Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482
Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482


Grand Design Pendidikan Indonesia 2027–2045 tidak boleh berhenti pada kalimat :
“Pendidikan harus lebih baik.”
Kalimat tersebut benar, tetapi tidak cukup untuk sebuah kebijakan negara.
Pertanyaan berikutnya harus :
Lebih baik seberapa banyak?
Dalam bidang apa?
Dicapai kapan?
Diukur dengan indikator apa?
Siapa yang bertanggung jawab?
Karena itu, blueprint ini menggunakan prinsip :
BASELINE → TARGET → PROGRAM → KPI → EVALUASI → KOREKSI
Baseline adalah posisi awal.
Target adalah posisi yang ingin dicapai.
Program adalah kendaraan.
KPI adalah alat ukur.
Evaluasi adalah mekanisme pengawasan.
Koreksi adalah tindakan apabila target tidak tercapai.
Beberapa angka penting yang dapat dijadikan titik awal :
1. Rata-rata Lama Sekolah
Pada 2025, Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Indonesia mencapai 9,07 tahun, naik dari 8,85 tahun pada 2024.
2. Harapan Lama SekolahHarapan Lama Sekolah (HLS) mencapai 13,30 tahun pada 2025.
Artinya, akses dan keberlangsungan pendidikan telah mengalami kemajuan.
Tetapi keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari lama seseorang berada di sekolah.
Karena itu kita membutuhkan indikator kedua : LEARNING OUTCOME.
PISA 2025 memberikan baseline yang sangat penting.
MATEMATIKA : 364 poin
MEMBACA : 365 poin
COMPUTATIONAL PROBLEM SOLVING : 427 poin
Indonesia masih berada di bawah rata-rata OECD dalam bidang-bidang tersebut.
Dari sisi minimum proficiency :
Matematika : 17% = mencapai Level 2 atau lebih.
Membaca : 27% = mencapai Level 2 atau lebih.
Sains : 37% = mencapai Level 2 atau lebih.
Angka tersebut harus dibaca bukan sebagai alasan untuk menyalahkan sekolah atau guru.
Justru sebaliknya. Ia merupakan :
Alarm nasional bahwa reformasi kualitas pembelajaran harus menjadi prioritas utama.
World Bank memperkirakan 53% anak Indonesia pada usia akhir sekolah dasar belum mencapai kemampuan membaca yang memadai, setelah memperhitungkan anak yang tidak bersekolah.
Namun angka tersebut menggunakan data pembelajaran terbaru yang tersedia sebelum gangguan COVID-19, sehingga harus diperlakukan sebagai baseline historis, bukan sebagai pengukuran baru tahun 2026.
Ini justru menunjukkan kebutuhan mendesak untuk :
MEMBANGUN BASELINE LITERASI NASIONAL YANG TERBARU DAN TERBANDINGKAN.
PISA 2025 memberikan fakta yang sangat menarik.
Sebanyak 53% siswa Indonesia melaporkan menggunakan AI chatbot untuk membantu belajar setidaknya sekali seminggu.
Bahkan :
01. 39% menggunakannya untuk merangkum teks;
02. 32% untuk riset awal;
03. 30% untuk membantu membuat teks tugas.
Artinya : AI SUDAH MASUK SEKOLAH.
Walaupun kebijakan pendidikan belum sepenuhnya selesai beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Karena itu : Kebijakan AI Pendidikan tidak boleh datang setelah AI digunakan secara masif oleh siswa.
Ia harus hadir bersamaan dengan perubahan perilaku belajar.
Tujuan :
Memastikan setiap anak Indonesia :
Masuk Sekolah → Bertahan → Menyelesaikan Pendidikan → Memiliki Kompetensi.
Indikator :
01. Angka Partisipasi Sekolah.
02. Angka Anak Tidak Sekolah.
03. Angka penyelesaian pendidikan.
04. Angka putus sekolah.
05. Transisi SD → SMP → SMA/SMK.
06. Kesenjangan antarwilayah.
TARGET USULAN :
Tahun + Target :
01. 2027 = Baseline nasional terpadu
02. 2030 = Anak usia dasar di luar sekolah mendekati nol
03. 2035 = Penyelesaian pendidikan dasar universal
04. 2040 = Transisi pendidikan menengah sangat tinggi
05. 2045 = Pendidikan dasar universal dan pendidikan menengah menjadi norma nasional
Target numerik final harus ditetapkan setelah baseline nasional 2026/2027 lengkap.
