Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482
Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482


Oleh : Wahono – Aktivis & Sekjend Aliansi Wargo Hutomo
Ada satu pertanyaan sederhana yang mungkin selama ini jarang kita ajukan : “Siapa sebenarnya kita?”
Bukan sekadar siapa nama kita. Bukan sekadar dari mana kita berasal. Bukan sekadar apa pekerjaan kita.
Tetapi :
01. Seperti Apa jati diri kita?
02. Nilai apa yang kita pegang?
03. Karakter apa yang membentuk diri kita?
04. Dan peradaban seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi setelah kita?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita pada sebuah perjalanan panjang.
Perjalanan dari mengenali diri sendiri, mengenali lingkungan, mengenali akar budaya, membangun karakter, membangun kesadaran, melahirkan kepemimpinan, hingga akhirnya membangun peradaban.
Dan menariknya, perjalanan besar itu dapat dimulai dari sesuatu yang sangat dekat dengan kita:daerah tempat kita dilahirkan dan dibesarkan. Dalam konteks tulisan-tulisan ini, tempat itu adalah:BANJARNEGARA.
Sebuah daerah bukan hanya kumpulan gedung, jalan, sawah, gunung dan sungai.
Sebuah daerah juga memiliki jiwa.
Jiwa itu tumbuh dari sejarah.
01. Dari budaya.
02. Dari bahasa.
03. Dari kesenian.
04. Dari tradisi.
05. Dari makanan.
06. Dari produk lokal.
07. Dari cara masyarakat berinteraksi.
08. Dari nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang pembangunan daerah, kita tidak seharusnya hanya bertanya :
“Apa yang akan kita bangun?”
Tetapi juga : “Siapa kita?”
Sebab pembangunan yang tidak memiliki identitas berisiko hanya menghasilkan perubahan fisik.
Sementara pembangunan yang berangkat dari identitas dapat membangun manusia dan kebanggaan.
Di sinilah pembicaraan mengenai produk khas daerah, kesenian, budaya, tradisi, bahasa dan karakter masyarakat Banjarnegara menjadi penting.
Bukan sekadar untuk melestarikan masa lalu.Tetapi untuk menemukan modal sosial dan budaya bagi masa depan.
Mengenal identitas saja belum cukup. Kita kemudian harus bertanya :
“Karakter seperti apa yang lahir dari identitas tersebut?”
Di sinilah kita mulai memasuki wilayah yang lebih dalam.
Sebab identitas tanpa karakter hanya akan menjadi simbol.
Kita bisa bangga menggunakan produk lokal.
Kita bisa bangga dengan kesenian daerah.
Kita bisa bangga dengan sejarah.
Tetapi kebanggaan itu harus diterjemahkan menjadi perilaku.
01. Apa nilai yang kita warisi?
02. Bagaimana kita memperlakukan orang lain?
03. Bagaimana kita menghadapi perbedaan?
04. Bagaimana kita bekerja?
05. Bagaimana kita memegang janji?
06. Bagaimana kita menggunakan kekuasaan?
07. Bagaimana kita memperlakukan alam?
08. Dan bagaimana kita bertanggung jawab terhadap masa depan?
Dari sinilah identitas mulai berubah menjadi karakter.
Dalam konteks Banjarnegara, pembicaraan mengenai Bima Cablaka menjadi menarik.
Bima dikenal sebagai sosok yang terus terang, jujur, berani dan tidak banyak basa-basi.
Nilai tersebut dapat kita baca bukan sekadar sebagai karakter tokoh pewayangan, tetapi sebagai refleksi tentang sebuah prinsip kehidupan : berani mengatakan yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai salah.
Tentu, keterusterangan tidak berarti bebas menyakiti orang lain.
Kejujuran tetap membutuhkan kebijaksanaan.
Namun sebuah masyarakat membutuhkan manusia yang memiliki keberanian untuk bersikap jujur.
Karena tanpa kejujuran : kepercayaan runtuh.
Dan tanpa kepercayaan : masyarakat sulit membangun sesuatu secara bersama-sama.
Maka Bima Cablaka dapat kita jadikan salah satu pintu masuk untuk membicarakan karakter manusia Banjarnegara.
Karakter yang baik membutuhkan sesuatu yang lebih dalam : kesadaran.
Kesadaran membuat manusia mampu melihat dirinya sendiri.
01. Mengapa saya berpikir seperti ini?
02. Mengapa saya marah?
03. Mengapa saya menginginkan sesuatu?
04. Mengapa saya mengejar kekuasaan?
05. Mengapa saya ingin dihormati?
06. Mengapa saya kecewa ketika keinginan tidak tercapai?
Dan yang paling penting : “Apa sebenarnya tujuan hidup saya?”
Inilah wilayah kesadaran diri.
Manusia yang tidak mengenal dirinya sendiri akan mudah dikendalikan oleh keinginan, ego, ambisi dan keadaan.Sebaliknya, manusia yang memiliki kesadaran akan lebih mampu mengendalikan dirinya.
Ia tidak mudah terbawa arus.
Ia mampu membedakan antara keinginan dan kebutuhan, ambisi dan tanggung jawab, kekuasaan dan pengabdian.
Karena itu : membangun manusia harus dimulai dari membangun kesadaran manusia.
Setelah mengenal diri dan membangun karakter, kita sampai pada tahap berikutnya : kepemimpinan.
Tetapi kepemimpinan tidak selalu berarti menjadi pejabat.
Kepemimpinan dimulai dari diri sendiri. Kemudian keluarga. Lingkungan. Komunitas. Organisasi. Masyarakat. Dan akhirnya negara. Di sinilah kita menemukan relevansi Hasta Brata.
Delapan laku yang mengambil pelajaran dari alam :
Kartika — Bintang.Candra — Bulan.Baskara — Matahari.Dhahana — Api.Kisma — Tanah.Samirana — Angin.Tirta — Air.Samudra — Lautan.
Delapan simbol tersebut mengajarkan :
keteguhan, keteduhan, energi, ketegasan, welas asih, kedekatan dengan masyarakat, keadilan dan kebijaksanaan.
Di sinilah karakter manusia bertemu dengan kepemimpinan.
Kita terlalu sering memahami kepemimpinan sebagai persoalan : siapa yang duduk di kursi?
Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah : siapa manusia yang duduk di kursi tersebut?
Sebab kursi tidak memiliki karakter.
Manusialah yang memberikan karakter kepada kursi.
Kekuasaan tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan.
Jabatan tidak otomatis melahirkan integritas.
Pendidikan tinggi tidak otomatis melahirkan kebajikan.
Karena itu, persoalan kepemimpinan sesungguhnya adalah persoalan kualitas manusia.
Jika kita ingin memiliki kepemimpinan yang baik, maka kita harus membangun manusia yang baik.
Di sinilah kearifan lokal mendapatkan tempat yang sangat penting.
Kita tidak perlu mempertentangkan budaya lokal dengan identitas nasional.
Justru sebaliknya.
Kearifan lokal adalah salah satu bahan untuk membangun karakter nasional.
Bima Cablaka dapat menjadi refleksi tentang kejujuran dan keberanian.
Hasta Brata dapat menjadi refleksi tentang kepemimpinan.
Tradisi dan kesenian dapat menjadi media pembentukan karakter.
Produk lokal dapat menjadi sumber kebanggaan sekaligus kekuatan ekonomi.
Sejarah lokal dapat menjadi sumber pembelajaran.
Semua itu kemudian dapat dipertemukan dalam satu tujuan :
MEMBANGUN MANUSIA INDONESIA.
Bukan manusia yang tercerabut dari akarnya.
Tetapi manusia yang tahu dari mana ia berasal, memahami siapa dirinya, dan tahu ke mana ia hendak pergi.
Setelah memiliki akar, barulah kita berbicara tentang dunia.
Inilah yang kita sebut : Global Mindset.
Global Mindset bukan berarti meninggalkan budaya lokal.
Bukan berarti menjadi manusia yang kehilangan identitas.
Justru sebaliknya.
Semakin luas dunia yang kita kenal, semakin penting kita memahami akar kita sendiri.
Maka prinsipnya sederhana : Think Global, Act Local.
Berpikir global. Bertindak dari tempat kita berpijak.
Banjarnegara mungkin berada di sebuah sudut kecil Indonesia.
Tetapi manusia Banjarnegara dapat memiliki wawasan dunia.
Begitu pula daerah-daerah lain di Nusantara.
Karena teknologi telah membuat batas geografis semakin tidak berarti.
Anak desa dapat menjadi pelaku ekonomi global.
Produk lokal dapat masuk pasar dunia.
Budaya lokal dapat dikenal masyarakat internasional.
Anak muda daerah dapat berkolaborasi dengan manusia dari berbagai negara.
Maka : lokal bukan lawan dari global.
Lokal dapat menjadi pintu masuk menuju global.
Pada titik inilah seluruh gagasan tersebut bertemu.
Jati diri melahirkan identitas.
Identitas melahirkan karakter.
Karakter melahirkan kesadaran.
Kesadaran melahirkan kepemimpinan.
Kepemimpinan melahirkan tata kehidupan.
Dan tata kehidupan yang baik pada akhirnya melahirkan: P ERADABAN.
Maka pembangunan peradaban tidak dimulai dari gedung pencakar langit.
Tidak dimulai dari teknologi yang canggih.
Tidak dimulai dari besarnya anggaran.
Peradaban dimulai dari : manusia.
Manusia yang sadar.
Manusia yang berkarakter.
Manusia yang memiliki ilmu.
Manusia yang memiliki empati.
Manusia yang mampu bekerja sama.
Manusia yang mampu memimpin dirinya sendiri.
Dan manusia yang memiliki visi tentang masa depan.
Mungkin inilah cara baru melihat Banjarnegara.
Bukan hanya sebagai sebuah kabupaten.
Tetapi sebagai ruang pembelajaran tentang bagaimana manusia dibangun.
Kita menggali identitasnya.
Kita mengenali budayanya.
Kita menemukan karakter masyarakatnya.
Kita mengembangkan potensi ekonominya.
Kita membangun kesadaran manusianya.
Kita mengembangkan kualitas kepemimpinannya.
Kemudian kita membuka cakrawalanya kepada dunia.
Dengan demikian perjalanan itu dapat dirumuskan :
BANJARNEGARA
↓
JAWA TENGAH
↓
INDONESIA
↓
NUSANTARA
↓
DUNIA
Bukan berarti Banjarnegara harus menjadi pusat dunia.
Tetapi manusia yang lahir dan tumbuh di Banjarnegara harus memiliki kesempatan untuk berkontribusi kepada dunia.
Jika seluruh gagasan ini kita satukan, maka kita dapat membangun sebuah arsitektur pemikiran :
LINGKARAN PERTAMA — SELF
Mengenal diri dan membangun kesadaran.
↓
LINGKARAN KEDUA — LOCAL
Mengenal identitas, budaya dan kearifan lokal.
↓
LINGKARAN KETIGA — NATIONAL
Membangun karakter dan kesadaran sebagai manusia Indonesia.
↓
LINGKARAN KEEMPAT — NUSANTARA
Menghubungkan berbagai kekayaan budaya menjadi kekuatan bersama.
↓
LINGKARAN KELIMA — GLOBAL
Membuka pikiran, menguasai ilmu, teknologi dan jejaring dunia tanpa kehilangan akar.
Inilah yang dapat kita sebut :
Global Mindset Berbasis Local Wisdom
Bukan global tanpa akar.Bukan lokal tanpa masa depan.
Tetapi : berakar kuat, berpikir luas, bergerak maju.
Pada akhirnya, semua pembicaraan tentang pembangunan kembali kepada satu pertanyaan :
Manusia seperti apa yang ingin kita lahirkan?
Apakah manusia yang hanya mengejar kekayaan?
Apakah manusia yang hanya mengejar jabatan?
Apakah manusia yang hanya mengejar popularitas?
Ataukah manusia yang memiliki ilmu, karakter, kesadaran, integritas dan kepedulian terhadap sesama?
Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki sumber daya alam yang besar.Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membangun kualitas manusianya.
Dan kualitas manusia tidak lahir dalam satu malam.Ia dibangun melalui pendidikan. Keluarga. Budaya. Lingkungan. Keteladanan. Pengalaman. Dan kesadaran.
Mungkin perjalanan ini memang terlihat sederhana.
Kita mulai dari budaya.
Kemudian berbicara tentang identitas.
Masuk kepada karakter.
Berbicara tentang kesadaran.
Kemudian kepemimpinan.
Lalu pembangunan manusia.
Dan akhirnya peradaban.
Tetapi sesungguhnya semuanya terhubung.
Karena :
Bangsa yang kehilangan identitas akan kehilangan arah.
Manusia yang kehilangan karakter akan kehilangan pegangan.
Pemimpin yang kehilangan kesadaran akan kehilangan tujuan.
Dan masyarakat yang kehilangan visi akan kehilangan masa depan.
Karena itu, mungkin sudah waktunya kita tidak hanya bertanya : “Apa yang harus dibangun?”
Tetapi bertanya lebih dahulu : “MANUSIA SEPERTI APA YANG HARUS KITA BANGUN?”
Dari pertanyaan itulah perjalanan baru dimulai.
Mengenal diri.Menemukan jati diri.
Menghidupkan kearifan lokal.
Membangun karakter.
Menumbuhkan kesadaran.
Melahirkan kepemimpinan.
Membangun Indonesia.
Dan akhirnya : MEMBANGUN PERADABAN.
Karena mungkin masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat kita membangun infrastrukturnya.
Tetapi oleh : seberapa dalam kita membangun manusianya.
Dan semuanya dapat dimulai dari tempat yang paling dekat dengan kita.
Dari diri sendiri.
Dari keluarga.
Dari desa.
Dari Banjarnegara.
Dari Nusantara.
Untuk kemudian : MELANGKAH KE DUNIA.
Inilah gagasan tentang bagaimana manusia dibangun dari akar lokal untuk kemudian mampu berdiri di panggung global. Banjarnegara menjadi titik berangkatnya. Manusia menjadi subjeknya. Indonesia menjadi ruang perjuangannya. Dan peradaban menjadi tujuan akhirnya.