Manifesto Identitas Dan Jati Diri Banjarnegara

Dari Akar Budaya Menuju Masa Depan

Penulis : Wahono - Aktivis & Sekjend Aliansi Wargo Hutomo

Kita Tidak Kekurangan Identitas

Ada satu pertanyaan sederhana yang sebenarnya sangat penting : “Siapa Kita?”

Bagi seseorang, pertanyaan itu berkaitan dengan jati diri.
Bagi sebuah bangsa, pertanyaan itu berkaitan dengan identitas nasional.

01. Lalu bagaimana dengan sebuah daerah?
02. Bagaimana dengan Banjarnegara?
03. Apakah Banjarnegara sudah memiliki identitas? 


Jawabannya : Sudah. Bahkan sangat banyak. 

Persoalannya bukan Banjarnegara tidak memiliki identitas.
Persoalannya adalah : 
Kita Belum Sepenuhnya Menyadari, Merumuskan, Menyatukan, Dan Mengembangkannya Menjadi Sebuah Kekuatan.

Identitas Bukan Sekadar Ikon

Selama ini kita sering terjebak dalam perdebatan tentang ikon.

01. Apa ikon Banjarnegara?
02. Dawet Ayu?
03. Batik Gumelem?
04. Carica? Dieng?
04. Keramik Klampok?
05. Atau yang lainnya? 

Menurut saya, pertanyaan itu terlalu sempit.
Karena sebuah daerah tidak mungkin dijelaskan hanya dengan satu produk atau satu simbol.

Identitas adalah sebuah ekosistem. 
Ia terdiri dari : 
Manusia + Sejarah + Budaya + Karakter + Bahasa + Tradisi + Seni + Alam + Produk + Kreativitas + Nilai-Nilai Kehidupan. 

Semua itu saling berhubungan.
Maka jangan pernah memaksa Banjarnegara hanya memiliki satu wajah.
Banjarnegara Justru Kuat Karena Memiliki Banyak Wajah.

Produk Adalah Wajah Identitas

Dawet Ayu adalah identitas.
Batik Gumelem adalah identitas.
Keramik Klampok adalah identitas.
Carica Dieng adalah identitas.
Durian Mimang adalah identitas.
Salak adalah identitas.
Berbagai produk UMKM adalah identitas. 

Tetapi semuanya bukan identitas Banjarnegara secara keseluruhan.
Mereka adalah Bagian Dari Identitas Banjarnegara.

Ini perbedaan yang sangat penting.
Karena ketika satu produk dipaksa menjadi satu-satunya representasi daerah, kita justru sedang mempersempit kekayaan yang sebenarnya kita miliki. 

Jangan Mengecilkan Banjarnegara Hanya Menjadi Satu Produk.

Budaya Adalah Akar

Lebih jauh lagi, identitas bukan hanya soal benda yang bisa dijual.
Ada sesuatu yang jauh lebih dalam : BUDAYA.

Tradisi seperti Ujungan, berbagai kesenian rakyat, Tradisi Ruwatan, Bahasa, Cerita Rakyat, Ritual, Kebiasaan Sosial, hingga nilai-nilai yang diwariskan leluhur adalah bagian dari akar kebudayaan. 

Di sinilah kita harus mulai bertanya :
1. Nilai apa yang sebenarnya hidup dalam masyarakat Banjarnegara?
2. Bagaimana masyarakatnya berbicara?
3. Bagaimana mereka menyelesaikan persoalan?
4. Bagaimana mereka memandang kehidupan?
5. Bagaimana mereka memperlakukan sesama?
6. Bagaimana hubungan mereka dengan alam?
7. Dan bagaimana mereka memaknai gotong royong, keberanian, kejujuran, kesederhanaan, serta tanggung jawab?


Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membawa kita lebih dekat kepada JATI DIRI.