Inilah KPI yang harus menjadi salah satu target paling keras dalam blueprint.
TARGET BESAR :
SETIAP ANAK INDONESIA WAJIB MAMPU MEMBACA DENGAN PEMAHAMAN.
Bukan sekadar bisa mengeja.Bukan sekadar bisa membaca kalimat.
Tetapi :
Membaca → Memahami → Menilai → Menyimpulkan → Menggunakan informasi.
TARGET USULAN LEARNING POVERTY
Tahun + Target maksimum :
Baseline historis : 53%
01. 2030 : ≤40%
02. 2035 : ≤25%
03. 2040 : ≤15%
04. 2045 : ≤10%
Angka ini merupakan Target kebijakan yang diusulkan, bukan proyeksi resmi pemerintah.
Indonesia harus memiliki target nasional untuk mengubah matematika dari :
Mata Pelajaran Yang Ditakuti Menjadi : Alat Berpikir Kehidupan.
Kompetensi Numerasi meliputi :
Berhitung; Proporsi; Persentase; Statistik; Probabilitas; Membaca Grafik; Literasi Keuangan; Pemecahan Masalah; Matematika Kehidupan Sehari-Hari.
TARGET PISA MATEMATIKA
Baseline 2025 : 364 poin.
Target kebijakan yang dapat diuji :
Tahun + Target rata-rata :
2025 : 364
2030 : ≥390
2035 : ≥420
2040 : ≥450
2045 : ≥480
Target ini harus dipandang sebagai Target aspiratif nasional, bukan ramalan otomatis.Yang lebih penting adalah konsistensi kenaikan dan pengurangan kesenjangan.
Baseline PISA 2025 : 365 poin.
Target aspiratif :
Tahun + Target :
2025 : 365
2030 : ≥390
2035 : ≥420
2040 : ≥450
2045 : ≥480
Tetapi angka PISA bukan satu-satunya indikator.
Indonesia juga harus memiliki National Reading Competency Assessment yang mengukur kemampuan membaca dari kelas awal sampai pendidikan menengah.
Baseline : 37% siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih dalam sains PISA 2025.
Target kebijakan :
Tahun + Persentase Level 2+
2025 : 37%
2030 : ≥50%
2035 : ≥60%
2040 : ≥70%
2045 : ≥80%
Tujuan akhirnya bukan membuat semua siswa menjadi ilmuwan.
Tetapi membuat setiap warga negara mampu :
Mengamati → Bertanya → Menguji → Menganalisis → Menyimpulkan.
Baseline PISA 2025 : 427 poin.
Target aspiratif :
Tahun + Target :
2025 : 427
2030 : ≥450
2035 : ≥475
2040 : ≥500
2045 : ≥525
Ini bukan berarti semua anak harus menjadi programmer.
Computational thinking berarti :
Memecah Masalah → Mencari Pola → Menyusun Langkah → Menguji Solusi → Memperbaiki.
Kemampuan tersebut akan semakin penting dalam dunia yang dipenuhi AI.
Baseline : 53% siswa menggunakan AI chatbot setidaknya mingguan.
Namun kita tidak boleh menjadikan “tingginya penggunaan AI” sebagai keberhasilan.
Justru pertanyaannya :
APAKAH ANAK MAMPU MENGGUNAKAN AI TANPA KEHILANGAN KEMAMPUAN BERPIKIR?
Karena itu KPI AI harus meliputi :
01. Kemampuan Menggunakan AI;
02. Kemampuan Memverifikasi Output AI;
03. Pemahaman Bias;
04. Keamanan Data;
05. Etika;
06. Hak Cipta;
07. Kemampuan Membuat Prompt;
08. Kemampuan Bekerja Bersama AI;
09. Kemampuan Mengetahui Kapan Tidak Boleh Menggunakan AI.
TARGET :
Tahun + Target :
01. 2030 = AI literacy framework nasional
02. 2035 = AI literacy menjadi kompetensi dasar pendidikan menengah
03. 2040 = AI menjadi bagian integral pembelajaran
04. 2045 = Indonesia memiliki SDM yang mampu menjadi pengguna sekaligus pencipta AI
Guru merupakan multiplier terbesar dalam sistem pendidikan.
Karena itu indikator guru tidak boleh berhenti pada : Jumlah Guru.
