Produk Khas Daerah sebagai Penjelas Identitas Banjarnegara

Oleh: Wahono - Aktivis & Sekjend Aliansi Wargo Hutomo

Banjarnegara bukan daerah yang miskin identitas.
Justru sebaliknya.
Banjarnegara memiliki begitu banyak kekayaan budaya, produk khas, kesenian, tradisi, dan potensi lokal yang tumbuh dari sejarah serta kehidupan masyarakatnya. 

Ada Dawet Ayu Banjarnegara, Batik Gumelem, Keramik Klampok, Carica Dieng, Durian Mimang, Salak Pondoh, dan berbagai produk khas lainnya. Di bidang seni dan budaya, Banjarnegara juga memiliki warisan leluhur seperti Ujungan Budaya Susukan yang hingga kini masih eksis dan menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat.

Semua itu adalah penjelas identitas Banjarnegara.
Bukan hanya satu.
Bukan pula harus dipertentangkan mana yang paling unggul. 
Identitas Tidak Harus Tunggal 
Sebuah daerah tidak harus memiliki satu produk untuk menjelaskan siapa dirinya.
Setiap produk khas memiliki cerita, karakter, sejarah, komunitas, dan pasarnya sendiri.

Dawet Ayu adalah Dawet Ayu.
Batik Gumelem adalah Batik Gumelem.
Keramik Klampok adalah Keramik Klampok.
Carica Dieng adalah Carica Dieng.
Ujungan adalah Ujungan.

Masing-masing memiliki identitasnya sendiri.
Justru keberagaman itulah yang memperkuat identitas Banjarnegara. 
Karena itu, kita tidak perlu sibuk menentukan siapa yang paling pantas menjadi "IKON UTAMA".

Biarkan setiap produk tumbuh sebagai brand yang berdiri sendiri, kemudian semuanya berada dalam satu payung besar : Dawet Ayu Boleh Diajarkan, Tetapi... 

Jika ada pihak yang menginginkan Dawet Ayu dijadikan bagian dari pembelajaran muatan lokal agar anak-anak Banjarnegara mengenal sejarah, bahan, proses pembuatan, hingga cara penyajiannya, tentu hal tersebut dapat didiskusikan. 

Tidak ada yang salah dengan mengenalkan produk lokal kepada generasi muda. Tetapi persoalannya menjadi berbeda ketika muncul kesan bahwa Dawet Ayu harus dipaksakan menjadi representasi utama identitas Banjarnegara, bahkan harus masuk sebagai materi khusus dalam kurikulum pendidikan. 

Di sinilah kita perlu bertanya : Apakah setiap produk khas daerah harus masuk menjadi kurikulum muatan lokal agar dianggap sebagai identitas daerah? Jawabannya tentu tidak sesederhana itu. 

Lihat saja daerah lain. Yogyakarta memiliki Gudeg yang sangat kuat sebagai identitas kuliner. Semarang memiliki Lumpia. Jakarta memiliki Monas sebagai salah satu simbol penting perjalanan sejarah ibu kota dan bangsa. Namun sebuah simbol atau produk daerah tidak otomatis harus dijadikan materi khusus dalam kurikulum pendidikan hanya karena ia menjadi identitas daerah. 

Artinya, Identitas Daerah Dan Kurikulum Pendidikan Adalah Dua Hal Yang Berbeda.
Keduanya bisa bertemu, tetapi tidak harus selalu dipaksakan untuk menjadi satu.

Jangan Sampai Identitas Berubah Menjadi Pemaksaan

Yang perlu kita hindari adalah cara berpikir bahwa sebuah produk baru akan dianggap penting apabila diberi label sebagai "Ikon Resmi", dimasukkan ke dalam kurikulum, dibuatkan berbagai macam merchandise, lalu terus-menerus dipromosikan sebagai satu-satunya wajah Banjarnegara. 

Jika dilakukan secara berlebihan, justru bisa muncul pertanyaan dari public : Mengapa harus satu produk? Bukankah Banjarnegara memiliki banyak kekayaan lain yang juga layak mendapatkan ruang? 

Lebih jauh lagi, kita juga perlu berhati-hati terhadap upaya membangun sebuah narasi sejarah yang belum memiliki dasar penelitian yang kuat. Sejarah bukan sesuatu yang boleh dibuat berdasarkan kepentingan sesaat. Sejarah harus dicari, diteliti, diverifikasi, dan dipertanggungjawabkan secara akademis. Kalau memang diperlukan penelitian tentang sejarah Dawet Ayu Banjarnegara, silakan dilakukan. 

Tetapi penelitian harus menghasilkan kebenaran, bukan sekadar pembenaran. Ini penting agar upaya pelestarian budaya tidak berubah menjadi proyek pencarian legitimasi.

Kembalikan Setiap Produk Pada Tempatnya

Sudah saatnya kita menempatkan seluruh produk khas Banjarnegara pada tempatnya masing-masing.
Bukan untuk dipertentangkan.
Bukan untuk dipilih mana yang paling hebat.
Dan bukan pula untuk dipaksa menjadi satu-satunya identitas daerah. 

01. Biarkan Dawet Ayu menjadi Dawet Ayu.
02. Biarkan Batik Gumelem menjadi Batik Gumelem.
03. Biarkan Keramik Klampok menjadi Keramik Klampok.
04. Biarkan Carica Dieng, Durian Mimang, Salak Pondoh, Ujungan, dan berbagai produk serta budaya lokal lainnya berkembang dengan karakter masing-masing. 


Tugas kita adalah membangun ekosistem yang membuat semuanya tumbuh.
Karena pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan sekadar ikon, tetapi nilai ekonomi, kebanggaan budaya, keberlanjutan, dan kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah Cukup Menjadi Penguat

Para pelaku dan pengembang produk lokal harus diberi ruang untuk berkreasi dan berinovasi.
Biarkan mereka menemukan cara terbaik untuk mempertahankan produknya, memperbaiki kualitasnya, membangun branding, memperluas pasar, dan meningkatkan nilai ekonominya. 
Pemerintah daerah tidak perlu mengambil alih semuanya.

Pemerintah cukup menjadi fasilitator, pendamping, regulator, dan penguat ekosistem.
Dewan juga memiliki peran penting untuk memastikan kebijakan daerah benar-benar berpihak kepada kepentingan masyarakat dan pengembangan potensi lokal. 

Bukan sekadar sibuk menentukan mana yang harus menjadi ikon.
Sebab identitas daerah tidak lahir dari sebuah keputusan di atas kertas.
Identitas tumbuh dari masyarakat.
Ia lahir dari sejarah, budaya, kreativitas, karya, tradisi, dan produk yang terus hidup serta berkembang.

Banjarnegara Tidak Perlu Menjadi Satu Wajah

Banjarnegara tidak perlu hanya memiliki satu wajah.
Banjarnegara justru akan semakin kuat apabila memiliki banyak wajah dalam satu identitas.

01. Dawet Ayu adalah wajah Banjarnegara.
02. Batik Gumelem adalah wajah Banjarnegara.
03. Keramik Klampok adalah wajah Banjarnegara.
04. Carica Dieng adalah wajah Banjarnegara.
05. Ujungan adalah wajah Banjarnegara.

Begitu pula berbagai produk, seni, tradisi, kuliner, kreativitas, dan karya masyarakat Banjarnegara lainnya. 
Semuanya berbeda. Namun semuanya memiliki satu rumah, yakni : BANJARNEGARA. 
Karena identitas bukan tentang siapa yang paling besar.

Identitas adalah tentang seberapa banyak kekayaan yang mampu kita jaga, kembangkan, dan wariskan kepada generasi berikutnya.

Dan tujuan akhirnya bukan sekadar mendapatkan sebuah "IKON". 
Tujuan akhirnya adalah : Banjarnegara Yang Berbudaya, Berdaya Saing, Maju, Dan Sejahtera. 

whonesiasikoji
whonesiasikoji
Articles: 78

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *