Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482
Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482


Selama bertahun-tahun, pendidikan Indonesia terus mengalami perubahan.
Kurikulum berganti.
Metode pembelajaran berubah.
Teknologi masuk ke ruang kelas.
Sekolah berkembang.
Namun ada satu pertanyaan yang seharusnya tidak pernah berhenti kita ajukan :
“Manusia Indonesia seperti apa yang sebenarnya ingin kita lahirkan melalui pendidikan?”
Sebab pendidikan bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid.
Pendidikan adalah proses Membangun Manusia.
Jika tujuan akhirnya tidak pernah dirumuskan secara jelas, maka perubahan kurikulum akan selalu berputar pada persoalan teknis.
Hari ini kurikulum berubah.
Besok berubah lagi.
Lalu berganti kembali ketika kebijakan berubah.
Padahal yang seharusnya tidak berubah adalah tujuan besar pendidikan itu sendiri.
Karena itu, Indonesia membutuhkan sebuah Grand Design pendidikan yang berangkat bukan dari pergantian kurikulum, tetapi dari Desain Manusia Indonesia yang ingin diwujudkan.
Inilah gagasan :
MANUSIA INDONESIA YANG SEUTUHNYA
Kami meyakini bahwa pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan manusia yang pintar.
Pendidikan harus menghasilkan manusia yang sadar, berkarakter, berbudaya, beradab, bertaqwa dan mampu hidup bersama dalam keberagaman.
Pengetahuan adalah alat.
Teknologi adalah alat.
Kecerdasan adalah alat.
Tetapi arah penggunaan semua itu ditentukan oleh kesadaran dan karakter manusia.
Karena itu : Pendidikan harus mencerdaskan pikiran sekaligus membangun kesadaran.
Manusia Indonesia yang seutuhnya adalah manusia yang :
1. Sadar akan Tuhan.
Menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari ciptaan Tuhan dan memiliki tanggung jawab moral dalam menjalani kehidupan.
2. Sadar akan dirinya.
Mengenal potensi, keterbatasan, karakter dan jati dirinya.
3. Sadar akan sesamanya.
Mampu menghormati manusia lain tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan maupun latar belakang sosial.
4. Sadar akan bangsanya.
Memahami sejarah, budaya, identitas dan perjalanan bangsanya.
5. Sadar akan Nusantara.
Memahami bahwa Indonesia adalah rumah besar yang dibangun dari ribuan pulau, ratusan budaya, bahasa, tradisi dan keberagaman.
6. Sadar akan alam.
Memahami bahwa manusia bukan penguasa tunggal atas alam, tetapi bagian dari ekosistem kehidupan.
7. Mampu berpikir global.
Terbuka terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, perubahan dan perkembangan dunia.
8. Tetap berakar pada jati diri Indonesia.
Tidak kehilangan identitas ketika berhadapan dengan arus globalisasi.
Dengan demikian, manusia Indonesia yang seutuhnya bukan manusia yang menutup diri dari dunia.
Ia justru manusia yang terbuka kepada dunia tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Blueprint ini berdiri di atas tiga warisan nilai besar Nusantara :
1. BHINNEKA TUNGGAL IKA - Tan Hana Dharma Mangrwa
Berbeda-beda tetapi tetap satu.Mengajarkan persatuan dalam keberagaman serta kesadaran bahwa manusia harus rendah hati dalam memahami kebenaran.
2. MEMAYU HAYUNING BAWONO - Hambrasto Dhur Hangkoro
Menjaga kehidupan dan menjadikan dunia yang sudah indah menjadi semakin baik.Perubahan harus dimulai dari diri sendiri dengan mengendalikan ego, keserakahan, kebencian dan angkara murka.
3. SURA DIRA JAYANINGRAT - LEBUR DENING PANGASTUTI
Keburukan dan angkara murka dilawan dengan kebaikan, kebajikan dan kasih sayang.
Ketiga prinsip ini menjadi fondasi etika kehidupan manusia Indonesia.
Agar gagasan ini dapat diterjemahkan ke dalam pendidikan, maka kesadaran manusia Indonesia dapat dikembangkan melalui delapan lapisan :
1. Kesadaran Ketuhanan
Membangun hubungan spiritual dan moral dengan Tuhan.
2. Kesadaran Diri
Mengenali siapa dirinya, potensi dan tanggung jawabnya.
3. Kesadaran Kemanusiaan
Menghormati martabat setiap manusia.
4. Kesadaran Kebangsaan
Memahami Indonesia sebagai rumah bersama.
5. Kesadaran Kebudayaan
Mengenal, menjaga dan mengembangkan warisan budaya.
6. Kesadaran Ekologis
Menjaga alam dan keberlanjutan kehidupan.
7. Kesadaran Digital dan Teknologi
Mampu menggunakan teknologi secara cerdas, etis dan produktif.
8. Kesadaran Global
Mampu berinteraksi dan bersaing dalam masyarakat dunia.
Delapan kesadaran tersebut membentuk satu kesatuan.