Yang harus diukur :
01. Kompetensi;
02. Distribusi;
03. Beban Kerja;
04. Kualitas Pedagogi;
05. Literasi Digital;
06. Ai Literacy;
07. Pengembangan Profesional;
08. Kesejahteraan;
09. Kualitas Kepala Sekolah.
TARGET :
Tahun + Sasaran :
01. 2030 : Sistem kompetensi guru nasional terpadu
02. 2035 : Mayoritas guru memenuhi standar kompetensi digital
03. 2040 : Hampir seluruh guru menguasai pedagogi digital dan AI
04. 2045 : Guru menjadi profesi strategis berbasis kompetensi tinggi
Ini salah satu KPI terpenting.
Indonesia tidak boleh puas dengan rata-rata nasional.
Karena :
RATA-RATA NASIONAL BISA MENYEMBUNYIKAN KETIMPANGAN.
Maka setiap indikator utama wajib disajikan minimal berdasarkan :
01. Provinsi;
02. Kabupaten/Kota;
03. Perkotaan/Perdesaan;
04. Jenis Kelamin;
05. Status Sosial Ekonomi;
06. Disabilitas;
07. Wilayah Tertinggal;
08. Wilayah Kepulauan.
TARGET :
Pada 2045 :
Tidak boleh ada wilayah yang tertinggal secara struktural dari standar minimum pendidikan nasional.
Baseline 2025 : 9,07 tahun.
Target usulan :
Tahun + Target RLS :
01. 2025 : 9,07
02. 2030 : ≥10,0
03. 2035 : ≥11,0
04. 2040 : ≥12,0
05. 2045 : ≥12,5
Tetapi indikator ini harus diperlakukan sebagai indikator Akses dan Akumulasi Pendidikan, bukan ukuran tunggal kualitas.
Sebab seseorang bisa sekolah lama tetapi tidak memiliki kemampuan yang memadai.
Baseline 2025 : 13,30 tahun.
Target usulan :
Tahun + Target HLS :
01. 2025 : 13,30
02. 2030 : ≥13,8
03. 2035 : ≥14,2
04. 2040 : ≥14,5
05. 2045 : ≥15,0
Namun target ini harus dibaca bersama :
RLS + Penyelesaian Pendidikan + Learning Outcome.
Di sinilah blueprint ini berbeda dari sistem pengukuran pendidikan yang hanya berorientasi akademik.
Kita perlu membangun :
INDONESIAN HUMAN CHARACTER INDEX
Yang mengukur :
Kesadaran Ketuhanan
Integritas dan tanggung jawab moral.
Kesadaran Diri
Self-awareness dan pengelolaan diri.
Kesadaran Kemanusiaan
Empati dan penghormatan terhadap perbedaan.
Kesadaran Kebangsaan
Pancasila, konstitusi dan persatuan.
Kesadaran Kebudayaan
Pemahaman budaya lokal dan nasional.
Kesadaran Ekologis
Tanggung jawab terhadap lingkungan.
Kesadaran Digital
Etika dan keamanan digital.
Kesadaran Global
Kemampuan hidup dan bekerja dalam masyarakat global.
Indeks ini harus dikembangkan secara ilmiah.
Tidak boleh menjadi tes moral yang menghakimi anak.
Targetnya bukan membuat semua anak menjadi pengusaha.
Targetnya adalah membangun :
MINDSET MENCIPTAKAN NILAI.
Indikator :
01. Kemampuan Mengenali Masalah;
02. Membuat Solusi;
03. Menghasilkan Produk;
04. Mengelola Keuangan;
05. Bekerja Sama;
06. Memahami Pasar;
07. Menciptakan Karya.
TARGET 2045 :
Setiap lulusan pendidikan menengah memiliki pengalaman :
Membuat Produk/Karya → Menguji → Mempresentasikan → Mendapatkan Feedback → Memperbaiki.
Pendidikan Indonesia harus mempunyai indikator :
SEBERAPA DALAM ANAK INDONESIA MENGENAL INDONESIA?
Bukan hanya hafal nama provinsi.
Tetapi :
01. Sejarah;
02. Bahasa;
03. Seni;
04. Tradisi;
05. Lingkungan;
06. Kuliner;
07. Arsitektur;
08. Ekonomi Lokal;
09. Tokoh Daerah;
10. Pengetahuan Masyarakat.
TARGET 2045 :
Setiap anak : Mengenal akar budayanya sebelum memasuki dunia global.
Formula :
LOCAL ROOTS → NATIONAL IDENTITY → GLOBAL COMPETENCE
Guru tidak bisa dituntut menjadi agen transformasi apabila sistem tidak memperhatikan kehidupan profesional mereka.
Indikator :
01. Pendapatan;
02. Beban Kerja;
03. Akses Pelatihan;
04. Jenjang Karier;
05. Kesehatan Kerja;
06. Kepuasan Profesional;
07. Dukungan Teknologi.
Target :
Profesi guru harus menjadi profesi yang dihormati karena kompetensinya, bukan hanya karena statusnya.
Setiap sekolah harus memiliki minimum standard :
1. Infrastruktur : Bangunan aman.
2. Sanitasi : Air dan sanitasi layak.
3. Konektivitas : Internet sesuai kebutuhan.
4. Perpustakaan : Fisik dan digital.
5. Laboratorium : Sesuai jenjang.
6. Ruang kreativitas : Seni, budaya, teknologi.
7. Ruang ekologis : Lingkungan hijau.
8. Keamanan : Bebas kekerasan dan bullying.
PISA 2025 mencatat 24% siswa Indonesia melaporkan mengalami setidaknya satu bentuk bullying beberapa kali per bulan atau lebih.
Maka :
SEKOLAH AMAN ADALAH KPI PENDIDIKAN.
Anggaran pendidikan 2026 secara resmi ditetapkan sebesar : Rp. 769,0869 TRILIUN atau 20% dari belanja negara.
Namun Grand Design ini mengusulkan agar evaluasi anggaran tidak hanya menggunakan :
INPUT KPI :
“Berapa Anggaran Terserap?”
Tetapi :
OUTCOME KPI :
“Apa Perubahan Yang Terjadi?”
Kita belum boleh menetapkan nominal 2045 karena APBN masa depan belum diketahui.
Yang lebih rasional adalah menetapkan prioritas proporsional.
Sebagai desain awal :
Prioritas + Arah alokasi :
01. Guru & tenaga pendidikan = Prioritas I
02. Literasi-numerasi = Prioritas I
03. Pemerataan & daerah tertinggal = Prioritas I
04. Infrastruktur sekolah = Prioritas I
05. PAUD = Prioritas II
06. Digital & AI = Prioritas II
07. Vokasi & link industri = Prioritas II
08. Riset & inovasi = Prioritas II
09. Budaya & local wisdom = Prioritas III
10. Entrepreneurship = Prioritas III
12. Global competence = Prioritas III
Bukan berarti seluruhnya harus menjadi pos anggaran terpisah.
Yang penting adalah :
Setiap Rupiah Dapat Ditelusuri Kepada Tujuan Pembangunan Manusia.
Setiap program nasional harus memiliki lima indikator :
1. INPUT : Berapa uang?
2. OUTPUT : Apa yang dibangun?
3. OUTCOME : Apa yang berubah?
4. COST EFFECTIVENESS : Berapa biaya per perubahan?
5. HUMAN IMPACT : Apa dampaknya terhadap kualitas manusia?
Dengan demikian, program pendidikan dapat dibandingkan :
Program A menghabiskan Rp1 triliun dan meningkatkan hasil belajar X.
sementara :
Program B menghabiskan Rp1 triliun dan meningkatkan hasil belajar 2X.
Maka program B harus mendapatkan perhatian lebih besar.
Pada akhirnya kita membutuhkan satu dashboard sederhana.
INDONESIA EDUCATION SCORECARDAKSES
🟢 tercapai
🟡 perlu perhatian
🔴 tertinggal
LITERASI
🟢 / 🟡 / 🔴
NUMERASI
🟢 / 🟡 / 🔴
SAINS
🟢 / 🟡 / 🔴
GURU
🟢 / 🟡 / 🔴
AI
🟢 / 🟡 / 🔴
KARAKTER
🟢 / 🟡 / 🔴
BUDAYA
🟢 / 🟡 / 🔴
PEMERATAAN
🟢 / 🟡 / 🔴
KEMANDIRIAN
🟢 / 🟡 / 🔴
GLOBAL COMPETENCE
🟢 / 🟡 / 🔴
Dengan sistem tersebut masyarakat dapat melihat :
“Pendidikan Indonesia sedang bergerak ke arah yang benar atau tidak?”
