Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482
Physical Address
Banjarnegara - Central Java - 53482


Penulis : Wahono, S.Pd – Aktifis & Sekjend Aliansi Wargo Hutomo
Banjarnegara hari ini sedang berada di persimpangan.
Di satu sisi, kita berbicara tentang pembangunan, investasi, pariwisata, ekonomi kreatif, digitalisasi, UMKM, infrastruktur dan daya saing.
Di sisi lain, ada satu pertanyaan mendasar yang sering kita lupakan :
Banjarnegara ingin dikenal sebagai apa?
Pertanyaan ini bukan sekadar persoalan branding.
Ini adalah persoalan JATI DIRI.
Sebab daerah yang tidak mengenal dirinya sendiri akan mudah mengikuti identitas orang lain.
Ia mudah meniru. Mudah latah. Mudah mengganti arah. Dan akhirnya kehilangan karakter.
Karena itu, sebelum kita bertanya : “Banjarnegara mau menjadi apa?”
kita harus lebih dahulu menjawab : “BANJARNEGARA ITU SIAPA?”
Pembangunan identitas harus dimulai dari manusia.
Bukan dari logo.
Bukan dari slogan.
Bukan dari baliho.
Bukan pula dari proyek pemerintah.
Tetapi dari kesadaran masyarakat, tentang : “Siapa Saya?”.
Manusia yang mengenal dirinya akan lebih mudah mengenal lingkungannya.
Dan masyarakat yang mengenal dirinya akan lebih mudah membangun daerahnya.
Karena itu, fondasi pertama adalah : SELF AWARENESS.
Kesadaran terhadap diri sendiri.
Siapa kita.
Nilai apa yang kita pegang.
Kelebihan apa yang kita miliki.
Kekurangan apa yang harus diperbaiki.
Dan masa depan seperti apa yang ingin kita bangun.
Setelah mengenal diri, kita naik satu tingkat : Mengenal Rumah Kita – Yakni ; Banjarnegara.
Kita bongkar seluruh kekayaan yang selama ini mungkin kita anggap biasa.
Sejarah.
Bahasa.
Kesenian.
Tradisi.
Kuliner.
Pertanian.
Kerajinan.
Produk UMKM.
Pegunungan.
Desa.
Tokoh.
Cerita rakyat.
Karakter masyarakat.
Dan berbagai warisan leluhur.
Kita tidak boleh hanya bertanya : “Apa yang kita punya?”
Tetapi harus bertanya : “Apa makna di balik apa yang kita punya?”.
Karena benda adalah produk. Tetapi makna adalah identitas.
Di sinilah kajian seperti Bima Cablaka menjadi penting.
Kita harus berani menggali :
1. Apa karakter masyarakat Banjarnegara?
2. Apakah keterusterangan?
3. Apakah keberanian?
4. Apakah kesederhanaan?
5. Apakah gotong royong?
6. Apakah keteguhan?
7. Apakah kedekatan dengan alam?
8. Atau kombinasi dari berbagai nilai tersebut?
Ini bukan sesuatu yang boleh diputuskan secara serampangan.
Harus dikaji. Harus didiskusikan. Harus diuji melalui sejarah dan realitas sosial.
Tetapi justru proses pencarian itulah yang penting. Sebab kita sedang melakukan sesuatu yang sangat fundamental : Membangun Kesadaran Karakter Daerah.
Budaya bukan dekorasi. Budaya adalah DNA sosial.
Tradisi seperti Ujungan, seni rakyat, bahasa, cerita, kuliner, ritual, kerajinan, pola hubungan sosial dan berbagai warisan leluhur merupakan bagian dari DNA tersebut.
Karena itu, budaya tidak boleh hanya muncul ketika ada festival.
Kemudian hilang ketika festival selesai.
Budaya harus menjadi bagian dari kehidupan.
Dipelajari.
Dipahami.
Dipraktikkan.
Dikembangkan.
Dan akhirnya : Diwariskan.
Dari budaya lahirlah kreativitas.
Dari kreativitas lahirlah karya.
Dari karya lahirlah produk.
Maka produk khas daerah bukan sekadar barang dagangan.
Ia dapat menjadi ; Representasi Nilai Lokal.
Dawet Ayu.
Batik Gumelem.
Keramik Klampok.
Carica Dieng.
Durian Mimang.
Salak.
Dan berbagai produk lokal lainnya.
Jangan dipertentangkan.
Jangan saling mengalahkan.
Bangun semuanya.
Karena semakin banyak produk berkualitas yang lahir dari Banjarnegara, semakin kuat pula wajah Banjarnegara.
Produk bagus belum tentu menjadi brand.
Brand lahir ketika produk memiliki :
Cerita + Karakter + Kualitas + Konsistensi + Pengalaman.
Karena itu, pekerjaan kita bukan sekadar membuat kemasan baru.
Kita harus membangun cerita.
1. Mengapa produk itu lahir?
2. Siapa yang membuat?
3. Apa nilai budayanya?
4. Apa keunikannya?
5. Mengapa harus dibeli?
Dan mengapa orang harus datang ke Banjarnegara untuk mengalaminya?
Di sinilah storytelling Daerah menjadi penting.
Jika produk dan budaya telah memiliki cerita, maka pariwisata memperoleh bahan bakar yang luar biasa.
Wisatawan tidak lagi hanya datang melihat tempat.
Mereka datang mencari yang namanya : Pengalaman.
1. Mereka ingin mencicipi.
2. Mereka ingin melihat.
3. Mereka ingin belajar.
4. Mereka ingin berinteraksi.
5. Mereka ingin membawa pulang cerita.
Maka Banjarnegara harus mulai berpikir :
Jangan hanya menjual tempat. Jual pengalaman.
1. Dieng adalah pengalaman.
2. Desa wisata adalah pengalaman.
3. Kuliner adalah pengalaman.
4. Seni tradisi adalah pengalaman.
5. Kerajinan adalah pengalaman.
Dan seluruhnya dapat menjadi bagian dari :
BANJARNEGARA EXPERIENCE.
Ini bagian yang sering dilupakan.
Kita boleh berbicara panjang tentang budaya.
Tetapi kalau pelaku budayanya tetap miskin, ada sesuatu yang salah.
Kita boleh bangga terhadap produk lokal.
Tetapi kalau produsennya tidak mampu berkembang, ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Karena itu : Budaya Harus Memiliki Economic Value.
1. Produk harus naik kelas.
2. UMKM harus naik kelas.
3. Petani harus mendapatkan nilai tambah.
4. Perajin harus mendapatkan pasar.
5. Seniman harus mendapatkan ruang.
6. Anak muda harus mendapatkan peluang.
Identitas daerah harus menjadi bagian dari ekonomi masyarakat.
Generasi hari ini hidup di dunia digital.
Maka identitas daerah juga harus hadir di sana.
1. Website.
2. Media sosial.
3. Marketplace.
4. Konten video.
5. AI.
6. Digital storytelling.
7. Virtual experience.
8. Data.
9. Branding digital.
Semuanya harus digunakan.
Jangan sampai produk Banjarnegara bagus tetapi internet tidak mengenalnya.
Jangan sampai budaya Banjarnegara kaya tetapi dunia digital tidak pernah menceritakannya.
Karena itu : Identitas Lokal Harus Masuk ke Ruang Digital.
Inilah puncaknya.
Kita tidak ingin Banjarnegara hanya dikenal di Banjarnegara.
Tidak hanya dikenal di Jawa Tengah.
Tidak hanya dikenal di Indonesia.
Tetapi suatu hari :
Banjarnegara harus mampu dikenal dunia.
Caranya bukan dengan meninggalkan identitas lokal.
Justru sebaliknya.
Kita membawa lokalitas kita ke panggung global.
Inilah :
Global Mindset Berbasis Local Wisdom.
Berakar di Banjarnegara.
Berkarakter Nusantara.
Berpikir global.
Seluruh blueprint ini dapat disederhanakan menjadi lima kata :
1. Kenali = Siapa Kita?
2. Rawat = Apa Yang Kita Warisi?
3. Kembangkan = Apa Yang Kita Miliki?
4. Jual = Bagaimana Mengubahnya Menjadi Nilai Ekonomi?
5. Duniakan = Bagaimana Membawanya Ke Panggung Global?
Inilah perjalanan :
Identitas → Budaya → Karya → Brand → Ekonomi → Global.
Pemerintah tidak perlu menjadi pemilik identitas.
Pemerintah harus menjadi :
1. Regulator.
2. Fasilitator.
3. Protektor.
4. Connector.
5. Accelerator.
Pemerintah membuka jalan.
01. Masyarakat berjalan.
02. Pelaku usaha berkarya.
03. Budayawan menjaga.
04. Akademisi mengkaji.
05. Anak muda berinovasi.
06. Media menyebarkan.
Dan semuanya bergerak menuju satu tujuan :
Banjarnegara Maju Dan Sejahtera.
Generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton.
Mereka harus menjadi :
Penjaga Warisan Sekaligus Pencipta Masa Depan.
Mereka boleh menggunakan AI.
Boleh menggunakan teknologi.
Boleh berpikir modern.
Boleh berjejaring internasional.
Tetapi jangan kehilangan akar.
Karena : Modern bukan berarti melupakan tradisi.
Global bukan berarti kehilangan lokalitas.
Justru orang yang kuat identitasnya akan lebih percaya diri berdiri di tengah dunia.
Mungkin sudah saatnya gagasan ini tidak berhenti sebagai tulisan.
Tetapi menjadi sebuah gerakan :
Banjarnegara Identity Movement
Sebuah gerakan kesadaran untuk :
Mengenali → Menggali → Merumuskan → Melestarikan → Mengembangkan → Mendigitalisasi → Mengindustrikan → Menduniakan
Seluruh potensi identitas Banjarnegara.
Bukan milik pemerintah.
Bukan milik partai politik.
Bukan milik organisasi tertentu.
Tetapi milik : MASYARAKAT BANJARNEGARA.
Bayangkan suatu hari seseorang di luar negeri mendengar kata : BANJARNEGARA.
Kemudian ia langsung teringat :
01. Budayanya.
02. Alamnya.
03. Karakternya.
04. Kulinernya.
05. Produknya.
06. Kreativitasnya.
07. Pariwisatanya.
08. Dan Manusianya.
Itulah yang disebut dengan ; Destination Branding Yang Hidup.
Bukan karena pemerintah membuat slogan.
Tetapi karena masyarakat telah membangun reputasi.
Maka masa depan Banjarnegara tidak cukup dibangun dengan beton.
Tidak cukup dengan jalan.
Tidak cukup dengan gedung.
Tidak cukup dengan proyek.
Kita membutuhkan sesuatu yang jauh lebih mendasar, yakni : KESADARAN.
1. Kesadaran tentang siapa kita.
2. Kesadaran tentang apa yang kita miliki.
3. Kesadaran tentang apa yang harus kita jaga.
4. Dan kesadaran tentang apa yang harus kita bangun.
Karena itu :
1. Kenali Dirimu.
2. Kenali Banjarnegaramu.
3. Kuatkan Akarmu.
4. Kembangkan Potensimu.
5. Duniakan Identitasmu.
Dari Banjarnegara, menuju Jawa Tengah, menuju Indonesia, menuju Nusantara, dan akhirnya : Menuju Dunia.