BASELINE PENDIDIKAN INDONESIA 2026 DAN TARGET GRAND DESIGN PENDIDIKAN INDONESIA 2027–2045

DARI ANGKA HARI INI MENUJU MANUSIA INDONESIA YANG SEUTUHNYA

Oleh : Wahono – Aktifis Banjarnegara

I. MENGAPA KITA MEMERLUKAN BASELINE?

Sebuah Grand Design tidak boleh hanya berisi cita-cita.

Ia harus mampu menjawab tiga pertanyaan sederhana : 
Kita sekarang berada di mana?
Kita ingin menuju ke mana?
Bagaimana cara mengukur bahwa kita benar-benar sudah sampai?

Karena itu, Grand Design Pendidikan Indonesia 2027–2045 harus memiliki Baseline Pendidikan Indonesia 2026 sebagai titik awal.

Baseline bukan untuk mencari kesalahan pemerintah atau menyalahkan generasi sebelumnya.
Baseline diperlukan agar bangsa Indonesia memiliki cermin bersama tentang kondisi pendidikan kita hari ini.

Dan dari cermin itulah kita menentukan arah perubahan.

II. POTRET PENDIDIKAN INDONESIA SAAT INI

1. Akses Pendidikan Sudah Semakin Luas

Indonesia telah mengalami kemajuan besar dalam memperluas akses pendidikan.

Data BPS menunjukkan bahwa Angka Partisipasi Sekolah usia 7–12 tahun pada 2025 mencapai 99,06 persen.
Artinya, persoalan pendidikan Indonesia tidak lagi cukup dijawab hanya dengan pertanyaan :
“Apakah anak sudah masuk sekolah?”

Pertanyaan berikutnya harus jauh lebih penting : 
“Apa yang benar-benar diperoleh anak setelah bersekolah?”

Inilah pergeseran paradigma pertama : 
DARI SCHOOLING MENUJU LEARNING.

Dari sekadar memastikan anak berada di sekolah menjadi memastikan anak benar-benar belajar.

2. Lama Sekolah Meningkat, Tetapi Kualitas Pembelajaran Harus Menjadi Perhatian

BPS mencatat bahwa pada 2025 : 
Harapan Lama Sekolah (HLS): 13,30 tahunRata-rata Lama Sekolah (RLS): 9,07 tahun

RLS 9,07 tahun berarti secara rata-rata penduduk usia 25 tahun ke atas telah menempuh pendidikan sekitar jenjang SMP.

Ini menunjukkan bahwa akses pendidikan terus berkembang.
Namun lama bersekolah tidak otomatis sama dengan kualitas kemampuan.

Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan ke depan tidak boleh berhenti pada : 
Berapa tahun seseorang bersekolah,

Tetapi harus bergerak menuju : 
Apa Yang Mampu Dilakukan Seseorang Setelah Bersekolah.

III. MASALAH TERBESAR : LEARNING OUTCOME

Di sinilah persoalan menjadi lebih serius.

World Bank mencatat bahwa 53 persen anak Indonesia pada usia akhir sekolah dasar belum mencapai kemampuan membaca yang memadai, setelah memperhitungkan anak yang tidak bersekolah.

Angka ini dikenal sebagai learning poverty.
Dengan kata lain : 
Anak bisa bersekolah, tetapi belum tentu benar-benar belajar.

Ini adalah salah satu alasan mengapa Grand Design Pendidikan Indonesia harus mengubah orientasi : 
Sekolah → Pembelajaran → Kompetensi → Karakter → Kemandirian → Kontribusi.

IV. PISA 2025 : PERINGATAN YANG TIDAK BOLEH DIABAIKAN

Hasil PISA 2025 memberikan pesan yang sangat penting.

OECD mencatat bahwa capaian rata-rata Indonesia pada 2025 dalam matematika, membaca, dan sains secara umum kurang lebih sama dengan 2022, masih berada di bawah capaian 2015 dan di bawah rata-rata OECD.