Seluruh KPI akhirnya bermuara pada 10 sasaran nasional.
1. Tidak ada anak Indonesia yang kehilangan hak pendidikan dasar.
2. Literasi dasar menjadi kemampuan universal.
3. Numerasi menjadi kemampuan kehidupan.
4. Sains menjadi budaya berpikir.
5. AI menjadi alat produktivitas, bukan pengganti pikiran manusia.
6. Guru menjadi profesi strategis.
7. Sekolah menjadi ekosistem pembelajaran yang aman.
8. Budaya Nusantara menjadi akar identitas.
9. Pendidikan menjadi mesin mobilitas sosial dan produktivitas.
10. Manusia Indonesia mampu berkontribusi dalam peradaban global.
Semua KPI tersebut akhirnya kembali kepada formula utama :
AKSES
↓
LEARNING
↓
CHARACTER
↓
COMPETENCE
↓
CREATION
↓
INDEPENDENCE
↓
CONTRIBUTION
↓
CIVILIZATION
Ini harus ditegaskan dalam policy paper agar dokumen kita kredibel.
ANGKA BASELINE RESMI
Contohnya :
RLS 2025 = 9,07 tahun;
HLS 2025 = 13,30 tahun;
PISA matematika 2025 = 364;
PISA membaca 2025 = 365;
PISA computational problem solving = 427;
PISA Level 2+ matematika = 17%;
PISA Level 2+ membaca = 27%;
PISA Level 2+ sains = 37%;
penggunaan AI chatbot mingguan = 53%;
anggaran pendidikan 2026 = Rp769,09 triliun.
TARGET 2030–2045 :
Angka seperti :
Learning Poverty ≤10% pada 2045
atau
PISA matematika ≥480 pada 2045
Adalah :
TARGET KEBIJAKAN YANG DIUSULKAN.
Bukan angka resmi pemerintah.
Pembedaan ini sangat penting.
Sebuah policy paper yang baik tidak boleh menyamarkan : Data Dengan Aspirasi.
Grand Design Pendidikan Indonesia 2027–2045 akhirnya mempunyai satu prinsip :
KITA TIDAK BOLEH MENGUKUR KEBERHASILAN PENDIDIKAN HANYA DARI BERAPA BANYAK ANAK YANG SEKOLAH. KITA HARUS MENGUKUR BERAPA BANYAK MANUSIA YANG BERUBAH KARENA SEKOLAH.
Sebab :
Sekolah Adalah Input,
Pembelajaran Adalah Proses,
Kompetensi Adalah Output,
Kemandirian Adalah Outcome,
Dan : MANUSIA YANG BERMANFAAT ADALAH IMPACT.
Indonesia telah membangun sistem pendidikan selama puluhan tahun.
Sekarang kita memasuki babak baru.
Babak ketika :
AI mengubah cara manusia belajar.
Teknologi mengubah cara manusia bekerja.
Globalisasi mengubah cara manusia berkompetisi.
Perubahan iklim mengubah cara manusia bertahan hidup.
Dan perubahan sosial mengubah cara manusia berinteraksi.
Karena itu pendidikan Indonesia tidak boleh hanya mempersiapkan anak untuk : Ujian.
Ia harus mempersiapkan manusia untuk : Kehidupan.
Dan kehidupan pada 2045 tidak akan sama dengan kehidupan 2026.
Maka kita membutuhkan pendidikan yang :
Berakar Pada Nusantara,
Berjiwa Indonesia,
Berilmu Pengetahuan,
Menguasai Teknologi,
Mampu Hidup Bersama AI,
Mandiri Secara Ekonomi,
Kuat Secara Karakter,
Terbuka Terhadap Dunia,
Dan :
BERKONTRIBUSI BAGI PERADABAN.
Inilah alasan Grand Design Pendidikan Indonesia 2027–2045 tidak boleh hanya menjadi dokumen kementerian.
Ia harus menjadi : KONTRAK PERADABAN BANGSA.
Karena pergantian presiden boleh terjadi.
Pergantian menteri boleh terjadi.
Kurikulum boleh diperbarui.
Teknologi boleh berubah.
Tetapi satu hal tidak boleh berubah :
ARAH PEMBANGUNAN MANUSIA INDONESIA.
Dan arah itu adalah :
MEMBANGUN MANUSIA INDONESIA YANG SEUTUHNYA.
[…] Oleh : Wahono – Aktifis Banjarnegara […]