MEMBONGKAR MENTAL INLANDER DAN MEMBANGUN KESADARAN NUSANTARA

Oleh : Wahono, S.Pd - Aktifis & Wakil Ketua II DPW Partai Perindo Jawa Tengah

Kalau kita ingin memahami Indonesia, jangan hanya melihat Jakarta. Kenalilah daerahnya. Kenalilah sejarahnya. Kenalilah budayanya. Kenalilah kekuatan geopolitiknya. Karena Indonesia yang besar dibangun dari daerah-daerah yang sadar akan jati dirinya.

Ada satu pertanyaan besar yang seharusnya terus kita renungkan :
Sudah 81 tahun Indonesia merdeka. Tetapi, apakah benar kita sudah sepenuhnya merdeka? 

Secara hukum internasional, tentu Indonesia adalah negara merdeka dan berdaulat. Proklamasi 17 Agustus 1945 telah mengubah status bangsa Indonesia dari bangsa terjajah menjadi bangsa yang merdeka. 

Namun, kemerdekaan ternyata tidak hanya persoalan membebaskan wilayah dari penjajahan. Ada penjajahan yang jauh lebih sulit untuk dibebaskan : penjajahan pikiran, mentalitas, ketergantungan, dan hilangnya kesadaran terhadap identitas sendiri. Dan di sinilah persoalan besar kita hari ini.

DARI NUSANTARA DAN KALINGGA

Sekitar abad ke-6 Masehi, jalur perdagangan internasional telah menghubungkan berbagai wilayah Nusantara dengan dunia luar. Para pedagang asing datang membawa barang, pengetahuan, kebudayaan, sekaligus membuka hubungan dengan pusat-pusat peradaban lain. 

Pada periode yang kurang lebih sama, di dunia Arab lahir seorang manusia yang kelak mengubah sejarah dunia. Ahmad bin Abdullah, yang secara tradisi Islam dikenal lahir sekitar tahun 570/571 M di Makkah. Beliau lahir di tengah masyarakat Arab yang masih sangat kuat dengan tradisi jahiliah. 

Dalam sejarah Islam, kondisi tersebut digambarkan antara lain dengan lemahnya penghormatan terhadap martabat manusia, termasuk terhadap perempuan dan anak perempuan.Kemudian Ahmad bin Abdullah diutus menjadi Rasulullah ﷺ. Salah satu misi kerasulan yang sangat fundamental adalah : “Li utammima makarimal akhlaq” — menyempurnakan kemuliaan akhlak.Dan beliau menjadi Khatam an-Nabiyyin, penutup para nabi. 

Menariknya, pada periode sejarah yang hampir bersamaan, di belahan dunia yang jauh dari Arabia, Nusantara juga telah memiliki pusat-pusat kekuasaan dan kebudayaan yang berkembang.Salah satunya adalah Kerajaan Kalingga. 

Dalam tradisi sejarah Nusantara, Kalingga dikenal sebagai salah satu kerajaan penting di Jawa pada sekitar abad ke-6 dan ke-7 Masehi. Nama Ratu Shima kemudian sangat dikenal karena kisah mengenai ketegasan hukum dan keadilan dalam pemerintahannya. 

Di sinilah kita seharusnya mulai bertanya : Bukankah Nusantara sejak dahulu telah memiliki tradisi pemerintahan, hukum, perdagangan, pertanian, kebudayaan, dan tata kehidupan masyarakatnya sendiri? 

Artinya, Nusantara bukanlah tanah kosong. Nusantara bukan bangsa yang tidak memiliki peradaban.Kita memiliki sejarah. Kita memiliki akar. Kita memiliki identitas. Persoalannya adalah : Apakah kita mengenalnya?

DARI MAJAPAHIT, DEMAK, PAJANG HINGGA MATARAM

Berabad-abad kemudian, peta kekuasaan Nusantara mengalami perubahan. Majapahit mengalami keruntuhan. Pusat-pusat kekuasaan baru muncul. Di Jawa kemudian berkembang Kesultanan Demak, Pajang, hingga Mataram Islam. Pada saat yang sama, pengaruh bangsa-bangsa Eropa mulai semakin kuat dalam perdagangan dan politik Nusantara. 

Di sinilah babak baru sejarah dimulai. Perdagangan berubah menjadi penguasaan. Penguasaan ekonomi berkembang menjadi penguasaan politik. Dan pada akhirnya, kolonialisme semakin menancap ke dalam kehidupan masyarakat Nusantara. 