Indonesia juga berada di bawah rata-rata OECD dalam computational problem solving.
Ini berarti persoalan pendidikan Indonesia bukan sekadar :
“Anak-anak kita sudah sekolah atau belum?”


Tetapi : 
“Apakah pendidikan kita mampu membangun kemampuan berpikir, memecahkan masalah, memahami informasi, dan menghadapi dunia nyata?”

Pertanyaan inilah yang harus menjadi jantung reformasi pendidikan 2027–2045.

V. PARADOKS BARU : ANAK INDONESIA SUDAH MEMASUKI ERA AI

Ada fenomena yang jauh lebih menarik.

Menurut PISA 2025, 53 persen siswa Indonesia melaporkan menggunakan AI chatbot untuk membantu belajar setidaknya sekali seminggu.

Bahkan penggunaan AI untuk merangkum bacaan, melakukan riset awal, dan membantu tugas menulis sudah menjadi bagian dari kehidupan belajar sebagian besar siswa.

Ini berarti revolusi pendidikan tidak lagi berada di masa depan.
Ia sudah terjadi sekarang.

Maka pertanyaannya bukan lagi :
“Apakah sekolah boleh menggunakan AI?”


Pertanyaannya harus diubah menjadi : 
“Bagaimana sekolah mengajarkan manusia menggunakan AI tanpa kehilangan kemampuan berpikir sebagai manusia?”

Inilah alasan mengapa Literasi Digital dan AI harus menjadi salah satu komponen inti Grand Design Pendidikan Indonesia.

Bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan teknologi.
Tetapi mengajarkan : 
Cara Berpikir → Cara Memverifikasi → Cara Bertanya → Cara Menggunakan → Cara Bertanggung Jawab.

VI. SEKOLAH BUKAN HANYA BERHADAPAN DENGAN KETERBATASAN AKADEMIK

PISA 2025 juga menunjukkan adanya persoalan lingkungan belajar.

Di Indonesia :
01. 37 persen siswa berada di sekolah yang menurut kepala sekolahnya mengalami hambatan pembelajaran karena kekurangan material pendidikan;
02. 39 persen berada di sekolah yang mengalami hambatan karena keterbatasan infrastruktur fisik;
03. 18 persen berada di sekolah yang mengalami hambatan karena kekurangan tenaga pengajar.

Ini menunjukkan bahwa reformasi pendidikan tidak mungkin hanya dilakukan melalui perubahan kurikulum.

Kurikulum yang hebat membutuhkan guru yang hebat, sekolah yang layak, teknologi yang tepat, lingkungan belajar yang sehat, serta dukungan keluarga dan masyarakat.

VII. BASELINE 2026 : TITIK AWAL GRAND DESIGN

Dengan menggunakan data yang tersedia hingga 2026, baseline awal dapat dirumuskan sebagai berikut :

Dimensi + Baseline + Makna Strategis : 
01. APS usia 7–12 : 99,06% (2025) = Akses pendidikan dasar sudah sangat tinggi
02. HLS : 13,30 tahun (2025) = Harapan lama pendidikan terus meningkat
03. RLS : 9,07 tahun (2025) = Pendidikan rata-rata masih sekitar jenjang SMP
04. Learning Poverty : 53% = Kualitas kemampuan membaca masih menjadi persoalan besar
05. PISA 2025 : Di bawah OECD = Kompetensi dasar dan penerapan pengetahuan masih perlu diperkuat
06. Penggunaan AI mingguan : 53% siswa = AI sudah masuk kehidupan belajar
07. Kekurangan material : 37% siswa = Infrastruktur pembelajaran masih belum merata
08. Kekurangan infrastruktur fisik : 39% siswa = Kualitas lingkungan sekolah perlu diperbaiki
09. Kekurangan tenaga pengajar : 18% siswa = Distribusi/ketersediaan guru masih menjadi persoalan

Sumber utama baseline: BPS, World Bank dan OECD.

VIII. PERSOALANNYA BUKAN SEMATA-MATA BESAR KECILNYA ANGGARAN

Indonesia telah memberikan porsi besar kepada pendidikan.

Dalam APBN 2026, anggaran pendidikan ditetapkan sebesar sekitar : Rp. 769,09 TRILIUN atau 20 persen dari total belanja negara.

Angka ini sangat besar.
Karena itu, pertanyaan strategis Grand Design bukan : 
“Apakah negara membiayai pendidikan?”

Tetapi : 
“Apakah setiap rupiah anggaran pendidikan menghasilkan perubahan kualitas manusia?”

Maka prinsip pembiayaan pendidikan ke depan harus berubah : 
MONEY → PROGRAM → OUTPUT → OUTCOME → HUMAN IMPACT

Bukan hanya : 
MONEY → PROGRAM → SPENDING

Dengan kata lain : 
Anggaran Harus Dapat Ditelusuri Sampai Dampaknya Terhadap Manusia.

IX. TARGET BESAR 2045

Jika Indonesia ingin menjadi negara maju pada 2045, maka ukuran keberhasilan pendidikan tidak boleh hanya berupa jumlah sekolah, jumlah lulusan, atau besarnya anggaran.

Kita membutuhkan National Human Development Target.

Target besarnya adalah : 
LAHIRNYA MANUSIA INDONESIA YANG SEUTUHNYA

Yakni Manusia Indonesia yang : 
01. Manusia yang memiliki kesadaran ketuhanan,
02. Mengenal dirinya,
03. Menghargai sesama,
04. Memiliki jati diri Indonesia,
05. Memahami Nusantara,
06. Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi,
07. Mampu menggunakan AI secara bertanggung jawab,
08. Mandiri,
09. Kreatif,
10. Produktif,
11. Mampu berkompetisi sekaligus berkolaborasi secara global,
12. Serta memberikan kontribusi bagi masyarakat dan peradaban.

X. TARGET BERTAHAP 2027–2045

Target tidak boleh langsung melompat ke 2045.
Kita membutuhkan empat fase.

FASE I — 2027–2030

“MEMBANGUN AKAR”

Fokus :
01. Memperkuat Literasi Dasar;
02. Memperkuat Numerasi;
03. Memperkuat Kualitas Guru;
04. Memperbaiki Sekolah Tertinggal;
05. Memperkuat Paud;
06. Membangun Kurikulum Inti Nasional;
07. Memasukkan Nusantara Wisdom Secara Sistematis;
08. Membangun Literasi Digital Dan Ai;
09. Membangun Sistem Data Pendidikan Nasional Yang Terintegrasi.

Target utama : 
Tidak boleh ada anak Indonesia yang keluar dari pendidikan dasar tanpa kemampuan membaca, memahami informasi, berhitung, dan berpikir dasar yang memadai.

FASE II — 2031–2035

“MEMBANGUN KOMPETENSI”

Setelah fondasi diperkuat, pendidikan bergerak dari :
Basic Literacy
Menuju : 
Functional Literacy → Scientific Literacy → Digital Literacy → AI Literacy → Life Skills.

Fokus :
01. Problem Solving;
02. Critical Thinking;
03. Creativity;
04. Communication;
05. Collaboration;
06. Entrepreneurship;
07. Vocational Competence;
08. Scientific Thinking;
09. Ecological Awareness.

Sekolah mulai berubah dari : 
Tempat Menerima Pelajaran
Menjadi : 
Laboratorium Kehidupan.

FASE III — 2036–2040

“MEMBANGUN KEMANDIRIAN”

Pada tahap ini pendidikan harus menghasilkan manusia yang bukan hanya mencari pekerjaan.
Tetapi : 
Mampu Menciptakan Nilai.

Karena itu pendidikan diarahkan kepada : 
Knowledge → Skill → Innovation → Entrepreneurship → Productivity.

Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi tempat menghasilkan ijazah.

