh canda.
03. Dan selalu berorientasi pada kebermanfaatan.
Jika benar-benar demikian, maka Bima Cablaka bukan hanya nama sebuah karakter. Ia dapat menjadi nilai hidup.
Ia dapat menjadi identitas budaya.
Ia dapat menjadi karakter masyarakat.
Bahkan, bukan tidak mungkin ia berkembang menjadi salah satu Branding Kultural Banjarnegara yang membedakannya dari daerah lain.
Sebab daerah yang besar bukan hanya daerah yang memiliki infrastruktur yang besar.
Daerah yang besar adalah daerah yang mengetahui : siapa dirinya, dari mana ia berasal, nilai apa yang ia pegang, dan ke mana ia hendak menuju.
Maka perjalanan menemukan identitas Banjarnegara barangkali memang harus dimulai dari pertanyaan sederhana : “Sebenarnya, siapakah kita sebagai Wong Banjarnegara?”
Dan mungkin jawabannya sedang kita temukan melalui sebuah perjalanan :
Dieng → Bima Lukar → Serayu → Banyumasan → Cablaka → Bima Cablaka → Identitas dan Jati Diri Banjarnegara.
Inilah sebuah gagasan untuk dikaji, diperdebatkan, dikritisi dan disempurnakan bersama.
Karena identitas daerah bukan milik satu orang.
Identitas adalah kesadaran kolektif seluruh masyarakatnya.
Selamat Berdiskusi.
Wahono