Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482
Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482


Anggaran pendidikan Indonesia tahun 2027 ditetapkan sebesar : Rp. 824 TRILIUN
Angka ini bukan lagi sekadar wacana RAPBN.
Pemerintah dan DPR telah menyepakati APBN 2027 dengan anggaran pendidikan sebesar Rp. 824 triliun.
Angka tersebut sangat besar.
Tetapi justru karena sangat besar, pertanyaan publik harus semakin tajam :
Rp. 824 triliun itu sebenarnya mengalir ke mana?
Lebih penting lagi :
Berapa besar yang benar-benar sampai kepada manusia yang sedang kita bangun?
Dan pertanyaan paling penting :
Setelah uang itu dibelanjakan, manusia Indonesia berubah menjadi lebih baik atau tidak?
Ini kesalahan pertama yang harus kita hindari.
Rp. 824 triliun bukan satu rekening yang bisa dibagi sesuka hati.
Anggaran pendidikan tersebar melalui berbagai jalur :
1. Pemerintah pusat
Melalui kementerian/lembaga dan belanja non-kementerian/lembaga.
2. Transfer ke daerah
Untuk mendukung fungsi pendidikan yang telah didesentralisasikan.
3. Peserta didik
Melalui berbagai bantuan dan beasiswa.
4. Guru dan tenaga kependidikan
Melalui gaji, tunjangan dan berbagai bentuk dukungan.
5. Sekolah dan satuan pendidikan
Melalui operasional, revitalisasi dan pembangunan sarana.
6. Perguruan tinggi
Melalui dukungan operasional, beasiswa, riset dan pengembangan.
7. Program prioritas nasional
Termasuk program afirmasi dan transformasi pendidikan.
Karena itu :
Yang kita perlukan bukan sekadar tabel anggaran, tetapi peta aliran uang.
Inilah Peta Uang Pendidikan Indonesia yang sesungguhnya.
Dalam rancangan 2027 sebelum menjadi APBN, pemerintah mengumumkan beberapa angka program yang sangat konkret.
Antara lain :
01. PIP : Rp. 15,9 triliun untuk 22,1 juta siswa;
02. KIP Kuliah : Rp. 17 triliun untuk 1,1 juta mahasiswa;
03. Renovasi sekolah/madrasah : Rp. 18,2 triliun untuk 12.215 satuan;
04. Sekolah Unggul Garuda : Rp. 2,7 triliun untuk tujuh sekolah;
05. Sekolah Rakyat : Rp. 32,9 triliun untuk pembangunan 100 sekolah baru dan operasional 166 sekolah.
Di Kemendikdasmen sendiri, pagu RAPBN 2027 yang diumumkan mencapai Rp. 61,1 triliun.
Dari jumlah itu, antara lain terdapat revitalisasi satuan pendidikan Rp. 9,28 triliun, inisiatif awal wajib belajar pendidikan dasar tanpa biaya Rp. 5 triliun, Sekolah Nasional Terintegrasi Rp. 7,21 triliun, serta digitalisasi pembelajaran Rp. 5,83 triliun.
Catatan penting :
Angka-angka program di atas tidak boleh kita jumlahkan secara sembarangan untuk memperoleh total Rp. 824 triliun karena terdapat perbedaan jalur anggaran dan kemungkinan keterkaitan/irisan program.
Jadi :
Peta anggaran harus dibangun berdasarkan struktur APBN, bukan sekadar menjumlahkan angka-angka program yang muncul di berbagai dokumen.
Setiap rupiah pendidikan harus dimasukkan ke salah satu fungsi utama :
Kategori + Pertanyaan utama :
A. Akses & Afirmasi : Siapa yang tadinya tidak mampu mengakses pendidikan?
B. Guru : Apakah kualitas guru meningkat?
C. Operasional : Apakah layanan pendidikan berjalan lebih baik?
D. Infrastruktur : Apakah lingkungan belajar menjadi lebih layak?
E. Pembelajaran : Apakah kemampuan siswa meningkat?
F. Digital & AI : Apakah teknologi meningkatkan kualitas belajar?
G. Vokasi : Apakah lulusan lebih siap bekerja/mencipta kerja?
H. Pendidikan Yinggi : Apakah ilmu dan inovasi berkembang?
I. Kebudayaan & Karakter : Apakah manusia semakin berjati diri?
J. Tata Kelola : Apakah uang semakin tepat sasaran dan efektif?
Kemudian setiap kategori harus mempunyai :
INPUT → OUTPUT → OUTCOME → IMPACT.
Misalnya negara mengeluarkan uang untuk pelatihan guru.
INPUT :
Rp. X triliun.
OUTPUT :
100.000 guru mengikuti pelatihan.
Sampai di sini birokrasi bisa mengatakan :
“Program berhasil.”
Tetapi blueprint kita belum mau berhenti.
OUTCOME
Apakah guru benar-benar mengubah metode mengajarnya?
Kalau tidak?
Maka pelatihan tersebut hanya menghasilkan : Sertifikat.
Bukan : Perubahan Pembelajaran.
Kemudian kita lanjutkan.
HUMAN IMPACT
Apakah siswa menjadi :
01. Lebih Mampu Membaca?
02. Lebih Mampu Berhitung?
03. Lebih Mampu Berpikir?
04. Lebih Kreatif?
05. Lebih Percaya Diri?
06. Lebih Mampu Memecahkan Masalah?
Barulah kita dapat mengatakan :
Uang negara menghasilkan perubahan manusia.
Ini bagian yang sangat penting untuk blueprint kita.
Contohnya :
01. Operasional;
02. Gaji;
03. Pemeliharaan;
04. Administrasi;
05. Layanan Rutin.
Ini bukan uang yang sia-sia.
Justru sangat penting.
Tetapi fungsinya adalah :
Menjaga Sistem Tetap Hidup.
Contohnya :
01. Renovasi;
02. Peningkatan Kualitas Guru;
03. Digitalisasi;
04. Penguatan Manajemen;
05. Perbaikan Kurikulum;
06. Penguatan Mutu.
Fungsinya :
Membuat Sistem Menjadi Lebih Baik.
Contohnya :
01. Peningkatan Literasi;
02. Numerasi;
03. Sains;
04. Karakter;
05. Kreativitas;
06. Entrepreneurship;
07. Ai Literacy;
08. Critical Thinking;
09. Problem Solving;
10. Riset;
11. Inovasi.
Fungsinya :
Mengubah Kapasitas Manusia.
Ketiga jenis uang ini sama-sama penting.
Tetapi jangan sampai kita menganggap semuanya menghasilkan dampak yang sama.
Saya mengusulkan kita menggunakan model :
PERADABAN
▲
KONTRIBUSI
▲
KEMANDIRIAN
▲
KOMPETENSI
▲
KARAKTER
▲
KESADARAN
▲
PENDIDIKAN
▲
APBN
Jadi :
APBN BUKAN TUJUAN.
APBN hanyalah :
ENERGI PEMBANGUNAN MANUSIA.
Bukan hanya :
“Apakah anggaran habis?”
Tetapi minimal sembilan pertanyaan.
1. Berapa uang yang dialokasikan?
2. Siapa penerimanya?
3. Berapa jumlah penerima?
4. Apa layanan yang diberikan?
5. Apa output-nya?
6. Apa perubahan perilaku/kompetensi yang terjadi?
7. Apa dampaknya terhadap manusia?
8. Apa dampaknya terhadap ekonomi dan masyarakat?
9. Apakah biaya tersebut sepadan dengan dampaknya?
Bukan berarti semua nilai pendidikan harus dihitung dengan rupiah.
Tetapi setiap program harus bisa menjawab :
Apa manfaat yang diperoleh masyarakat dibandingkan sumber daya yang dikeluarkan?
Misalnya :
Program A
Rp. 1 triliun.
Meningkatkan akses 1 juta siswa.
Program B
Rp 1 triliun.
Meningkatkan kemampuan belajar 100.000 siswa secara signifikan.
Keduanya tidak bisa langsung dibandingkan hanya dari jumlah penerima.
Kita harus melihat : Kedalaman Dampak.
Ini penting sekali.
Misalnya :
1 juta siswa menerima bantuan.
Itu adalah : OUTPUT.
Tetapi bukan otomatis : OUTCOME.
Outcome baru terjadi apabila bantuan tersebut membuat :
01. Anak Tetap Sekolah;
02. Anak Tidak Putus Sekolah;
03. Kehadiran Meningkat;
04. Kemampuan Belajar Meningkat;
05. Peluang Melanjutkan Pendidikan Meningkat.
Maka indikatornya harus :
Bantuan → Retensi → Kehadiran → Pembelajaran → Kelulusan → Mobilitas sosial.
Misalnya : 12.215 sekolah direnovasi.
Itu output.
Tetapi pertanyaan berikutnya :
Apakah setelah direnovasi siswa lebih nyaman belajar?
Kemudian :
Apakah kehadiran meningkat?
Kemudian :
Apakah kualitas pembelajaran meningkat?
Kemudian :
Apakah hasil belajar meningkat?
Kalau jawabannya tidak diketahui, maka kita baru memiliki :
DATA PEMBANGUNAN.
Belum memiliki :
DATA DAMPAK PENDIDIKAN.
Setiap program pendidikan harus memiliki satu kartu identitas :
EDUCATION IMPACT CARD
Misalnya :
Nama Program : Revitalisasi Sekolah
Anggaran : Rp. X
Sasaran : X sekolah
Penerima : X siswa
Masalah : Infrastruktur tidak layak
Output : Sekolah direvitalisasi
Outcome : Lingkungan belajar meningkat
Human Impact : Kehadiran + pembelajaran meningkat
KPI : ...
Target 2030 : ...
Target 2035 : ...
Target 2040 : ...
Target 2045 : ...
Dengan sistem ini, program tidak lagi berhenti ketika proyek selesai.
Sekolah Indonesia 2027–2045 perlu memiliki indeks transformasi.
Misalnya terdiri atas :
1. Literasi
2. Numerasi
3. Sains
4. Kualitas Guru
5. Karakter
6. Digital & AI
7. Infrastruktur
8. Kreativitas
9. Kemandirian
10. Ekosistem masyarakat
Bukan untuk menghukum sekolah.
Tetapi untuk mengetahui :
Sekolah mana yang membutuhkan bantuan paling besar dan intervensi apa yang paling tepat.
Ini konsekuensi logisnya.
Kalau dua sekolah mempunyai masalah berbeda, intervensinya tidak boleh selalu sama.
Sekolah A
Masalah utama : Literasi.
Maka uang harus diarahkan ke :
Guru + Pembelajaran + Literasi.
Sekolah B
Masalah utama :
Sanitasi dan Bangunan.
Maka : infrastruktur.
Sekolah C
Masalah utama : Kekurangan guru.
Maka : SDM.
Sekolah D
Masalah utama : Akses teknologi.
Maka : Digitalisasi.
Artinya :
Anggaran harus mengikuti masalah, bukan sekadar mengikuti birokrasi.
SISTEM LAMA
Anggaran → Program → Serapan → Laporan
SISTEM BARU
Masalah → Intervensi → Anggaran → Output → Outcome → Human Impact
Ini adalah perubahan dari :
BUDGET-CENTERED EDUCATION
Menjadi :
HUMAN-CENTERED EDUCATION.
Bayangkan jika kita mempunyai sistem yang mampu menelusuri :
Rp. 1 rupiah dari APBN.
Ke mana dia pergi?
Siapa yang menerima?
Apa yang dibeli?
Apa yang dilakukan?
Apa yang berubah?
Siapa yang memperoleh manfaat?
Dan apa dampaknya?
Maka untuk pertama kalinya kita dapat mengatakan :
“SETIAP RUPIAH PENDIDIKAN MEMPUNYAI JEJAK DAMPAK.”
Inilah yang saya sebut :
EDUCATION MONEY TRACEABILITY
atau:
JEJAK UANG PENDIDIKAN.
Pada akhirnya seluruh arsitektur pembiayaan pendidikan 2027–2045 dapat dirumuskan :
Rp. 824 TRILIUN
↓
AKSES
↓
KESETARAAN
↓
GURU
↓
SEKOLAH
↓
PEMBELAJARAN
↓
LITERASI + NUMERASI + SAINS
↓
KARAKTER
↓
JATI DIRI
↓
TEKNOLOGI + AI
↓
KREATIVITAS
↓
KOMPETENSI
↓
KEMANDIRIAN
↓
PRODUKTIVITAS
↓
KONTRIBUSI
↓
MANUSIA INDONESIA YANG SEUTUHNYA
↓
INDONESIA EMAS 2045
Rp. 824 triliun bukanlah keberhasilan.
Rp. 824 triliun adalah kesempatan.
Keberhasilannya baru dapat dinilai ketika kita dapat menunjukkan :
01. Anak Lebih Mampu Belajar;
02. Guru Lebih Berkualitas;
03. Sekolah Lebih Layak;
04. Kesenjangan Mengecil;
05. Anak Miskin Memperoleh Kesempatan;
06. Lulusan Lebih Kompeten;
07. Generasi Muda Lebih Mandiri;
08. Inovasi Meningkat;
09. Produktivitas Meningkat;
10. Dan Manusia Indonesia Semakin Berkarakter Serta Mempunyai Jati Diri.
Karena itu :
ANGGARAN PENDIDIKAN TIDAK BOLEH DINILAI DARI BERAPA BESAR UANG YANG DIBELANJAKAN.
ANGGARAN PENDIDIKAN HARUS DINILAI DARI BERAPA BESAR PERUBAHAN MANUSIA YANG DIHASILKANNYA.
Dan di sinilah kita menemukan satu kalimat yang bisa menjadi prinsip utama Grand Design Pendidikan Indonesia 2027–2045 :
“SETIAP RUPIAH PENDIDIKAN HARUS MEMPUNYAI JEJAK PADA PEMBANGUNAN MANUSIA.”
Bukan sekadar jejak pada : Gedung.
Bukan sekadar jejak pada : Program.
Bukan sekadar jejak pada : Laporan.
Tetapi jejak pada : MANUSIA.
[…] Oleh : Wahono – Aktifis Banjarnegara […]