Ia harus menjadi : 
Pusat Ilmu → Pusat Inovasi → Pusat Solusi → Pusat Peradaban.

FASE IV — 2041–2045

“MEMBANGUN KONTRIBUSI GLOBAL”

Pada fase terakhir, Indonesia tidak lagi hanya bertanya :
“Bagaimana manusia Indonesia bisa bersaing dengan dunia?”


Tetapi : 
“Apa yang bisa diberikan Indonesia kepada dunia?”

Inilah transformasi dari : 
Global Competitiveness

Menuju : 
Global Contribution.

Manusia Indonesia diharapkan mampu menjadi :
01. Ilmuwan;
02. Inovator;
03. Entrepreneur;
04. Seniman;
05. Pemimpin;
06. Teknolog;
07. Pendidik;
08. Diplomat;
09. Profesional;
10. Pekerja Kreatif;

Yang tetap memiliki : 
Akar Nusantara Dan Jiwa Indonesia.

XI. DELAPAN KESADARAN MENJADI INDIKATOR MANUSIA INDONESIA

Grand Design ini kemudian harus mengukur bukan hanya kemampuan akademik.
Tetapi delapan kesadaran.

1. Kesadaran Ketuhanan
Mengenal Tuhan, menjalankan nilai agama/kepercayaan, memiliki integritas dan tanggung jawab moral.

2. Kesadaran Diri
Mengenal potensi, kelemahan, emosi, tujuan hidup dan tanggung jawab pribadi.

3. Kesadaran Kemanusiaan
Menghormati manusia lain tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, golongan maupun latar belakang.

4. Kesadaran Kebangsaan
Memahami Indonesia, sejarahnya, konstitusinya, persatuan dan tanggung jawab sebagai warga negara.

5. Kesadaran Kebudayaan
Mengenal akar budaya sendiri dan mampu menghargai keragaman budaya Nusantara.

6. Kesadaran Ekologis
Memahami hubungan manusia dengan alam dan bertanggung jawab terhadap keberlanjutan kehidupan.

7. Kesadaran Digital dan AI
Mampu menggunakan teknologi secara kritis, produktif, etis dan bertanggung jawab.

8. Kesadaran Global
Mampu memahami dunia, berkomunikasi lintas budaya, berkompetisi, berkolaborasi dan memberikan kontribusi.

XII. DARI DELAPAN KESADARAN MENUJU LIMA PILAR

Delapan kesadaran kemudian diterjemahkan menjadi lima pilar pendidikan nasional.
PILAR 1
SPIRITUALITAS & KARAKTER

PILAR 2
JATI DIRI & NUSANTARA WISDOM

PILAR 3
ILMU PENGETAHUAN, KOMPETENSI & KREATIVITAS

PILAR 4
KEMANDIRIAN & KEWIRAUSAHAAN

PILAR 5
GLOBAL MINDSET & KONTRIBUSI

Dengan demikian, pendidikan tidak lagi menghasilkan manusia yang hanya : Tahu.

Tetapi manusia yang : 
Tahu → Sadar → Berkarakter → Mampu → Berkarya → Mandiri → Berkontribusi.

XIII. TARGET INDIKATOR NASIONAL

Untuk membuat Grand Design ini benar-benar dapat dievaluasi, pemerintah perlu membangun Indonesia Human Education Index atau indeks nasional pendidikan manusia yang lebih luas.Indikatornya dapat mencakup : 
A. Akses
01. APS;
02. Angka Putus Sekolah;
03. Penyelesaian Pendidikan;
04. Kesenjangan Wilayah.