Bima Cablaka Dan Karakter Manusia Banjarnegara

Karena itu, pembicaraan tentang Bima Cablaka menjadi penting.
Bukan sekadar sebagai cerita pewayangan.

Tetapi sebagai sebuah pintu masuk untuk membaca nilai dan karakter.
Bima dikenal sebagai sosok yang kuat, tegas, jujur, berani dan tidak banyak basa-basi. 

Sementara istilah Cablaka dapat dibaca sebagai karakter keterusterangan dan keberanian mengatakan sesuatu sebagaimana adanya. 

Apakah nilai tersebut merupakan karakter masyarakat Banjarnegara?
Pertanyaan itu tentu membutuhkan kajian yang serius.

Tetapi justru di situlah menariknya.
Kita harus berani membongkar kembali warisan budaya kita sendiri. 

Bukan untuk mencari pembenaran.
Tetapi untuk menemukan nilai yang mungkin telah lama kita miliki, namun mulai kita lupakan.

Identitas Harus Menjadi Kesadaran

Identitas yang hanya ditulis dalam dokumen pemerintah tidak akan pernah cukup.
Identitas harus hidup dalam kesadaran masyarakat.

Anak-anak harus mengenal sejarah daerahnya.
Generasi muda harus mengenal budayanya.
Pelaku UMKM harus memahami nilai produknya.
Seniman harus memiliki ruang untuk berkarya. 
Petani harus mendapatkan nilai tambah dari produk pertaniannya.
Pengusaha harus mampu mengembangkan potensi lokal menjadi produk bernilai tinggi.

Dan masyarakat harus merasa : “Ini adalah milik kita.” 
Ketika kesadaran itu tumbuh, identitas tidak perlu dipaksakan. Ia akan hidup dengan sendirinya.

Pemerintah Jangan Memilih, Tetapi Memperkuat

Pemerintah daerah tidak perlu menjadi pihak yang menentukan bahwa hanya satu produk yang paling layak mewakili Banjarnegara. Lebih baik pemerintah membangun ekosistem identitas daerah.

1. Berikan ruang.
2. Berikan pendampingan.
3. Bantu riset.
4. Bantu branding.
5. Bantu promosi.
6. Bantu akses pasar.
7. Bantu digitalisasi.
8. Bantu regenerasi.

Dan yang paling penting :
Jangan Matikan Kreativitas Masyarakat Dengan Terlalu Banyak Intervensi.
Biarkan masyarakat menjadi subjek.
Pemerintah menjadi penguat.

Identitas Harus Menghasilkan Kedaulatan Ekonomi

Identitas yang kuat seharusnya tidak berhenti pada kebanggaan.
Ia harus menghasilkan nilai ekonomi.

Bayangkan jika seluruh kekayaan lokal Banjarnegara dikembangkan secara serius.

01. Produk pertanian diolah menjadi produk bernilai tambah.
02. Kuliner dikembangkan menjadi industri kreatif. 
03. Batik dikembangkan menjadi fashion.
04. Keramik dikembangkan menjadi desain interior.
05. Seni tradisi dikembangkan menjadi pertunjukan budaya.
06. Alam dikembangkan menjadi pariwisata berkualitas.
07. UMKM dikembangkan menjadi industri lokal yang mampu menembus pasar nasional bahkan global. 


Maka identitas tidak lagi hanya menjadi kebanggaan.
Identitas Berubah Menjadi Mesin Ekonomi Masyarakat.

Dari Local Wisdom Menuju Global Mindset

Inilah titik yang lebih besar.

Kita tidak ingin masyarakat Banjarnegara hanya bangga dengan masa lalu.
Kita ingin masyarakat Banjarnegara berakar pada masa lalu tetapi mampu hidup di masa depan. 

1. Memahami tradisi.
2. Menguasai teknologi.
3. Menjaga budaya.
4. Menguasai digitalisasi.
5. Menghormati kearifan lokal.
6. Tetapi mampu berpikir global. 


Inilah yang saya sebut : GLOBAL MINDSET BERBASIS LOCAL WISDOM 

Kita tidak harus menjadi orang lain agar bisa maju.
Kita tidak harus meninggalkan identitas lokal untuk menjadi masyarakat modern.
Justru : Semakin Kuat Akar Kita, Semakin Jauh Kita Bisa Tumbuh.

Banjarnegara Harus Punya Positioning

Jika seluruh kekuatan tersebut berhasil dirumuskan, Banjarnegara tidak hanya memiliki identitas.
Banjarnegara akan memiliki Positioning.

1. Sebuah alasan mengapa orang harus mengenal Banjarnegara.
2. Sebuah alasan mengapa orang harus datang ke Banjarnegara.
3. Sebuah alasan mengapa orang harus membeli produk Banjarnegara.
4. Sebuah alasan mengapa investor harus melihat Banjarnegara.

Dan sebuah alasan mengapa generasi muda harus bangga mengatakan : “Saya orang Banjarnegara.”

Dari Banjarnegara Untuk Dunia

Maka arah perjalanan kita sebenarnya sangat sederhana :
BANJARNEGARA → JAWA TENGAH → INDONESIA → NUSANTARA → DUNIA 

Kita mulai dari diri sendiri :
1. Mengenali siapa kita.
2. Mengenali tanah tempat kita berpijak.
3. Mengenali sejarah.
4. Mengenali budaya.
5. Mengenali kekuatan masyarakat.
6. Kemudian mengubahnya menjadi karya.
7. Mengubah karya menjadi produk.
8. Mengubah produk menjadi brand.
9. Mengubah brand menjadi kekuatan ekonomi.


Dan akhirnya membawa nama Banjarnegara ke tingkat yang lebih luas.

Inilah Jati Diri Kita

Maka mulai hari ini, mungkin kita tidak perlu lagi bertanya :
“Apa satu ikon Banjarnegara?”

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah :
“Apa yang membuat Banjarnegara berbeda dari daerah lain?” 

Jawabannya ada pada manusia.
1. Ada pada budaya.
2. Ada pada sejarah.
3. Ada pada karakter.
4. Ada pada alam.
5. Ada pada tradisi.
6. Ada pada produk.
7. Ada pada kreativitas. 

Dan ada pada cara kita memandang masa depan.
1. Dawet Ayu adalah Banjarnegara.
2. Batik Gumelem adalah Banjarnegara.
3. Keramik Klampok adalah Banjarnegara.
4. Carica adalah Banjarnegara.
5. Ujungan adalah Banjarnegara.
6. Bima Cablaka adalah bagian dari perjalanan kita membaca karakter dan budaya. 

Dan masih banyak lagi yang belum kita gali.
Semuanya boleh berbeda.
Semuanya boleh berkembang dengan jalannya sendiri.

Tetapi semuanya memiliki satu rumah bernama : BANJARNEGARA. 

Karena itu :
Jangan Cari Satu Identitas Untuk Banjarnegara.
Tapi Temukan Seluruh Identitas Yang Sudah Dimiliki Banjarnegara. 

Kemudian satukan dalam satu kesadaran.
Rawat - Kembangkan - Transformasikan menjadi kekuatan - Dan wariskan kepada generasi berikutnya.

Sebab masa depan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar APBD-nya.
Tidak hanya oleh seberapa banyak infrastrukturnya.

Tetapi juga oleh : 
Seberapa Kuat Masyarakatnya Mengenal Siapa Dirinya. 

Dan ketika sebuah masyarakat sudah mengenal dirinya sendiri, ia tidak akan mudah kehilangan arah.
Kenali Dirimu.
Kenali Daerahmu.
Kuatkan Akarmu.
Bangun Masa Depanmu. 

Inilah Identitas Dan Jati Diri Banjarnegara
Bagi Mereka Yang Berfikir.

whonesiasikoji
whonesiasikoji
Articles: 78

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *