Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482
Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482


Indonesia telah memberikan mandat konstitusional bahwa anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD.
Tetapi bagi Grand Design Pendidikan Indonesia 2027–2045, pertanyaan kita tidak boleh berhenti pada :
“Apakah anggaran pendidikan sudah 20 persen?”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah :
“Apakah 20 persen tersebut benar-benar menghasilkan perubahan kualitas manusia Indonesia?”
Sebab anggaran yang besar belum otomatis menghasilkan pendidikan yang berkualitas.
Uang dapat menghasilkan : Gedung; Komputer; Buku; Pelatihan; Beasiswa; Program; Bantuan; tetapi semua itu baru merupakan input.
Tujuan akhirnya adalah : PERUBAHAN MANUSIA.
Karena itu paradigma pembiayaan pendidikan harus diubah :
DARIBUDGET ORIENTED
Menjadi :
IMPACT ORIENTED
Dalam RAPBN 2027, pemerintah merancang anggaran pendidikan sebesar : Rp. 820,9 TRILIUN
Angka tersebut merupakan sekitar 20 persen dari APBN dan diarahkan antara lain untuk PIP, KIP Kuliah, renovasi sekolah/madrasah, sekolah unggulan, Sekolah Rakyat, peningkatan kualitas pembelajaran, serta program pendidikan lainnya.
Sebagai gambaran : Rp. 820,9 triliun
Setara dengan : Rp. 820.900.000.000.000,-
Ini bukan uang kecil.
Ini adalah salah satu instrumen fiskal terbesar yang dimiliki negara untuk membangun manusia.
Maka :
SETIAP RUPIAH PENDIDIKAN HARUS MEMPUNYAI CERITA TENTANG MANUSIA YANG AKAN BERUBAH KARENANYA.
Selama ini evaluasi anggaran sering berhenti pada :
INPUT
Berapa anggaran?
↓
ABSORPTION
Berapa yang terserap?
↓
OUTPUT
Berapa program selesai?
Grand Design ini mengusulkan rantai yang lebih panjang :
INPUT
Anggaran
↓
PROGRAM
Intervensi
↓
OUTPUT
Hasil langsung
↓
OUTCOME
Perubahan kemampuan/perilaku
↓
HUMAN IMPACT
Perubahan kualitas manusia
↓
SOCIAL & ECONOMIC IMPACT
Perubahan masyarakat dan ekonomi
Misalnya pemerintah mengeluarkan : Rp. 1 triliun untuk pelatihan guru.
Ukuran lama :
100.000 guru mengikuti pelatihan. Selesai.
Tetapi ukuran Grand Design harus bertanya :
Pertanyaan 1
Apakah kompetensi guru meningkat?
Pertanyaan 2
Apakah metode mengajar berubah?
Pertanyaan 3
Apakah kualitas pembelajaran meningkat?
Pertanyaan 4
Apakah kemampuan siswa meningkat?
Pertanyaan 5
Apakah kesenjangan antarwilayah mengecil?
Kalau jawabannya tidak :
PROGRAM HARUS DIPERBAIKI.
Inilah prinsip :
MONEY → PERFORMANCE → LEARNING → HUMAN IMPACT
Sebagai simulasi kebijakan, bukan pembagian resmi pemerintah, Rp. 820,9 triliun dapat diuji menggunakan 10 keranjang prioritas.
Prioritas + Persentase simulasi + Nilai dari Rp. 820,9 T :
01. Dukungan peserta didik, gizi & perlindungan pendidikan : 28% = Rp229,85 T
02. Guru & tenaga kependidikan : 20% = Rp164,18 T
03. Literasi, numerasi & pembelajaran dasar : 12% = Rp98,51 T
04. Infrastruktur & ekosistem sekolah : 14% = Rp114,93 T
05. Digitalisasi & AI : 6% = Rp49,25 T
06. Vokasi & hubungan industri : 5% = Rp41,05 T
07. Pendidikan tinggi, riset & inovasi : 8% = Rp65,67 T
08. Pemerataan & afirmasi wilayah : 4% = Rp32,84 T
09. Budaya & Nusantara Wisdom : 2% + Rp16,42 T
10/ Governance, data & evaluasi : 1% = Rp8,21 T
TOTAL : 100% = Rp820,90 T
Catatan :
Ini adalah simulasi arsitektur kebijakan untuk menguji desain Grand Design, bukan rincian resmi RAPBN 2027.
28% — ±Rp. 229,85 TRILIUN
Pendidikan tidak akan efektif jika anak :
01. Lapar;
02. Miskin;
03. Tidak Memiliki Alat Belajar;
04. Terancam Putus Sekolah;
05. Tidak Mampu Melanjutkan Pendidikan.
Karena itu intervensi peserta didik harus dipandang sebagai :
INVESTASI HUMAN CAPITAL
Program dapat mencakup :
01. PIP;
02. KIP Kuliah;
03. Beasiswa;
04. Dukungan Siswa Rentan;
05. Pendidikan Inklusif;
06. Dukungan Anak Disabilitas;
07. Intervensi Daerah Miskin;
08. Dukungan Gizi Yang Terkait Dengan Pendidikan.
RAPBN 2027 sendiri mencantumkan PIP sebesar Rp. 15,9 triliun untuk 22,1 juta siswa dan KIP Kuliah Rp.17 triliun untuk 1,1 juta mahasiswa.
KPI :
Bukan : Berapa banyak bantuan dibagikan.
Tetapi : Berapa Banyak Anak Yang Tetap Sekolah Dan Berhasil Belajar Karena Bantuan Tersebut.
20% — ±Rp. 164,18 TRILIUN
Guru adalah : MULTIPLIER TERBESAR DALAM PENDIDIKAN.
Karena itu investasi guru harus mencakup :
A. Kompetensi
01. Pedagogi;
02. Bidang Ilmu;
03. Asesmen;
04. Psikologi Anak;
05. Digital;
06. AI.
B. Karier
01. Jenjang Profesional;
02. Sertifikasi Kompetensi;
03. Microcredential;
04. Mentoring;
05. Kepemimpinan Sekolah.
C. Pemerataan
01. Daerah Terpencil;
02. Kepulauan;
03. Wilayah Tertinggal;
05. Sekolah Dengan Kekurangan Guru.
D. Kesejahteraan
01. Remunerasi;
02. Perlindungan Profesional;
03. Dukungan Kerja.
BPS sendiri menyediakan data pendidik menurut jenjang dan provinsi, sehingga ke depan redistribusi guru dapat dibangun berdasarkan data kebutuhan nyata, bukan hanya jumlah agregat.
12% — ±Rp. 98,51 TRILIUN
Ini harus menjadi :
PROGRAM DARURAT NASIONAL.
Sebab kalau anak tidak mampu membaca dan berhitung dengan baik, seluruh program pendidikan berikutnya akan mengalami hambatan.
Program :
01. Early Grade Literacy;
02. Reading Recovery;
03. Numeracy Recovery;
04. Perpustakaan;
05. Buku;
06. Asesmen Diagnostik;
07. Remedial;
08. Tutor;
09. Teknologi Pembelajaran;
10. Intervensi Daerah Tertinggal.
KPI :
01. Reading Comprehension;
02. Numeracy;
03. Science Literacy;
04. Learning Poverty;
05. Kesenjangan Antardaerah.
Target :
Tidak boleh ada anak yang menyelesaikan pendidikan dasar tanpa kemampuan literasi dan numerasi fungsional.
14% — ±Rp. 114,93 TRILIUN
Sekolah bukan hanya gedung.
Tetapi lingkungan belajar.
Investasi diarahkan kepada :
01. Ruang Kelas;
02. Sanitasi;
03. Air Bersih;
04. Perpustakaan;
05. Laboratorium;
06. Ruang Seni;
07. Ruang Budaya;
08. Ruang Kreativitas;
09. Internet;
10. Listrik;
11. Keamanan;
12. Fasilitas Olahraga;
13. Ruang Ekologis.
RAPBN 2027, menurut Kemenkeu, antara lain memuat renovasi 12.215 sekolah/madrasah dengan anggaran Rp18,2 triliun.
Grand Design menambahkan prinsip :
REVITALISASI TIDAK BOLEH HANYA MEMPERBAIKI BANGUNAN.
Tetapi harus memperbaiki :
KUALITAS LINGKUNGAN BELAJAR.
6% — ±Rp. 49,25 TRILIUN
Ini adalah investasi yang sangat strategis.
PISA 2025 menunjukkan 53 persen siswa Indonesia menggunakan AI chatbot untuk membantu belajar setidaknya sekali seminggu.
Artinya : ANAK SUDAH MEMASUKI ERA AI.
Pertanyaannya : APAKAH SISTEM PENDIDIKAN SUDAH SIAP?
Anggaran digital/AI harus mencakup :
01. Konektivitas;
02. Perangkat;
03. Platform Pembelajaran;
04. Ai Education;
05. Teacher Ai Training;
06. Cybersecurity;
07. Data Protection;
08. Digital Content;
09. AI Literacy;
10. Computational Thinking.
Digitalisasi tidak boleh menjadi :
Membeli perangkat → Membagikan perangkat → Selesai.
Karena perangkat yang tidak digunakan dengan benar hanyalah :
BARANG MODAL.
Bukan transformasi pendidikan.
Rumusnya harus :
DEVICE + CONTENT + TEACHER + CONNECTIVITY + PEDAGOGY + DATA = DIGITAL TRANSFORMATION
Kalau salah satu hilang, dampaknya dapat jauh lebih kecil.
5% — ±Rp. 41,05 TRILIUN
Pendidikan harus berhubungan dengan kehidupan ekonomi.
Program :
01. Teaching Factory;
02. Magang;
03. Apprenticeship;
04. Sertifikasi;
05. Industri Masuk Sekolah;
06. Sekolah Berbasis Potensi Daerah;
07. Kewirausahaan;
08. Digital Business;
09. reen Jobs;
10. Future Jobs.
Formula :
SCHOOL → SKILL → WORK → INCOME
Tetapi kita ingin naik satu tingkat :
SCHOOL → SKILL → CREATION → BUSINESS → JOB CREATION
8% — ±Rp. 65,67 TRILIUN
Indonesia tidak boleh hanya menjadi :
PASAR TEKNOLOGI.
Kita harus menjadi :
PENCIPTA TEKNOLOGI.
Karena itu perguruan tinggi harus diarahkan kepada :
01. Riset;
02. Ai;
03. Energi;
04. Pangan;
05. Kesehatan;
06. Maritim;
07. Pertanian;
08. Material;
09. Teknologi;
10. Budaya;
11. Ekonomi Kreatif.
Formula :
RESEARCH → INNOVATION → INDUSTRY → PRODUCTIVITY
4% — ±Rp. 32,84 TRILIUN
Angka 4 persen terlihat kecil.
Tetapi prinsipnya :
ANGGARAN TAMBAHAN HARUS MENGIKUTI BESARNYA KESENJANGAN.
Daerah yang memiliki persoalan paling berat tidak boleh menerima perlakuan yang sama dengan daerah yang sudah maju.
Maka diperlukan :
EDUCATION EQUALIZATION FUND
Berbasis indikator :
01. Kemiskinan;
02. Geografis;
03. Keterpencilan;
04. Infrastruktur;
05. Guru;
06. Hasil Belajar;
07. Akses Internet;
08. Kondisi Sekolah.
Formula :
THE BIGGER THE GAP → THE BIGGER THE AFFIRMATIVE SUPPORT.
2% — ±Rp. 16,42 TRILIUN
Ini mungkin terlihat kecil.
Tetapi dampaknya bisa sangat besar terhadap : JATI DIRI.
Dana ini dapat diarahkan untuk :
01. Bahasa Daerah;
02. Seni;
03. Budaya;
04. Sejarah Lokal;
05. Digitalisasi Manuskrip;
06. Museum;
07. Dokumentasi Tradisi;
08. Seniman Masuk Sekolah;
09. Budayawan Masuk Sekolah;
10. Cultural Laboratory.
Tujuannya bukan menjadikan anak hidup di masa lalu.
Justru :
AKAR BUDAYA DIGUNAKAN UNTUK MEMBANGUN MANUSIA YANG MAMPU HIDUP DI MASA DEPAN.
1% — ±Rp. 8,21 TRILIUN
Ini adalah “otak” sistem.
Dana diarahkan untuk :
01. Integrasi Data;
02. Dashboard Nasional;
03. Evaluasi;
04. Impact Assessment;
05. Audit Program;
06. Cost Effectiveness;
07. Independent Evaluation;
09. Policy Laboratory.
Prinsipnya :
NO DATA → NO POLICY dan : NO EVALUATION → NO SCALE-UP
Program yang berhasil diperbesar.Program yang tidak berhasil diperbaiki atau dihentikan.
Ada persoalan penting.
Pembagian anggaran berdasarkan 10 keranjang tidak berarti setiap program berdiri sendiri.
Contohnya :
AI
Tidak hanya dibiayai oleh pos digital.
AI juga masuk :
01. Guru;
02. Kurikulum;
03. Pendidikan Tinggi;
04. Vokasi;
05. Riset.
Begitu juga : LITERASI
Tidak hanya menjadi urusan program literasi.
Ia masuk :
01. Guru;
02. Sekolah;
03. Perpustakaan;
04. Keluarga;
05. Digital;
06. PAUD.
Maka sistem pembiayaan harus menggunakan :
CROSS-CUTTING BUDGETING
Bukan sekadar :
SILO BUDGETING.
Bayangkan satu sekolah di daerah tertinggal.
Sekolah tersebut membutuhkan :
01. Guru;
02. Perpustakaan;
03. Internet;
04. Sanitasi;
05. Perangkat;
06. Buku;
07. Pelatihan Guru;
08. Dukungan Siswa.
Dengan sistem lama :
Setiap kebutuhan mungkin datang melalui program berbeda.
Dengan Grand Design :
SCHOOL TRANSFORMATION PACKAGE
Sekolah mendapatkan satu paket berdasarkan diagnosis kebutuhannya.
Misalnya :
Kondisi sekolah :
01. Literasi rendah.
02. Guru kurang.
03. Internet lemah.
04. Bangunan rusak.
05. Kemiskinan tinggi.
Maka intervensinya :
Guru + Literasi + Infrastruktur + Digital + Afirmasi Siswa.
Bukan :
Masing-Masing Kementerian Mengirim Program Sendiri-Sendiri.
Setiap sekolah diberi skor :
L = Literacy
N = Numeracy
T = Teacher
I = Infrastructure
D = Digital
C = Character
E = Equity
Maka : STI = f (L + N + T + I + D + C + E)
Semakin rendah skor sekolah :
semakin besar intervensi.
Dengan demikian anggaran menjadi :
NEED BASED Bukan : EQUAL SHARING.
Grand Design mengusulkan secara bertahap :
PERFORMANCE-BASED EDUCATION FINANCING
Bukan berarti seluruh anggaran guru atau sekolah harus bergantung pada nilai siswa.
Itu berbahaya. Tetapi sebagian dana transformasi dapat dikaitkan dengan :
01. Peningkatan Literasi;
02. Pengurangan Dropout;
03. Peningkatan Kualitas Pembelajaran;
04. Pemerataan Guru;
05. Keamanan Sekolah;
06. Inovasi;
07. Peningkatan Kualitas Manajemen.
Dengan prinsip :
REWARD IMPROVEMENT, NOT JUST ABSOLUTE SCORE.
Sekolah yang awalnya sangat tertinggal tetapi mengalami kemajuan besar juga harus mendapatkan penghargaan.
Fase pertama harus menjadi :
FOUNDATION INVESTMENT
Prioritas :
01. Literasi;
02. Numerasi;
03. Guru;
04. PAUD;
05. Sekolah Tertinggal;
06. Sanitasi;
07. Perpustakaan;
08. Data Pendidikan;
09. Digital Dasar;
10. Perlindungan Siswa.
Jangan terlalu cepat mengejar proyek teknologi mahal jika :
Anak Belum Mampu Membaca Dengan Baik.
Masuk fase :
TRANSFORMATION INVESTMENT
Prioritas bergeser ke :
01. AI;
02. Sains;
03. Problem Solving;
04. Vocational;
05. Entrepreneurship;
06. Industry Linkage;
07. Creativity;
08. Research.
Formula :
BASIC LEARNING → ADVANCED COMPETENCE
Masuk fase :
ACCELERATION INVESTMENT
Prioritas :
01. Research;
02. Innovation;
03. Startup;
04. Deep Technology;
05. Green Economy;
06. Advanced Vocational;
07. Global Education.
Indonesia mulai bergerak : Dari Pengguna → Pencipta.
Masuk fase :
GLOBAL CONTRIBUTION INVESTMENT
Prioritas :
01. World-Class Research;
02. Global University;
03. International Collaboration;
04. Cultural Diplomacy;
05. Technology Leadership;
06. Global Entrepreneurship;
07. Civilization Studies.
Tujuan :
INDONESIA BUKAN HANYA MENJADI PESERTA DALAM PERADABAN GLOBAL.
Tetapi :
MENJADI SALAH SATU PEMBENTUK PERADABAN GLOBAL.
Dengan demikian orientasi pembiayaan berubah :
2027–2030
SURVIVAL & FOUNDATION
↓
2031–2035
QUALITY & TRANSFORMATION
↓
2036–2040
INNOVATION & PRODUCTIVITY
↓
2041–2045
GLOBAL CONTRIBUTION
Setiap program wajib memiliki minimal lima indikator :
Indikator + Pertanyaan :
01. Cost : Berapa biaya?
02. Output : Apa yang dihasilkan?
03. Outcome : Apa yang berubah?
04. Efficiency : Apakah biayanya efisien?
05. Impact : Apa dampaknya terhadap manusia?
Kemudian ditambahkan satu indikator penting :
EQUITYSiapa yang mendapatkan manfaat?
Karena program pendidikan yang bagus tetapi hanya dinikmati daerah maju belum cukup.
Grand Design harus menetapkan :
Setiap anak yang tertinggal harus dapat terdeteksi oleh sistem sebelum ia benar-benar tertinggal terlalu jauh.
Maka data siswa harus mampu mendeteksi :
01. Absensi;
02. Kemampuan Membaca;
03. Kemampuan Numerasi;
04. Kondisi Sosial;
05. Risiko Putus Sekolah;
06. Kebutuhan Khusus.
Kemudian sistem memberikan :
EARLY INTERVENTION.
Bukan menunggu :
Anak Gagal → Tinggal Kelas → Putus Sekolah.
Ada kesalahan cara pandang yang harus kita tinggalkan.
Pendidikan sering dianggap : BEBAN APBN.
Padahal pendidikan adalah :
INVESTASI PRODUKTIVITAS.
Manusia yang :
01. Sehat;
02. Berpendidikan;
03. Kompeten;
04. Kreatif;
05. Produktif;
Akan Menghasilkan :
01. Pendapatan;
02. Pajak;
03. Inovasi;
04. Lapangan Kerja;
05. Produktivitas;
06. Pertumbuhan Ekonomi.
Maka :
BELANJA PENDIDIKAN HARI INI ADALAH KAPASITAS EKONOMI INDONESIA BESOK.
Namun Grand Design ini tidak ingin berhenti pada konsep : Human Capital.
Karena manusia bukan sekadar “Modal Ekonomi”.
Kita ingin membangun :
HUMAN CAPABILITY.
Manusia harus memiliki kemampuan :
1. Untuk Memilih,
2. Berpikir,
3. Berkarya,
4. Mandiri,
5. Hidup Bermartabat, Dan
6. Memberikan Manfaat.
Maka tujuan pendidikan bukan hanya :
“Berapa Besar Gaji Seseorang?”
Tetapi juga :
“Seberapa Besar Kemampuan Manusia Menjalani Kehidupan Dengan Bermartabat?”
Seluruh sistem dapat diringkas :
UANG NEGARA
↓
INVESTASI MANUSIA
↓
GURU
SISWA
SEKOLAH
TEKNOLOGI
ILMU
BUDAYA
RISET
↓
KOMPETENSI
↓
KARYA
↓
PRODUKTIVITAS
↓
KESEJAHTERAAN
↓
KETAHANAN BANGSA
↓
PERADABAN
Jika Grand Design ini berhasil, maka pada 2045 kita tidak hanya ingin mengatakan :
“Anggaran pendidikan sudah besar.”
Tetapi kita ingin dapat menunjukkan :
LITERASI MENINGKAT.
NUMERASI MENINGKAT.
KUALITAS GURU MENINGKAT.
KESENJANGAN MENURUN.
SEKOLAH MENJADI AMAN.
AI DIGUNAKAN SECARA CERDAS.
INOVASI MENINGKAT.
KEWIRAUSAHAAN MENINGKAT.
PRODUKTIVITAS MENINGKAT.
JATI DIRI BANGSA MENGUAT.
Dan yang paling penting :
KUALITAS MANUSIA INDONESIA MENINGKAT.
Maka Grand Design Pendidikan Indonesia 2027–2045 mengusulkan satu prinsip :
20 PERSEN ADALAH MANDAT. DAMPAK ADALAH TUJUAN.
Jangan sampai kita merasa berhasil hanya karena :
Anggaran sudah 20 persen.
Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika :
20 persen tersebut mampu mengubah kehidupan manusia Indonesia.
Kalau kita tarik garis dari seluruh blueprint yang sudah kita bangun, sekarang terlihat sebuah rantai yang sangat jelas :
MANUSIA
adalah tujuan.
PENDIDIKAN
adalah instrumen.
GURU
adalah penggerak.
SEKOLAH
adalah ekosistem.
KURIKULUM
adalah arah pembelajaran.
TEKNOLOGI
adalah alat.
BUDAYA
adalah akar.
ANGGARAN
adalah energi.
DATA
adalah kompas.
EVALUASI
adalah cermin.
Dan seluruhnya harus diarahkan kepada satu tujuan :
MANUSIA INDONESIA YANG SEUTUHNYA.
Karena itu :
Jangan tanyakan hanya berapa triliun yang kita keluarkan untuk pendidikan.
Tanyakan :
“BERAPA JUTA MANUSIA INDONESIA YANG BERUBAH KARENA INVESTASI ITU?”
Itulah ukuran sesungguhnya.
Bukan :
BESARNYA ANGGARAN.
Tetapi :
BESARNYA PERUBAHAN MANUSIA YANG DIHASILKAN.
Dan dari sinilah kita bisa mengubah cara bangsa ini memandang anggaran pendidikan :
BUKAN SEBAGAI UANG YANG DIHABISKAN UNTUK PENDIDIKAN,MELAINKAN SEBAGAI ENERGI NEGARA UNTUK MEMBANGUN PERADABAN.
[…] Oleh : Wahono – Aktifis Banjarnegara […]