B. Literasi
01. Membaca;
02. Numerasi;
03. Sains;
04. Digital;
05. Ai.

C. Karakter
01. Integritas;
02. Disiplin;
03. Empati;
04. Toleransi;
05. Tanggung Jawab;
06. Gotong Royong.

D. Jati Diri
01. Pengetahuan Sejarah;
02. Budaya;
03. Bahasa;
04. Nusantara Wisdom;
05. Kebangsaan.

E. Kompetensi
01. Critical Thinking;
02. Problem Solving;
03. Creativity;
04. Communication;
05. Collaboration.

F. Kemandirian
01. Entrepreneurship;
02. Financial Literacy;
03. Vocational Skills;
04. Employability;
05. Kemampuan Menciptakan Karya.

G. Global
01. Bahasa Asing;
02. Cross-Cultural Competence;
03. Digital Collaboration;
04. Global Problem Solving.

H. Kontribusi
01. Inovasi;
02. Karya;
03. Kewirausahaan;
04. Pengabdian;
05. Solusi Sosial.

XIV. TARGET KUANTITATIF 2045

Angka target final sebaiknya ditetapkan setelah baseline 2026/2027 lengkap dan melalui simulasi kebijakan.
Namun sebagai target awal untuk pengembangan policy paper, arah yang dapat diuji adalah : 

Indikator + 2026 + 2030 + 2035 + 2040 + 2045 : 
01. APS usia dasar = 99% + ≥99% + ≥99% + ≥99% + ≥99%
02. Learning poverty = 53%* + <40% + <25% + <15% + <10%
03. Literasi dasar = baseline nasional + mayoritas tuntas + hampir universal + universal + universal
04. Numerasi dasar = baseline nasional + meningkat signifikan + tinggi + sangat tinggi + kelas dunia
05. Literasi digital = baseline + nasional + tinggi + sangat tinggi + universal
06. AI literacy = baseline + mulai standar nasional + terintegrasi + matang + unggul global
07. Kesenjangan mutu antar wilayah = tinggi + turun + turun tajam + rendah + minimal
08. Guru kompeten digital/AI = baseline + mayoritas + hampir seluruhnya + universal + universal
09. Sekolah dengan ekosistem belajar layak = baseline + mayoritas + hampir seluruhnya + universal + universal
10. Pendidikan berbasis budaya lokal = parsial + nasional + matang + terintegrasi + menjadi keunggulan
11. Entrepreneurship education = parsial + luas + universal + matang + menjadi budaya
12. Global competence = baseline + meningkat + tinggi + sangat tinggi + kompetitif global


* Angka learning poverty 53 persen berasal dari estimasi World Bank berbasis data pembelajaran yang tersedia sebelum pandemi, sehingga tidak boleh diperlakukan sebagai pengukuran baru tahun 2026.

Angka ini harus diperbarui ketika baseline nasional terbaru yang sebanding tersedia.
Ini penting secara akademik

.Kita tidak boleh memaksakan angka hanya agar tabel terlihat hebat.
Baseline harus benar-benar memiliki definisi, tahun, sumber dan metodologi yang jelas.

XV. ARSITEKTUR TARGET : JANGAN HANYA MENGUKUR NILAI UJIAN

Inilah salah satu perubahan paling penting.

Selama ini pendidikan terlalu mudah diukur dengan : 
nilai → ranking → kelulusan.

Grand Design ini harus mengubahnya menjadi :
1. APA YANG DIKETAHUI? = Knowledge.
2. APA YANG DIPAHAMI? = Understanding.
3. APA YANG MAMPU DILAKUKAN? = Competence.
4. BAGAIMANA SIKAPNYA? = Character.
5. APA YANG DIHASILKAN? = Creation.
6. APA DAMPAKNYA? = Contribution.

Maka rumus evaluasi pendidikan Indonesia : 
KNOWLEDGE + CHARACTER + COMPETENCE + CREATION + CONTRIBUTION

XVI. DESAIN KURIKULUM NASIONAL 2027

Kurikulum nasional harus memiliki dua lapisan.
LAPISAN PERTAMANATIONAL CORE
Berisi kemampuan dan nilai yang harus dimiliki seluruh anak Indonesia :
01. Ketuhanan;
02. Pancasila;
03. Bahasa Indonesia;
044. Literasi;
05. Numerasi;
06. Sains;
07. Sejarah;
08. Teknologi;
09. AI;
10. Kesehatan;
11. Lingkungan;
12. Karakter;
13. Kewarganegaraan;
14. Kreativitas;
15. Entrepreneurship;
16. Global Competence.