Jika kita menarik garis sejarah menuju 1945, bangsa Indonesia mengalami proses panjang kolonialisme dan eksploitasi oleh kekuatan asing. Karena itu, kemerdekaan 1945 sesungguhnya bukanlah titik awal perjuangan. Kemerdekaan adalah puncak dari perjuangan panjang bangsa yang telah berlangsung berabad-abad. 

Namun ada satu warisan penjajahan yang ternyata jauh lebih sulit dihilangkan daripada penjajahan fisik : MENTAL INLANDER.

81 TAHUN MERDEKA, SUDAHKAH MENTAL KITA MERDEKA?

Kemerdekaan secara hukum dapat diproklamasikan dalam satu hari. Tetapi kemerdekaan mental membutuhkan proses yang jauh lebih panjang. Mental inlander adalah cara berpikir yang merasa dirinya lebih rendah, selalu bergantung kepada pihak luar, kurang percaya terhadap kemampuan sendiri, dan lebih mudah mengagungkan sesuatu yang datang dari luar daripada menghargai kekuatan sendiri. 

Inilah yang harus kita lawan. Bukan berarti kita harus anti asing. Sama sekali bukan. Indonesia justru harus terbuka terhadap dunia. Kita harus belajar dari negara lain, menguasai teknologi dunia, memahami ekonomi global, membaca perubahan geopolitik dan membangun hubungan internasional yang kuat. 

Tetapi ada perbedaan besar antara : belajar dari bangsa lain dengan menjadi bangsa yang selalu bergantung kepada bangsa lain.

KETIKA AGAMA HANYA MENJADI IDENTITAS

Persoalan kita juga tidak berhenti pada ekonomi dan politik. Kita sering melihat agama menjadi identitas yang sangat kuat. Namun terkadang agama berhenti pada simbol dan identitas. Dipakai, tetapi tidak dikaji. Dipeluk, tetapi tidak dipahami. Dibicarakan, tetapi belum tentu diwujudkan dalam akhlak kehidupan. 

Padahal salah satu pesan fundamental agama adalah membangun manusia yang berakhlak. Maka ukuran keberagamaan semestinya tidak hanya berhenti pada : “Apa agamamu?” - Tetapi juga : “Seberapa baik akhlakmu? Seberapa besar manfaatmu bagi manusia? Seberapa jujur engkau menjalankan nilai-nilai yang engkau yakini?” 

Sebab bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan manusia yang pintar berbicara tentang kebenaran.Bangsa yang besar membutuhkan manusia yang mampu menjalankan kebenaran dalam kehidupan nyata.

INDONESIA DAN “900 PERAMPOK”

Sekarang mari kita gunakan sebuah analogi sederhana. Bayangkan sebuah keluarga terdiri dari sembilan orang. Mereka memiliki sebidang tanah yang ditanami padi, jagung, kelapa dan berbagai tanaman lain untuk memenuhi kebutuhan hidup. 

Tetapi ketika musim panen tiba, ternyata ada 900 orang yang datang hendak mengambil hasil pertanian mereka. Pertanyaannya : Apa yang bisa dilakukan keluarga tersebut? 

Analogi sederhana ini menggambarkan kegelisahan kita terhadap kondisi bangsa. Sumber daya bangsa terbatas. Anggaran negara terbatas. Kekayaan alam harus dikelola. Rakyat harus dilayani. Tetapi di berbagai tingkatan pemerintahan, kita masih berhadapan dengan persoalan korupsi, kebocoran, penyalahgunaan kekuasaan, konflik kepentingan dan praktik-praktik yang membuat kekayaan publik tidak sepenuhnya kembali kepada rakyat. 

Karena itu, masalah bangsa bukan hanya tentang siapa yang memimpin. Lebih dalam dari itu : bagaimana sistemnya? Bagaimana pengawasannya? Bagaimana budaya politiknya? Bagaimana integritas pejabatnya? Dan bagaimana masyarakat mengontrol kekuasaan?

JANGAN HANYA BANGGA MENJADI AHLI WARIS

Ada fenomena lain yang juga patut kita renungkan. Kadang-kadang kita begitu bangga dengan tradisi leluhur. Bangga dengan budaya. Bangga dengan sejarah. Bahkan tidak jarang kita marah ketika bangsa lain dianggap meremehkan atau mengambil budaya kita. 

Tetapi ketika ditanya : “Apa sebenarnya nilai utama dari budaya leluhur kita?” - Tidak semua mampu menjawab. Kita sering sibuk mempertahankan simbol budaya, tetapi lupa menggali nilai yang terkandung di balik simbol tersebut. 

Padahal budaya bukan sekadar pakaian. Bukan sekadar tarian. Bukan sekadar upacara. Bukan sekadar bahasa. Budaya adalah cara manusia membangun kehidupan. 