Bukan delapan mata pelajaran baru.
Tetapi Delapan Dimensi Manusia Indonesia.
Indonesia tidak kekurangan kebijaksanaan.
Yang sering hilang adalah kemampuan untuk : Menghubungkan kebijaksanaan tersebut dengan kehidupan generasi modern.
Karena itu, pendidikan nasional perlu memiliki dua lapisan :
NATIONAL CORE
Nilai-nilai fundamental yang menjadi identitas bersama bangsa Indonesia.
LOCAL WISDOM
Kekayaan pengetahuan, budaya, bahasa, tradisi dan kebijaksanaan setiap daerah.
Keduanya tidak boleh dipertentangkan.
Justru harus dipertemukan
.Anak Papua mengenal Papua.
Anak Jawa mengenal Jawa.
Anak Bali mengenal Bali.
Anak Kalimantan mengenal Kalimantan.
Anak Sumatera mengenal Sumatera.
Dan semuanya memahami :
“Aku memiliki akar budaya sendiri, tetapi aku adalah bagian dari Indonesia.”
Dari sinilah local wisdom berkembang menjadi : NUSANTARA WISDOM
Yakni kesadaran bahwa seluruh kekayaan kebijaksanaan lokal merupakan bagian dari satu rumah besar bernama Indonesia.
Blueprint ini dapat dibangun melalui lima lapisan pendidikan.
LAPIS 1 — SPIRITUAL
Tuhan → Kesadaran → Akhlak
Membangun manusia yang memiliki orientasi moral.
LAPIS 2 — PERSONAL
Diri → Karakter → Potensi
Membangun manusia yang mengenal dan mengembangkan dirinya.
LAPIS 3 — SOSIAL
Keluarga → Masyarakat → Bangsa
Membangun manusia yang mampu hidup bersama.
LAPIS 4 — NUSANTARA
Daerah → Budaya → Indonesia
Membangun manusia yang berakar pada identitas kebangsaannya.
LAPIS 5 — GLOBAL
Ilmu → Teknologi → Dunia
Membangun manusia yang mampu bersaing dan berkolaborasi secara global.
Dengan struktur tersebut, arah pendidikan menjadi jelas :
Berangkat dari Tuhan, mengenal diri, menghargai sesama, berakar pada Nusantara dan mampu berdiri di dunia.
Inilah perubahan paradigma yang paling penting.
Selama ini kita sering bertanya :
“Kurikulum apa yang paling baik?”
Blueprint ini mengusulkan pertanyaan yang berbeda :
“Manusia seperti apa yang ingin kita lahirkan?”
Setelah jawabannya jelas, barulah kurikulum dirancang.
Dengan demikian :
Tujuan → Manusia → Kompetensi → Kurikulum → Metode → Evaluasi
Bukan :
Kurikulum → Ujian → Nilai → Lulus
Kurikulum hanyalah kendaraan.
Manusia Indonesia yang seutuhnya adalah tujuannya.
Manusia tidak hanya dibentuk di sekolah.
Ia dibentuk oleh :
Keluarga.
Sekolah.
Lingkungan masyarakat.
Budaya.
Media.
Teknologi.
Negara.
Karena itu, pendidikan manusia Indonesia membutuhkan ekosistem.
RUMAH
Tempat pertama membangun karakter.
SEKOLAH
Tempat mengembangkan pengetahuan dan kompetensi.
MASYARAKAT
Tempat menguji nilai dalam kehidupan nyata.
BUDAYA
Tempat menanamkan identitas.
TEKNOLOGI
Tempat memperluas kemampuan.
NEGARA
Tempat menciptakan sistem dan lingkungan yang mendukung.
Dengan demikian, pendidikan bukan lagi hanya urusan kementerian pendidikan.
Pendidikan adalah proyek peradaban bangsa.
Dalam paradigma ini, guru tidak cukup hanya menjadi penyampai materi.
Guru harus menjadi :
Pendidik.
Pembimbing.
Teladan.
Mentor.
Penggerak kesadaran.
Karena anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan gurunya.
Mereka belajar dari :
Bagaimana Gurunya Bersikap.
Bagaimana Gurunya Menghargai Perbedaan.
Bagaimana Gurunya Menyelesaikan Masalah.
Bagaimana Gurunya Memperlakukan Manusia Lain.
Maka, peningkatan kualitas guru bukan hanya persoalan sertifikasi dan kompetensi akademik.
Tetapi juga pembangunan Integritas dan Keteladanan.
Jika tujuan pendidikan adalah manusia yang seutuhnya, maka ukuran keberhasilan tidak boleh hanya :
Nilai Ujian.
Ranking.
IPK.
Jumlah Lulusan.
Kita membutuhkan indikator yang lebih luas :
Apakah anak mengenal dirinya?
Apakah ia menghargai orang lain?
Apakah ia mampu bekerja sama?
Apakah ia memiliki integritas?
Apakah ia mencintai bangsanya?
Apakah ia mengenal budayanya?
Apakah ia mampu menggunakan teknologi secara bijak?
Apakah ia mampu berpikir kritis?
Apakah ia mampu menciptakan sesuatu?
Apakah ia peduli terhadap lingkungan?
Apakah ia mampu bersaing secara global tanpa kehilangan jati dirinya?
Inilah ukuran pendidikan yang sesungguhnya.
Di tengah perkembangan Artificial Intelligence, pertanyaan tentang manusia menjadi semakin penting.
Mesin semakin pintar.
AI mampu menulis.
AI mampu menggambar.
AI mampu menghitung.
AI mampu menganalisis.
AI bahkan mampu menghasilkan berbagai bentuk karya yang sebelumnya hanya dapat dilakukan manusia.
Maka pendidikan masa depan tidak boleh hanya berlomba membuat manusia lebih pintar daripada mesin.
Sebab dalam banyak hal, mesin akan terus berkembang.
Pendidikan harus membuat manusia memiliki sesuatu yang tidak boleh hilang :
Kesadaran, Nilai, Empati, Kebijaksanaan, Tanggung Jawab Dan Kemanusiaan.
Teknologi harus menjadi alat untuk memperkuat manusia.
Bukan menggantikan kemanusiaan manusia.
Blueprint ini dapat diterapkan secara bertahap.
Merumuskan secara nasional definisi dan karakter Manusia Indonesia yang Seutuhnya.
Mengintegrasikan nilai Nusantara Wisdom dan Local Wisdom dalam pendidikan.
Memperkuat pendidikan karakter, budaya dan literasi digital.
Mengintegrasikan keluarga, sekolah, masyarakat, budaya, dunia usaha dan pemerintah dalam ekosistem pendidikan.
Mengembangkan pusat-pusat pembelajaran berbasis potensi daerah.
Setiap daerah memiliki kekhasan pendidikan lokal yang menjadi kekuatan nasional.
Mendorong generasi Indonesia menjadi :
Berkarakter Kuat,
Menguasai Ilmu Pengetahuan,
Menguasai Teknologi,
Berbudaya,
Berjiwa Kewirausahaan,
Berpikir Global,Dan Memiliki Kesadaran Kebangsaan.
Pada usia 100 tahun Indonesia merdeka, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya seberapa besar ekonomi Indonesia.
Tetapi juga :
Seberapa berkualitas manusia Indonesianya.
Sebab pada akhirnya :
Indonesia Emas bukan hanya tentang negara yang kaya.
Indonesia Emas adalah tentang manusia Indonesia yang matang.
Dari seluruh gagasan tersebut, kita dapat merumuskan sebuah visi besar :
Blueprint ini dapat diringkas dalam satu formula :
AKAR — KARAKTER — KOMPETENSI — KARYA — KONTRIBUSI
AKAR
Mengenal Tuhan, diri, keluarga, daerah dan budaya.
↓
KARAKTER
Membangun integritas, empati, disiplin, tanggung jawab dan kebijaksanaan.
↓
KOMPETENSI
Menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, bahasa, kreativitas dan keterampilan.
↓
KARYA
Menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
↓
KONTRIBUSI
Memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dunia dan kehidupan.
Bangsa Indonesia tidak kekurangan anak-anak pintar.
Indonesia juga tidak kekurangan sumber daya manusia.
Yang harus kita pastikan adalah :
Apakah kecerdasan itu memiliki arah?
Sebab kecerdasan tanpa karakter dapat menjadi alat keserakahan.
Teknologi tanpa etika dapat menjadi alat penghancuran.
Kekuasaan tanpa kesadaran dapat berubah menjadi penindasan.
Dan pendidikan tanpa tujuan manusiawi hanya akan menghasilkan manusia yang pintar menjalani kehidupan, tetapi belum tentu memahami untuk apa kehidupan itu dijalani.
Karena itu, kita membutuhkan perubahan paradigma.
Dari : Mencetak Lulusan
Menjadi : Membangun Manusia.
Dari : Mengejar Nilai
Menjadi : Membangun Kesadaran.
Dari : Menghafal Pengetahuan
Menjadi : Menghidupkan Pengetahuan Dalam Kehidupan.
Dari : Meniru Dunia
Menjadi : Berakar Pada Nusantara Dan Belajar Dari Dunia.
Dan Dari : Pendidikan Sebagai Program Pemerintah
Menjadi : Pendidikan Sebagai Proyek Peradaban Bangsa.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar pendidikan Indonesia bukan :
“Kurikulum apa yang kita gunakan?”
Tetapi :
“MANUSIA INDONESIA SEPERTI APA YANG INGIN KITA LAHIRKAN?”
Jika jawabannya adalah :
MANUSIA INDONESIA YANG SEUTUHNYA,
maka dari sanalah seharusnya : Grand Design Pendidikan Indonesia dimulai.
Berakar pada Nusantara.
Berjiwa Indonesia.
Berpikir global.
Berkarakter kuat.
Berilmu dan berteknologi.
Berbuat baik bagi sesama.
Menjaga kehidupan.
Dan senantiasa sadar kepada Tuhan.