LAPISAN KEDUALOCAL WISDOM
Setiap daerah diberikan ruang untuk memperkuat :
01. Bahasa Daerah;
02. Sejarah Lokal;
03. Seni;
04. Budaya;
05. Kuliner;
06. Pertanian;
07. Kelautan;
08. Kerajinan;
09. Teknologi Lokal;
10. Ekonomi Daerah;
11. Kearifan Lingkungan;
12. Tradisi Masyarakat.


Dengan demikian : 
KURIKULUM NASIONAL MEMBERIKAN ARAH.
KURIKULUM LOKAL MEMBERIKAN AKAR.


Anak Papua tetap Indonesia.
Anak Jawa tetap Indonesia.
Anak Aceh tetap Indonesia.
Anak Bali tetap Indonesia.
Anak Kalimantan tetap Indonesia.
Anak Sulawesi tetap Indonesia.
Anak Maluku tetap Indonesia.
Anak Nusa Tenggara tetap Indonesia.

Dan seluruhnya memiliki kesempatan untuk menjadi : 
MANUSIA INDONESIA YANG BERAKAR PADA DAERAHNYA, BERJIWA INDONESIA, DAN BERPIKIR GLOBAL.

XVII. DESAIN GURU

Tidak mungkin menghasilkan manusia berkualitas dengan guru yang hanya diposisikan sebagai penyampai materi.
Guru masa depan harus memiliki sekurang-kurangnya lima kompetensi utama :

1. Kompetensi keilmuan
2. Kompetensi pedagogis
3. Kompetensi karakter
4. Kompetensi digital dan AI
5. Kompetensi sosial-budaya

Guru tidak harus menjadi manusia yang paling pintar dalam segala hal.
Tetapi guru harus menjadi manusia yang : 
Mampu Membimbing Anak Menemukan Dirinya, Mengembangkan Potensinya Dan Menggunakan Ilmu Untuk Kehidupan.

AI tidak menggantikan guru.
Tetapi guru yang mampu menggunakan AI berpotensi menggantikan pola pendidikan lama yang hanya mengandalkan hafalan.

XVIII. DESAIN SEKOLAH

Sekolah masa depan harus berubah dari : BUILDING - menjadi : LEARNING ECOSYSTEM.

Sebuah sekolah idealnya memiliki :
01. Ruang Belajar;
02. Perpustakaan;
03. Laboratorium;
04. Ruang Seni;
05. Ruang Teknologi;
06. Ruang Digital/Ai;
07. Ruang Kreativitas;
08. Ruang Kewirausahaan;
09. Ruang Budaya;
10. Kebun/Ruang Ekologis;
11. Fasilitas Olahraga;
12. Ruang Interaksi Masyarakat.


Sekolah harus menjadi tempat : 
Belajar + Bereksperimen + Berkarya + Bersosialisasi + Membangun Karakter.

XIX. DESAIN PEMBIAYAAN

Dengan anggaran pendidikan 2026 sekitar Rp. 769,09 triliun, Indonesia sebenarnya memiliki sumber daya fiskal yang sangat besar untuk melakukan transformasi pendidikan.

Tetapi Grand Design harus mengubah paradigma :
Bukan berapa banyak uang yang dibelanjakan, tetapi berapa besar perubahan manusia yang dihasilkan.

Karena itu setiap program pendidikan harus memiliki rantai : 
INPUT
Anggaran.
↓
PROGRAM
Kegiatan.
↓
OUTPUT
Hasil langsung.
↓
OUTCOME
Perubahan perilaku/kemampuan.
↓
HUMAN IMPACT
Perubahan kualitas manusia.

XX. ROADMAP BESAR 2027–2045

Secara sederhana, seluruh perjalanan dapat dirumuskan :
2027–2030MEMPERKUAT AKAR
Literasi – numerasi – karakter – guru – sekolah – PAUD.
↓
2031–2035MEMBANGUN KOMPETENSI
Sains – teknologi – AI – kreativitas – problem solving.
↓
2036–2040MEMBANGUN KEMANDIRIAN
Inovasi – entrepreneurship – produktivitas – riset.
↓
2041–2045MEMBANGUN KONTRIBUSI
Global competence – kepemimpinan – inovasi – peradaban.

XXI. RUMUS BESAR GRAND DESIGN PENDIDIKAN INDONESIA

Pada akhirnya, seluruh blueprint ini dapat dipadatkan menjadi satu formula : 
AKAR → KESADARAN → KARAKTER → KOMPETENSI → KARYA → KEMANDIRIAN → KONTRIBUSI → PERADABAN

Akar tanpa kompetensi akan membuat kita hanya bernostalgia.
Kompetensi tanpa karakter dapat melahirkan manusia pintar tetapi berbahaya.

Teknologi tanpa kesadaran dapat membuat manusia menjadi budak teknologi.
Globalisasi tanpa jati diri dapat membuat bangsa kehilangan identitas.

Tetapi : 
AKAR YANG KUAT + KESADARAN YANG BENAR + KARAKTER YANG KUAT + KOMPETENSI YANG TINGGI + KEMANDIRIAN + TEKNOLOGI + JIWA KEBANGSAAN
akan melahirkan manusia Indonesia yang mampu berdiri tegak di tengah dunia.

XXII. INDONESIA 2045 : BUKAN SEKADAR NEGARA MAJU

Inilah titik paling penting dari seluruh gagasan ini.

Indonesia 2045 jangan hanya dicita-citakan sebagai : 
Negara Dengan GDP Besar,Ekonomi Besar,Industri Besar, Atau Teknologi Maju.

Karena semua itu hanyalah instrumen.Tujuan akhirnya adalah : 
MANUSIA INDONESIA YANG SEUTUHNYA.

Manusia yang mengenal Tuhan.
Mengenal dirinya.
Menghargai sesamanya.
Mengenal akar budayanya.
Mencintai bangsanya.
Menguasai ilmu pengetahuan.
Menguasai teknologi.
Mampu menggunakan AI.
Mampu berdiri sendiri.
Mampu menciptakan karya.
Mampu bersaing.
Mampu bekerja sama.

Dan akhirnya : 
Mampu Memberikan Manfaat Bagi Manusia Lainnya.

P . E . N . U . T . U . P

Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya :
“Kurikulum apa yang akan digunakan tahun depan?”

Dan mulai bertanya : 
“Manusia Indonesia seperti apa yang ingin kita lahirkan pada tahun 2045?”

Sebab menteri bisa berganti.
Presiden bisa berganti.
Kurikulum bisa berubah.
Teknologi akan terus berubah.

Tetapi arah pembangunan manusia Indonesia tidak boleh berubah setiap kali pemerintahan berganti.
Karena pendidikan bukan proyek lima tahunan.

Pendidikan adalah : PROYEK PERADABAN.

Dan karena itu, Grand Design Pendidikan Indonesia 2027–2045 harus dimulai bukan dari kurikulum.
Bukan dari buku.
Bukan dari teknologi.
Bukan pula dari anggaran.

Tetapi dari satu pertanyaan paling mendasar : 
“MANUSIA INDONESIA SEPERTI APA YANG INGIN KITA LAHIRKAN?”

Dari sanalah pendidikan harus dimulai.
Dari manusia.

Dan dari manusia yang sadar, berkarakter, berilmu, mandiri dan berkontribusi itulah : 
INDONESIA EMAS 2045 SEHARUSNYA DIBANGUN. 

whonesiasikoji
whonesiasikoji
Articles: 78

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *