Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482
Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482


Oleh : Wahono, S.Pd – Aktifis & Ketua II DPW Partai Perindo Jawa Tengah
Ada sebuah angka yang barangkali jarang kita renungkan secara serius. Lebih dari 500 bayi lahir di Indonesia setiap jam. Kalau angka tersebut kita sederhanakan dalam hitungan waktu, maka kira-kira :
500 bayi × 24 jam = 12.000 bayi per hari.
Dalam satu bulan:12.000 bayi × 30 hari = 360.000 bayi.
Dan dalam satu tahun:360.000 bayi × 12 bulan = 4.320.000 bayi.
Artinya, dalam setahun Indonesia menghadirkan lebih dari empat juta manusia baru ke dunia. Jika menggunakan angka statistic BPS - sekitar 4,44 juta kelahiran sepanjang 2025, maka setiap hari ada ribuan keluarga Indonesia yang menyambut anggota keluarga baru. Bayangkan angka tersebut bukan sebagai statistik.
Bayangkan sebagai wajah manusia.
Ada bayi yang lahir di rumah sakit mewah.
Ada yang lahir di rumah sakit sederhana.
Ada yang lahir di puskesmas.
Ada pula yang lahir dalam keterbatasan.
Namun semuanya datang dengan satu kesamaan :
mereka tidak pernah memilih akan lahir di Indonesia seperti apa.
Mereka tidak memilih siapa pemerintahnya.
Mereka tidak memilih keadaan ekonominya.
Mereka tidak memilih sistem pendidikannya.
Mereka tidak memilih kondisi politiknya.
Mereka tidak memilih kualitas hukum dan keadilan yang akan mereka hadapi.
Mereka juga tidak memilih akan tumbuh dalam lingkungan sosial dan budaya seperti apa.
Mereka hanya lahir.
Dan sejak detik pertama kehidupannya, masa depan mereka mulai dipengaruhi oleh keadaan bangsa yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Kelahiran jutaan bayi setiap tahun seharusnya tidak hanya dibaca sebagai persoalan pertumbuhan penduduk. Lebih jauh dari itu, ia adalah pertanyaan besar tentang masa depan Indonesia.
Karena setiap bayi yang lahir hari ini pada dasarnya adalah : calon guru, calon dokter, calon petani, calon pengusaha, calon ilmuwan, calon seniman, calon pemimpin, calon teknolog, calon pekerja, calon ibu dan ayah, bahkan calon pemimpin bangsa.
Mereka adalah generasi yang kelak akan menentukan wajah Indonesia. Mereka pula yang suatu hari nanti akan menerima Indonesia yang kita bangun hari ini. Maka pertanyaannya bukan hanya : “Berapa banyak bayi yang lahir?” - Tetapi pertanyaan yang jauh lebih penting adalah : “Indonesia seperti apa yang akan mereka warisi?”
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika kita melihat berbagai persoalan yang sedang dihadapi bangsa.
Ekonomi
Kondisi ekonomi masyarakat masih menghadapi berbagai tekanan. Harga kebutuhan hidup, lapangan pekerjaan, daya beli, kesenjangan ekonomi dan ketidak pastian masa depan menjadi persoalan yang dirasakan banyak keluarga.
Lalu bagaimana dengan jutaan bayi yang lahir hari ini?
Apakah kita sudah menyiapkan ekonomi yang mampu memberikan mereka kehidupan yang layak ketika mereka dewasa nanti?
Politik
Politik seharusnya menjadi jalan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Tetapi ketika politik lebih sibuk dengan perebutan kekuasaan, kepentingan kelompok, konflik kepentingan dan transaksi politik, maka rakyat kehilangan sesuatu yang sangat mahal, yakni : kepercayaan.
Dan anak-anak yang lahir hari ini kelak akan menjadi warga negara yang menilai hasil dari politik yang kita jalankan sekarang.
Hukum
Negara hukum seharusnya memberikan kepastian bahwa setiap orang memperoleh keadilan. Tetapi ketika hukum dipersepsikan tajam ke bawah dan tumpul ke atas, ketika keadilan terasa dapat dipengaruhi oleh kekuasaan atau uang, maka yang rusak bukan hanya sistem hukum.
Yang rusak adalah kepercayaan manusia terhadap keadilan. Dan generasi baru tidak boleh tumbuh dengan keyakinan bahwa hukum hanya milik mereka yang kuat.
Korupsi
Korupsi bukan sekadar persoalan hilangnya uang negara. Korupsi berarti mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi hak masyarakat. Jalan yang tidak terbangun. Sekolah yang tidak layak. Fasilitas kesehatan yang tidak memadai. Program rakyat yang tidak maksimal. Dan pada akhirnya, masa depan yang dicuri.
Ketika korupsi dilakukan secara terang-terangan dan dianggap sebagai sesuatu yang biasa, sesungguhnya kita sedang memberikan pendidikan yang sangat buruk kepada generasi berikutnya : bahwa kekuasaan dapat digunakan untuk memperkaya diri.
Padahal bangsa besar tidak dibangun oleh manusia-manusia yang hanya pandai mengambil. Bangsa besar dibangun oleh manusia-manusia yang mampu menjaga amanah.
Inilah persoalan yang jauh lebih mendasar. Setiap tahun jutaan bayi lahir. Mereka kemudian akan memasuki sistem pendidikan. Mereka akan belajar membaca. Menulis. Berhitung. Menghafal. Memahami. Mengerti. Berinovasi dan Berkreasi. Mengerjakan ujian. Mendapatkan ijazah. Tetapi apakah itu sudah cukup? Belum.
Indonesia tidak hanya membutuhkan manusia yang pintar. Indonesia membutuhkan manusia Indonesia yang seutuhnya.
Manusia yang memiliki ilmu, tetapi juga memiliki akhlak.
Manusia yang memiliki kecerdasan, tetapi juga memiliki kesadaran.
Manusia yang mampu menggunakan teknologi, tetapi tidak diperbudak teknologi.
Manusia yang mampu bersaing secara global, tetapi tidak kehilangan jati dirinya.
Manusia yang memiliki kemampuan berpikir kritis, tetapi tetap memiliki tanggung jawab sosial.
Sebab pendidikan yang hanya menghasilkan orang pintar, tetapi tidak menghasilkan manusia yang benar, pada akhirnya dapat menjadi persoalan baru bagi bangsa.
Ada persoalan lain yang tidak kalah penting : identitas. Di tengah derasnya arus teknologi, informasi dan budaya global, generasi muda Indonesia menghadapi dunia yang semakin tanpa batas. Informasi datang dari seluruh penjuru dunia hanya melalui sebuah layar.
Budaya asing masuk tanpa harus melewati pintu. Algoritma media sosial perlahan dapat menentukan apa yang kita lihat, apa yang kita sukai, bahkan apa yang kita anggap penting. Teknologi memberikan kemajuan luar biasa.
Tetapi teknologi juga membawa tantangan :
jangan sampai kita menjadi bangsa yang maju secara teknologi tetapi kehilangan jati diri.
Jangan sampai anak-anak Indonesia mengenal begitu banyak budaya dunia tetapi tidak mengenal sejarah bangsanya sendiri. Jangan sampai mereka hafal berbagai simbol budaya global tetapi tidak memahami filosofi Nusantara.
Jangan sampai mereka menjadi manusia global yang kehilangan akar lokalnya. Karena pohon yang besar sekalipun tidak akan mampu berdiri kokoh tanpa akar. Begitu pula sebuah bangsa. Modernitas membutuhkan akar.
Dulu penjajahan datang dengan kapal perang. Datang dengan senjata. Datang dengan tentara. Kini dunia telah berubah. Penjajahan dapat datang melalui teknologi, data, ekonomi, informasi, algoritma, budaya dan ketergantungan.
Kita dapat menggunakan teknologi yang bukan kita ciptakan. Menggunakan platform yang bukan milik kita. Mengonsumsi konten yang dibuat oleh orang lain. Mengikuti tren yang ditentukan oleh algoritma. Membeli produk yang diproduksi di tempat lain.
Bahkan membentuk cara berpikir berdasarkan informasi yang kita terima setiap hari. Karena itu, tantangan Indonesia ke depan bukan lagi sekadar :
“Bagaimana kita membebaskan diri dari penjajahan fisik?”
Tetapi :
“Bagaimana kita menjadi bangsa yang merdeka secara pikiran, ekonomi, teknologi, budaya dan peradaban?”
Inilah bagian paling penting dari persoalan ini. Bayi-bayi itu tidak pernah meminta dilahirkan. Mereka tidak pernah meminta lahir pada zaman politik yang kacau.
Mereka tidak pernah meminta lahir di tengah persoalan ekonomi.
Mereka tidak pernah meminta lahir dalam sistem pendidikan yang belum sempurna.
Mereka tidak pernah meminta mewarisi persoalan lingkungan.Mereka tidak pernah meminta mewarisi utang, konflik, korupsi, ketimpangan maupun berbagai persoalan sosial yang kita ciptakan hari ini.
Tetapi mereka akan menerima semuanya. Karena itu, melahirkan anak bukan hanya persoalan menghadirkan manusia baru. Melahirkan anak berarti menghadirkan amanah baru. Dan membangun negara bukan sekadar membangun jalan, gedung, jembatan dan infrastruktur.
Membangun negara pada hakikatnya adalah : membangun manusia yang kelak akan mengisi negara tersebut.
Kita sering berbicara tentang Indonesia Emas 2045. Kita berbicara tentang bonus demografi. Kita berbicara tentang generasi produktif. Kita berbicara tentang Indonesia sebagai negara maju. Tetapi ada satu hal yang sering terlupakan : Indonesia 2045 sedang lahir hari ini.
Bayi yang lahir pada 2025 atau 2026 akan memasuki usia produktif pada masa Indonesia Emas. Mereka bukan sekadar angka dalam statistik kependudukan. Mereka adalah manusia yang akan menjalankan Indonesia pada masa depan.
Maka kualitas Indonesia 2045 sangat bergantung pada kualitas manusia yang kita bentuk hari ini. Kalau hari ini kita memberikan mereka pendidikan yang baik, lingkungan yang sehat, keluarga yang kuat, nilai-nilai moral, kemampuan teknologi, kecintaan terhadap bangsa serta kesadaran sebagai manusia. Maka kita sedang menanam masa depan.
Tetapi jika hari ini kita membiarkan korupsi, kebodohan, kekerasan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan, krisis identitas dan ketimpangan terus berkembang, maka jangan terkejut jika suatu hari mereka mewarisi Indonesia dengan persoalan yang jauh lebih besar.
Maka setiap kali melihat seorang bayi lahir, mungkin kita perlu berhenti sejenak. Jangan hanya berkata : “Selamat datang ke dunia.” - Tetapi tanyakan kepada diri kita sendiri : Dunia seperti apa yang sedang kita sambutkan kepada mereka?
Indonesia seperti apa yang akan mereka tinggali?
Pendidikan seperti apa yang akan mereka terima?
Ekonomi seperti apa yang akan mereka hadapi?
Hukum seperti apa yang akan melindungi mereka?
Politik seperti apa yang akan menentukan kehidupan mereka?
Budaya seperti apa yang akan membentuk karakter mereka?
Teknologi seperti apa yang akan mengendalikan atau memberdayakan mereka?
Dan yang paling penting :
Apakah kita sedang mewariskan Indonesia yang lebih baik kepada mereka, atau justru sedang mewariskan masalah yang kita sendiri gagal selesaikan?
Lebih dari empat juta bayi lahir di Indonesia setiap tahun. Lebih dari empat juta manusia baru. Lebih dari empat juta harapan. Lebih dari empat juta kemungkinan. Di antara mereka mungkin ada pemimpin besar. Ilmuwan besar. Penemu. Guru. Petani. Pengusaha. Seniman. Teknolog. Ulama. Negarawan. Politisi Atau manusia biasa yang kelak memberikan manfaat besar bagi lingkungannya.
Kita tidak pernah tahu. Tetapi satu hal yang pasti :
Mereka adalah masa depan Indonesia.
Karena itu tugas kita bukan sekadar memastikan mereka lahir. Tugas kita adalah memastikan mereka tumbuh. Bukan sekadar tumbuh secara fisik, tetapi tumbuh menjadi manusia yang berilmu, berkarakter, berdaulat, berbudaya, berdaya saing dan memiliki kesadaran.
Sebab bangsa yang besar bukanlah bangsa yang hanya memiliki banyak penduduk. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengubah jumlah manusia menjadi kekuatan peradaban. Maka ketika lebih dari 500 bayi lahir setiap jam di negeri ini, sesungguhnya Indonesia sedang mendapatkan sebuah pesan :
MASA DEPAN INDONESIA TERUS LAHIR.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi : “Berapa banyak bayi yang lahir?” - Tetapi :
“INDONESIA SEPERTI APA YANG AKAN KITA WARISKAN KEPADA MEREKA?”
Karena pada akhirnya, masa depan bukan milik mereka semata. Masa depan adalah titipan yang sedang kita bentuk hari ini.