Di dalamnya terdapat nilai tentang hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan alam, kepemimpinan, gotong royong, keadilan, keseimbangan dan kehidupan bersama. Karena itu, jangan hanya menjadi ahli waris budaya. Jadilah penerus nilai-nilai terbaiknya.

NATION BUILDING DIMULAI DARI DAERAH

Inilah mengapa Nation Building tidak mungkin dibangun hanya dari pusat. Bangsa dibangun dari daerah. Indonesia dibangun dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan seluruh wilayah Nusantara. Dan setiap daerah memiliki sejarah, karakter, suku, budaya, agama, bahasa, sumber daya dan local wisdom masing-masing.  

Maka kita harus mengenali daerah kita sendiri. Kenali Banjarnegara. Kenali Jawa Tengah. Kenali Indonesia. Baru kemudian kita membaca dunia. Bagaimana mungkin seseorang memahami Indonesia jika ia sendiri tidak memahami daerahnya?

Bagaimana mungkin seseorang memahami geopolitik nasional jika ia tidak memahami posisi strategis daerahnya?

Dan bagaimana mungkin kita berbicara tentang Indonesia di panggung internasional jika kita sendiri tidak memahami kekuatan yang kita miliki?

LOCAL WISDOM ADALAH MODAL GLOBAL

Kita sering berpikir bahwa untuk menjadi global kita harus meninggalkan identitas lokal. Menurut saya justru sebaliknya. Semakin kuat akar kita, semakin kuat kemampuan kita berdiri di tengah dunia. 

Jepang menjadi modern tanpa kehilangan identitas Jepangnya. Korea Selatan mampu menjadi kekuatan ekonomi dan budaya global dengan membawa identitas Koreanya. Tiongkok tampil sebagai kekuatan dunia dengan kesadaran sejarah dan kebudayaan yang sangat kuat. 

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Kita memiliki kekayaan budaya yang luar biasa besar. Bahasa. Seni. Kuliner. Arsitektur. Tradisi. Kearifan lokal. Kekayaan alam. Dan sejarah peradaban yang panjang. Pertanyaannya bukan : “Apakah kita memiliki kekayaan?” – Pertanyaannya : “Apakah kita mampu mengolah kekayaan tersebut menjadi kekuatan?”

DARI BANJARNEGARA HARUS BISA BERPIKIR GLOBAL

Karena itu, ketika kita berbicara tentang Indonesia, perspektif kita semestinya sudah global. Kita harus memahami international knowledge. Ketika berbicara tentang Jawa Tengah, perspektif kita harus sudah nasional.

Dan ketika berbicara tentang Banjarnegara, setidaknya perspektif kita harus mampu melihat posisi Banjarnegara dalam konteks regional Jawa Tengah. Syukur-syukur bisa nasional. Bahkan kalau memungkinkan : global. 

Karena teknologi digital telah menghapus banyak batas geografis. Sebuah desa bisa dikenal dunia.Sebuah produk UMKM bisa dijual ke luar negeri. Sebuah kesenian lokal bisa menjadi diplomasi budaya. Sebuah destinasi wisata daerah bisa menjadi tujuan wisatawan internasional. Syaratnya hanya satu : kita harus tahu siapa diri kita dan apa yang kita miliki.

INI INDONESIA, BUNG!

Jangan pernah melihat Indonesia hanya dari ukuran luas wilayah di peta. Ini Indonesia, Bung!Ini Nusantara! Sebuah negara kepulauan yang sangat besar dengan posisi geografis yang sangat strategis. 

Kita bukan Singapura. Kita bukan Brunei Darussalam. Kita adalah Indonesia. Negara dengan ribuan pulau, wilayah laut yang sangat luas, sumber daya alam yang besar, populasi yang besar dan posisi strategis di antara dua samudra dan dua benua. 

Karena itu, cara berpikir kita juga tidak boleh kecil. Negara sebesar Indonesia membutuhkan cara berpikir sebesar Indonesia.

INDONESIA DAN KESADARAN PERTAHANAN

Di sinilah pentingnya kita memahami geopolitik dan geostrategi. Kita tidak bisa lagi membicarakan pertahanan hanya dari jumlah pasukan. Pertahanan modern menyangkut : wilayah, laut, udara, teknologi, pangan, energi, ekonomi, siber, diplomasi, industri pertahanan, sumber daya manusia dan ketahanan sosial. 

Indonesia memiliki karakter geografis yang berbeda dengan negara-negara lain. Wilayah laut kita sangat luas. Pulau-pulau kita tersebar. Garis pantai kita panjang. Posisi kita berada di jalur perdagangan dunia. Karena itu, kebutuhan pertahanan Indonesia juga memiliki karakter yang berbeda. 

Kita membutuhkan kekuatan darat. Tetapi kita juga membutuhkan kekuatan laut dan udara yang mampu menjaga wilayah Indonesia sebagai satu kesatuan. Dan lebih jauh lagi : kita membutuhkan industri pertahanan nasional yang kuat. 

Jangan sampai negara sebesar Indonesia hanya menjadi pasar bagi teknologi pertahanan negara lain.Kita harus belajar. Kita harus menguasai teknologi. Kita harus membangun kemampuan sendiri. Karena kedaulatan tanpa kemampuan mempertahankan kedaulatan hanyalah slogan.

MAKA, APA YANG SEBENARNYA HARUS KITA DISKUSIKAN?

Inilah pertanyaan penting untuk kita semua. Jika kita berada dalam sebuah forum diskusi, apa yang sebenarnya ingin kita bahas?
Apakah sekadar bertukar pendapat?
Apakah sekadar mempertahankan ego masing-masing?
Apakah sekadar mencari siapa yang paling benar?
Ataukah kita ingin menghasilkan sesuatu yang lebih besar? 

Pemahaman baru.
Pemahaman tentang bangsa. Pemahaman tentang negara. Pemahaman tentang daerah. Pemahaman tentang sejarah. Pemahaman tentang geopolitik. Pemahaman tentang masa depan. Karena perbedaan latar belakang dan perspektif seharusnya tidak membuat kita semakin ruwet. Justru perbedaan perspektif harus membuat kita semakin kaya.

DARI BERBEDA PERSPEKTIF MENUJU SATU KESADARAN

Kita tidak harus selalu sepakat. Tetapi kita harus mampu berdiskusi. Kita tidak harus memiliki latar belakang yang sama. Tetapi kita harus memiliki tujuan yang sama : Indonesia yang lebih baik. 

Kita tidak harus berpikir dengan cara yang sama. Tetapi kita harus mampu membangun ruang berpikir bersama. Sebab masa depan bangsa tidak akan dibangun oleh orang-orang yang hanya sibuk mempertahankan pendapatnya sendiri. 

Masa depan bangsa dibangun oleh manusia yang mampu : mendengar, berpikir, menguji, belajar, berdialog, berdebat secara sehat, kemudian menemukan jalan keluar.

AKHIRNYA, KITA HARUS MEMBESARKAN CARA BERPIKIR

Mungkin inilah inti dari seluruh pembicaraan kita. Jangan berpikir sekecil wilayah yang sedang kita tinggali. Kalau kita tinggal di desa, jangan hanya berpikir tentang desa. Lihat kecamatan. Lihat kabupaten. Lihat Jawa Tengah. Lihat Indonesia. Lihat Asia. Lihat dunia. 

Karena kita hidup di zaman ketika sebuah keputusan di satu negara bisa berdampak kepada kehidupan masyarakat di daerah kita. Harga energi dunia dapat memengaruhi kehidupan rakyat desa. Perang di negara lain dapat memengaruhi harga pangan. Perubahan teknologi dapat mengubah lapangan pekerjaan. Perubahan geopolitik dapat mengubah arah ekonomi nasional. Dan perkembangan AI dapat mengubah cara manusia bekerja dan belajar. 

Maka : Berpikir lokal saja tidak cukup. Berpikir nasional saja juga belum cukup. Kita harus mampu menghubungkan LOCAL KNOWLEDGE dengan NATIONAL INTEREST dan GLOBAL KNOWLEDGE. 

Karena pada akhirnya : Banjarnegara adalah bagian dari Jawa Tengah. Jawa Tengah adalah bagian dari Indonesia. Indonesia adalah bagian dari dunia. Dan dunia sedang berubah sangat cepat.

Maka kalau kita ingin membangun Indonesia yang kuat, kita harus memulainya dari satu hal yang paling mendasar : 
MEMBANGUN MANUSIA INDONESIA YANG SADAR SIAPA DIRINYA, TAHU DARI MANA IA BERASAL, MEMAHAMI DI MANA IA BERADA, DAN MENGERTI KE MANA BANGSANYA HARUS MELANGKAH. 

Inilah Nation Building. Inilah kesadaran Nusantara. Dan inilah saatnya kita berhenti menjadi bangsa yang hanya menjadi penonton sejarah. KITA HARUS MENJADI PELAKU SEJARAH. 

whonesiasikoji
whonesiasikoji
Articles: 78

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *