KITA SUDAH MENDIDIK ORANG, TETAPI SUDAHKAH KITA MEMBANGUN MANUSIA?

Penjabaran tentang Manusia Indonesia yang Seutuhnya

Oleh : Wahono – Aktifis Banjarnegara

Ketika kita berbicara tentang pendidikan, sering kali yang menjadi ukuran keberhasilan adalah seberapa tinggi seseorang bersekolah, seberapa banyak gelar yang dimiliki, atau seberapa tinggi nilai akademiknya.

Namun, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar : 
Apakah pendidikan kita benar-benar telah melahirkan manusia Indonesia yang seutuhnya?

Sebab, manusia Indonesia yang seutuhnya bukan sekadar seseorang yang pintar, berpendidikan tinggi, memiliki pekerjaan yang baik, atau menguasai teknologi.

Lebih dari itu, ia adalah seseorang yang memiliki kesadaran tentang dirinya, kesadaran tentang bangsanya, serta kesadaran tentang hubungan dirinya dengan Tuhan dan seluruh kehidupan.

Manusia Indonesia yang Seutuhnya

Manusia Indonesia yang seutuhnya adalah seseorang yang telah memiliki kesadaran tentang Nusantara Wisdom.

Ia memahami siapa dirinya.
Ia memahami dari mana ia berasal.
Ia memahami jati diri daerahnya, budayanya, bangsanya, sekaligus memahami bahwa dirinya merupakan bagian dari kehidupan yang lebih besar.

Dengan kesadaran itu, ia tidak mudah kehilangan identitas ketika berhadapan dengan perubahan zaman.
Ia boleh menjadi manusia modern, menguasai teknologi, berpikir global, bahkan bersaing di tingkat dunia.

Tetapi pada saat yang sama, ia tetap memiliki akar budaya dan karakter kebangsaan yang kuat.

Mengapa “Membangun Manusia”, Bukan Sekadar “Membangun Orang”?

Ada hal menarik dari penggunaan istilah “membangun manusia”.
Secara pemaknaan filosofis, orang dan manusia dapat kita lihat sebagai dua istilah yang berbeda.

“Orang” lebih menunjuk kepada identitas seseorang sebagai individu yang membedakannya dari makhluk ciptaan Tuhan lainnya.

Sedangkan “Manusia” , dalam pemaknaan yang kita bangun di sini, menunjuk pada seseorang yang telah memiliki kesadaran kemanusiaan dan kesadaran ketuhanan.

Dengan demikian, membangun manusia bukan hanya membuat seseorang menjadi pintar, produktif, dan kompetitif.

Membangun manusia berarti membangun kesadarannya.

Kesadaran bahwa dirinya adalah makhluk Tuhan.
Kesadaran bahwa manusia lainnya juga merupakan ciptaan Tuhan.

Dan kesadaran bahwa perbedaan suku, agama, ras maupun golongan tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan, membenci, atau memusuhi sesama.

Sebab pada hakikatnya, semua manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Tuhan.
Dan yang membedakan manusia di hadapan-Nya bukanlah suku, warna kulit, jabatan, kekayaan maupun status sosial, melainkan Ketaqwaannya.

Lalu, Seperti Apa Wujud Kesadaran Murni Itu?

Kesadaran murni akan melahirkan manusia yang tidak lagi menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membangun permusuhan.

Ia mampu melihat keberagaman sebagai kenyataan sekaligus anugerah.
Ia memahami bahwa Indonesia tidak dibangun oleh satu suku, satu agama, satu budaya, atau satu golongan saja.

Indonesia lahir dari keberagaman yang kemudian menemukan kesatuannya.

Di sinilah Nusantara Wisdom dan local wisdom menjadi sangat penting.
Sebab sesungguhnya, banyak warisan kebijaksanaan leluhur Nusantara berbicara tentang satu hal yang sangat mendasar : Kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.

Leluhur Nusantara sangat menghargai perbedaan.
Mereka juga memiliki kesadaran bahwa manusia hidup tidak sendirian di alam semesta, melainkan senantiasa berada dalam keterhubungan dengan kehidupan dan keberadaan lain yang tidak selalu dapat dilihat secara kasatmata.

Bhinneka Tunggal Ika : Berbeda, Tetapi Tetap Satu

Salah satu warisan besar peradaban Nusantara adalah semboyan :
“Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa.”

Kita berbeda-beda, tetapi tetap satu.
Kita boleh berbeda pandangan, berbeda budaya, berbeda keyakinan, berbeda latar belakang dan berbeda cara memahami kehidupan.

Namun, perbedaan tersebut tidak semestinya membuat kita kehilangan persaudaraan sebagai sesama manusia dan sebagai satu bangsa.

Ada satu kesadaran penting yang juga terkandung di dalamnya : 
Kebenaran mutlak adalah milik Tuhan.

Apa yang kita yakini sebagai kebenaran pada akhirnya adalah upaya manusia untuk mendekati kebenaran itu sendiri.

Karena itu, mengapa kita harus memperbesar ukuran perbedaan?
Bukankah perbedaan justru merupakan anugerah?
Bukankah keberagaman adalah kekayaan yang membuat Nusantara menjadi Nusantara?

Memayu Hayuning Bawono : Membuat Dunia yang Sudah Indah Menjadi Lebih Indah

Leluhur kita juga mewariskan sebuah prinsip : 
“Memayu Hayuning Bawono, Hambrasto Dhur Hangkoro.”

Secara sederhana, kita dapat memaknainya sebagai ajakan untuk menjaga dan memperindah kehidupan serta menyingkirkan angkara murka dari muka bumi.

Tetapi perubahan itu tidak boleh hanya diarahkan kepada orang lain.
Ia harus dimulai dari diri sendiri.

Memerangi angkara murka berarti terlebih dahulu mampu mengendalikan ego, keserakahan, kebencian, kesombongan dan nafsu untuk menguasai.

Sebab bagaimana mungkin seseorang ingin memperbaiki dunia jika ia belum mampu memperbaiki dirinya sendiri?

Maka, pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya mengajarkan bagaimana manusia memperoleh kehidupan yang baik, tetapi juga bagaimana manusia Menjadi Baik.

Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti

Prinsip berikutnya adalah : 
“Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti.”

Maknanya dapat kita pahami sebagai sebuah pesan bahwa segala bentuk angkara murka pada akhirnya dapat diluluhkan oleh kebaikan, kasih sayang dan kebajikan.

Kekerasan tidak harus selalu dilawan dengan kekerasan.
Kebencian tidak harus dibalas dengan kebencian.
Kesombongan tidak harus dijawab dengan kesombongan.

Sebab pada akhirnya, kebaikan memiliki kekuatan untuk meluluhkan keburukan.

Bayangkan Jika Ini Menjadi Fondasi Pendidikan Nasional

Sekarang mari kita bayangkan.
Bagaimana jika tiga warisan nilai tersebut benar-benar menjadi bagian penting dari pendidikan anak-anak Indonesia?

Pertama : 
Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa.
Mengajarkan persatuan dalam keberagaman dan kerendahan hati dalam memahami kebenaran.

Kedua : 
Memayu Hayuning Bawono, Hambrasto Dhur Hangkoro.
Mengajarkan tanggung jawab menjaga kehidupan serta keberanian melawan angkara murka, dimulai dari diri sendiri.

Ketiga : 
Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti.
Mengajarkan bahwa kebaikan, kebajikan dan kasih sayang adalah kekuatan untuk menghadapi keburukan.

Jika nilai-nilai tersebut benar-benar ditanamkan sejak dini, pendidikan kita tidak hanya menghasilkan anak-anak yang pintar menjawab soal.

Kita dapat membayangkan lahirnya generasi yang kuat karakter kebangsaannya, memahami identitas dirinya, mengenal daerah dan budayanya, mencintai bangsanya, sekaligus memiliki kesadaran sebagai bagian dari masyarakat dunia.

Inilah Grand Design Pendidikan yang Seharusnya

Karena itu, semestinya grand design pendidikan nasional memiliki tujuan yang jelas dan tidak mudah berubah hanya karena pergantian menteri.

Menteri boleh berganti.
Kurikulum boleh berkembang mengikuti zaman.
Teknologi boleh berubah.
Metode pembelajaran boleh diperbarui.

Tetapi tujuan besarnya harus tetap.
Yaitu : Membangun Manusia Indonesia Yang Seutuhnya.

Jika deskripsi tentang manusia Indonesia yang seutuhnya telah dirumuskan dengan jelas, maka ia dapat menjadi guide bagi seluruh arah pendidikan nasional.

Kurikulum nasional menjadi fondasi bersama.
Sementara kurikulum lokal dapat memperkuat identitas daerah melalui local wisdom, sejarah, budaya, bahasa, kesenian, tradisi dan berbagai kekayaan Nusantara.

Dengan demikian, anak-anak Indonesia tidak tercerabut dari akarnya ketika mereka memasuki dunia global.

Berakar di Nusantara, Berpikir Global

Dunia hari ini bukan lagi dunia yang terkotak-kotak.
Persaingan semakin terbuka.
Teknologi berkembang sangat cepat.
Kecerdasan buatan mengubah cara manusia bekerja.
Ekonomi menjadi semakin global.
Pertarungan gagasan, informasi, budaya dan teknologi terjadi setiap hari.

Karena itu, generasi Indonesia harus siap menghadapi persaingan global.
Tetapi ada satu hal yang tidak boleh hilang : Jati Dirinya.

Kita tidak membutuhkan generasi yang hanya mampu menjadi global tetapi kehilangan akar Nusantaranya.
Kita membutuhkan generasi yang berakar kuat di Nusantara, tetapi mampu berpikir dan bertindak secara global.

Generasi yang menguasai teknologi tetapi tidak kehilangan kemanusiaannya.
Generasi yang cerdas tetapi tetap rendah hati.
Generasi yang memiliki keberanian bersaing tetapi tidak kehilangan rasa persaudaraan.
Generasi yang memiliki kebebasan berpikir tetapi tetap menghormati perbedaan.

Dan yang paling penting : 
Generasi Yang Mengenal Dirinya, Mengenal Bangsanya, Mengenal Kebudayaannya, Serta Menyadari Hubungan Dirinya Dengan Tuhan.

Pada Akhirnya, Pendidikan Bukan Sekadar Mencetak Orang Pintar

Pendidikan tidak seharusnya berhenti pada kemampuan membuat seseorang menjadi pintar.
Pendidikan harus membawa manusia menuju kesadaran.

Kesadaran tentang siapa dirinya.
Kesadaran tentang dari mana ia berasal.
Kesadaran tentang bangsanya.
Kesadaran tentang sesama.
Kesadaran tentang alam semesta.
Dan pada akhirnya, kesadaran tentang Tuhan.

Karena itu, pertanyaan besar pendidikan Indonesia mungkin bukan lagi :
“Kurikulum apa yang akan kita gunakan?”

Tetapi terlebih dahulu : 
“Manusia Indonesia seperti apa yang ingin kita lahirkan?”

Jika jawabannya adalah manusia Indonesia yang seutuhnya, maka seluruh sistem pendidikan harus diarahkan menuju tujuan tersebut.

Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki manusia-manusia pintar.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki manusia-manusia yang sadar, berkarakter, berbudaya, beradab, bertaqwa, menghargai keberagaman dan mampu berdiri tegak di tengah perubahan zaman.

Berakar pada Nusantara.
Berjiwa Indonesia.
Berpikir global.


Dan tetap mengabdi kepada kemanusiaan serta Tuhan Yang Maha Esa.

whonesiasikoji
whonesiasikoji
Articles: 78

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *