STEP BY STEP MEMBANGUN KESADARAN DIRI

Dari Menggenggam Menuju Melepaskan, Dari Ego Menuju Kesadaran

Oleh : Wahono – Aktifis & Sekjend Aliansi Wargo Hutomo

Ada satu perjalanan yang sering kali kita lupakan dalam kehidupan. Kita sibuk berjalan menuju luar diri, tetapi lupa berjalan menuju dalam diri. Kita mengejar kesuksesan. Mengejar uang. Mengejar jabatan. Mengejar popularitas. Mengejar pengakuan. Mengejar cinta. Mengejar penghargaan. 

Tetapi setelah banyak yang kita dapatkan, mengapa hati belum juga merasa cukup? - Mengapa semakin banyak yang dimiliki justru semakin banyak yang ditakutkan untuk kehilangan? - Mengapa semakin tinggi posisi seseorang, terkadang semakin sulit menerima kritik? - Mengapa sebuah kesalahan kecil dari orang lain bisa kita simpan bertahun-tahun? - Dan mengapa kita bisa begitu mudah memaafkan kesalahan orang lain kepada kita, tetapi begitu sulit memaafkan diri sendiri? 

Mungkin karena selama ini kita terlalu sibuk membangun kehidupan di luar diri, tetapi lupa membangun kesadaran di dalam diri. Padahal, perubahan terbesar dalam kehidupan manusia sering kali tidak dimulai dari perubahan keadaan. Perubahan dimulai ketika kesadaran kita berubah.

KESADARAN BUKAN TENTANG MENJADI SEMPURNA

Kesadaran diri bukan berarti seseorang sudah menjadi manusia sempurna. Bukan. Orang yang sadar tetap bisa marah. Tetap bisa kecewa. Tetap bisa sedih. Tetap bisa melakukan kesalahan. Bedanya, ia mulai mampu melihat dirinya sendiri ketika semua itu terjadi. 

Ketika marah, ia sadar bahwa dirinya sedang marah. Ketika iri, ia menyadari bahwa dirinya sedang iri. Ketika ego muncul, ia mampu melihat egonya. Ketika terluka, ia berani mengakui bahwa dirinya terluka. 

Dan ketika melakukan kesalahan, ia berani berkata : "Ya, saya salah." - Inilah awal dari kesadaran. Bukan menghakimi diri sendiri. Tetapi berani melihat diri sendiri apa adanya.

STEP 1 :
BERHENTI MENGGENGGAM TERLALU KUAT

Kita sering mengira bahwa semakin kuat menggenggam sesuatu, semakin aman kehidupan kita. Padahal tidak selalu. Uang digenggam. Harta digenggam. Jabatan digenggam. Status digenggam. Pendapat digenggam. Kenangan digenggam. Bahkan luka pun sering kita genggam. Masalahnya bukan pada memiliki.

Masalahnya adalah ketika kita tidak mampu melepaskan. Kita takut kehilangan uang. Takut kehilangan jabatan. Takut kehilangan pasangan. Takut kehilangan popularitas. Takut kehilangan penghargaan. Takut kehilangan sesuatu yang sebenarnya memang tidak pernah benar-benar menjadi milik kita. 

Maka hidup berubah menjadi kecemasan. Semakin banyak yang kita genggam, semakin banyak yang harus kita jaga. Dan semakin banyak yang harus kita jaga, semakin berat pikiran kita. Karena itu, salah satu latihan pertama membangun kesadaran diri adalah : Belajar melepaskan. 

Bukan berarti menjadi tidak peduli. Bukan berarti tidak boleh memiliki. Tetapi memahami bahwa segala sesuatu dalam kehidupan memiliki waktunya. Ada yang datang. Ada yang pergi. Ada yang tinggal. Ada yang berubah. Dan kita harus belajar menerima hukum kehidupan tersebut.

STEP 2 : TURUNKAN EGO

Setelah belajar melepaskan materi, kita masuk ke wilayah yang jauh lebih sulit, yani : EGO. Ego adalah bagian diri yang selalu ingin mengatakan :

"Saya benar.""
"Saya lebih tahu."
"Saya lebih hebat."
"Saya harus dihargai."
"Saya tidak boleh kalah."
"Dia yang harus meminta maaf." 


Dan lucunya..., Kadang kita rela kehilangan hubungan hanya karena tidak mau menurunkan ego. Persahabatan rusak. Keluarga renggang. Hubungan kerja hancur. Bukan selalu karena masalahnya besar. Tetapi karena ego terlalu besar. 

Maka ada sebuah pertanyaan sederhana :
Mana yang lebih penting : membuktikan bahwa kita benar atau menjaga kedamaian? Tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Tidak semua kesalahan harus dibalas.

Tidak semua ucapan harus dijawab. Kadang diam adalah kecerdasan. Kadang mengalah adalah kemenangan. Kadang meminta maaf adalah keberanian. Dan kadang melepaskan seseorang adalah bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri.

STEP 3 : BERHENTI MEMELIHARA LUKA

Ini bagian yang sering tidak kita sadari. Ada orang yang secara fisik sudah meninggalkan masa lalu, tetapi secara emosional masih tinggal di dalamnya. Peristiwanya sudah bertahun-tahun berlalu. Tetapi setiap kali mengingatnya, luka itu terasa seperti baru terjadi kemarin. 

Mengapa? Karena tubuh kita mungkin sudah pergi dari masa lalu. Tetapi pikiran kita masih tinggal di sana. Kita mengulang percakapan. Mengulang penghinaan. Mengulang pengkhianatan. Mengulang kegagalan. Mengulang ketidakadilan. Setiap hari. 

Akibatnya, orang yang menyakiti kita mungkin hanya menyakiti kita sekali. Tetapi kita sendiri bisa menyakiti diri kita ribuan kali dengan terus mengulang kejadian tersebut dalam pikiran. Di sinilah kita perlu belajar : Memaafkan.

STEP 4 :
MEMAAFKAN ADALAH KETERAMPILAN TERTINGGI

Memaafkan bukan berarti membenarkan. Memaafkan bukan berarti melupakan. Memaafkan bukan berarti kembali mempercayai orang yang sama. Memaafkan adalah : berhenti memberikan kekuasaan kepada masa lalu untuk mengendalikan masa depan kita. 

Ketika kita memaafkan, kita berkata : "Saya tidak ingin kejadian itu terus mengendalikan hidup saya." - Dan di situlah kebebasan dimulai. Karena orang yang tidak mampu memaafkan sebenarnya sedang membawa sebuah "penjara" ke mana pun ia pergi. Penjara itu tidak memiliki jeruji. Tidak memiliki pintu. Tetapi ada di dalam pikiran.

EMPAT STADIUM PENYAKIT HATI
Jika luka tidak diselesaikan, ia dapat berkembang.

STADIUM 1 — IRI
"Kenapa dia bisa, sementara saya tidak?"
Iri membuat keberhasilan orang lain terasa seperti kegagalan kita.

STADIUM 2 — BENCI
Iri yang dipelihara dapat berubah menjadi kebencian.
Kita mulai tidak suka melihat orang tersebut bahagia.

STADIUM 3 — DENGKI
Pada tahap ini kita mulai merasa senang ketika orang lain jatuh.
Senang melihat orang susah, susah melihat orang senang.

STADIUM 4 — DENDAM 
Ini adalah titik ketika seseorang mulai ingin membalas.

Dan di sinilah muncul kalimat yang sangat tajam :
"Setiap hari makan racun, tetapi berharap orang lain yang mati."
Dendam seperti meminum racun sambil menunggu orang lain yang sakit. Padahal yang paling lama menderita justru diri kita sendiri.

STEP 5 : BELAJAR MENERIMA

Setelah melepaskan, menurunkan ego, dan memaafkan, kita mulai belajar menerima.Menerima bahwa tidak semua orang akan memahami kita.

Menerima bahwa tidak semua rencana akan berhasil.
Menerima bahwa tidak semua orang akan menyukai kita.
Menerima bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan. 


Dan yang paling penting adalah : Menerima diri sendiri. 

Karena bagaimana kita bisa mencintai kehidupan jika kita sendiri masih membenci diri kita?Bagaimana kita bisa berdamai dengan dunia jika kita masih berperang dengan diri sendiri?

STEP 6 : BERHENTI MEMBANDINGKAN

Salah satu sumber penderitaan manusia adalah kebiasaan membandingkan. Kita membandingkan rumah. Kendaraan. Penghasilan. Karier. Keluarga. Pasangan. Popularitas. Bahkan pencapaian. Padahal setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda. 

Rumput di halaman orang lain selalu terlihat lebih hijau ketika kita lupa menyiram rumput sendiri. 

Maka berhentilah membandingkan perjalanan kita dengan perjalanan orang lain. Pertanyaan yang lebih sehat bukan : "Mengapa saya belum seperti dia?" – Tetapi : "Apakah saya hari ini lebih baik daripada diri saya yang kemarin?" - Itulah kompetisi yang sebenarnya.

STEP 7 :
MENEMUKAN DAMAI DI DALAM DIRI

Pada akhirnya, kesadaran diri membawa kita kepada sebuah keadaan yang sangat sederhana : damai.

Damai bukan berarti tidak punya masalah.
Damai berarti kita tidak lagi membiarkan masalah menguasai seluruh diri kita.
Kita tetap bekerja.
Tetap berjuang.
Tetap mengejar cita-cita.
Tetapi tidak lagi diperbudak oleh semuanya. 

Kita memiliki uang, tetapi tidak diperbudak uang. Kita memiliki jabatan, tetapi tidak diperbudak jabatan. Kita memiliki kekuasaan, tetapi tidak diperbudak kekuasaan. Kita memiliki ego, tetapi tidak diperbudak ego. Kita memiliki masa lalu, tetapi tidak diperbudak masa lalu.

Dan akhirnya kita sampai pada sebuah kesadaran :
Kita tidak harus memiliki semuanya untuk merasa cukup.

STEP 8 : DARI EGO MENUJU KESADARAN

Mungkin inilah inti perjalanan manusia.
Pada awal kehidupan kita bertanya : "Apa yang bisa saya dapatkan?"
Kemudian kita tumbuh dan bertanya : "Apa yang bisa saya miliki?"
Setelah memiliki banyak hal, kita mulai bertanya : "Apa sebenarnya yang saya cari?" 

Dan pada tingkat kesadaran tertentu, pertanyaannya berubah menjadi : "Siapa sebenarnya diri saya?"

Pertanyaan terakhir inilah yang membawa manusia masuk lebih jauh ke dalam dirinya sendiri. Bukan lagi tentang dunia. Bukan lagi tentang orang lain. Tetapi tentang hakikat diri.

KESADARAN ADALAH PERJALANAN PULANG

Mungkin selama ini kita mengira bahwa kesuksesan adalah perjalanan menuju suatu tempat. Padahal bisa jadi kesadaran adalah perjalanan pulang kepada diri sendiri. Pulang dari keserakahan. Pulang dari ego. Pulang dari iri. Pulang dari kebencian. Pulang dari dendam. Pulang dari ketakutan. Pulang dari kebutuhan untuk selalu diakui. 

Dan akhirnya pulang kepada sebuah keadaan yang paling sederhana :
menerima diri, menerima kehidupan, dan berdamai dengan apa yang tidak bisa kita ubah. 

Karena pada akhirnya...
Hidup bukan tentang seberapa banyak yang berhasil kita genggam.
Tetapi seberapa banyak yang mampu kita lepaskan dengan kesadaran. 

Bukan tentang seberapa banyak orang yang berhasil kita kalahkan.
Tetapi seberapa jauh kita berhasil menaklukkan ego di dalam diri. 

Bukan tentang seberapa banyak orang yang kita benci.
Tetapi seberapa luas hati kita mampu memaafkan. 

Dan bukan tentang seberapa tinggi kita berdiri di hadapan manusia.
Tetapi seberapa dalam kita mengenal diri sendiri di hadapan Tuhan. 

Inilah perjalanan Mind Glowing.
Step by step.
Pelan-pelan.
Sadar demi sadar.
Hingga akhirnya kita menemukan cahaya itu bukan di luar diri kita...,
Tetapi ternyata cahaya itu sejak awal sudah ada di dalam diri kita.

whonesiasikoji
whonesiasikoji
Articles: 78

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *