SETUP RUH DAN ESENSI PERJUANGAN PARTAI PERINDO

Dari Spirit Persatuan
Menuju Mesin Perubahan Indonesia

Oleh : Wahono - Aktifis dan Wakil Ketua II DPW Partai Perindo Jawa Tengah

Ada satu pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh setiap partai politik sebelum berbicara tentang kekuasaan : 
Untuk apa partai politik itu dilahirkan?
Apakah hanya untuk mengikuti pemilu?
Apakah hanya untuk mendapatkan kursi di parlemen?
Apakah hanya untuk memenangkan kontestasi politik lima tahunan?

Ataukah ada sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu sebuah cita-cita kebangsaan yang menjadi ruh dari seluruh perjuangannya?

Bagi Partai Perindo—Partai Persatuan Indonesia—pertanyaan tersebut menjadi sangat penting.
Sebab, sebuah partai politik tanpa ruh perjuangan akan mudah kehilangan arah.
Ia akan sibuk mengejar kekuasaan, tetapi kehilangan alasan mengapa kekuasaan itu harus diperjuangkan.
Karena itu, Partai Perindo membutuhkan sebuah “Setup RUH” yang jelas.

Dan menurut saya, RUH itu adalah : 
MEMBANGUN SPIRIT PERSATUAN DAN KESATUAN SELURUH ELEMEN ANAK BANGSA UNTUK BERSAMA-SAMA MENYELESAIKAN PERSOALAN INDONESIA.

Mengapa Kita Harus Bersatu?

Sejarah Indonesia telah memberikan pelajaran yang sangat jelas : Bangsa Indonesia menjadi kuat ketika bersatu. Sebaliknya, ketika tercerai-berai, bangsa ini menjadi lemah dan mudah dikuasai.

Tahun 1908 menjadi salah satu tonggak penting kebangkitan kesadaran kebangsaan dengan lahirnya Boedi Oetomo. Dua puluh tahun kemudian, pada 1928, semangat persatuan itu menemukan bentuk yang jauh lebih kuat melalui Kongres Pemuda II.

Para pemuda dari berbagai latar belakang daerah, suku dan organisasi menyatakan tiga ikrar besar : 
01. Bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia.
02. Berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.
03. Menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Itulah yang kemudian kita kenal sebagai Sumpah Pemuda.

Tujuh belas tahun kemudian, pada 1945, bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Lalu, setelah 53 tahun perjalanan berikutnya, pada 1998, Indonesia memasuki era Reformasi yang membawa perubahan besar dalam sistem politik, pemerintahan dan kehidupan demokrasi.

Kini, 28 tahun setelah Reformasi, kita kembali berada pada sebuah persimpangan sejarah.
Indonesia memang telah mengalami banyak kemajuan.
Tetapi pada saat yang sama, kita juga menghadapi persoalan kebangsaan yang semakin kompleks.
Ironisnya, di tengah persoalan tersebut, elemen-elemen anak bangsa justru sering terjebak dalam perpecahan, saling menyalahkan, saling menghujat dan saling mempertentangkan.

Kita terlalu sering sibuk mencari siapa yang salah, tetapi belum cukup serius membangun sistem untuk menjawab : “Bagaimana persoalan bangsa ini dapat kita selesaikan bersama?”

INDONESIA MEMBUTUHKAN RESET

Menurut saya, Indonesia tidak cukup hanya melakukan pergantian orang.
Indonesia membutuhkan pembenahan sistem, cara berpikir dan orientasi pembangunan.
Setidaknya ada beberapa persoalan besar yang harus menjadi perhatian perjuangan politik ke depan.

01. RESET PENDIDIKAN NASIONAL

Sudah lebih dari delapan dekade Indonesia merdeka.
Namun kita masih menghadapi pertanyaan mendasar : Seperti apakah sesungguhnya manusia Indonesia yang seutuhnya?

Padahal, pendidikan nasional seharusnya mempunyai gambaran manusia Indonesia yang hendak dibentuk. Ketika konsep manusia Indonesia tidak dirumuskan secara kuat sebagai master guide, perubahan kurikulum akan mudah berganti mengikuti perubahan kebijakan dan pergantian menteri.

