Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482
Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482


Oleh : Wahono – Aktivis Banjarnegara
Ada satu pertanyaan menarik yang sejak dahulu hidup dalam khazanah pemikiran masyarakat Jawa :
Benarkah suatu saat akan muncul seorang Satrio Piningit atau Ratu Adil yang datang untuk menyelamatkan negeri dari zaman yang penuh kekacauan? Pertanyaan itu menarik.
Tetapi ada satu hal yang jauh lebih penting untuk kita renungkan :
Apakah Satrio Piningit harus selalu dipahami sebagai seorang tokoh yang sedang bersembunyi dan suatu hari akan muncul untuk menyelesaikan semua persoalan bangsa?
Ataukah sesungguhnya konsep Satrio Piningit dan Ratu Adil merupakan simbol lahirnya sebuah kesadaran baru—kesadaran manusia dan masyarakat untuk membenahi keadaan yang sudah tidak lagi sehat?
Di sinilah kita perlu melihatnya lebih dalam.
Dalam tradisi dan tafsir budaya Jawa, Satrio Piningit sering dipahami sebagai ksatria yang tersembunyi atau belum dikenal.
Ia digambarkan sebagai sosok yang muncul ketika keadaan masyarakat sedang mengalami kekacauan atau apa yang sering disebut sebagai zaman edan.
Sementara Ratu Adil menggambarkan sosok pemimpin yang adil, bijaksana, jujur dan mampu membawa masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik. Keduanya kemudian sering disandingkan.
Satrio Piningit menggambarkan bagaimana sosok itu muncul, sedangkan Ratu Adil menggambarkan kualitas kepemimpinannya.
Dalam berbagai tafsir terhadap ramalan Jayabaya maupun karya-karya pujangga Jawa, gambaran tentang sosok tersebut sangat simbolis. Ia bukan manusia super. Ia tetap manusia biasa yang hidup di tengah masyarakat. Namun ia digambarkan memiliki keberanian, ketegasan, kejujuran, welas asih, kebijaksanaan dan kemampuan membaca zaman.
Bahkan simbol Trisula Wedha sering dimaknai sebagai tiga kekuatan yang harus ada dalam diri seorang pemimpin : iman, ilmu dan amal. Dengan kata lain, pemimpin yang ideal bukan hanya orang yang mempunyai kekuasaan. Ia harus memiliki integritas, pengetahuan dan keberanian untuk mengubah pengetahuan menjadi tindakan.
Dalam gambaran tentang Zaman Kalabendhu atau Zaman Edan, Satrio Piningit justru dikaitkan dengan keadaan ketika kehidupan masyarakat mengalami berbagai persoalan.
Ketika nilai moral mengalami kemerosotan.
Ketika orang baik kehilangan ruang.
Ketika kekuasaan tidak lagi digunakan untuk kepentingan rakyat.
Ketika ketimpangan sosial semakin terasa.
Ketika masyarakat kehilangan pegangan.
Dan ketika berbagai persoalan sosial, ekonomi maupun lingkungan semakin berat.
Dalam bahasa sederhana :
Satrio Piningit tidak muncul ketika semuanya baik-baik saja.
Ia justru menjadi simbol ketika masyarakat membutuhkan perubahan besar.
Tetapi di sinilah persoalan yang sering luput dari perhatian kita.
Kita terlalu sibuk bertanya : “Siapa Satrio Piningit itu?”
Padahal mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah :
“Kesadaran seperti apa yang harus lahir agar perubahan itu benar-benar terjadi?”
Jika Satrio Piningit hanya dipahami sebagai seorang tokoh yang akan datang menyelamatkan semuanya, maka masyarakat berpotensi terjebak dalam budaya menunggu penyelamat.
Kita menunggu seseorang.
Menunggu pemimpin.
Menunggu tokoh.
Menunggu figur yang dianggap mampu membereskan semuanya.
Padahal perubahan sebuah bangsa tidak pernah hanya bergantung kepada satu orang.
Seorang pemimpin yang baik membutuhkan masyarakat yang sadar.
Masyarakat yang sadar membutuhkan pengetahuan.
Pengetahuan membutuhkan kemauan untuk belajar.
Dan perubahan membutuhkan keberanian untuk bertindak.
Karena itu, bisa jadi makna yang lebih dalam dari Satrio Piningit bukanlah tentang “siapa orangnya”, melainkan tentang “kesadaran apa yang harus lahir”.
Bayangkan sebuah masyarakat yang mulai sadar bahwa korupsi bukan sekadar kesalahan pejabat, tetapi juga persoalan budaya.
Masyarakat mulai sadar bahwa politik bukan sekadar perebutan jabatan, tetapi alat untuk menentukan arah kehidupan bersama.
Masyarakat mulai sadar bahwa pembangunan bukan sekadar membangun gedung dan jalan, tetapi membangun manusia.
Masyarakat mulai sadar bahwa kesejahteraan tidak akan lahir hanya dari bantuan, tetapi dari sistem ekonomi yang memberikan kesempatan kepada rakyat untuk tumbuh.
Dan masyarakat mulai sadar bahwa perubahan tidak boleh hanya dibebankan kepada pemerintah.
Bukankah itu sendiri sudah merupakan sebuah bentuk “Satrio Piningit”?
Bukan seorang manusia yang tiba-tiba muncul dari tempat persembunyiannya.
Tetapi kesadaran yang selama ini “tersembunyi” di dalam diri masyarakat, kemudian bangkit menjadi kekuatan perubahan.
Demikian pula dengan istilah Ratu Adil.
Kita tidak harus membatasinya sebagai seorang penguasa yang kelak datang membawa keadilan.
Kita bisa membacanya sebagai nilai dan karakter kepemimpinan yang harus hidup dalam masyarakat.
Keadilan. Kejujuran. Keberanian. Kebijaksanaan. Keberpihakan kepada rakyat.
Dan kemampuan menggunakan kekuasaan untuk kepentingan bersama.
Sebab apa gunanya seorang pemimpin disebut “Ratu Adil” jika masyarakatnya sendiri masih membiarkan ketidakadilan berlangsung?
Apa gunanya menunggu pemimpin yang jujur jika masyarakat masih menganggap suap sebagai sesuatu yang biasa?
Apa gunanya berharap muncul pemimpin yang berani jika masyarakat sendiri takut menyampaikan kebenaran?
Pemimpin yang baik tidak lahir dari ruang kosong.
Ia lahir dari lingkungan masyarakat yang juga mulai menghargai kebaikan, kejujuran dan keadilan.
Ada sebuah prinsip yang sangat kuat dalam ajaran Islam :
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Pesan ini memberikan perspektif yang sangat penting.
Perubahan tidak cukup dengan berharap.
Perubahan tidak cukup dengan berdoa.
Perubahan juga tidak cukup dengan menunggu hadirnya seorang tokoh.
Perubahan membutuhkan kesadaran dan tindakan manusia.
Karena itu, mungkin pertanyaan kita tentang Satrio Piningit selama ini perlu dibalik.
Bukan : “Kapan Satrio Piningit datang?”
Tetapi : “Kapan kesadaran kita bangkit?”
Bukan : “Siapa Ratu Adil yang akan menyelamatkan rakyat?”
Tetapi : “Kapan kita mulai membangun kehidupan yang adil?”
Jika masyarakat hanya menunggu seorang penyelamat, maka selama tokoh itu belum muncul, masyarakat akan terus merasa tidak berdaya.
Tetapi jika Satrio Piningit kita pahami sebagai kesadaran kolektif, maka setiap orang memiliki peran.
Guru mendidik dengan benar.
Orang tua membangun karakter anak.
Pengusaha menjalankan usaha dengan jujur.
Pejabat menggunakan kewenangan untuk kepentingan rakyat.
Aktivis menyuarakan kebenaran.
Media memberikan informasi yang sehat.
Masyarakat berani mengawasi kekuasaan.
Dan generasi muda membangun masa depan dengan ilmu pengetahuan.
Ketika semua kesadaran itu bertemu, lahirlah sebuah kekuatan sosial.
Kekuatan itulah yang mampu mengubah zaman.
Mungkin kita tidak perlu tergesa-gesa menjawab dengan nama seseorang.
Sebab bisa jadi, Satrio Piningit bukan persoalan siapa yang datang, melainkan kesadaran yang bangkit.
Dan mungkin pula Ratu Adil bukan sekadar figur yang kelak memimpin, tetapi nilai keadilan yang harus diperjuangkan bersama.
Karena pada akhirnya, sebuah bangsa tidak akan berubah hanya karena menemukan seorang pemimpin besar.
Bangsa berubah ketika pemimpinnya berubah, masyarakatnya berubah, cara berpikirnya berubah, dan kesadaran kolektifnya berubah.
Maka jangan hanya menunggu Satrio Piningit.
Bangunkan Satrio Piningit yang ada di dalam kesadaran kita sendiri.
Jangan hanya menunggu Ratu Adil.
Bangunlah keadilan itu melalui sikap, tindakan dan keberanian kita sehari-hari.
Sebab bisa jadi, yang selama ini kita tunggu bukanlah seorang manusia yang tersembunyi.
Yang sebenarnya sedang menunggu untuk dilahirkan adalah kesadaran kita sendiri.
Dan ketika kesadaran itu telah tumbuh menjadi kesadaran kolektif, mungkin pada saat itulah “Satrio Piningit” benar-benar telah muncul—bukan sebagai seorang tokoh, tetapi sebagai gerakan perubahan sebuah bangsa.