Lebih dari itu, generasi muda kita menghadapi persoalan lain. Mereka semakin jauh dari akar sejarah, tradisi dan kebudayaan bangsanya sendiri. Banyak anak muda lebih mengenal tokoh dan budaya dari dunia digital daripada sejarah dan leluhur bangsanya sendiri.

Karena itu, Reset Pendidikan Nasional harus dimulai dengan mendefinisikan kembali : “Manusia Indonesia seperti apa yang ingin kita lahirkan?” - Dari sanalah kurikulum nasional seharusnya dibangun.

02. RESET PERTANIAN :
DARI SUBSIDI INPUT MENUJU SUBSIDI HASIL

Pertanian adalah salah satu sendi penting kehidupan bangsa.
Pada masa lalu, persoalan petani banyak berkaitan dengan ketersediaan bibit.
Kemudian berkembang menjadi persoalan pupuk, sehingga subsidi pupuk menjadi salah satu instrumen kebijakan pertanian.

Tetapi persoalan petani hari ini tidak berhenti pada bibit dan pupuk.
Ada persoalan yang jauh lebih mendasar : Bagaimana menjamin hasil panen petani memiliki harga yang layak?

Petani bisa mendapatkan bibit.
Petani bisa mendapatkan pupuk.
Tetapi ketika panen raya harga jatuh, petani tetap bisa mengalami kerugian.

Karena itu, salah satu gagasan yang layak diperjuangkan adalah : 
SUBSIDI HASIL PANEN.

Negara hadir untuk membantu menjaga harga hasil produksi petani agar tetap memberikan pendapatan yang layak. Dengan demikian, petani tidak hanya didorong untuk memproduksi, tetapi juga mendapatkan kepastian untuk hidup sejahtera dari hasil produksinya.

03. RESET ETIKA LINGKUNGAN

Persoalan lingkungan hari ini bukan lagi sekadar persoalan sampah.
Ia telah menjadi persoalan peradaban.

Krisis energi, kerusakan hutan, eksploitasi sumber daya alam dan persoalan sampah menjadi tantangan besar bagi generasi sekarang dan generasi mendatang.

Namun di tengah persoalan tersebut, sebenarnya Indonesia memiliki peluang besar.
Sampah tidak selalu harus dipandang sebagai masalah.
Sampah juga dapat menjadi sumber daya.

Salah satu contoh menarik datang dari Banjarnegara.
Komunitas Bank Sampah Banjarnegara mengembangkan teknologi yang mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif yang mereka sebut Petasol.

Gagasan semacam ini menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dapat didekati melalui inovasi.
Sampah plastik dapat dikurangi. Lingkungan dapat dibersihkan. Dan pada saat yang sama, dapat lahir nilai ekonomi baru.

Maka politik lingkungan masa depan tidak boleh berhenti pada slogan : “Jangan membuang sampah sembarangan.” - Tetapi harus bergerak menuju : “Bagaimana sampah menjadi sumber daya dan sumber kesejahteraan?”

04. RESET KESEHATAN :
MELAWAN STUNTING DARI HULU

Kesehatan bukan hanya persoalan rumah sakit. Kesehatan bangsa dimulai sejak manusia berada dalam kandungan dan sejak seorang anak dilahirkan.

Karena itu, persoalan gizi ibu dan anak harus mendapatkan perhatian serius.
Stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan. Ia berkaitan dengan kualitas tumbuh kembang generasi bangsa.

Jika persoalan gizi tidak diselesaikan dari hulu, maka kita berisiko melahirkan generasi yang menghadapi hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan.

Karena itu, politik kesehatan harus semakin diarahkan pada : pencegahan, pemenuhan gizi, edukasi keluarga dan penguatan masyarakat. Bukan hanya mengobati ketika masyarakat sudah sakit.

Ingat! ada lebih dari 4 Juta Bayi lahir di Indonesia per tahun sejak tahun 2026 ini. ini 4 kali lipat penduduk Kabupaten Banjarnegara.  

05. RESET SOSIAL :
MANUSIA HIDUP DI DUA RUANG

Masyarakat Indonesia hari ini tidak lagi hanya hidup dalam satu ruang. Kita hidup dalam : ruang nyata (realitas) dan ruang digital. Keduanya kini saling memengaruhi.

Persoalannya, ruang digital mengalami overload informasi.
Setiap hari masyarakat menerima begitu banyak informasi.
Ada informasi yang benar.
Ada yang salah.
Ada yang baik.
Ada yang buruk.
Ada informasi yang mendidik.
Ada pula informasi yang sengaja dibuat untuk memprovokasi.

Karena itu, bangsa Indonesia membutuhkan kemampuan literasi dan filtering informasi.

Masyarakat harus memiliki kemampuan untuk bertanya :
Apakah informasi ini benar?
Siapa sumbernya?
Apa kepentingannya?
Apa dampaknya bagi masyarakat?

Kemampuan memilah informasi harus menjadi bagian dari ketahanan rakyat di era digital.
Sebab masyarakat yang tidak mampu menyaring informasi akan sangat mudah dipecah-belah.

06. RESET HUKUM :
KEADILAN HARUS TERASA BAGI SEMUA

Salah satu fondasi negara adalah hukum. Tetapi hukum tidak cukup hanya tertulis dalam buku. Hukum harus menghadirkan rasa keadilan.

Ketika masyarakat melihat pelaku kejahatan besar dapat menikmati berbagai kemudahan, sementara rakyat kecil menghadapi proses hukum yang berat karena perkara sederhana, maka muncul persoalan kepercayaan publik.

Di sinilah negara harus menjawab pertanyaan : Apakah hukum benar-benar hadir untuk semua?

Politik masa depan harus memperjuangkan sistem hukum yang : adil, transparan, tegas dan tidak diskriminatif. 

Sebab ketika kepercayaan masyarakat terhadap hukum runtuh, yang terancam bukan hanya institusi hukum. Yang terancam adalah kepercayaan masyarakat terhadap negara.

07. RESET BUDAYA :
KEMBALI MENGENAL JATI DIRI

Indonesia bukan bangsa yang lahir dari satu suku, satu bahasa daerah atau satu kebudayaan.
Indonesia adalah sebuah kesepakatan besar dari berbagai daerah dan berbagai kebudayaan untuk hidup sebagai satu bangsa.

Karena itu, mencintai Indonesia seharusnya dimulai dari kemampuan untuk mengenal dan mencintai daerahnya sendiri. 
Mengenal sejarah lokal.
Mengenal tokoh daerah.
Mengenal tradisi.
Mengenal kesenian.
Mengenal kearifan lokal.
Mengenal nilai-nilai leluhur.
Sebab dari sanalah identitas kebangsaan dibangun.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal, menghargai dan belajar dari sejarah bangsanya sendiri.

Karena itu, ruang bagi muatan lokal dalam pendidikan perlu diperkuat, bukan sekadar menjadi pelengkap kurikulum. Di sisi lain, pembangunan manusia juga tidak boleh hanya berbicara tentang kecerdasan intelektual dan ekonomi. Ada dimensi yang tidak kalah penting : kesadaran spiritual.

Spiritualitas harus menjadi ruang untuk membangun manusia yang memiliki kesadaran tentang dirinya, sesamanya, alam dan Sang Pencipta. Agama tidak semestinya menjadi alasan untuk saling mempertentangkan manusia.

Sebaliknya, keberagaman keyakinan seharusnya menjadi jalan bagi manusia untuk membangun kehidupan yang lebih beradab, damai dan bertanggung jawab.

LALU, DI MANA POSISI PARTAI PERINDO?

Di sinilah pertanyaan tentang RUH Perjuangan Partai Perindo menemukan relevansinya.
Jika Partai Perindo hanya hadir sebagai peserta pemilu, maka ia akan menjadi salah satu dari banyak partai yang datang dan pergi mengikuti siklus politik.

Tetapi jika Partai Perindo mampu menemukan kembali ruh persatuan, kemudian menerjemahkannya menjadi gagasan, program dan kerja nyata, maka Perindo dapat mengambil posisi yang jauh lebih strategis.

Bukan sekadar partai politik.
Tetapi menjadi : RUMAH BESAR PERSATUAN ANAK BANGSA UNTUK MENYELESAIKAN PERSOALAN INDONESIA.

Persatuan bukan berarti semua orang harus memiliki pemikiran yang sama.
Persatuan berarti : berbeda dalam pikiran, tetapi memiliki tujuan kebangsaan yang sama.

Berbeda latar belakang. Berbeda profesi. Berbeda daerah. Berbeda pilihan. Tetapi bersedia duduk bersama untuk mencari solusi atas persoalan bangsa.

ESENSI PERJUANGAN PARTAI PERINDO

Jika RUH perjuangannya adalah persatuan, maka esensi perjuangannya harus diterjemahkan menjadi agenda perubahan yang nyata. Setidaknya dapat dirumuskan dalam enam agenda besar : 
1. RESET PENDIDIKAN NASIONAL
Mendefinisikan kembali konsep Manusia Indonesia yang Seutuhnya sebagai arah dasar pembangunan pendidikan dan master guide kurikulum nasional.

2. RESET PROGRAM PERTANIAN
Mendorong kebijakan subsidi hasil panen agar petani mendapatkan kepastian harga dan pendapatan yang layak.

3. RESET ENVIRONMENTAL ETHICS
Membangun paradigma baru bahwa sampah bukan sekadar limbah, tetapi dapat menjadi sumber energi, ekonomi dan lapangan pekerjaan melalui teknologi pengolahan dan ekonomi sirkular.

4. RESET KESEHATAN
Memperkuat kebijakan kesehatan dari hulu dengan fokus pada gizi ibu, bayi, anak dan pencegahan stunting.

5. RESET SOSIAL
Membangun kesadaran masyarakat bahwa manusia modern hidup dalam dua ruang sekaligus : ruang realitas dan ruang digital, sehingga literasi digital dan kemampuan menyaring informasi menjadi bagian dari ketahanan masyarakat.

6. RESET BUDAYA
Memperluas dan memperkuat ruang muatan lokal dalam pendidikan, menghidupkan kembali sejarah dan kearifan lokal, serta membangun kesadaran spiritual sebagai bagian dari pembentukan manusia Indonesia yang utuh.

DARI PERSATUAN MENUJU PERUBAHAN

Pada akhirnya, politik bukan sekadar tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Politik adalah tentang ke mana bangsa ini akan dibawa. Karena itu, Partai Perindo membutuhkan sesuatu yang lebih besar dari pada sekadar strategi memenangkan pemilu.

Perindo membutuhkan narasi besar perjuangan. Narasi yang mampu mempertemukan kembali berbagai elemen anak bangsa. Narasi yang tidak berhenti pada kritik. Narasi yang menawarkan solusi. Narasi yang mampu mengubah perbedaan menjadi energi persatuan. Dan dari persatuan itulah lahir kekuatan untuk melakukan perubahan.

Maka : RUH Partai Perindo adalah Persatuan Indonesia.

Esensi perjuangannya adalah menyelesaikan persoalan Indonesia.

Mesin perubahannya adalah kader dan seluruh elemen anak bangsa yang bekerja bersama.

Dan tujuan akhirnya bukan sekadar memenangkan pemilu. Tetapi : 
MEMBANGUN INDONESIA YANG LEBIH ADIL, BERDAULAT, BERBUDAYA, SEJAHTERA DAN BERKELANJUTAN.

Sebab sejarah telah mengajarkan kepada kita : 
1908 — kita mulai bangkit.
1928 — kita mengikrarkan persatuan.
1945 — kita merebut kemerdekaan.
1998 — kita melakukan Reformasi.

Maka pertanyaannya untuk generasi hari ini adalah : 
“2026 DAN SETERUSNYA, APA YANG AKAN KITA LAKUKAN UNTUK INDONESIA?”

Mungkin inilah saatnya Partai Perindo tidak hanya berbicara tentang bagaimana memenangkan pemilu, tetapi mulai berbicara lebih jauh : Bagaimana memenangkan masa depan Indonesia.

Dan untuk itu, kita membutuhkan satu kata yang sejak awal telah menjadi nama partai ini : PERSATUAN.

Partai Persatuan Indonesia.
Bersatu untuk Indonesia.
Bersatu untuk menyelesaikan persoalan bangsa.
Bersatu untuk memenangkan masa depan Indonesia.

whonesiasikoji
whonesiasikoji
Articles: 78

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *